Beranda > TKI SUKSES > Jadi Motivator Para Mantan Tenaga Kerja Indonesia

Jadi Motivator Para Mantan Tenaga Kerja Indonesia

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 15 Juni 2011

BAGI Imam Nahrowi, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sukses adalah mereka yang setelah pulang ke Indonesia tidak kembali lagi ke luar negeri menjadi TKI lagi.’’Menurut saya, itu ukuran sukses TKI. Sekali bekerja ke luar negeri. Terus mengoptimalkan yang didapat di tanah air,’’ ujar salah seorang dari 12 finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010, ajang penghargaan bagi mantan TKI yang dinilai sukses setelah pulang ke tanah air dihubungi INDOPOS, Selasa (14/6). Jadi, lanjut mantan TKI di Korea Selatan pada 2000-2002 itu, ukuran sukses bukan dilihat dari materi. ’’Apalagi pemerintah belum punya standar TKI yang sukses itu yang seperti apa,’’ kata bapak dua anak yang lahir di Lampung pada 1967 tersebut.
Jika definisi tersebut disematkan, Imam yang saat jadi TKI selama 30 tahun bekerja di pabrik tekstil termasuk di antara deretan mantan TKI yang sukses. Dia sudah tidak punya keinginan ke luar negeri sebagai TKI. Kalau keluar negeri bukan kapasitas sebagai TKI, beberapa kali dilakukan. Baru-baru ini misalnya, pria yang tinggal di Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, itu pergi ke Korea Selatan (Korsel) bersama dua mantan TKI lainnya, perwakilan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
’’Ke Korsel pada 5—16 Mei 2011. Saya diajak ikut memotivasi para TKI di Korsel agar tidak konsumtif. Banyak TKI yang tidak sukses, karena konsumtif. Ini kesalahan fatal,’’ terang suami dari Suprihatin yang ketika itu memilih mengubah nasib dengan cara mengadu nasib ke Negeri Gingseng untuk mencari modal setelah perusahaan tempatnya bekerja di Lampung pailit.
Sebagian besar, lanjut ketua GP Ansor Kabupaten Lampung Timur itu, para TKI membelanjakan uang hasil jerih payahnya tidak benar alias konsumtif. ’’Saya melihat. Kecuali yang bekerja di sektor rumah tangga yang tidak bisa begitu bebas keluar. Selain itu, manajemen keluarga yang ada di Indonesia harus diperhatikan. Jika dikirimi uang, membelanjakannnya harus diatur. Lebih baik ada yang disisihkan buat modal, sehingga kalau pulang ada yang bisa dilakukan. Kesempatan tidak datang dua kali. Kalau konsumtif, uang habis, sedangkan waktu terbatas, karena kontrak, pulang bisa-bisa tidak bawa apa-apa,’’ jelas Imam yang saat berangkat sebagai TKI mengaku tidak punya apa-apa dan membekali istrinya jualan es lilin keliling dengan sepeda motor.
Yang menarik, saat memberi motivasi di Korsel itu, agendanya hanya di 4 provinsi. Tapi, sejumlah TKI di dua provinsi lainnya berinisiatif mengundang.’’Saya sendiri hanya datang di 5 provinsi. Tiap pertemuan, yang datang sekitar 100 TKI. Di Korsel, kebanyakan bekerja di bagian manufaktur. Mereka sangat responsif sekali kepada mantan TKI yang sukses,’’ terang Imam yang juga masuk di Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor.
Alumni S1 Darul Qalam Tangerang, Banten, itu pun menceritakan pengalamannya. Setelah satu tahun menjadi TKI, tepatnya 2001, Imam mengirim uang ke istrinya yang juga tamatan S1. ’’Uang Rp 50 juta itu untuk bangun sejenis kios yang menjual bahan-bahan bangunan. Ini bangunan pertama di lokasi yang kemudian menjadi pasar desa Rintisan TKI,’’ ujar pengurus Bidang Kewirusahaan MUI Kabupaten Lampung Timur itu.
Usaha Imam itu pun terus berkembang. Setelah pulang, Imam yang keturunan Blitar, Jawa Timur, dan istri yang keturunan Solo, Jawa Tengah, itu mengoptimalkan hasil keringat yang didapat. Imam membeli truk untuk keperluan usaha toko bangunan. Imam juga membangun beberapa ruko di seberang pasar Rintisan TKI, pasar yang dirintis Imam dan sejumlah mantan TKI dan ditempati oleh para mantan TKI dan keluarganya untuk usaha.
’’Toko bangunannya lengkap, ada perkebunan karet, dan sekarang merambah ke properti yang disewakan,’’ cerita pria yang sering diundang ke sejumlah kegiatan untuk memberi motivasi dan mengisi seminar di antaranya ke Universitas Atma Jaya dan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta.
Imam yang pada akhir 2008 lalu asetnya sekitar Rp 2,1 miliar dan kini terus bertambah itu mengaku tidak punya dasar berwirausaha. ’’Saya otodidak, banyak baca buku-buku motivasi dan belajar dari mereka yang gagal. Saya juga ingat pesan istri saat berangkat sebagai TKI. Istri bilang, kalau jadi TKI sukses, tetangga bisa iri, tapi kalau gagal, tetangga bisa tepuk tangan. Makanya saya memilih yang terbaik,’’ ungkap pria yang punya 12 orang tenaga kerja itu.
Imam juga berpesan, lebih baik bekerja atau cari pekerjaan di dalam negeri. ’’Syukur dapat menciptakan pekerjaan sendiri. Tapi, ini masih berat melihat kultur yang ada. Nah, kalau TKI masih berjalan, harus ada standardisasi sumber daya manusia, sehingga tidak ada persoalan di luar negeri. Mereka tahu kalau terjadi apa-apa, misalnya melapor ke mana dan sebagainya,’’ jelas pria mengaku senang beraktivitas di jalur sosial dan tidak punya obsesi terjun ke dunia politik itu.
Sistem perlindungan TKI, terutama di sektor rumah tangga, juga harus mendapat perhatian pemerintah.’’Yang mau berangkat, harus jelas, sehingga punya tujuan dan bisa mengoptimalkan apa yang didapat. Keluarga TKI juga perlu diberdayakan agar bisa memanaj kiriman uang,’’ pungkas Imam yang bersama istrinya ingin istiqomah membesarkan anak-anaknya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: