Beranda > TKI SUKSES > Sibuk Mengajar di Kampus, Selanjutnya Bidik S3

Sibuk Mengajar di Kampus, Selanjutnya Bidik S3

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 13 Juni 2011

DUNIA pendidikan menjadi pilihan Ulin Nuha. Mulai mengenyam pendidikan sarjana strata 1 (S1) hingga kini, bapak dua anak itu di jalur pendidikan. Saat ini pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, itu tercatat sebagai dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Namun, sebelum menjadi pegawai negeri sipil (PNS), anak kelima dari enam bersaudara itu pernah merasakan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan. ’’Saya di Taiwan pada 1995 sampai 1997,’’ ujar tamatan S1 Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Jogjakarta pada 1991 itu.
Selepas S1 UIN Suka, Ulin langsung dapat kerja. Dia mengajar di STM Ma’arif Kudus. Ulin juga mengajar di Madrasah Tasywiqut Thullab Salafiyah (TBS) Kudus.’’Saya memutuskan berangkat ke Taiwan, karena kebutuhan. Saya berangkat melalui jalur resmi melalui salah satu perusahaan di Jakarta. Tidak bayar. Hanya mengeluarkan uang untuk penyalur yang saya kenal di Cilacap. Seingat saya Rp 2 juta. Kalau langsung ke Jakarta, mungkin nggak bayar. Saya mengikuti tes dua tahap sebelum akhirnya berangkat. Saya hanya bikin paspor. Visa yang mengurus perusahaan yang di Jakarta,’’ ujar pria yang pada usia 25 tahun memperistri perempuan asal Purwokerto, Jawa Tengah, itu.
Yang paling berat saat bekerja ke perusahaan kayu di Taiwan adalah meninggalkan istri, Nasiroh, dan dua anaknya yang masih kecil.’’Tapi harus berangkat. Mengajarnya saya lepas,’’  tegas Ulin yang pada awal 2009 menyelesaikan S2 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Jawa Tengah, kepada INDOPOS, Jumat malam (10/6).
Ulin yang pada 2010 telah mengantongi sertifikat dosen itu mengaku, kontrak kerjanya sebelum ke Taiwan, jelas. Baik gaji yang diterima maupun perusahaan tempatnya bekerja nanti.’’Kalau nggak sesuai dengan yang ada di surat kontrak, bisa komplain. Itu dikasih tahu ke calon pekerja yang akan berangkat ke luar negeri. Hanya ketika mau berangkat, tidak dibekali keterampilan khusus. Yang penting, fisik sempurna dan kesehatan mencukupi. Mungkin kalau harus punya bekal khusus, gajinya beda,’’ jelas Ulin yang tinggal bersama keluarganya di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah.
Dia merasa, selama di Taiwan, kerjaan yang dijalaninya lumayan enak. Padahal, waktu mendaftar, tidak dibedakan mereka yang lulusan S1 maupun di bawahnya. ’’Pokoknya kerja ke luar negeri. Ijazah nggak ngaruh. Kalau saya terbilang enak, kerjanya di dalam pabrik. Saya bandingkan dengan yang saya lihat, ada orang Indonesia yang bekerja di jalan seperti memperbaiki aspal,’’ ungkapnya.
Setelah dua tahun di Taiwan sesuai kontrak, Ulin memilih pulang ke Indonesia. ’’Sebenarnya bisa perpanjang kontrak. Tapi saya pikir, bekal yang saya dapat sudah cukup. Dan yang lebih penting ingin kumpul bersama keluarga. Kumpul istri dan anak-anak, itu jauh lebih penting. Sebenarnya, meski kontraknya dua tahun, pas setahun, boleh pulang saat libur. Libur Imlek kan ada sekitar seminggu. Tapi, harus memakai biaya sendiri,’’ terang pria berwajah tampan tersebut.
Setelah pulang dan berkumpul keluarga, dunia pendidikan tampaknya tak bisa dijauhinya. Ulin pun akhirnya diangkat sebagai PNS pada 1999 dan mengajar di STAIN Kudus. Karena lingkungan akademisi dan tuntutan profesi, dia awalnya melanjutkan S2 (magister) di Universitas Negeri Yogyakarta. Namun jelang tugas akhir atau tesis, dia tinggalkan.’’Beasiswanya kan 2 tahun. Setelah itu, jelang nyusun tugas akhir disuruh bayar, ya saya tinggal. Saya juga dapat beasiswa S2 di Unnes. Alchamdulillah selesai pada awal 2009,’’ ceritanya sembari tersenyum.
Sebenarnya, dia ingin menempuh S3. Tapi hingga kini belum terwujud. ’’Inginnya tahun ini menempuh program doctoral (S3) di Unnes, tapi ada beberapa yang harus diprioritaskan lebih dulu. Sambil cari beasiswa,’’ harapnya.
Bagi Ulin yang pernah mengadu nasib di mancanegara, bekerja di dalam negeri lebih nyaman. Apalagi saat ini. Utamanya mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). ’’Sekarang ini orang yang ingin ke luar negeri menjadi TKI kan banyak, sehingga mereka rela mengeluarkan uang lumayan. Ya dikomersilkan. Dulu orang luar negeri yang butuh kita. Mereka yang butuh. Yang berangkat tidak banyak seperti sekarang. Tapi, kalau berangkat jalur resmi lumayan lebih bagus. Utamanya yang kerja di pabrik atau perusahaan. Kalau di perumahan seperti PRT kadang masih berisiko. Makanya butuh persiapan yang matang sebelum berangkat. Kontraknya juga harus dilihat, jelas atau tidak,’’ terangnya panjang lebar.
Namun, menurut Ulin, kerja di rantau nun jauh seperti di luar negeri tetap tidak enak. Mereka yang memilih berangkat di antaranya lebih banyak karena alasan di dalam negeri belum mendapatkan pekerjaan yang layak.’’Tidak enak. Apalagi sudah berkeluarga. Kalau di dalam negeri sudah cukup, nggak perlu jadi TKI,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: