Beranda > TKI SUKSES > Sibuk Jadi Dosen, Advokasi dan Motivasi Para TKI

Sibuk Jadi Dosen, Advokasi dan Motivasi Para TKI

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 24 Juni 2011

KESUNGGUHAN dan keinginan kuat Nuryati untuk menggapai pendidikan setinggi-tingginya tercapai. Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pernah bekerja di Arab Saudi pada 1998—2000 itu kini sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Padjajaran Bandung (Unpad).’’Awal tahun ini S3 di Unpad, ngambil hukum,’’ ujar ibu tiga anak yang saat menjadi TKI bekerja di keluarga dokter itu.
Program studi hukum dipilih perempuan yang mendapat penghargaan Migrant Worker Award 2010 kategori purna-TKI motivator yang digelar Kemenko Kesra dan UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu bukan tanpa alasan.’’TKI bagaimana pun ada dalam diri saya, karena saya pernah merasakannya. Dengan mempelajari hukum, saya berharap dapat mengabdikan diri membantu para TKI,’’ ujar perempuan kelahiran Serang, 2 Juni 1979 ketika dihubungi INDOPOS kemarin (24/6).
Dia ingin pengalamannya menjadi TKI dan ilmu yang didapatkan di kampus dapat diaplikasikan. ’’Jangan ingin menjadi TKI selamanya. TKI bukan sesuatu yang salah. Tapi harus diplanning. Cari modal, sehingga waktu kembali bisa lebih baik di negeri sendiri. Misalnya TKI di Singapura, kalau balik bisa ngajar Bahasa Inggris dan sebagainya,’’ jelasnya.
Bukan S3 saja, Nuryati mengambil hukum. Perempuan yang bekerja di Arab Saudi selepas tamat SMA itu memulai bangku kuliah S1 (strata 1) juga di jalur hukum. ’’S1 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Hukum ketenagakerjaan, tenaga kerja luar negeri,’’ jelas Nuryati yang tinggal di Puri Kartika, Cipocok Jaya, Serang, Banten, bersama suami dan tiga buah hatinya tersebut.
S1 dapat diselesaikan dengan cepat. Itu tak lepas dari kecerdasan dan ketekunannya. Nuryati mampu lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,7 dan meraih predikat cum laude. Dia lulus dalam waktu tiga tahun. ’’Saya kemudian menjadi satu-satunya sarjana di kampung. Ketika S1 dapat beasiswa. Jadi uang yang saya dapat di Arab Saudi bisa untuk yang lainnya,’’ terangnya. Bahkan, sambil kuliah, dia bekerja di Pizza Hut Cilegon dan menjajakan makanan katering. ’’Intinya fokus. Saat bekerja, mikir kerja. Saat kuliah, mikir kuliah,’’ tegasnya.
Kecerdasan Nuryati sudah terlihat di jenjang pendidikan sebelumnya. Dia termasuk lulusan terbaik SMA Prisma, Serang, Banten. Bahkan, sejak kelas satu dia langganan juara dan mendapat beasiswa. Namun, keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi terbentur biaya. Orang tuanya tak punya biaya untuk menguliahkan dia. Apalagi lima adik Nuryati juga harus bersekolah. ’’Bapak lulusan SMA, ibu SD. Bagi perempuan kebanyakan di kampung saya, lulus SMA sudah bagus. Tapi saya ingin kuliah. Dalam benak saya, kuliah itu menghabiskan uang puluhan juta rupiah,’’ ungkap istri Agus Setiawan itu.
Tapi, dia tidak patah arang. Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya memberanikan diri berangkat menjadi TKI ke Arab Saudi.’’Tapi saya punya planning dan tekad, bekerja di sana tidak untuk selamanya. Mencari modal buat kuliah. Banyak yang meragukan niat saya, termasuk keluarga. Mereka bilang, kalau sudah punya uang banyak paling lupa kuliah. Tapi saya terpacu, ingin membuktikan. Alhamdulillah majikan di Saudi memberi apresiasi. Saya tidak hanya jadi pembantu, tapi diminta majikan membantu anaknya belajar. Siang hari, saya diminta istirahat. Saya pun menggunakannya untuk belajar buku-buku yang saya bawa,’’ jelas Nuryati yang menikah pada 2004 itu.
Dia ingin tetap bisa terus belajar meski tidak di bangku formal. Selama bekerja di Arab, Nuryati berusaha berdisiplin dalam berbagai hal. Termasuk dalam pembukuan gaji yang dia terima. Selain itu, untuk keselamatan pribadi, nomor-nomor telepon penting, seperti nomor konsulat dan kedutaan dicatatnya dengan sulaman berkode khusus di kerudung yang selalu dipakainya ke mana-mana. Angka nol, misalnya, ditulis dengan kode matahari. Angka 1 dengan kode pohon kelapa, dan seterusnya.
Keinginan kuat untuk meneruskan sekolah terus menggebu. Akhirnya Nuryati pamitan dan pulang ke Indonesia. ’’Saya mendaftar dan diterima di Untirta. Kemudian melanjutkan S2 di Universitas Jayabaya, mengambil hukum juga. Cita-cita saya jadi advokat. Nah, pas lulus S1 ada daftaran advokat, ada CPNS (calon pegawai negeri sipil, Red) juga. Saya ikut. Tapi, tidak boleh menjalankan dua-duanya,’’ imbuh anak pertama dari enam bersaudara itu.
Nuryati memang berhasil meraih sertifikat advokat, namun kemudian memutuskan mengabdi di almamaternya, Untirta, sebagai dosen. ’’Pilih PNS, tapi di kampus ada LKBH (Lembaga Konsultasi dan Bantun Hukum, Red), jadi saya bisa membantu di sini juga,’’ tambah istri dosen itu.
Bagi Nuryati yang kini memiliki lahan pertanian dan perikanan itu, pendidikan merupakan suatu yang sangat penting. Selain dapat memberantas kebodohan juga kemiskinan.’’Dengan pendidikan, bisa mengubah dunia. Paling tidak, memotivasi diri dan keluarga. Syukur-sykur orang di sekitar. Di desa saya dulu sekarang beberapa orang jadi sarjana. Rasanya bangga,’’ jelas Nuryati yang bersama suaminya mengelola kursus bahasa Korea itu. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: