Beranda > TKI SUKSES > Bawa Semangat Tinggi, Buka Usaha Ternak Ayam

Bawa Semangat Tinggi, Buka Usaha Ternak Ayam

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 22 Juni 2011

PELAJARAN penting didapat Kisruh Abadi saat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan pada 2000 hingga 2002. ’’Semangat kerja orang Taiwan sangat tinggi,’’ ujar warga Dawuhan, Kademangan, Blitar, Jawa Timur, itu ketika dihubungi INDOPOS Senin malam (20/6). Semangat itulah yang terus digelorakan pria yang saat menjadi TKI bekerja di pabrik tekstil, dalam setiap usaha yang ditekuninya.
’’Kalau orang Indonesia punya semangat tinggi, bisa sukses juga di tanah air. Tidak harus ke luar negeri. Kalau harus ke luar negeri (menjadi TKI) tidak apa-apa, tapi tidak hanya bekerja, tapi menyerap pengalaman dan belajar dari orang sana (luar negeri). Kalau tidak begitu, ya sayang. Pulang dari luar negeri, bisa-bisa bingung,’’ kata bapak dua anak itu.
Kalau sudah bingung, lanjut pria kelahiran 1969 itu, uangnya dibelikan rumah, renovasi rumah atau kendaraan.’’Kalau tidak dikembangkan buat usaha, uang yang didapat akan habis. Apalagi kalau membawa uang sedikit. Dari kebiasaan yang saya ketahui, uang yang didapat oleh para TKI ketika pulang dari Taiwan, hanya bertahan 5 bulan. Malah kalau yang dari Malaysia, satu bulan habis. Itu kalau mereka hanya berdiam,’’ jelas suami yang memperistri perempuan sekampungnya.
Apa yang disampaikan pria yang mengadu nasib ke Taiwan karena mencari modal dan ingin memperbaiki kesejahteraan karena kehidupannya ketika itu pas-pasan dari bertani, bukan omong kosong.’’Pada Minggu, pabrik tekstil di mana saya bekerja libur. Saya tidak mau beristirahat. Pada hari libur itu saya kerja sampingan di peternakan ayam,’’ cerita pria yang berangkat melalui agen resmi dari Jakarta menghabiskan Rp 13 juta.
Nah, sembari bekerja, pria yang saat berangkat baru mempunyai satu anak itu, juga mempelajari cara beternak ayam. ’’Selama di sana juga kirim uang untuk istri dan anak yang di rumah. Untuk bayar utang juga. Sebenarnya uang yang saya bawa pulang belum cukup. Tapi harus dioptimalkan. Saya pilih pulang meski ditawari perpanjangan kontrak 1 tahun lagi. Ingin menerapkan pengalaman bekerja di peternakan ayam,’’ terang mantan TKI yang sampai ke Blitar langsung membuka usaha peternakan ayam.
Dijelaskan, dari Taiwan dia membawa uang Rp 40 juta. ’’Saya belikan sepeda motor Supra X, Rp 13 juta, Rp 6 juta untuk bekal hidup setahun ke depan, untuk bayar berobat anak yang ketika itu dirawat di rumah sakit Rp 3 juta. Sisanya, saya belikan 500 ekor ayam. Uangnya habis,’’ jelas pria yang mengaku harus menunggu dua tahun sebelum berangkat ke Taiwan.
Kisruh yang berangkat ke Taiwan tanpa dibekali keterampilan khusus itu yakin, dengan semangat yang tinggi seperti pengalaman yang didapatkan dari Taiwan, usahanya akan berhasil. Benar. Dia kemudian tidak hanya mengandalkan beternak ayam. Dia juga bekerja di kebun.’’Di sebelah rumah ada tanah Perhutani. Beli lahan lah. Saya tanami padi dan lombok (cabai, Red). Ternyata membuahkan hasil. Padinya bisa untuk makan. Hasil dari lombok, beli 500 ekor anak ayam lagi,’’ ungkapnya.
Kisruh terus putar otak. Dia meminjam uang dari bos pakan ayam untuk membeli benih jeruk. ’’Pada 2005 ketika harga pakan naik dan harga telur turun, saya dapat pemasukan dari jeruk yang bisa dipanen. Pada tahun berikutnya, harga telur dan pakan relatif stabil. Sekarang saya tanam tebu saja, yang lainnya seperti lombok dan jeruk, tidak,’’ ucap peternak yang kini mempunyai 6 ribu ekor ayam dan areal 2 hektare yang ditanami tebu.
Bersama istri dan dibantu seorang tenaga kerja, dia fokus mengelola peternakan ayamnya. ’’Dari bertani dan beternak ayam, ya lumayan bisa buat makan dan kebutuhan anak sekolah. Kalau hanya mengandalkan beternak, ya kembali berputar untuk ayam,’’ ujarnya merendah.
Selain semangat tinggi, pengalaman lain yang didapat Kisruh di Taiwan adalah disiplin tinggi. ’’Lalu lintas teratur. Saya pernah buang puntung rokok sembarangan. Ada warga Taiwan memungutnya dan menaruh di tempat sampah. Kerja kalau jam lepas (istirahat, Red), ya istirahat, meski masih banyak yang belum dibereskan. Kalau jam kerja, ya kerja. Kalau disiplin itu bisa diterapkan di Indonesia, bagus,’’ terang Kisruh yang sudah tidak berminat ke luar negeri menjadi TKI itu.
Pengalaman lain yang masih diingat adalah saat pulang ke Indonesia. Saat di bandara di Taiwan, pria tamatan SMA itu tidak begitu khawatir. Justru dia khawatir sesampainya di Indonesia.’’Di bandara Cenkareng malah takut. Ini barangkali tidak hanya saya, banyak TKI yang mengeluh. Contohnya, barang yang dibawa ditimbang, tapi bayarnya tidak sesuai dengan apa yang tertera. Bisa berlipat. Misalnya Rp 5 ribu bisa bayar Rp 50 ribu. Padahal mereka itu pakai seragam resmi. Duta bangsa kok dibegitukan. Ini menurut saya harus dibenahi. Di bandara Taiwan tidak begitu, malah di negari sendiri begitu. Padahal, waktu pergi menjadi TKI kita susah, pergi untuk cari uang,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: