Arsip

Archive for the ‘TKI SUKSES’ Category

Jadi Dosen di Unsa, Kini S2 di UNY

September 24, 2011 Tinggalkan komentar

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 24 September 2011
TIDAK
sedikit mantan buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berhasil melanjutkan kuliah dan fokus di jalur pendidikan. Di antaranya Nining Andriani. Dosen Universitas Samawa (Unsa) Sumbawa Besar itu saat ini mengikuti Program Pascasarjana (S2) Universitas Negeri Yogyakarta. ’’Mengambil pendidikan IPS konsentrasi pendidikan karakter,’’ ujar perempuan yang pernah bekerja di Arab Saudi pada 1992 hingga 1995 ketika dihubungi INDOPOS, tadi malam (23/9).
Bahkan, jika ada kesempatan, perempuan kelahiran Pemangong, Lenangguar, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada 1974 itu akan terus kuliah hingga S3.’’Saya ingin kuliah di luar negeri,’’ kata perempuan yang merencanakan menikah selepas menyelesaikan S2 tersebut.
Lulusan S1 pendidikan ekonomi koperasi Unsa itu bercerita, selepas menyelesaikan SMA, sebenarnya ingin langsung melanjutkan kuliah. Namun, karena faktor ekonomi, Nining realistis. Tapi, anak pertama dari tujuh bersaudara itu tidak mau menyerah. ’’Sebelum ijazah keluar, saya sudah daftar bekerja di luar negeri. Setelah ijazah keluar saya berangkat. Dengan bekerja, saya ingin mengumpulkan uang, sehingga nanti bisa kuliah. Saya bekerja sebagai baby sitter,’’ terangnya.
Selama bekerja di rantau itu, Nining betah di satu majikan. ’’Majikan orang berpendidikan. Selama bekerja tidak ada masalah. Semua lancar, termasuk gaji. Paspor memang dipegang majikan, tapi saya diajak ke Kuwait, Yordania, dan Suriah. Pembantu lain tidak diajak. Saya merasa diistimewakan, karena bisa menjahit dan mengajari anak majikan. Di situ, selain saya, ada pembantu lain, perempuan dari Sri Lanka. Ada dua sopir dari Bangladesh,’’ jelas Nining yang mengaku saat SMP dia merupakan siswi berprestasi sehingga bisa diterima di SMA favorit di Sumbawa Besar.
Selama 3 tahun bekerja di negera petro dolar, komunikasi dengan keluarga di Indonesia untuk mengobati rasa kangen tak mengalami kendala. ’’Dengan keluarga baik-baik. Saya kirim surat. Sebenarnya, setelah kontrak habis, saya berkesempatan melanjutkan kontrak. Tapi saya pilih pulang, ingin kuliah,’’ ujar perempuan yang bekerja di Riyadh tersebut.
Setelah pulang, dengan bekal tabungan selama bekerja di Arab Saudi digunakan mengikuti sejumlah kursus seperti komputer dan bahasa Inggris.’’Saya juga pernah bekerja di Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) dan di kantor kecamatan setempat. Saya kuliah S1 mulai 2002,’’ ungkapnya.
Saat bekerja di kantor Kecamatan Labuhan Badas, Sumbawa, ada program kerja sama Pemda Sumbawa dengan lembaga penelitian Universitas Brawijaya, Mitra Karya East Java. Nining ikut terlibat.’’Dari kegitan itu, penghasilan yang saya kumpulkan lumayan untuk biaya kuliah. Kerja sambil kuliah. Saat skripsi saya mundur. Setelah wisuda, saya tidak ada kegiatan selama 6 bulan. Masa transisi. Masuk ajaran baru, saya bergabung di Unsa,’’ imbuhnya. Selain di Unsa, Nining juga mengajar di salah satu sekolah tingkat menengah pertama di daerah sana.’’Pagi jadi guru, sore harinya jadi dosen. Ketika menjadi pembina Palang Merah Remaja di sekolah tersebut, beberapa juara disabet. Saya mengajar mulai 2007,’’ terang perempuan yang pada Pemilu 2009 jadi Panwaslucam di Labuhan Badas.
Tiga tahun menjadi dosen, Nining mendapat kesempatan melanjutkan kuliah.’’Dapat tugas belajar. Mengajarnya di sekolah ya ditinggal. Saya pilih melanjutkan pendidikan. Saya juga dapat informasi, ada peluang ke Jepang. Kalau diberi kesempatan S3, apalagi ke luar negeri, saya ingin sekali. Meski belum berkeluarga dan merencanakan menikah setelah lulus S2, kalau ada peluang S3, saya ambil. Saya hidup mengalir saja,’’ jelas Nining yang mendapat sertifikat dari rektor Universitas Negeri Yogyakarta karena merupakan mahasiswa S2 yang ikut terlibat sebagai relawan saat erupsi Gunung Merapi, beberapa waktu lalu.
Lalu apa keinginan ke depan? Dengan ilmu yang dipelajarinya saat ini, Nining ingin mengabdikan diri untuk masyarakat.’’Mengabdi untuk generasi penerus. Dengan konsentrasi pendidikan karakter, semoga bisa mengabdi dan mengubah mayarakat lebih baik,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Sekeluarga Bekerja di Luar Negeri, Kini Buka Lesehan dan Jualan Pakaian

September 22, 2011 Tinggalkan komentar

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 23 September 2011

KELUARGA Mujiati merupakan keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Mujiati dan suaminya, Suhardi, pernah mengadu nasib di Malaysia dalam rentang waktu yang cukup lama.’’Suami mulai bekerja pada 1990. Saya kemudian mengikuti jejaknya. Kerja mulai 1991. Sama-sama bekerja di pabrik kayu lapis (plywood) hingga 2007,’’ ujar perempuan yang tinggal di Sedau, Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Dua anaknya juga bekerja di luar negeri. Yang satu, anak kedua, bekerja di pabrik elektronik di Jepang selama 3 tahun. Yang satu lagi, anak pertama, bekerja di Jepang juga, tepatnya di peternakan. ’’Anak saya dua, cowok semua. Yang kerja di elektronik sudah pulang satu tahun yang lalu. Dia lulusan salah satu STM di Jogjakarta. Itu yang kecil. Sempat kerja di Astra Sunter, Jakarta Utara. Sedangkan kakaknya, sempat mengambil D3 agrobisnis di daerah Gamping, Jogjakarta, tapi tidak sampai selesai. Hingga saat ini baru 9 bulan di Jepang,’’ ujar perempuan kelahiran Jogjakarta 1965 itu ketika dihubungi INDOPOS, Kamis malam (22/9).
Mujiati yang menikah dengan pria Singkawang pada 1980 itu, bercerita, pada 1990 suaminya lebih dulu bekerja di Malaysia. ’’Dia lulusan D3 Akademi Maritim. Pernah bekerja di kapal. Pada 1981, saya ikut suami ke Singkawang,’’ ujar perempuan lulusan SMK itu.
Setahun kemudian atau pada 1991, Mujiati  yang bekerja di agen TKI membawa pekerja Indonesia ke Malaysia.’’Ada ratusan. Saya ikut agen, bantu-bantu bawa TKI. Namun, saya berpikir ingin bekerja di Malaysia juga seperti suami. Ngurusin orang banyak yang beda-beda karakter, susah. Akhirnya saya bekerja di pabrik kayu lapis (plywood). Sama suami, beda bagian saja,’’ jelas Mujiati yang saat ke Malaysia, dua anaknya masih kecil, yang satu kelas 5 SD, sedangkan satunya kelas 4 SD, dititipkan ke mertuanya di Singkawang.
Setelah dua tahun kontrak habis, Mujiati pulang ke Indonesia. Tapi setelah itu, dia kembali lagi ke Malaysia hingga 2005.’’Pabriknya pindah dari daerah sebelumnya. Tapi saya tetap bekerja di situ, plywood. Setelah itu tetap bekerja di pabrik yang sama, tapi pindah daerah hingga 2007. Setiap tahun sekali ada cuti, bisa pulang. Komunikasi dengan keluarga juga tidak ada hambatan. Sebelum ada HP (handphone, Red) marak, komunikasi dilakukan dengan surat, dititipkan agen. Tapi, setelah ada HP, komunikasi dengan anak-anak dan keluarga di Indonesia pakai HP,’’ ungkapnya.
Selama bekerja di Malaysia, Mujiati mengaku, tak pernah merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Barangkali ini tak lepas juga pekerjaan dia yang berada di tempat terbuka, yakni pabrik, di mana banyak teman-temannya sesama pekerja. Beda dengan sektor pembantu rumah tangga. ’’Dalam bekerja, yang penting itu kejujuran, disiplin, dan rajin. Saya bekerja dengan suami untuk kebutuhan anak-anak sekolah. Untuk keluarga. Bisa beli tanah, bangun rumah di Singkawang. Memang di Indonesia bisa cukup. Di Malaysia, saya bisa dapat lebih. Pada 2007 saya putuskan pulang bersama suami karena mau istirahat, sudah capek,’’ terangnya.
Kedua anaknya sebenarnya ingin mengenyam perkuliahan hingga selesai. Namun, kenyataan berkata lain. Anaknya yang pertama, setelah menyelesaikan SLTA di Jogjakarta melanjutkan D3, tapi tidak selesai. Sedangkan yang kedua, setelah merampungkan STM, diterima bekerja di Sunter.’’Anak-anak memang sekolah di Jogjakarta. Di sana masih ada saudara. Mereka betah di Jogjakarta. Anak yang kedua, setelah sempat bekerja di Sunter sebenarnya kembali lagi ke Jogja untuk kuliah, tapi dipanggil magang ke Jepang. Anak-anak saya bekali pentingnya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Jepang,’’ ungkapnya.
Hasil bekerja di Jepang, selain untuk memberi rumah dan tanah, digunakan untuk membuka usaha.’’Buka warung lesehan di Jalan Kaliurang. Ada mobil pick up untuk jasa angkut. Itu hasil dari anak yang kerja di pabrik elektronik di Jepang. Saya dan suami sering bolak-balik Singkawang-Jogjakarta. Sebelum anak saya yang kecil pulang dari Jepang, usaha itu dijalankan suami dan saya. Kini setelah pulang, dia yang jalankan. Tapi, saya dan suami juga ikut. Yang lesehan mempekerjakan 3 orang. Sedangkan jasa mobil, biasanya untuk jasa angkut pindahan rumah atau kos. Untuk tanah dan rumah, ada di daerah Monjali, Jogja,’’ terangnya.
Sedangkan anaknya yang pertama yang saat ini bekerja di sektor peternakan di Jepang, mulai dirintiskan usaha rental mobil. ’’Baru satu mobil. Yang jalankan ya adiknya yang sudah pulang dari Jepang. Saya juga bawa pakaian untuk dijual di Singkawang. Rencananya ke depan dengan modal sama-sama dari luar negeri, uasaha jual beli tanah, beli tanah dibangun bangunan, kemudian dijual. Saya juga ingin membesarkan warung lesehan, buka warung makan secara permanen,’’ tutupnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Buka Cucian Kendaraan, Ingin Dirikan Salon untuk Para Buruh Migran

September 22, 2011 Tinggalkan komentar

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 22 September 2011

PENUH semangat. Itulah sosok Nisma Abdullah. Meski usianya tidak muda lagi, perempuan kelahiran Bunobogu, Buol, Sulawesi Tengah, 1965 itu begitu berapi-api saat bicara seputar buruh migran. Barangkali karena selain pernah mengalami kondisi yang tidak menyenangkan saat menjadi buruh migran di Timur Tengah, juga tak lepas dari aktivitasnya mendampingi dan memperjuangkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Apalagi perempuan yang dikaruniai 4 anak dan 4 cucu itu dipercaya sebagai ketua umum Dewan Pimpinan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) periode 2011-2014.
Kepada INDOPOS, kemarin (21/9), Nisma bercerita, saat menjadi buruh migran atau TKI di Arab Saudi pada 1993 hingga 1996, tak ada masalah yang berarti. ’’Saya bekerja ke Saudi, karena himpitan ekonomi. Ketika itu anak sudah empat. Suami saya tentara, cacat setelah bertugas di Timor Timur, tapi masih dinas di Jakarta. Dia mengizinkan saya ke Saudi,’’ ujar Nisma yang juga anak tentara itu.
Sebenarnya, Nisma mempunyai keterampilan menyalon. Namun, keahlian yang didapatkan dari kursus para istri tentara itu tidak dilanjutkan. Karena pendapatan yang dihasilkan tidak sesuai kebutuhan. ’’Akhirnya saya tinggalkan dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Madinah, Saudi. Selama 3 tahun saya ikut satu majikan,’’ imbuh perempuan yang menyelesaikan SD di Bojonegoro, Jawa Timur, serta SMP dan SMA di Surabaya, Jawa Timur, karena mengikuti tugas orangtuanya.
Nisma yang menikah pada 1980 dengan pria asal Manado yang bertugas sebagai tentara di Surabaya itu menambahkan, setelah pulang ke Indonesia beberapa tahun kemudian, pada 1999 berangkat lagi Timur Tengah. Kali ini ke Kuwait. ’’Hasil dari Saudi di antaranya untuk merenovasi rumah,’’ imbuhnya. Sebelum merantau lagi, dia sempat kerja di salon di Tanjung Priok, Jakarta Utara, tapi tidak lama, karena gajinya tidak cukup untuk kebutuhan.
’’Padahal anak-anak membutuhkan biaya untuk pendidikan. Ada yang masuk SMP. Saya dapat informasi bahwa keluarga kerajaan Kuwait  membutuhkan perias. Saya daftar ke PJTKI. Ternyata, sesampai di sana, tidak demikian. Saya dipekerjakan sebagai tukang cuci pakaian bayi,’’ jelas Nisma yang beberapa waktu setelah menikah tinggal bersama keluarganya di Wisma Seroja, Harapan Jaya, Bekasi Utara, Jawa Barat, di mana rumah tersebut merupakan bentuk apresiasi yang diberikan pemerintah saat itu kepada suaminya yang pernah bertugas di Timor Timur.
Selama di Kuwait, Nisma pindah-pindah majikan. Ini karena pekerjaan yang diberikan tidak sesuai dengan janji Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). ’’Di majikan pertama, saya hanya satu bulan. Majikan kedua, 1 minggu. Saya minta pulang, tapi tidak boleh. Suatu ketika, saya bisa telepon bos PJTKI yang memberangkatkan saya. Saya tagih janji kerja merias,’’ jelasnya.
Akhirnya dari agen yang di Kuwait, Nisma disalurkan ke majikan yang punya salon. Tapi kerjanya berat. Pukul 09.00—21.00 kerja di salon. Setelah itu hingga pukul 02.00, bekerja sebagai pembatu rumah tangga. ’’Saya pun berontak. Total dari pertama, selama 5 bulan, saya tidak pernah menerima gaji. Saya semakin tahu, akhirnya saya mengadu ke kedutaan. Orang kedutaan hanya bilang, sabar. Akhirnya kembali lagi ke agen, selanjutnya disalurkan ke majikan yang punya salon lagi. Di sini saya sampai 2003,’’ terangnya.
Hasil dari bekerja itu, Nisma ikut membantu menyekolahkan anak-anaknya.’’Yang pertama kuliah. Sekarang sudah mengajar. Tiga anak lainnya yang lulusan SMA, kini sudah bekerja. Saya memutuskan pulang, karena bapak sudah meninggal, sedangkan ibu sakit-sakitan. Saya ingin merawat ibu,’’ imbuh Nisma yang berpisah dengan suaminya pada 2003 itu.
Nisma mengenal dan mulai memahami apa buruh migran, apa hak-haknya, bagaimana perlindungannya, dan sebagainya, pada 2004. Dia pun aktif di berbagai organisasi yang memperjuangkan buruh migran. Salah satunya Forum Komunikasi Mantan Buruh Migran Sepakat, Aliansi Pemberdayaan, dan Perlindungan Buruh Migran Kabupaten Sumbawa, dan Niat Suci. ’’Organisasi Niat Suci merupakan jaringan LBH Apik Nusa Tenggara Barat. Ketika itu saya menetap di Sumbawa. Saya fokus di Sumbawa, karena termasuk pengirim TKI terbanyak. Dengan saya di sana, lebih fokus bekerja dengan teman-teman. Apalagi dulu saya pernah merasakan penderitaan sebagai buruh migran,’’ jelas perempuan yang pernah menakhodai SBMI Nusa Tenggara Barat tersebut.
Perempuan yang setelah terpilih menjadi  ketua umum Dewan Pimpinan SBMI periode 2011-2014 lebih memilih tinggal di Sekretariat SBMI daripada di rumahnya di Bekasi itu berharap, para TKI lebih paham hak-haknya.’’Tak hanya membantu keluarga, tapi juga pahlawan devisa bagi negara. Oleh karena itu, harus dilindungi dan selama di sana ada kontrol. Ini utamanya para buruh migran yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Timur Tengah. Supaya tidak banyak lagi yang pergi ke luar negeri sebagai TKI, pemerintah harus menciptakan lapangan kerja,’’ harap perempuan yang buka jasa cucian kendaraan di Bekasi yang dikelola oleh anak-anak yatim yang masih bersekolah.
Nisma yang kini tinggal di Jakarta mempunyai keinginan membuka salon.’’Saya punya kios di Bekasi, dekat rumah. Ingin cari modal untuk buka salon. Itu nanti untuk membantu para buruh migran. Ingin juga membangun koperasi bagi para buruh migran. Saya ingin tetap mengabdi untuk buruh migran sampai menutup mata,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Dirikan LSM Buruh Migran yang Bergerak di Bidang Kesehatan

September 22, 2011 Tinggalkan komentar

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 21 September 2011

KEPEDULIAN Pujianti terhadap nasib para buruh migran tak lepas dari apa yang dialaminya saat mengadu nasib ke Taiwan, beberapa tahun silam.
Dia bercerita, pada 2000 berangkat ke Taiwan melalui salah satu PPTKIS di Surabaya, Jawa Timur.”Dokumen semua dipalsukan mulai dari nama dan alamat, karena ketidaktahuan yang membuat saya mau saja diberangkatkan dengan identitas yang bukan sebenarnya,” aku koordinator Peduli Buruh Migran itu.
Sampai di Taiwan, lanjutnya, pekerjaan yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan. “Janji PT dipekerjakan di rumah sakit dengan merawat orang tua, namun semua itu hanya janji saja, karena sesampai di Taiwan dipekerjakan di perkebunan sayur,” ujar perempuan asal Jawa Timur, itu kepada INDOPOS, kemarin (20/9) .
Karena tidak tahan dengan pekerjaan yang dibebankan, perempuan yang kini tinggal di Pisangan, Jakarta Timur, itu minta dipulangkan ke Indonesia. “Namun majikan tidak mau dengan alasan bahwa saya sudah dibayar ke agen, lalu saya dibawa ke agen lain untuk dipindahkan pekerjaan tapi tetap sama diperkebunan. Sepuluh hari bekerja saya tidak tahan dan saya tetap minta dipulangkan ke Indonesia,” terangnya. Karena semua dokumen ditahan oleh mandor, maka dia mengambil paksa. Dengan bermodal paspor, Pujianti lari ke kantor KDI dengan harapan bisa dibantu pulang ke Indonesia. Namun, dia malah dikembalikan ke agen dan selanjutnya diserahkan ke penjara dengan alasan mencuri dokumen.
Alhasil, keinginannya berangkat ke Taiwan untuk mencari uang gagal total.
“1 bulan bekerja, 10 bulan mendekam di penjara tanpa melalui persidangan, krn dituduh melakukan tindakan kriminal,” ujar perempuan kelahiran Agustus 1972 itu.
Setelah bebas dari penjara, Pujianti dipulangkan ke Indonesia. “Beruntung saya bertemu salah seorang Komisioner Komnas Perempuan dan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Saya diajak ke salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menangani masalah buruh migran untuk belajar.
Bantu-bantu di bagian staf advokasi, sampai jadi koordinator advokasi. Saya di situ sekitar 4 tahun,” imbuhnya.
Pujianti tidak kenal lelah untuk belajar memberikan bantuan advokasi pada kawan-kawan buruh migran yang bermasalah.
Namun, perjuangannya sempat terhenti lantaran terkenan stroke. “Mungkin karena terlalu lelah, banyak kasus, hingga lupa makan dan kurang tidur,” imbuhnya. Setelah melakukan pengobatan, sekitar 3 bulan dia pulih.
Dia pun bertekad untuk terus membantu dan berbagi pengalaman dengan para buruh migran yang sedang dalam masalah.
“Pada 2008 saya mendirikan LSM yang namanya Peduli Buruh Migran (PBM), berkat bantuan dari Yayasan Nurani Dunia dan Perkumpulan Sahabat Insan, saya bisa menjalankan organisasi dengan kawan-kawan,” jelasnya.
Pujianti mengaku, lebih tertarik membuat LSM yang bergerak di bidang kesehatan buruh migran karena selama ini banyak buruh migran yang sakit tidak ada yang membantu dan mendampingi. “Di LSM saya ada Mobile Clinic dan juga mempunyai rumah singgah untuk kawan-kawan buruh migran yang sedang dalam proses pemulihan kesehatan,” terangnya.
Kegiatan rutin yang dikerjakan Pujianti adalah mendampingi para buruh migran yang dirawat di rumah sakit rujukan pemerintah, juga membantu untuk memberikan bantuan advokasi. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Usaha Laundry, Tahun Depan Melanjutkan Kuliah

September 22, 2011 Tinggalkan komentar

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 19 September 2011

MESKI sudah berkeluarga dan mempunyai tiga anak, keinginan Siti Badriyah untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah tetap tak terbendung.’’Tahun depan, rencananya kuliah. Ambil hukum di Universitas Bung Karno,’’ ujar perempuan asal Karangrayung, Grobogan, Jawa Tengah, itu ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (18/9). Bukan tanpa alasan jika perempuan yang pernikahannya pertama dikaruniai seorang anak dan dua anak pada pernikahannya kedua. Alasannya itu berhubungan dengan pekerjaannya yang digeluti saat ini.
Siti Badriyah bekerja di bagian staf advokasi kebijakan Migrant Care. ’’Dulu awalnya saya bantu-bantu. Pernah di bagian administrasi dan advokasi kasus juga. Dengan kuliah, saya ingin tahu lebih dalam teori-tori hukum dan undang-undang. Pengalaman sebagai buruh migran punya, ditambah ilmu. Jadi pengalaman dan akademik. Saya ngambil hukum karena berkecimpung di ranah itu,’’ ungkap perempuan yang bekerja di Malaysia pada 2002—2004.
Siti Badriyah mengaku, saat bekerja di Malaysia, dia merasakan tak mendapatkan gaji selama 10 bulan. ’’Saya bekerja sebagai PRT (pembantu rumah tangga, Red). Karena 10 bulan tidak terima gaji, saya lari. Yang nerima gaji agen. Selanjutnya saya dapat kerja di restoran. Lumayan gajinya, tapi dipotong untuk membayar keamanan, karena paspor tidak saya pegang. Kosongan. Kalau tidak bayar, bisa ditangkap. Merasa nggak aman dan tidak nyaman, saya putuskan pulang lewat jalur laut, karena suatu waktu pihak imigrasi setempat melakukan sweeping,’’ terang perempuan yang juga pernah merantau ke Brunei Darussalam setelah pulang dari Malaysia.
Perempuan lulusan SMA itu bercerita, motivasinya berangkat ke Malaysia adalah mendapatkan penghasilan. ’’Di kampung tidak ada kerjaan. Sama suami juga lagi ada masalah,’’ imbuh Siti Badriyah yang saat berangkat mempunyai seorang anak berusia 1 tahun hasil pernikahannya dengan suami pertama.
Jika di Malaysia Siti Badriyah kuat bertahan sekitar dua tahun. Tidak demikian saat bekerja di Brunei Darussalam.’’Rumah majikan gede banget. Di situ juga ada beberapa keluarga. Majikan punya anak, anaknya nikah dan tinggal di situ. Tidak kuat dengan beban pekerjaan. Kontraknya sebenarnya dua tahun, tapi saya hanya satu tahun. Dari kerja di luar negeri, bisa membeli tanah sedikit,’’ jelas perempuan kelahiran 1976.
Setelah kembali ke Indonesia, Siti Badriyah sempat merintis usaha keripik kecil-kecilan yang difasilitasi dinas sosial setempat. Tapi, karena tidak ada pendampingan yang kontinyu, akhirnya mati. Setelah itu, Siti Badriyah ke Jakarta.’’Di Migrant Care membutuhkan staf untuk bersih-bersih dan menerima telepon. Saya banyak belajar hingga sampai kini di staf advokasi kebijakan. Di sini rasanya senang. Dulu pernah mengalami kasus tidak terima gaji, dapat banyak cerita dari para buruh migran yang butuh pendamping. Jadinya tambah banyak pengetahuan,’’ terang perempuan yang akhirnya gagal mempertahankan rumah tangganya dengan suami pertamanya.
Bersama suami keduanya yang dinikahi pada 2006, Siti Badriyah juga mempunyai usaha laundry dan jualan pulsa.’’Kami ingin juga membuka usaha jualan bakso dengan mempekerjakan orang. Di Jakarta saya tinggal di daerah Cipinang. Masih kontrak. Suami dulu juga pernah bekerja di luar negeri. Bertemunya di Migrant Care,’’ tambahnya.
Siti Badriyah berharap, pemerintah mampu menciptakan lapangan kerja di dalam negeri, sehingga tidak banyak yang bekerja ke luar negeri.’’Kalau belum mampu menciptakan lapangan kerja, harus melindungi mereka yang bekerja di luar negeri. Berharap pemerintah membuat regulasi dan kebijakan yang adil. Rekrutmen mereka yang ke luar negeri tidak usah pakai PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, Red). Lewat pemerintah langsung saja. Mulai dari tingkat kelurahan dan tidak bayar. Mereka di luar negeri punya risiko tinggi, makanya idealnya gratis,’’ katanya.
Sedangkan harapan untuk para buruh migran, sebelum berangkat bekerja, hendaknya mempersiapkan diri dengan keterampilan, memahami buadaya negara di mana akan ditempatkan, dan siap mental. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Dari Taiwan, Kuliah, Jadi PNS, dan Usaha Penggemukan Sapi

September 22, 2011 Tinggalkan komentar

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 16 September 2011

PENDIDIKAN di mata Rohenti sangat penting. Oleh karena itu, cita-cita untuk kuliah setelah menyelesaikan kuliah terus menyala, meski harus menunggu beberapa tahun. Selepas SMA pada 1997, perempuan yang tinggal di Desa Serang Wetan, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat, itu tidak bisa langsung meneruskan kuliah. Ini lantaran ekonomi keluarga yang belum memungkinkan.
Tapi, anak pertama dari empat bersaudara itu tak patang arah. Keinginan untuk kuliah tetap dia pendam di dalam hati. Dengan harapan suatu saat dapat terwujud. ’’Setelah lulus SMA, saya bekerja di Karawang, Jawa Barat, selama satu tahun. Kemudian di Jakarta juga satu tahun,’’ ujar Rohenti ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (15/9).
Namun, perempuan kelahiran 1979 itu ingin memperbaiki nasib. Setelah pulang ke Serang Wetan, Babakan, Cirebon, beberapa waktu, dia memutuskan mengadu nasib dengan bekerja ke luar negeri. Tempat yang dituju adalah Taiwan.’’Awalnya orangtua melarang. Tapi akhirnya memahami. Saya ingin mengubah hidup. Motivasi berangkat ingin bisa bahasa Mandarin. Yang tak kalah pentingnya adalah mengumpulkan modal untuk melanjutkan kuliah dan membantu orang tua,’’ jelas perempuan yang berangkat ke Taiwan pada 2000 akhir setelah mendapat pelatihan terkait bahasa Mandarin dan tata boga sekitar satu bulan tersebut.
Selama di penampungan di Jakarta, Rohenti sudah belajar bahasa Mandarin melalui buku-buku.’’Di penampungan PJTKI (perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia, Red) 3 bulan. Satu bulan terakhir baru mendapat pelatihan bahasa Mandarin. Katanya pada awalnya belum ada guru bahasa Mandarin. Makanya saya belajar sendiri melalui buku-buku,’’ katanya.
Di daerah Rohenti, bekerja di luar negeri bukan sesuatu hal yang baru. Sebagian penduduknya mengadu nasib di Timur Tengah. Ada juga yang ke Asia Timur.’’Mungkin ada sekitar 40 persen dari penduduk yang bekerja di luar negeri,’’ ungkap perempuan yang mengaku tidak pernah pulang sebelum kontraknya selesai pada 2003 itu.
Di Taiwan, awalnya Rohenti bertugas merawat orangtua majikan. Meski sebenarnya bertugas merawat orangtua majikan, Rohenti diminta majikannya untuk membantu bekerja di restoran.’’Majikan punya restoran. Saya belum paham banyak soal hak dan kewajiban, makanya tidak protes. Tapi ini tidak bertahan lama, sekitar satu minggu. Kemudian pihak agen memindahkan ke majikan lain yang masih saudaranya majikan yang pertama. Di majikan kedua ini saya mengurus anak. Tugasnya lebih ringan,’’ ungkap Rohenti yang mulai lancar bahasa Mandari setelah 3 bulan di Taiwan.
Rohenti mengaku mengobati kangen dengan keluarganya dengan cara menelepon sekitar satu bulan sekali. Selain itu, setiap libur kerja, dia bisa berkumpul dengan kawan-kawannya dari Indonesia. ’’Banyak teman di sana. Libur Minggu ngumpul di taman. Biasanya kalau ngumpul, bercerita soal kerjaan dan yang lain-lain, termasuk yang ringan-ringan. Selama bekerja, bisa membantu orangtua, membantu sekolah adik-adik, dan beli tanah juga yang dikelola orangtua,’’ imbuh Rohenti yang mengaku tidak pernah merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan selama bekerja di Taiwan.
Setelah kontraknya selesai, Rohenti memutuskan pulang ke Indonesia. Dengan modal yang dikumpulkan, Rohenti mewujudkan keinginannya untuk kuliah. Awalnya mengambil D2 keguruan, kini Rohenti sedang menyelesaikan S1 di STAIN Cirebon. ’’Setelah pulang, saya gabung dengan Forum Warga Buruh Migran Indonesia. Sebagai mantan buruh migran, ingin memperjuangkan teman-teman yang bekerja di sana. Pada 2004 kuliah. 2008 mengajar honorer. Pada 2009 ada pembukaan PNS, keterima. Sekarang melanjutkan S1,’’ terang perempuan yang kini tercatat di Serikat Buruh Migran Indonesia Cirebon tersebut.
Bagi perempuan yang merencanakan bakal menikah pada 2012 itu, pendidikan sangat penting. Dengan ilmu bisa mengubah hidup dan nasib. ’’Kan tidak ingin jadi pembantu rumah tangga terus. Selain jadi guru, saya ingin usaha sendiri di bidang pertanian dan peternakan. Yang mulai saya rintis, usaha penggemukan sapi,’’ ujar Rohenti yang mengaku sudah tak begitu lancar berbahasa Mandarin lantaran jarang mempraktikkannya itu.
Sebagai mantan buruh migran, Rohenti berharap, mereka yang tetap ingin ke luar negeri, sebelum berangkat, harus melakukan persiapan yang maksimal.’’Kalau sudah pulang, jangan berpikir kembali lagi. Mengolah hasil jerih payahnya, jangan hidup konsumtif. Kepada pemerintah saya berharap lebih peduli lagi kepada para buruh migran, terutama yang bekerja di Timur Tengah. Pemerintah juga harus tegas. MoU (nota kesepahaman, Red) juga harus jelas,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Buka Les Bahasa Korea, Selanjutnya Ingin Bikin Lembaga Kursus

September 22, 2011 Tinggalkan komentar

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 14 September 2011

KEPIAWAIAN Mahfud menguasai bahasa Korea Selatan bukan karena dia melahap banyak teori di bangku kursus atau pendidikan. Warga Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, itu mahir lantaran sering bersinggungan dan langsung mempraktikkan saat bekerja di Korea Selatan. ’’Saat mau berangkat ada pembekalan bahasa, tapi ala kadarnya. Karena di pembakalan itu juga peserta dibekali bagaimana cara kerja. Saya bisa bahasa Korea Selatan, karena beberapa tahun bekerja di sana (Korea Selatan, Red),’’ ujarnya ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (13/11).
Kemampuan itu tidak hanya berguna selama bekerja di Korea Selatan. Tapi, hingga kini. Mahfud sering membantu memberi les bahasa Korea Selatan.’’Mereka yang mau berangkat ke Korea Selatan pada belajar. Tidak banyak. Kadang dua, tiga, empat, hingga lima. Mereka belajar di rumah. Karena sifatnya membantu, sampai sekarang tidak dipungut biaya alias gratis,’’ ungkap bapak yang saat ini dikaruniai seorang anak tersebut.
Berbeda jika diminta mengajar sejumlah institusi. Mahfud biasanya diberi insentif. Tapi ini tidak rutin dilakukan. Sifatnya insidental, jika tenaga Mahfud diperlukan oleh sejumlah institusi yang mengadakan kegiatan. ’’Tempatnya tidak di rumah. Kadang memakai ruang sekolah,’’ imbuh pria yang menikah pada 2006 tersebut.
Ke depan, agar kemampuan yang dimiliki tetap terasah dan berguna bagi orang lain, dan tentunya ’’menghasilkan’’, Mahfud ingin membuka lembaga semacam kursus bahasa Korea Selatan. Mahfud ingin mengelola lembaga tersebut dengan baik, sehingga secara ekonomi dapat memberi pemasukan.
Selain itu, kegiatan lain Mahfud sepulang dari Korea Selatan pada 2010 lalu adalah mengelola tanah pertanian dan buka usaha warung. Hasilnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.  ’’Membeli tanah dari hasil bekerja di Korea Selatan. Dulu waktu saya masih di sana (Korea Selatan, Red) yang mengelola orangtua,’’ jelas anak kelima dari enam bersaudara itu.
Pria kelahiran 1979 itu berharap, di samping membuka lembaga kursus bahasa Korea Selatan, ke depan, bisa mengembangkan usaha. ’’Membuka usaha apa gitu yang lebih besar,’’ imbuh pria yang berangkat ke Korea Selatan dua kali, pada 2002—2005 bekerja di pabrik onderdil mobil, dan 2008—2010 bekerja di pabrik elektronik, tersebut.
Mahfud yang termasuk salah seorang dari 12 finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010 itu bercerita, beberapa waktu selepas menyelesaikan pendidikan SMA, dia memutuskan bekerja ke luar negeri tepatnya Korea Selatan.’’Motivasi saya membantu orangtua dan mencari modal. Ketika itu belum menikah. Usia saya 22 tahun. Setelah melalui pembekalan sekitar seminggu, saya berangkat melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) pada 2002,’’ terangnya.
Mahfud menyelesaikan kontrak selama tiga tahun, kemudian pulang ke Indonesia. Setelah menikah, dua tahun kemudian dia memutuskan kembali lagi ke Korea Selatan.’’Saya berangkat melalui BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, Red) pada 2008. Setelah pembekalan sekitar seminggu, berangkat dan bekerja di pabrik elektronik hingga 2010. Saya berangkat lagi untuk menambah modal,’’ jelasnya.
Selama bekerja, Mahfud mengaku tidak mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. ’’Gaji lancar. Dapat libur mingguan. Libur hari raya juga dapat. Selama di sana saya pulang kalau kontraknya selesai. Untuk mengobati rasa kangen dengan keluarga, saya bisa melalui telepon. Seminggu kadang bisa sampai tiga kali. Kerja di luar negeri dengan di Indonesia menurut saya sama saja. Bedanya pendapatannya. Tapi dipikir-pikir lebih enak di dalam negeri,’’ katanya.
Hanya, kalau bekerja di luar negeri, harus mempersiapkan skill dan mempersiapkan segala sesuatunya secara matang sebelum berangkat. ’’Pemerintah juga saya harap lebih memperhatikan tenaga kerja Indonesia. Kontrak, besaran gaji, jaminan kesehatan, dan yang lainnya. Mereka yang akan berangkat juga harus melihat dengan cermat kontrak yang ditandatangani
Menurut Mahfud, di antara pelajaran yang diambil selama bekerja Negeri Gingseng tersebut adalah soal kedisiplinan.’’10 atau 15 menit sebelum kerja dimulai, harus sudah datang. Yang menarik, kalau sedang makan. Pekerja dan bos, makannya sama di satu ruangan. Tidak dibedakan. Membaur. Menu makanannya juga sama,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.