Beranda > TKI SUKSES > Pantang Menyerah, Dirikan Pasar Rintisan TKI dan Koperasi

Pantang Menyerah, Dirikan Pasar Rintisan TKI dan Koperasi

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 3 Juni 2011

BOLEH saja beberapa orang masih memandang sebelah mata Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Namun jangan lupa, banyak kiprah Pahlawan Devisa Indonesia itu yang membuat Indonesia bangga. Dengan modal awal menjadi TKI, mereka berhasil mengukir prestasi. Mereka juga berhasil membuktikan diri memiliki kemampuan memberdayakan masyarakat. Sebut saja Berti Sarova, mantan TKI asal Provinsi Lampung yang pernah dua kali bekerja di Taiwan.
Berbagai usaha dilakukan Berti untuk memperbaiki tingkat kehidupan para mantan TKI dan keluarganya. Salah satunya adalah pasar desa ’’Rintisan TKI’’ di Dusun Gunung Terang, Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.’’Pasar desa Rintisan TKI dimulai pada 2001,’’ ujar Berti yang lahir pada 8 September 1976 di Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur.
Sebelumnya, pasar desa itu sudah ada. Tapi praktis tidak berkembang. Berti memulai membeli kios dan membuka wartel bernama All- In. Usaha ini maju pesat. ’’Dari keuntungan itu saya bisa membeli beberapa kios lagi. Kemudian timbul ide, mengajak mantan TKI atau keluarga TKI. Saya jelaskan kepada para TKI yang masih di luar negeri bahwa dengan membuka usaha lebih dulu bisa jadi bekal kalau mereka kembali ke tanah air nanti. Di sini ada 90 kios. Di sana saya lebih dikenal dengan nama Alin, karena mengambil nama wartel itu,’’ jelas istri dari Eko Dedy Setiawan yang juga mantan TKI.
Atas prestasinya ini, pihak desa memberi nama pasar yang baru dibuka itu sesuai dengan nama yang diusulkan para mantan TKI, yaitu pasar ’’Rintisan TKI’’. Nama ini diberikan sebagai penghargaan pihak desa kepada para TKI dan keluarganya yang telah berjasa dalam merintis berkembangnya pasar desa.
Di sini, terciptalah pasar desa yang semua pedagangnya adalah para mantan dan keluarga TKI.
Perjuangan Berti tidak berhenti sampai pada pengembangan pasar desa. Setelah pasar yang dirintis itu berkembang, para mantan TKI dan keluarganya yang dikoordinasi oleh Berti mempunyai gagasan mendirikan koperasi simpan pinjam. Koperasi ini kemudian diberi nama Koperasi TKI Bina Usaha Mandiri. ’’Aset koperasi dari anggota yang berjumlah 350 orang, baik para TKI, mantan TKI, dan keluarga TKI,’’ ujar ibu dari Alline Vischa Jayanti, 12 dan Yoshie Amanda Cheasilia, 7.
Pasar dan koperasi yang dirintis Berti terbukti berhasil meningkatkan kualitas hidup para TKI, mantan TKI, dan keluarga TKI. Kini, dalam kondisi ekonomi mereka yang semakin membaik, solidaritas mereka terhadap para TKI juga semakin meningkat. Menurut Berti yang merupakan anggota Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), meningkatnya solidaritas itu terjadi karena mereka merasakan betul kehidupan sulit semasa menjadi TKI.  ’’Dengan punya usaha itu, para TKI hendaknya berpikir cukup jadi TKI sekali saja, karena setelah kembali punya bekal,’’ tegas anak pertama dari tiga bersaudara itu dihubungi INDOPOS dalam perjalannnya ke Cililitan, Jakarta, Kamis (2/6).
Bersama para anggota koperasi, Berti bercita-cita untuk terus mengembangkan koperasi yang dirintisnya. Tidak hanya menjadi koperasi simpan pinjam, tetapi sekaligus juga koperasi produksi. Berti juga ingin mewujudkan desa mandiri. Dengan adanya desa mandiri, tidak perlu lagi warga jadi TKI. Mereka bisa memanfaatkan hasil kerjanya untuk memulai usaha di daerahnya sendiri. Dengan cara ini para TKI itu tidak perlu lagi kembali ke luar negeri dan bahkan tidak akan ada lagi anggota keluarga yang memilih menjadi TKI.
Keberhasilan Berti merupakan buah kerja keras. Dia dua kali menjadi TKI ke Taiwan. Pertama 1999 hingga 2001. Ketika berangkat ke Taiwan, Berti meninggalkan anak pertamanya yang baru berumur tiga bulan dalam asuhan orangtua Berti. Sesuai kontrak, pekerjaannya hanyalah menjaga nenek. Namun ketika tiba di Taiwan, nenek ternyata meninggal dan dia diminta majikan menjaga kakek. Suaminya, Eko Dedy Setiawan sudah lebih dulu berangkat ke Taiwan dan bekerja di pabrik mesin jahit. Setelah pulang dia dan suami merintis usaha. Eko setia mendukung dan membantu Berti mewujudkan mimpinya.
Pertama wartel. Namun seiring telepon masuk desa, usaha itu gulung tikar. Usaha lainnya yang pernah dilakukan adalah membuka dealer motor China. Usaha dealer bangkrut setelah uang angsuran sebesar Rp 124 juta dibawa kabur teman. Dari dealer motor Berti dan Eko beralih usaha ke jual beli barang elektronik. Usaha ini pun tidak berlangsung lama.
Berti dan suami pun kemudian memutuskan untuk kembali menjadi TKI. Namun, tak seberuntung saat keduanya jadi TKI ke Taiwan kali pertama. Eko yang sudah habis puluhan juta rupiah, gagal berangkat, setelah terkena tipu. Sedangkan Berti bisa berangkat pada 2007. Sayang, nasibnya malang. Setelah dua bulan bekerja di rumah sakit jompo, dia mendapati kenyataan, agency telah menipunya. Sudah dua bulan kerja dia belum juga terima gaji.
Berti berjuang ke mana-mana untuk menuntut keadilan. Baik selama masih di Taiwan maupun setelah pulang ke Indonesia. Di sinilah Berti belajar tentang apa artinya menjadi TKI. Yang didapat hanya uang asuransi Rp 2 juta. Dengan modal sebesar itu, dia bersama suami  memulai usaha dengan jualan pulsa telepon seluler. Pelan-pelan modal usaha bertambah. Dari jualan pulsa dia membuka kios telepon seluler, termasuk servis dan jual beli telepon seluler beserta aksesorisnya. ’’Di depan pasar saya juga punya kios jualan pulsa. Tapi temen-temen ingin saya kembali lagi ke kios yang ada di dalam pasar. Saya akan kembali ke kios yang saya sewakan itu,’’ jelasnya.
Berti juga berharap, para TKI punya kesadaran, tidak berpikir jadi TKI terus. ’’Saya berharap, TKI tidak menjadi komoditi. Perlindungan harus jelas. Para TKI juga harus lebih berhati-hati dan mereka harus siap betul semuanya dan berpikir matang sebelum berangkat. Para TKI juga harus mengubah mindset, bisa mendapatkan gaji atau pemasukan yang sama di tanah air, bahkan melebihi gaji TKI, asal terus berusaha, pantang menyerah, membaca peluang, dan memanfaatkan jaringan teman-teman,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: