Beranda > TKI SUKSES > Punya 78 Unit Tenda, Saat Ini Kepala Desa, Ingin Jadi Legislatif

Punya 78 Unit Tenda, Saat Ini Kepala Desa, Ingin Jadi Legislatif

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 10 Juni 2011

INGIN terus maju dan berkembang. Itulah yang tampak dari kisah Miswanto. Saat ini bapak empat anak itu memang jauh lebih baik dibanding 13 tahun lalu saat berangkat ke Taiwan sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).’’Saya menjadi TKI karena keadaan. Dulu dagang keliling hasil bumi, pedagang kecil, jualan kakao. Pada 1997 akhir, saya ingin berangkat ke luar negeri, jadi TKI. Saya ingin berkembang, secara ekonomi ingin lebih baik,’’ ujar pria kelahiran Jepara, Way Jepara, Lampung Timur, Lampung, pada 2 Februari 1972 tersebut.
Miswanto yang ketika itu baru mempunyai dua anak nekat berangkat dengan modal utang.’’Dapat utang, karena dipercaya tetangga. Ketika itu habis Rp 5.500.000, termasuk  wara-wiri total Rp 7.500.000. Daftar 14 Februari 1998, kemudian berangkat 16 Juni 1998 dari Jakarta. Kontrak 2 tahun di perusahaan furniture. Jelang berangkat nggak ada pelatihan khusus. Yang penting sehat dan kuat. Saya kerjaannya ngamplas,’’ ungkap suami dari Rusnawati itu.
Sebenarnya setelah dua tahun ada kesempatan memperpanjang kontrak satu tahun lagi. Tapi tidak diambil. Miswanto memutuskan pulang. Selain karena rindu keluarga, jelang kontrak berakhir, lemburan yang didapatkan di perusahaannya berkurang, tinggal 2 jam. ’’Kerjanya mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00. Kalau ada lembur sampai pukul 23.00. Tapi belakangan seringnya hanya 2 jam lemburnya. Artinya uang yang didapat dari lembur berkurang. Hasil dari Taiwan lumayan menurut ukuran orang kecil seperti saya. Pulang untuk mengembangkan hasil bumi yang sebelum ke Taiwan saya tekuni,’’  aku pria yang kemudian tinggal Labuhan Ratu V (sekitar 14 km dari Jepara), Labuhan Ratu, Lampung Timur, Lampung, itu.
Sampai di Indonesia, Miswanto pun melanjutkan dagang hasil bumi yang pernah digeluti sebelum merantau menjadi TKI. Namun, hasil yang didapat tidak sesuai harapan.’’Prospek kurang bagus,’’ ujarnya. Miswanto pun banting setir, memulai usaha tarub (tenda) pada 2003. Awalnya punya 10 unit. Mulai dari nol. Betul-betul berusaha dengan gigih. Berkat keuletannya, usaha yang dirintisnya ini berkembang pesat. Saat ini Miswanto mempunyai 78 unit tenda, 3 set panggung, 1200 kursi, 4 diesel, sound system, dan orgen tunggal.
Berkembangnya usaha Miswanto tak lepas dari socio-cultural di desanya yang mendukung. ’’Di sini kalau menggelar hajatan digelar pesta. Kalau bagi orang pribumi atau penduduk asli, menggelar pesta saat hajatan seperti pernikahan dan khitanan, bahkan syukuran kelahiran, merupakan sebuah prestise, sebuah harga diri. Tidak peduli orang kaya atau orang miskin. Kalau nggak pesta, seakan malu. Makanya mereka kalau mau hajatan rela jual tanah, kebun, atau binatang ternak. Mereka pun  rela utang. Fenomena ini makin marak setelah reformasi. Kalau dulu-dulu nggak seperti itu. Bahkan syukuran kelahiran saja ada yang menggelar sampai habis Rp 25 juta,’’ terangnya.
Tak hanya itu, usaha yang dibangun tersebut mengantarkan Miswanto menjadi orang nomor satu di Labuhan Ratu V. ’’Usaha tersebut sering berkomunikasi dengan banyak orang. Dikenal masyarakat. Nah, pada 2007, saya dipercaya menjadi kepala desa,’’ ceritanya.
Sebenarnya, pada 2002, lanjut Miswanto, sejumlah tokoh di desa tersebut telah menyorongnya menjadi kepala desa. Namun, Miswanto tidak mau. ’’Istri saya tidak setuju, saya tidak ikut. Karena nggak ada yang maju di pemilihan kepala desa (Pilkades) ketika itu, ditunjuklah pejabat sementara sampai 2007. Nah, pada Pilkades 2007, saya didorong maju lagi. Ada 3 calon, termasuk saya dan pejabat sementara kepala desa. Alchamdulillah saya menang. Suaranya lumayan. Jumlah suara dua kandidat lain jika dikumpulkan jadi satu bedanya ada 7 suara dengan saya,’’  terangnya bangga.
Sebagai kepala desa yang membawahi 2376 orang (747 kepala keluarga), Miswanto ingin membuktikan bahwa mantan TKI pun bisa. Namun, Miswanto mengaku belum menemukan solusi yang jitu agar warganya tidak tergiur bekerja di luar negeri sebagai TKI. ’’Di sini warga petani kakao dan pengrajin gula merah dari kelapa. Dari jumlah penduduk yang ada, sekitar 20 persen masih melirik menjadi TKI. Ya, faktor kebutuhan mendesak dan kurangnya lapangan pekerjaan. Perempuan juga jumlahnya lumayan yang menjadi TKI. Ada yang ke Taiwan, Arab Saudi, Hongkong, dan Singapura. Mereka berangkat dengan harapan dapat modal dan setelah pulang bisa usaha. Bagi mereka yang pulang terus berusaha dan sukses, tidak ada bayangan untuk keluar negeri menjadi TKI lagi. Kalau bisa memang nggak perlu menjadi TKI,’’ jelasnya.
Miswanto mengaku, sejak menjadi kepala desa hingga saat ini, belum ada program untuk pemberdayaan mantan TKI dari pemerintah. Namun, Miswanto tidak tinggal diam. Bersama sejumlah mantan TKI melalui lembaga swadaya masyarakat, melakukan pendampingan kepada para TKI yang terkena kasus. ’’Kalau pemberdayaan ekonomi, belum maksimal. Tapi sudah bikin kelompok-kelompok, seperti koperasi. Kalau dari desa, sebatas pengarahan. Berdikari di desa sendiri, memberdayakan desa. Kalau ke luar negeri kan jauh dari keluarga,’’ terangnya.
Sebagai mantan TKI, Miswanto juga ingin bisa berbuat lebih banyak kepada para Pahlawan Devisa Indonesia itu.’’Harapannya ke depan, bisa duduk di DPRD. Dengan menjadi legislatif, bisa melegeslasi dan membuat kebijakan yang berpihak kepada TKI,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: