Beranda > TKI SUKSES > Kelola Saluran Air untuk Sekitar 500 Kepala Keluarga

Kelola Saluran Air untuk Sekitar 500 Kepala Keluarga

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 17 Juni 2011

SUATU kebahagian tersendiri bagi Nur Afandi dipercaya oleh masyarakat sekitar. Warga Midodaren, Dawuhan, Kademangan, Blitar, Jawa Timur, itu mendapat amanat mengelola saluran air untuk disalurkan kepada warga sekitar yang bersejumlah sekitar 500 kepala keluarga. ’’Pompa saluran air sebelumnya dapat bantuan dari pemerintah daerah. Mulai berjalan 2004. Namun, setelah berjalan satu tahun jebol. Saya ditarik untuk menjadi ketua Himpunan Air Minum (Hipam) Tirto Manunggal, paguyuban warga yang menerima saluran air,’’ ujar Afandi yang pernah bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia pada 2001 hingga 2003 itu.
Sejumlah tokoh warga berharap kepada Nur dan beberapa orang lainnya seperti Kisruh Abadi, yang juga pernah menjadi TKI di Malaysia, untuk membangkitkan saluran air tersebut.’’Saya ketika itu bingung, harus mencari uang ke mana untuk membeli pompa. Saya orang kecil, nggak tahu harus minta bantuan siapa dan lembaga mana. Sampai akhirnya memberanikan diri pinjam ke bos ternak ayam senilai Rp 30 juta. Uang tersebut selanjutnya untuk membeli pompa. Warga yang menerima saluran itu membayar. Dari situ untuk menutup utang tadi,’’ jelas Afandi yang pulang dari Malaysia pada 2003 itu.
Selanjutnya dari hasil pembayaran warga itu disisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli lagi satu pompa.’’Pompa bekerja 24 jam. Jadi gantian dioperasikan biar  tahan lama. Yang mengelola tidak banyak orang, sekitar 4 orang, biar efektif. Kami pengelola selanjutnya ingin sekali membuat kantor Tirto Manunggal. Tapi belum terlaksana. Belum ada dananya. Kantor itu untuk administrasi dan pembayaran warga yang menggunakan air tersebut. Selama ini pembayaran dilakukan manual, tidak terpusat di kantor,’’ jelas Afandi yang sesampainya di Indonesia setelah bekerja di Malaysia sempat mengelola ternak ayam telur modal dari temannya selama tiga tahun sebelum akhirnya tutup, karena tidak menguntungkan.
Saluran air yang digunakan warga di empat dusun, lanjut pria yang dulu berangkat ke Malaysia melalui Tanjung Pinang dan pulang juga melalui Tanjung Pinang, dikelola secara swadaya warga. Operasionalnya diambilkan dari pembayaran yang dilakukan warga yang menggunakan saluran tersebut.
’’Belakangan ini baru diajari orang bikin proposal ke pemerintah daerah, dapat bantuan tandon air ukuran panjang 7 meter x lebar 5 meter x tinggi 3 meter,’’ ungkap Afandi saat pulang dari Malaysia hanya bisa membawa sekitar Rp 1,5 juta dan selanjutnya habis untuk membangun teras rumah.
Bapak dua anak itu mengaku, tugas sebagai ketua Tirto Manunggal untuk pengabdian kepada masyarakat yang telah mempercayainya. ’’Setiap bulan ada honor, tapi tidak seberapa. Ini lebih karena amanah. Ya diniati ibadah lah,’’ tegas Afandi yang balik ke Indonesia karena diminta pulang oleh istrinya setelah utang yang melilitnya terbayar dengan hasil jerih payah kerja di Negeri Jiran.
Di antara tugas yang berat adalah saat musim kemarau.’’Jarang bisa tidur bersama keluarga, karena kalau malam hari nurut jalan air (mengawal saluran air). Yang menggunakan kan gantian. Harus dijaga supaya mereka yang tergabung dalam Tirto Manunggal tetap bisa mendapatkan air. Air dibagi supaya tidak bertengkar. Air sangat vital bagi warga di sini, maka harus keliling,’’ ujar Afandi yang mengandalkan mata pencaharian dari berkebun tersebut.
Selain ingin membangun kantor di atas tanah milik Tirto Manunggal sendiri, Afandi masih punya harapan lain.’’Air yang mengalir ini kan diambil dari mata air di pinggir sungai. Tapi kalau mengandalkan mata air ini saja, saat kemarau masih kalang kabut. Ada mata air lagi sebenarnya yang bisa digunakan, tapi belum ada modal. Kalau ada modal, kami ingin memanfaatkan mata air yang satu ini, sehingga musim kemarau tidak kalang kabut,’’ ungkap Afandi dihubungi INDOPOS, Selasa malam (14/6).
Afandi juga bercerita saat menjadi TKI. Dia mengaku berangkat dengan membayar Rp 3 juta. Sampai di Tanjung Pinang ada yang bilang, kalau lewat belakang bisa kurang. Afandi pun akhirnya hanya mengeluarkan Rp 2 juta.’’Saya kan ilegal. Jadi kalau ada polisi, lari kencang. Selama di Malaysia tidak pernah dipegang (tertangkap) polisi sampai pulang ke Indonesia lagi. Namanya ilegal yang tidak enak. Apalagi di sana sebagai kuli. Ke Malaysia juga untuk membayar utang. Begitu utang lunas, istri minta saya pulang,’’ terangnya.
Hidup Afandi saat jadi TKI dengan sekarang sangat beda. Bukan materi yang menjadi ukuran. Tapi, saat menjadi TKI, tidak ada kebanggaan. Hanya semata bekerja untuk keluarga dan melunasi utang. Namun, setelah mengelola saluran air, hidup Afandi terasa bermakna. Ada sesuai yang bisa diberikan kepada masyarakat. Kemandirian masyrakat tempatnya tinggal, utamanya Tirto Manunggal patut menjadi contoh. Mereka berswadaya dan bergotong royong. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: