Arsip

Archive for Juni, 2011

Dari Menjahit dan Salon, Hingga Toko Sepatu dan Tas


Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 29 Juni 2011

SEPERTI kebanyakan mereka yang berangkat ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Lilis Sofiah merantau ke Arab Saudi juga untuk mencari modal. Tapi, tak semata hanya itu yang memicu perempuan kelahiran Garut, Jawa Barat, pada 10 Februari 1971. Lilis yang kini tinggal di Gunung Terang I, Labuhan Ratu Induk, Labuhan Ratu, Lampung Timur, Lampung, itu ingin bisa berangkat haji.’’Kalau sudah di sana, bayangan saya lebih mudah menunaikan ibadah haji. Tentunya pergi haji merupakan keinginan orang Islam,’’ ujar  ibu dua anak hasil perkawinannya dengan Zainal Arifin pada 1989 itu.
Namun, tak hanya itu saja. Lilis ingin mencari pengalaman lebih banyak lagi sebagai bekal untuk mengembangkan usaha yang telah dirintisnya, penjahitan pakaian dan kursus menjahit. Untuk ukuran masyarakat pedesaan, ekonomi keluarga Lilis memang tidak kekurangan. Suaminya adalah guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Lilis sendiri yang menikah setelah menamatkan SLTP pun mempunyai kesibukan jasa penjahitan dan kursus menjahit.
’’Setelah nikah, saya mau melanjutkan SLTA itu gimana gitu. Sudah nikah kok pakai seragam sekolah. Saya lalu ambil kursus menjahit di Way Jepara, Lampung. Saya juga kursus salon. Saya juga akhirnya punya ijazah paket C. Saya sebenarnya ingin kuliah, tapi kesibukan, saya belum sempat,’’ ujar Lilis yang mengaku suaminya saat ini sedang menyelesaikan S2.
Setelah mendapat sertifikat kursus, Lilis membuka jasa kursus di daerahnya. Jasa itu pun berjalan. Namun, Lilis kurang puas. ’’Saya ingin mencari banyak pengalaman di dunia jahit plus cari modal. Ingin maju. Makanya saya daftar menjadi TKI. Tapi bukan mendaftar sebagai pembantu rumah tangga. Saya sudah punya keahlian menjahit dan salon. Kalau keahlian saya itu tidak laku untuk berangkat, saya ketika itu memilih tidak berangkat. Ternyata dari informasi yang saya dapatkan, ada lowongan untuk tenaga menjahit,’’ jelasnya.
Gayung bersambut. Lilis tak perlu menunggu lama. Apalagi kebetulan, Lilis kenal dengan bos salah satu PJTKI. Lilis pun tidak tinggal di penampungan.’’Saya kenal dengan direkturnya, karena diminta menjahit pakaiannya. Setelah mengikuti pelatihan, saya berangkat. Dapat tempat di Riyadh. Saya berangkat pada 2004. Kebetulan direktur PJTKI itu ada kenalan di sana. Memang saya minta ditempatkan di kenalan dia. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Saya memilih menjahit di rumahan bukan di perusahaan. Orang kaya sana itu, seminggu sekali bisa ganti pakaian baru. Biasanya saya diajak ke mal, melihat mode baru. Terus majikan minta membuatkannya,’’ terangnya.
Di keluarga itu, Lilis bukan satu-satunya orang Indonesia. Menurut Lilis yang ketika berangkat anak pertamanya, perempuan, belajar di SLTP dan tinggal di pondok pesantren dan anak keduanya, laki-laki, yang baru kelas 2 SD tinggal bersama suaminya dan tidak jauh dari keluarga besarnya di Lampung, ada perempuan yang sudah lama ikut majikannya.’’Dia orang Bandung. Sudah sembilan tahun. Makanya, ketika saya ditempatkan di situ, makin tidak khawatir, meski awal-awal saya tidak bisa bahasa Arab. Apalagi, perempuan itu sama-sama orang Sunda seperti saya. Jadi bisa mengobrol dan memberi informasi kepada saya. Kalau ada keperluan atau hubungan dengan majikan, saya sampaikan ke majikan perempuan,’’ imbuh Lilis yang mengaku selama dua tahun di Arab Saudi bisa berkomunikasi dengan keluarga di Lampung melalui handphone.
Selama menjadi TKI, Lilis mengaku, beberapa kali bisa umrah dan keinginannya menunaikan ibadah haji juga terkabul. ’’Selama saya  bekerja di Arab Saudi, jasa menjahit dan kursus berjalan. Saya titipkan ke orang. Namun, menyusut. Salon juga jalan. Nah, setelah sudah bisa haji dan dapat modal dan pengalaman, saya memutuskan pulang. Apalagi saya ingin melihat perkembangan anak yang tentunya butuh pendampingan,’’ terangnya beralasan.
Sesampainya di Indonesia, Lilis fokus mengembangkan usahanya. Kini, Lilis sudah mempunyai 5 kios di pasar Rintisan TKI, pasar yang dirintis sejumlah mantan TKI dan ditempati oleh para mantan TKI dan keluarganya untuk usaha, yang terletak di daerah Labuhan Ratu.’’Ada yang baju, sepatu, tas, dan salon. Salonnya namanya Kerja Sama. Melayani rias pengantin. Sedangkan menjahitnya masih, tapi karena kesibukan padat, saya sudah tidak ada waktu untuk buka kursus menjahit. Kalau ada order menjahit pakaian, saya kasih ke anak buah. Tapi mereka menjahitnya di rumah masih-masih. Mesin jahitnya dari saya, ada 5. Namanya Al Kautsar,’’ terang  ibu yang kini anaknya sedang menyelesaikan S1 di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta dan anak keduanya duduk di MAN (SLTA).
Lilis tak hanya mengurusi bisnisnya, bersama mantan TKI lainnya, dia juga ikut merintis koperasi di pasar Rintisan tersebut. Sebagai mantan TKI, dia ingin ikut member support kepada sesamanya. Dia juga berharap, bagi mereka yang punya modal, lebih baik tidak usah pergi ke luar negeri menjadi TKI. Ke luar negeri mempunyai risiko tinggi. Apalagi perempuan. ’’Kalau bisnis lancar, pendapatannya sama. Bahkan di Indonesia bisa lebih banyak. Yang punya keahlian juga dikembangkan. Kalau tidak punya modal, asal mau kerja keras, insyaAllah bisa. Apalagi sekarang banyak program pemerintah yang bisa dijadikan modal. Saya juga berharap kepada pemerintah lebih melindungi TKI lagi,’’ pungkas Lilis yang mempekerjakan lima karyawan untuk mengurus kios-kiosnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES

Buka Bengkel Kendaraan Roda Dua dan Rental Mobil

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 27 Juni 2011

DUA kali Heriyanto merantau ke Arab Saudi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Kali pertama pada 2003 hingga 2005. Ketika itu, Heriyanto masih lajang. Dia bekerja sebagai sopir di kawasan Madinah.’’Saya menjadi TKI untuk mencari modal,’’ ujar pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, pada 1973 itu ketika dihubungi INDOPOS, Sabtu malam (25/6). Pria yang tinggal di Plukaran, Gembong, Pati, Jawa Tengah, itu memilih merantau ke luar negeri juga karena melihat sejumlah orang di daerahnya menjadi TKI. Selain itu, tidak punya pilihan menarik lainnya.’’Di dalam negeri kerja susah, apalagi seperti saya yang berpendidikan rendah. Ya, terpaksa ke sana (Arab Saudi, Red),’’ imbuhnya. Setelah pulang, modal merantau di negeri petro dolar dibuat Heriyanto untuk membangun rumah dan mengembangkan bengkel kecil-kecilan yang dia rintis.’’Juga untuk nikah,’’ jelas Heriyanto yang menikahi Siti Na’imah pada 2005, setelah merantau dari Arab Saudi. Sebelum ke Arab Saudi dia memang sudah mempunyai keahlian bongkar pasang kendaraan roda dua alias sepeda motor. Keahlian itu didapatkan melalui kursus setelah menamatkan madrasah tsanawiyah (SLTP). Namun, modal yang dibawa dari Arab Saudi akhirnya habis juga. Sedangkan bengkel sepeda motor yang dipegangnya juga praktis tidak berkembang. Padahal, dia harus menafkahi istri dan buah hatinya. Akhirnya Heriyanto membuat keputusan berani. Dia merantau lagi ke Arab Saudi pada 2009. Kali ini, dia tidak sendirian. Istrinya diajak serta. Dia bertekad mencari modal lagi untuk mengembangkan usahanya. ’’Memang berisiko. Tapi saya minta agen yang memberangkatkan menempatkan saya dan istri satu paket, pada satu majikan. Dengan begitu, saya bisa melihat dan mengontrol istri saya,’’ terang Heriyanto yang ketika itu buah hatinya baru berumur 2,5 tahun dan dititipkan ke orangtuanya. Keinginan Heriyanto terkabul. Dia dan istrinya bekerja dalam satu majikan.’’Saya bekerja sebagai sopir di Riyadh. Sedangkan istri bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saya bisa tidur bareng dengan istri. Bedanya paspor saya bisa saya pegang, sedangkan paspor istri ketika itu dipegang majikan. Alasannya supaya tidak kabur. Dulu ketika saya jadi TKI kali pertama paspor bisa saya pegang juga,’’ terangnya. Heriyanto bercerita, mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga praktis tidak bisa ke mana-mana.’’Keluarga di sana tertutup. Untung saya bisa bersama istri. Jadi mengetahui perkembangannya. Kalau saya tidak mengetahui istri saya, tidak berani, karena berisiko,’’ jelas pria yang mengaku tidak memiliki lahan pertanian sendiri tersebut. Dia mengaku berangkat tanpa mengeluarkan biaya. ’’Yang menanggung agen. Nanti gaji dipotong. Saya dipotong sepuluh bulan untuk membayar biaya tersebut. Kalau saya berangkat tidak ada pelatihan khusus. Kalau istri, ada pelatihan bahasa dan diajari cara memasak,’’ ungkapnya. Heriyanto juga selalu hati-hati dalam bekerja. Pesan hati-hati juga selalu dia berikan kepada istrinya.’’Saya dan istri juga selalu menyimpan nomor kedutaan (KBRI). Untuk jaga-jaga kalau ada masalah, namanya di rantau. Tapi saya dan istri tidak pernah menelepon,’’ katanya. Selama di sana, baik dia maupun istrinya tidak pernah mengalami kejadian pahit. Namun, dari cerita yang didengar langsung dari sejumlah TKI di sana, beberapa di antara mereka tidak beruntung. Ada yang tersandung beberapa masalah.’’Kalau saya, paling harus standby 24 jam. Kalau majikan butuh saya menyetir, ya saja harus jalan. Istri juga kerja sampai malam, karena pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga baru selesai malam. Sedangkan kenangan manisnya, saya dan istri bisa berangkat haji,’’ jelasnya. Setelah dua tahun, tepatnya 2011, Heriyanto dan istri kembali ke Indonesia dan berkumbul dengan buah hatinya. Dia mengaku tidak ingin kembali lagi menjadi TKI. Di rumah, Heriyanto mengembangkan usaha bengkelnya yang selama menjadi TKI tidak diurus. Di samping itu, dia menjual jasa rental mobil. Kendaraan jenis L300 itu dijalankan sendiri oleh Heriyanto’’Saya ingin mengambangkan bengkel. Usaha di rumah, tidak ke luar negeri lagi menjadi TKI. Berisiko. Gaji juga tidak terlalu besar,’’ tegasnya. Sebagai mantan TKI yang pernah bekerja di Arab Saudi, Heriyanto berharap, pemerintah menghentikan pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke negara tersebut. Utamanya mereka yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga.’’Dari pengalaman saya di sana, perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga terlalu berisiko. Kalau mereka dapat masalah kan bangsa Indonesia juga kena. Mereka juga kasihan,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Sibuk Jadi Dosen, Advokasi dan Motivasi Para TKI

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 24 Juni 2011

KESUNGGUHAN dan keinginan kuat Nuryati untuk menggapai pendidikan setinggi-tingginya tercapai. Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pernah bekerja di Arab Saudi pada 1998—2000 itu kini sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Padjajaran Bandung (Unpad).’’Awal tahun ini S3 di Unpad, ngambil hukum,’’ ujar ibu tiga anak yang saat menjadi TKI bekerja di keluarga dokter itu.
Program studi hukum dipilih perempuan yang mendapat penghargaan Migrant Worker Award 2010 kategori purna-TKI motivator yang digelar Kemenko Kesra dan UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu bukan tanpa alasan.’’TKI bagaimana pun ada dalam diri saya, karena saya pernah merasakannya. Dengan mempelajari hukum, saya berharap dapat mengabdikan diri membantu para TKI,’’ ujar perempuan kelahiran Serang, 2 Juni 1979 ketika dihubungi INDOPOS kemarin (24/6).
Dia ingin pengalamannya menjadi TKI dan ilmu yang didapatkan di kampus dapat diaplikasikan. ’’Jangan ingin menjadi TKI selamanya. TKI bukan sesuatu yang salah. Tapi harus diplanning. Cari modal, sehingga waktu kembali bisa lebih baik di negeri sendiri. Misalnya TKI di Singapura, kalau balik bisa ngajar Bahasa Inggris dan sebagainya,’’ jelasnya.
Bukan S3 saja, Nuryati mengambil hukum. Perempuan yang bekerja di Arab Saudi selepas tamat SMA itu memulai bangku kuliah S1 (strata 1) juga di jalur hukum. ’’S1 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Hukum ketenagakerjaan, tenaga kerja luar negeri,’’ jelas Nuryati yang tinggal di Puri Kartika, Cipocok Jaya, Serang, Banten, bersama suami dan tiga buah hatinya tersebut.
S1 dapat diselesaikan dengan cepat. Itu tak lepas dari kecerdasan dan ketekunannya. Nuryati mampu lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,7 dan meraih predikat cum laude. Dia lulus dalam waktu tiga tahun. ’’Saya kemudian menjadi satu-satunya sarjana di kampung. Ketika S1 dapat beasiswa. Jadi uang yang saya dapat di Arab Saudi bisa untuk yang lainnya,’’ terangnya. Bahkan, sambil kuliah, dia bekerja di Pizza Hut Cilegon dan menjajakan makanan katering. ’’Intinya fokus. Saat bekerja, mikir kerja. Saat kuliah, mikir kuliah,’’ tegasnya.
Kecerdasan Nuryati sudah terlihat di jenjang pendidikan sebelumnya. Dia termasuk lulusan terbaik SMA Prisma, Serang, Banten. Bahkan, sejak kelas satu dia langganan juara dan mendapat beasiswa. Namun, keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi terbentur biaya. Orang tuanya tak punya biaya untuk menguliahkan dia. Apalagi lima adik Nuryati juga harus bersekolah. ’’Bapak lulusan SMA, ibu SD. Bagi perempuan kebanyakan di kampung saya, lulus SMA sudah bagus. Tapi saya ingin kuliah. Dalam benak saya, kuliah itu menghabiskan uang puluhan juta rupiah,’’ ungkap istri Agus Setiawan itu.
Tapi, dia tidak patah arang. Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya memberanikan diri berangkat menjadi TKI ke Arab Saudi.’’Tapi saya punya planning dan tekad, bekerja di sana tidak untuk selamanya. Mencari modal buat kuliah. Banyak yang meragukan niat saya, termasuk keluarga. Mereka bilang, kalau sudah punya uang banyak paling lupa kuliah. Tapi saya terpacu, ingin membuktikan. Alhamdulillah majikan di Saudi memberi apresiasi. Saya tidak hanya jadi pembantu, tapi diminta majikan membantu anaknya belajar. Siang hari, saya diminta istirahat. Saya pun menggunakannya untuk belajar buku-buku yang saya bawa,’’ jelas Nuryati yang menikah pada 2004 itu.
Dia ingin tetap bisa terus belajar meski tidak di bangku formal. Selama bekerja di Arab, Nuryati berusaha berdisiplin dalam berbagai hal. Termasuk dalam pembukuan gaji yang dia terima. Selain itu, untuk keselamatan pribadi, nomor-nomor telepon penting, seperti nomor konsulat dan kedutaan dicatatnya dengan sulaman berkode khusus di kerudung yang selalu dipakainya ke mana-mana. Angka nol, misalnya, ditulis dengan kode matahari. Angka 1 dengan kode pohon kelapa, dan seterusnya.
Keinginan kuat untuk meneruskan sekolah terus menggebu. Akhirnya Nuryati pamitan dan pulang ke Indonesia. ’’Saya mendaftar dan diterima di Untirta. Kemudian melanjutkan S2 di Universitas Jayabaya, mengambil hukum juga. Cita-cita saya jadi advokat. Nah, pas lulus S1 ada daftaran advokat, ada CPNS (calon pegawai negeri sipil, Red) juga. Saya ikut. Tapi, tidak boleh menjalankan dua-duanya,’’ imbuh anak pertama dari enam bersaudara itu.
Nuryati memang berhasil meraih sertifikat advokat, namun kemudian memutuskan mengabdi di almamaternya, Untirta, sebagai dosen. ’’Pilih PNS, tapi di kampus ada LKBH (Lembaga Konsultasi dan Bantun Hukum, Red), jadi saya bisa membantu di sini juga,’’ tambah istri dosen itu.
Bagi Nuryati yang kini memiliki lahan pertanian dan perikanan itu, pendidikan merupakan suatu yang sangat penting. Selain dapat memberantas kebodohan juga kemiskinan.’’Dengan pendidikan, bisa mengubah dunia. Paling tidak, memotivasi diri dan keluarga. Syukur-sykur orang di sekitar. Di desa saya dulu sekarang beberapa orang jadi sarjana. Rasanya bangga,’’ jelas Nuryati yang bersama suaminya mengelola kursus bahasa Korea itu. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Bawa Semangat Tinggi, Buka Usaha Ternak Ayam

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 22 Juni 2011

PELAJARAN penting didapat Kisruh Abadi saat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan pada 2000 hingga 2002. ’’Semangat kerja orang Taiwan sangat tinggi,’’ ujar warga Dawuhan, Kademangan, Blitar, Jawa Timur, itu ketika dihubungi INDOPOS Senin malam (20/6). Semangat itulah yang terus digelorakan pria yang saat menjadi TKI bekerja di pabrik tekstil, dalam setiap usaha yang ditekuninya.
’’Kalau orang Indonesia punya semangat tinggi, bisa sukses juga di tanah air. Tidak harus ke luar negeri. Kalau harus ke luar negeri (menjadi TKI) tidak apa-apa, tapi tidak hanya bekerja, tapi menyerap pengalaman dan belajar dari orang sana (luar negeri). Kalau tidak begitu, ya sayang. Pulang dari luar negeri, bisa-bisa bingung,’’ kata bapak dua anak itu.
Kalau sudah bingung, lanjut pria kelahiran 1969 itu, uangnya dibelikan rumah, renovasi rumah atau kendaraan.’’Kalau tidak dikembangkan buat usaha, uang yang didapat akan habis. Apalagi kalau membawa uang sedikit. Dari kebiasaan yang saya ketahui, uang yang didapat oleh para TKI ketika pulang dari Taiwan, hanya bertahan 5 bulan. Malah kalau yang dari Malaysia, satu bulan habis. Itu kalau mereka hanya berdiam,’’ jelas suami yang memperistri perempuan sekampungnya.
Apa yang disampaikan pria yang mengadu nasib ke Taiwan karena mencari modal dan ingin memperbaiki kesejahteraan karena kehidupannya ketika itu pas-pasan dari bertani, bukan omong kosong.’’Pada Minggu, pabrik tekstil di mana saya bekerja libur. Saya tidak mau beristirahat. Pada hari libur itu saya kerja sampingan di peternakan ayam,’’ cerita pria yang berangkat melalui agen resmi dari Jakarta menghabiskan Rp 13 juta.
Nah, sembari bekerja, pria yang saat berangkat baru mempunyai satu anak itu, juga mempelajari cara beternak ayam. ’’Selama di sana juga kirim uang untuk istri dan anak yang di rumah. Untuk bayar utang juga. Sebenarnya uang yang saya bawa pulang belum cukup. Tapi harus dioptimalkan. Saya pilih pulang meski ditawari perpanjangan kontrak 1 tahun lagi. Ingin menerapkan pengalaman bekerja di peternakan ayam,’’ terang mantan TKI yang sampai ke Blitar langsung membuka usaha peternakan ayam.
Dijelaskan, dari Taiwan dia membawa uang Rp 40 juta. ’’Saya belikan sepeda motor Supra X, Rp 13 juta, Rp 6 juta untuk bekal hidup setahun ke depan, untuk bayar berobat anak yang ketika itu dirawat di rumah sakit Rp 3 juta. Sisanya, saya belikan 500 ekor ayam. Uangnya habis,’’ jelas pria yang mengaku harus menunggu dua tahun sebelum berangkat ke Taiwan.
Kisruh yang berangkat ke Taiwan tanpa dibekali keterampilan khusus itu yakin, dengan semangat yang tinggi seperti pengalaman yang didapatkan dari Taiwan, usahanya akan berhasil. Benar. Dia kemudian tidak hanya mengandalkan beternak ayam. Dia juga bekerja di kebun.’’Di sebelah rumah ada tanah Perhutani. Beli lahan lah. Saya tanami padi dan lombok (cabai, Red). Ternyata membuahkan hasil. Padinya bisa untuk makan. Hasil dari lombok, beli 500 ekor anak ayam lagi,’’ ungkapnya.
Kisruh terus putar otak. Dia meminjam uang dari bos pakan ayam untuk membeli benih jeruk. ’’Pada 2005 ketika harga pakan naik dan harga telur turun, saya dapat pemasukan dari jeruk yang bisa dipanen. Pada tahun berikutnya, harga telur dan pakan relatif stabil. Sekarang saya tanam tebu saja, yang lainnya seperti lombok dan jeruk, tidak,’’ ucap peternak yang kini mempunyai 6 ribu ekor ayam dan areal 2 hektare yang ditanami tebu.
Bersama istri dan dibantu seorang tenaga kerja, dia fokus mengelola peternakan ayamnya. ’’Dari bertani dan beternak ayam, ya lumayan bisa buat makan dan kebutuhan anak sekolah. Kalau hanya mengandalkan beternak, ya kembali berputar untuk ayam,’’ ujarnya merendah.
Selain semangat tinggi, pengalaman lain yang didapat Kisruh di Taiwan adalah disiplin tinggi. ’’Lalu lintas teratur. Saya pernah buang puntung rokok sembarangan. Ada warga Taiwan memungutnya dan menaruh di tempat sampah. Kerja kalau jam lepas (istirahat, Red), ya istirahat, meski masih banyak yang belum dibereskan. Kalau jam kerja, ya kerja. Kalau disiplin itu bisa diterapkan di Indonesia, bagus,’’ terang Kisruh yang sudah tidak berminat ke luar negeri menjadi TKI itu.
Pengalaman lain yang masih diingat adalah saat pulang ke Indonesia. Saat di bandara di Taiwan, pria tamatan SMA itu tidak begitu khawatir. Justru dia khawatir sesampainya di Indonesia.’’Di bandara Cenkareng malah takut. Ini barangkali tidak hanya saya, banyak TKI yang mengeluh. Contohnya, barang yang dibawa ditimbang, tapi bayarnya tidak sesuai dengan apa yang tertera. Bisa berlipat. Misalnya Rp 5 ribu bisa bayar Rp 50 ribu. Padahal mereka itu pakai seragam resmi. Duta bangsa kok dibegitukan. Ini menurut saya harus dibenahi. Di bandara Taiwan tidak begitu, malah di negari sendiri begitu. Padahal, waktu pergi menjadi TKI kita susah, pergi untuk cari uang,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Buah dari Fokus, Sukses Jadi Distributor Minuman

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 20 Juni 2011

KEHIDUPAN Sumajianto dan keluarganya saat ini jauh berbeda dengan saat dia memutuskan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), beberapa tahun lalu. Dulu sederhana, kini usaha yang dijalankan sebagai agen besar aneka minuman, berkembang pesat. Kehidupan cukup itu tak lepas dari keuletan dan prinsip belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. “Segala sesuatu itu harus dilakukan dengan fokus,” ujar pria yang menjadi TKI pada 2000 hingga awal 2003 itu. Distributor ratusan minuman dijalankan pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, pada 1976, bersama istri tercintanya di daerah Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur. “Kami melayani area Jakarta,” ujar bapak satu anak ini ditemui INDOPOS Kamis dini hari (16/6) di kawasan salah satu SPBU dekat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Usaha yang dijalani pria yang tinggal di Pinang Ranti itu merupakan buah pengalamannya sewaktu bekerja di salah satu perusahaan.”Saya pernah bekerja di salah satu perusahaan di Surabaya. Pada 1998 kena PKH (pemutusan hubungan kerja, Red). Terus ada informasi dari penyalur tenaga kerja, ada pekerjaan di Amerika Serikat. Saya sudah bayar sebagian dari total Rp 48 juta, tapi tidak jadi berangkat, kena tipu. Padahal itu dari utang. Kemudian ada info, lowongan kerja di Taiwan. Saya daftar, biaya untuk berangkat utang ke sana ke mari. Setelah menunggu, baru 2000 berangkat melalui Jakarta. Sebenarnya kontrak 3 tahun, ditempatkan di perusahaan kertas. Sebelum tiga tahun, saya pulang. Beberapa bulan di rumah, tidak fokus ngurus ternak ayam yang sebelumnya dikelola istri. Selanjutnya dapat tawaran dari mantan bos saya yang dulu mem-PKH saya. Saya maunya kerja sama, tapi diminta bantu dia dengan gaji sama dengan yang saya dapatkan di Taiwan. Saya ambil, tapi dalam benak saya harus bisa menggali ilmu dari situ,” terang pria asal Dawuhan, Kademangan, Blitar, Jawa Timur, itu. Aji—panggilan akrabnya—mengaku, selama bekerja di pabrik minuman di Jakarta pada 2003 hingga 2006, banyak ilmu pendistribusian  yang didapatkan. “Sebelum keluar dari pekerjaan, saya membuka usaha distributor atau agenlah di daerah Bekasi. Itu pada 2005. Saya percayakan kepada orang,” jelas Aji yang mengadu nasib ke Taiwan untuk mencari modal itu. Pada 2006, Aji memutuskan untuk keluar. Dia tidak ingin menjadi karyawan terus.”Selanjutnya saya buka usaha di Pinang Ranti. Subdistributor karena di sini tidak hanya melayani satu merek minuman saja. Banyak minuman, ratusan. Sedangkan yang di Bekasi, saya tutup, karena orang yang jalankan tidak benar. Di sini saya dapat pelajaran, usaha apa pun itu harus fokus,” ungkap mantan TKI tamatan SMA tersebut. Aji menambahkan, kiat sukses lainnya dari usaha yang dijalaninya adalah yakin dan percaya kepada karyawan maupun rekan bisnis. “Percaya sama orang. Saya kerja sama dengan pabrik, terus didistribusikan,” imbuh Aji yang terpaksa bekerja di luar negeri karena terjerat utang itu. Bicara TKI, Aji memang tak mau berlama-lama. Setelah bisa membayar utang, dia minta kepada istrinya untuk membuka usaha ternak ayam.”Saya kirimkan uang dari Taiwan. Sehingga ketika saya pulang ada usaha yang bisa kami jalankan. Kini ternak ayam itu masih ada, tapi yang ngurus orang tua, karena pada 2004, istri saya ajak ke Jakarta,” cerita pria yang meyakini tidak bekerja di luar negeri pun orang bisa sukses. Dia juga berharap, mereka yang tetap ingin menjadi TKI harus punya bekal yang cukup agar saat bekerja di luar negeri tidak terkena kasus atau dirugikan. “Kalau perlindungan tidak bisa dijalankan oleh pemerintah, pengiriman TKI dikurangi saja. Sebab, dengan banyak ke luar negeri menjadi TKI, risikonya tinggi. Apalagi perempuan. Jadi perhatian tidak hanya dilakukan saat akan dan pada pemberangkatan saja. Tapi saat penempatan dan selama bekerja di negara orang, idealnya dipantau. Ini tentunya butuh campur tangan pemerintah,” terangnya. Dia juga tidak bisa melarang seseorang menjadi TKI, karena mereka butuh mendapatkan pekerjaan.”Usaha di kampung susah. Lapangan kerja juga susah. Kalau kerja di luar negeri itu, ibaratnya kerja sebulan itu hasil yang didapat sama dengan kerja di kampung setahun. Namun, mereka harus bisa menggunakan uang yang didapat sebaik-baiknya. Setelah pulang ke Indonesia, kalau tidak usaha, uangnya juga akan habis,” jelasnya. Yang tak kalah penting, kalau sudah sampai ke Indonesia bisa memaksimalkan yang didapat, sehingga tidak balik ke luar negeri lagi.”Sederhananya, kalau jadi karyawan aman dan nyaman, karena mengandalkan dapat gaji bulanan. Tapi kalau mau buka usaha, bisa terus berkembang,” pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Kelola Saluran Air untuk Sekitar 500 Kepala Keluarga

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 17 Juni 2011

SUATU kebahagian tersendiri bagi Nur Afandi dipercaya oleh masyarakat sekitar. Warga Midodaren, Dawuhan, Kademangan, Blitar, Jawa Timur, itu mendapat amanat mengelola saluran air untuk disalurkan kepada warga sekitar yang bersejumlah sekitar 500 kepala keluarga. ’’Pompa saluran air sebelumnya dapat bantuan dari pemerintah daerah. Mulai berjalan 2004. Namun, setelah berjalan satu tahun jebol. Saya ditarik untuk menjadi ketua Himpunan Air Minum (Hipam) Tirto Manunggal, paguyuban warga yang menerima saluran air,’’ ujar Afandi yang pernah bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia pada 2001 hingga 2003 itu.
Sejumlah tokoh warga berharap kepada Nur dan beberapa orang lainnya seperti Kisruh Abadi, yang juga pernah menjadi TKI di Malaysia, untuk membangkitkan saluran air tersebut.’’Saya ketika itu bingung, harus mencari uang ke mana untuk membeli pompa. Saya orang kecil, nggak tahu harus minta bantuan siapa dan lembaga mana. Sampai akhirnya memberanikan diri pinjam ke bos ternak ayam senilai Rp 30 juta. Uang tersebut selanjutnya untuk membeli pompa. Warga yang menerima saluran itu membayar. Dari situ untuk menutup utang tadi,’’ jelas Afandi yang pulang dari Malaysia pada 2003 itu.
Selanjutnya dari hasil pembayaran warga itu disisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli lagi satu pompa.’’Pompa bekerja 24 jam. Jadi gantian dioperasikan biar  tahan lama. Yang mengelola tidak banyak orang, sekitar 4 orang, biar efektif. Kami pengelola selanjutnya ingin sekali membuat kantor Tirto Manunggal. Tapi belum terlaksana. Belum ada dananya. Kantor itu untuk administrasi dan pembayaran warga yang menggunakan air tersebut. Selama ini pembayaran dilakukan manual, tidak terpusat di kantor,’’ jelas Afandi yang sesampainya di Indonesia setelah bekerja di Malaysia sempat mengelola ternak ayam telur modal dari temannya selama tiga tahun sebelum akhirnya tutup, karena tidak menguntungkan.
Saluran air yang digunakan warga di empat dusun, lanjut pria yang dulu berangkat ke Malaysia melalui Tanjung Pinang dan pulang juga melalui Tanjung Pinang, dikelola secara swadaya warga. Operasionalnya diambilkan dari pembayaran yang dilakukan warga yang menggunakan saluran tersebut.
’’Belakangan ini baru diajari orang bikin proposal ke pemerintah daerah, dapat bantuan tandon air ukuran panjang 7 meter x lebar 5 meter x tinggi 3 meter,’’ ungkap Afandi saat pulang dari Malaysia hanya bisa membawa sekitar Rp 1,5 juta dan selanjutnya habis untuk membangun teras rumah.
Bapak dua anak itu mengaku, tugas sebagai ketua Tirto Manunggal untuk pengabdian kepada masyarakat yang telah mempercayainya. ’’Setiap bulan ada honor, tapi tidak seberapa. Ini lebih karena amanah. Ya diniati ibadah lah,’’ tegas Afandi yang balik ke Indonesia karena diminta pulang oleh istrinya setelah utang yang melilitnya terbayar dengan hasil jerih payah kerja di Negeri Jiran.
Di antara tugas yang berat adalah saat musim kemarau.’’Jarang bisa tidur bersama keluarga, karena kalau malam hari nurut jalan air (mengawal saluran air). Yang menggunakan kan gantian. Harus dijaga supaya mereka yang tergabung dalam Tirto Manunggal tetap bisa mendapatkan air. Air dibagi supaya tidak bertengkar. Air sangat vital bagi warga di sini, maka harus keliling,’’ ujar Afandi yang mengandalkan mata pencaharian dari berkebun tersebut.
Selain ingin membangun kantor di atas tanah milik Tirto Manunggal sendiri, Afandi masih punya harapan lain.’’Air yang mengalir ini kan diambil dari mata air di pinggir sungai. Tapi kalau mengandalkan mata air ini saja, saat kemarau masih kalang kabut. Ada mata air lagi sebenarnya yang bisa digunakan, tapi belum ada modal. Kalau ada modal, kami ingin memanfaatkan mata air yang satu ini, sehingga musim kemarau tidak kalang kabut,’’ ungkap Afandi dihubungi INDOPOS, Selasa malam (14/6).
Afandi juga bercerita saat menjadi TKI. Dia mengaku berangkat dengan membayar Rp 3 juta. Sampai di Tanjung Pinang ada yang bilang, kalau lewat belakang bisa kurang. Afandi pun akhirnya hanya mengeluarkan Rp 2 juta.’’Saya kan ilegal. Jadi kalau ada polisi, lari kencang. Selama di Malaysia tidak pernah dipegang (tertangkap) polisi sampai pulang ke Indonesia lagi. Namanya ilegal yang tidak enak. Apalagi di sana sebagai kuli. Ke Malaysia juga untuk membayar utang. Begitu utang lunas, istri minta saya pulang,’’ terangnya.
Hidup Afandi saat jadi TKI dengan sekarang sangat beda. Bukan materi yang menjadi ukuran. Tapi, saat menjadi TKI, tidak ada kebanggaan. Hanya semata bekerja untuk keluarga dan melunasi utang. Namun, setelah mengelola saluran air, hidup Afandi terasa bermakna. Ada sesuai yang bisa diberikan kepada masyarakat. Kemandirian masyrakat tempatnya tinggal, utamanya Tirto Manunggal patut menjadi contoh. Mereka berswadaya dan bergotong royong. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Jadi Motivator Para Mantan Tenaga Kerja Indonesia

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 15 Juni 2011

BAGI Imam Nahrowi, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sukses adalah mereka yang setelah pulang ke Indonesia tidak kembali lagi ke luar negeri menjadi TKI lagi.’’Menurut saya, itu ukuran sukses TKI. Sekali bekerja ke luar negeri. Terus mengoptimalkan yang didapat di tanah air,’’ ujar salah seorang dari 12 finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010, ajang penghargaan bagi mantan TKI yang dinilai sukses setelah pulang ke tanah air dihubungi INDOPOS, Selasa (14/6). Jadi, lanjut mantan TKI di Korea Selatan pada 2000-2002 itu, ukuran sukses bukan dilihat dari materi. ’’Apalagi pemerintah belum punya standar TKI yang sukses itu yang seperti apa,’’ kata bapak dua anak yang lahir di Lampung pada 1967 tersebut.
Jika definisi tersebut disematkan, Imam yang saat jadi TKI selama 30 tahun bekerja di pabrik tekstil termasuk di antara deretan mantan TKI yang sukses. Dia sudah tidak punya keinginan ke luar negeri sebagai TKI. Kalau keluar negeri bukan kapasitas sebagai TKI, beberapa kali dilakukan. Baru-baru ini misalnya, pria yang tinggal di Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, itu pergi ke Korea Selatan (Korsel) bersama dua mantan TKI lainnya, perwakilan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
’’Ke Korsel pada 5—16 Mei 2011. Saya diajak ikut memotivasi para TKI di Korsel agar tidak konsumtif. Banyak TKI yang tidak sukses, karena konsumtif. Ini kesalahan fatal,’’ terang suami dari Suprihatin yang ketika itu memilih mengubah nasib dengan cara mengadu nasib ke Negeri Gingseng untuk mencari modal setelah perusahaan tempatnya bekerja di Lampung pailit.
Sebagian besar, lanjut ketua GP Ansor Kabupaten Lampung Timur itu, para TKI membelanjakan uang hasil jerih payahnya tidak benar alias konsumtif. ’’Saya melihat. Kecuali yang bekerja di sektor rumah tangga yang tidak bisa begitu bebas keluar. Selain itu, manajemen keluarga yang ada di Indonesia harus diperhatikan. Jika dikirimi uang, membelanjakannnya harus diatur. Lebih baik ada yang disisihkan buat modal, sehingga kalau pulang ada yang bisa dilakukan. Kesempatan tidak datang dua kali. Kalau konsumtif, uang habis, sedangkan waktu terbatas, karena kontrak, pulang bisa-bisa tidak bawa apa-apa,’’ jelas Imam yang saat berangkat sebagai TKI mengaku tidak punya apa-apa dan membekali istrinya jualan es lilin keliling dengan sepeda motor.
Yang menarik, saat memberi motivasi di Korsel itu, agendanya hanya di 4 provinsi. Tapi, sejumlah TKI di dua provinsi lainnya berinisiatif mengundang.’’Saya sendiri hanya datang di 5 provinsi. Tiap pertemuan, yang datang sekitar 100 TKI. Di Korsel, kebanyakan bekerja di bagian manufaktur. Mereka sangat responsif sekali kepada mantan TKI yang sukses,’’ terang Imam yang juga masuk di Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor.
Alumni S1 Darul Qalam Tangerang, Banten, itu pun menceritakan pengalamannya. Setelah satu tahun menjadi TKI, tepatnya 2001, Imam mengirim uang ke istrinya yang juga tamatan S1. ’’Uang Rp 50 juta itu untuk bangun sejenis kios yang menjual bahan-bahan bangunan. Ini bangunan pertama di lokasi yang kemudian menjadi pasar desa Rintisan TKI,’’ ujar pengurus Bidang Kewirusahaan MUI Kabupaten Lampung Timur itu.
Usaha Imam itu pun terus berkembang. Setelah pulang, Imam yang keturunan Blitar, Jawa Timur, dan istri yang keturunan Solo, Jawa Tengah, itu mengoptimalkan hasil keringat yang didapat. Imam membeli truk untuk keperluan usaha toko bangunan. Imam juga membangun beberapa ruko di seberang pasar Rintisan TKI, pasar yang dirintis Imam dan sejumlah mantan TKI dan ditempati oleh para mantan TKI dan keluarganya untuk usaha.
’’Toko bangunannya lengkap, ada perkebunan karet, dan sekarang merambah ke properti yang disewakan,’’ cerita pria yang sering diundang ke sejumlah kegiatan untuk memberi motivasi dan mengisi seminar di antaranya ke Universitas Atma Jaya dan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta.
Imam yang pada akhir 2008 lalu asetnya sekitar Rp 2,1 miliar dan kini terus bertambah itu mengaku tidak punya dasar berwirausaha. ’’Saya otodidak, banyak baca buku-buku motivasi dan belajar dari mereka yang gagal. Saya juga ingat pesan istri saat berangkat sebagai TKI. Istri bilang, kalau jadi TKI sukses, tetangga bisa iri, tapi kalau gagal, tetangga bisa tepuk tangan. Makanya saya memilih yang terbaik,’’ ungkap pria yang punya 12 orang tenaga kerja itu.
Imam juga berpesan, lebih baik bekerja atau cari pekerjaan di dalam negeri. ’’Syukur dapat menciptakan pekerjaan sendiri. Tapi, ini masih berat melihat kultur yang ada. Nah, kalau TKI masih berjalan, harus ada standardisasi sumber daya manusia, sehingga tidak ada persoalan di luar negeri. Mereka tahu kalau terjadi apa-apa, misalnya melapor ke mana dan sebagainya,’’ jelas pria mengaku senang beraktivitas di jalur sosial dan tidak punya obsesi terjun ke dunia politik itu.
Sistem perlindungan TKI, terutama di sektor rumah tangga, juga harus mendapat perhatian pemerintah.’’Yang mau berangkat, harus jelas, sehingga punya tujuan dan bisa mengoptimalkan apa yang didapat. Keluarga TKI juga perlu diberdayakan agar bisa memanaj kiriman uang,’’ pungkas Imam yang bersama istrinya ingin istiqomah membesarkan anak-anaknya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES