Beranda > TKI SUKSES > Aktif Beri Pelatihan dan Pendampingan, Beri Inspirasi Usaha

Aktif Beri Pelatihan dan Pendampingan, Beri Inspirasi Usaha

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 6 Juni 2011

KEPEDULIAN kepada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ditunjukkan Jiatiningsih. Pengalaman menjadi TKI di Taiwan dan Hongkong menjadi modal berharga untuk memberikan pelatihan kepada para Pahlawan Devisa Indonesia—sebutan TKI. Dia merasakan betul menjadi TKI yang tidak mempunyai nilai tawar sama sekali. Itu dirasakan saat bekerja di Hongkong.’’Kontrak saya ketika itu aturannya dua tahun. Tapi baru 7 bulan sudah di PHK (pemutusan hubungan kerja, Red). Saya mau dipulangkan, tapi saya lari ke Migrant Workers Union (IMWU) atau Serikat TKI-Pekerja Rumah Tangga di Hongkong. Saya minta hak-hak saya diperjuangkan. Di sinilah saya sedikit-dikit mengetahui organisasi,’’ ujar perempuan yang bekerja di Taiwan 1,5 tahun mulai 1999 kepada INDOPOS, Jumat (3/6).
Perempuan kelahiran 1979 Songkorejo, Jombok, Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu mengaku, saat berangkat ke Taiwan tanpa persiapan yang cukup. ’’Saya tamatan SD, tidak tahu info banyak. Terinspirasi mereka yang berangkat menjadi TKI yang terlihat enak. Ditambah ada persoalan rumah tangga. Tapi, saya sudah bilang ke suami,’’ cerita ibu yang dikaruniai 2 anak dari pernikahan pertama dan seoarang anak dari pernikahan yang kedua itu.
Dalam kontrak ke Taiwan, Jiatiningsih bekerja sebagai perawat. Namun nyatanya, dia hanya diminta menjaga kantin. Sampai suatu hari, dia berkenalan dengan seorang wartawan yang makan di kantin tersebut. ’’Saya ngomong belak-belakan dan masuk di teve sampai tiga kali. Majikan di sana kan takut kalau menyalahi aturan. Akhirnya saya dipulangkan. Diantar sampai bandara. Hak saya semua dipenuhi,’’ terangnya.
Saat pulang dari Taiwan, dia membawa bekal yang bisa untuk menghidupi keluarga, termasuk orangtuanya. Namun, dia sadar, kalau dirinya di rumah terus, keuangan akan menipis. Padahal, anaknya juga butuh pendidikan.’’Beban moral. Setelah dua bulan di rumah, saya berangkat ke Hongkong. Saya tidak ke Taiwan lagi, karena yang saya dengar, tidak boleh kontrak dua kali di Taiwan. Sesuai kontrak, saya menjaga anak. Majikan saya disiplin banget. Misalnya waktu jemput anaknya, saya tidak boleh kurang atau lebih. Ini memang menjadi beban psikis. Saya coba bertahan. Mengadu ke agency, diminta bersabar. Namun, suatu ketika, tiba-tiba saya di PHK. Nggak tahu alasannya,’’ jelas perempuan yang harus berpisah dari suami pertamanya setelah pulang dari Hongkong tersebut.
Setelah beberapa waktu tinggal di shelter di IMWU, dia kembali ke Indonesia hanya dengan membawa uang Rp 5 juta. Tapi, tidak pulang ke Malang. Melainkan ke Jakarta. Di ibu kota ini, dia tinggal untuk beberapa waktu. ’’Beban, karena gagal, saya tidak percaya diri pulang (ke Malang, Red). Namun akhirnya keluarga mengerti. Di Jakarta saya tinggal di shelter. Di Jakarta pula saya belajar dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Sampai akhirnya saya bergabung di Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI),’’ ungkap perempuan yang saat ini dipercaya sebagai ketua Cabang SBMI Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu.
Pengalaman menjadi TKI itulah yang memotivasi dirinya mencurahkan waktu untuk memberi pelatihan dan advokasi kepada para Pahlawan Devisa Indonesia.’’Nuntut keadilan susah. Apalagi kalau background pendidikan TKI rendah, bisa ditipu sana-sini. Bagi saya, meski tamatan SD, kemampuan seseorang tidak bisa dinilai dari sekolah. Dari situ saya tergerak untuk terus belajar,’’ imbuh perempuan yang nikah kali kedua pada 2004 itu.
Menurutnya, menjadi TKI adalah hak siapa saja. Jadi TKI bukan buruk.’’Sah-sah saja menjadi TKI, karena tidak mendapat pekerjaan yang layak di tanah air. Namun, mereka harus mempersiapkan diri dengan matang. Pemerintah juga harus melindungi para TKI, sehingga TKI tidak dipandang sebelah mata. Inginnya seperti Filipina, ada posisi tawar, negara benar-benar membela. Kalau TKI punya posisi tawar, tidak akan diremehkan,’’ tegas Jiatiningsih yang pada 2007 membuka usaha kecil-kecilan, empon-empon, di Malang.
Meski demikian, dia tak henti-hentinya menekankan agar masyarakat memaksimalkan potensi yang ada di daerahnya masing-masing.’’Tidak perlu ke luar negeri untuk bekerja. Manfaatkan dengan maksimal potensi desa masing-masing. Di luar negeri memang ada potensi besar, tapi risikonya juga besar. Di daerah saja,’’ pinta perempuan yang sibuk memberi banyak pelatihan tersebut.
Beberapa pelatihan yang dilakukan untuk pemberdayaan para mantan TKI di antaranya adalah beternak, kuliner, bahan pangan, dan lain sebagainya. Tahun ini Jiatiningsih juga sibuk membantu sebagai pendamping usaha kelompok di Disnakertrans Mobduk Kabupaten Malang. ’’Memberdayakan potensi daerah. Mereka terinspirasi untuk usaha. Dari pelatihan itu, ada yang sudah buka toko, warung kopi, mendirikan koperasi. Jangan berpikir langsung terkenal. Harus bertahap, ulet, dan telaten. Kegiatan ini juga bekerja sama dengan sejumlah instansi,’’ imbuh istri dari Eddy Purwanto yang juga aktifis lembaga swadaya masyarakat itu. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: