Beranda > TKI SUKSES > Buah dari Fokus, Sukses Jadi Distributor Minuman

Buah dari Fokus, Sukses Jadi Distributor Minuman

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 20 Juni 2011

KEHIDUPAN Sumajianto dan keluarganya saat ini jauh berbeda dengan saat dia memutuskan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), beberapa tahun lalu. Dulu sederhana, kini usaha yang dijalankan sebagai agen besar aneka minuman, berkembang pesat. Kehidupan cukup itu tak lepas dari keuletan dan prinsip belajar dari pengalaman yang telah dilaluinya. “Segala sesuatu itu harus dilakukan dengan fokus,” ujar pria yang menjadi TKI pada 2000 hingga awal 2003 itu. Distributor ratusan minuman dijalankan pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, pada 1976, bersama istri tercintanya di daerah Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur. “Kami melayani area Jakarta,” ujar bapak satu anak ini ditemui INDOPOS Kamis dini hari (16/6) di kawasan salah satu SPBU dekat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Usaha yang dijalani pria yang tinggal di Pinang Ranti itu merupakan buah pengalamannya sewaktu bekerja di salah satu perusahaan.”Saya pernah bekerja di salah satu perusahaan di Surabaya. Pada 1998 kena PKH (pemutusan hubungan kerja, Red). Terus ada informasi dari penyalur tenaga kerja, ada pekerjaan di Amerika Serikat. Saya sudah bayar sebagian dari total Rp 48 juta, tapi tidak jadi berangkat, kena tipu. Padahal itu dari utang. Kemudian ada info, lowongan kerja di Taiwan. Saya daftar, biaya untuk berangkat utang ke sana ke mari. Setelah menunggu, baru 2000 berangkat melalui Jakarta. Sebenarnya kontrak 3 tahun, ditempatkan di perusahaan kertas. Sebelum tiga tahun, saya pulang. Beberapa bulan di rumah, tidak fokus ngurus ternak ayam yang sebelumnya dikelola istri. Selanjutnya dapat tawaran dari mantan bos saya yang dulu mem-PKH saya. Saya maunya kerja sama, tapi diminta bantu dia dengan gaji sama dengan yang saya dapatkan di Taiwan. Saya ambil, tapi dalam benak saya harus bisa menggali ilmu dari situ,” terang pria asal Dawuhan, Kademangan, Blitar, Jawa Timur, itu. Aji—panggilan akrabnya—mengaku, selama bekerja di pabrik minuman di Jakarta pada 2003 hingga 2006, banyak ilmu pendistribusian  yang didapatkan. “Sebelum keluar dari pekerjaan, saya membuka usaha distributor atau agenlah di daerah Bekasi. Itu pada 2005. Saya percayakan kepada orang,” jelas Aji yang mengadu nasib ke Taiwan untuk mencari modal itu. Pada 2006, Aji memutuskan untuk keluar. Dia tidak ingin menjadi karyawan terus.”Selanjutnya saya buka usaha di Pinang Ranti. Subdistributor karena di sini tidak hanya melayani satu merek minuman saja. Banyak minuman, ratusan. Sedangkan yang di Bekasi, saya tutup, karena orang yang jalankan tidak benar. Di sini saya dapat pelajaran, usaha apa pun itu harus fokus,” ungkap mantan TKI tamatan SMA tersebut. Aji menambahkan, kiat sukses lainnya dari usaha yang dijalaninya adalah yakin dan percaya kepada karyawan maupun rekan bisnis. “Percaya sama orang. Saya kerja sama dengan pabrik, terus didistribusikan,” imbuh Aji yang terpaksa bekerja di luar negeri karena terjerat utang itu. Bicara TKI, Aji memang tak mau berlama-lama. Setelah bisa membayar utang, dia minta kepada istrinya untuk membuka usaha ternak ayam.”Saya kirimkan uang dari Taiwan. Sehingga ketika saya pulang ada usaha yang bisa kami jalankan. Kini ternak ayam itu masih ada, tapi yang ngurus orang tua, karena pada 2004, istri saya ajak ke Jakarta,” cerita pria yang meyakini tidak bekerja di luar negeri pun orang bisa sukses. Dia juga berharap, mereka yang tetap ingin menjadi TKI harus punya bekal yang cukup agar saat bekerja di luar negeri tidak terkena kasus atau dirugikan. “Kalau perlindungan tidak bisa dijalankan oleh pemerintah, pengiriman TKI dikurangi saja. Sebab, dengan banyak ke luar negeri menjadi TKI, risikonya tinggi. Apalagi perempuan. Jadi perhatian tidak hanya dilakukan saat akan dan pada pemberangkatan saja. Tapi saat penempatan dan selama bekerja di negara orang, idealnya dipantau. Ini tentunya butuh campur tangan pemerintah,” terangnya. Dia juga tidak bisa melarang seseorang menjadi TKI, karena mereka butuh mendapatkan pekerjaan.”Usaha di kampung susah. Lapangan kerja juga susah. Kalau kerja di luar negeri itu, ibaratnya kerja sebulan itu hasil yang didapat sama dengan kerja di kampung setahun. Namun, mereka harus bisa menggunakan uang yang didapat sebaik-baiknya. Setelah pulang ke Indonesia, kalau tidak usaha, uangnya juga akan habis,” jelasnya. Yang tak kalah penting, kalau sudah sampai ke Indonesia bisa memaksimalkan yang didapat, sehingga tidak balik ke luar negeri lagi.”Sederhananya, kalau jadi karyawan aman dan nyaman, karena mengandalkan dapat gaji bulanan. Tapi kalau mau buka usaha, bisa terus berkembang,” pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: