Beranda > TKI SUKSES > Buka Bengkel Kendaraan Roda Dua dan Rental Mobil

Buka Bengkel Kendaraan Roda Dua dan Rental Mobil

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 27 Juni 2011

DUA kali Heriyanto merantau ke Arab Saudi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Kali pertama pada 2003 hingga 2005. Ketika itu, Heriyanto masih lajang. Dia bekerja sebagai sopir di kawasan Madinah.’’Saya menjadi TKI untuk mencari modal,’’ ujar pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, pada 1973 itu ketika dihubungi INDOPOS, Sabtu malam (25/6). Pria yang tinggal di Plukaran, Gembong, Pati, Jawa Tengah, itu memilih merantau ke luar negeri juga karena melihat sejumlah orang di daerahnya menjadi TKI. Selain itu, tidak punya pilihan menarik lainnya.’’Di dalam negeri kerja susah, apalagi seperti saya yang berpendidikan rendah. Ya, terpaksa ke sana (Arab Saudi, Red),’’ imbuhnya. Setelah pulang, modal merantau di negeri petro dolar dibuat Heriyanto untuk membangun rumah dan mengembangkan bengkel kecil-kecilan yang dia rintis.’’Juga untuk nikah,’’ jelas Heriyanto yang menikahi Siti Na’imah pada 2005, setelah merantau dari Arab Saudi. Sebelum ke Arab Saudi dia memang sudah mempunyai keahlian bongkar pasang kendaraan roda dua alias sepeda motor. Keahlian itu didapatkan melalui kursus setelah menamatkan madrasah tsanawiyah (SLTP). Namun, modal yang dibawa dari Arab Saudi akhirnya habis juga. Sedangkan bengkel sepeda motor yang dipegangnya juga praktis tidak berkembang. Padahal, dia harus menafkahi istri dan buah hatinya. Akhirnya Heriyanto membuat keputusan berani. Dia merantau lagi ke Arab Saudi pada 2009. Kali ini, dia tidak sendirian. Istrinya diajak serta. Dia bertekad mencari modal lagi untuk mengembangkan usahanya. ’’Memang berisiko. Tapi saya minta agen yang memberangkatkan menempatkan saya dan istri satu paket, pada satu majikan. Dengan begitu, saya bisa melihat dan mengontrol istri saya,’’ terang Heriyanto yang ketika itu buah hatinya baru berumur 2,5 tahun dan dititipkan ke orangtuanya. Keinginan Heriyanto terkabul. Dia dan istrinya bekerja dalam satu majikan.’’Saya bekerja sebagai sopir di Riyadh. Sedangkan istri bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saya bisa tidur bareng dengan istri. Bedanya paspor saya bisa saya pegang, sedangkan paspor istri ketika itu dipegang majikan. Alasannya supaya tidak kabur. Dulu ketika saya jadi TKI kali pertama paspor bisa saya pegang juga,’’ terangnya. Heriyanto bercerita, mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga praktis tidak bisa ke mana-mana.’’Keluarga di sana tertutup. Untung saya bisa bersama istri. Jadi mengetahui perkembangannya. Kalau saya tidak mengetahui istri saya, tidak berani, karena berisiko,’’ jelas pria yang mengaku tidak memiliki lahan pertanian sendiri tersebut. Dia mengaku berangkat tanpa mengeluarkan biaya. ’’Yang menanggung agen. Nanti gaji dipotong. Saya dipotong sepuluh bulan untuk membayar biaya tersebut. Kalau saya berangkat tidak ada pelatihan khusus. Kalau istri, ada pelatihan bahasa dan diajari cara memasak,’’ ungkapnya. Heriyanto juga selalu hati-hati dalam bekerja. Pesan hati-hati juga selalu dia berikan kepada istrinya.’’Saya dan istri juga selalu menyimpan nomor kedutaan (KBRI). Untuk jaga-jaga kalau ada masalah, namanya di rantau. Tapi saya dan istri tidak pernah menelepon,’’ katanya. Selama di sana, baik dia maupun istrinya tidak pernah mengalami kejadian pahit. Namun, dari cerita yang didengar langsung dari sejumlah TKI di sana, beberapa di antara mereka tidak beruntung. Ada yang tersandung beberapa masalah.’’Kalau saya, paling harus standby 24 jam. Kalau majikan butuh saya menyetir, ya saja harus jalan. Istri juga kerja sampai malam, karena pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga baru selesai malam. Sedangkan kenangan manisnya, saya dan istri bisa berangkat haji,’’ jelasnya. Setelah dua tahun, tepatnya 2011, Heriyanto dan istri kembali ke Indonesia dan berkumbul dengan buah hatinya. Dia mengaku tidak ingin kembali lagi menjadi TKI. Di rumah, Heriyanto mengembangkan usaha bengkelnya yang selama menjadi TKI tidak diurus. Di samping itu, dia menjual jasa rental mobil. Kendaraan jenis L300 itu dijalankan sendiri oleh Heriyanto’’Saya ingin mengambangkan bengkel. Usaha di rumah, tidak ke luar negeri lagi menjadi TKI. Berisiko. Gaji juga tidak terlalu besar,’’ tegasnya. Sebagai mantan TKI yang pernah bekerja di Arab Saudi, Heriyanto berharap, pemerintah menghentikan pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke negara tersebut. Utamanya mereka yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga.’’Dari pengalaman saya di sana, perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga terlalu berisiko. Kalau mereka dapat masalah kan bangsa Indonesia juga kena. Mereka juga kasihan,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: