Beranda > TKI SUKSES > Dari Menjahit dan Salon, Hingga Toko Sepatu dan Tas


Dari Menjahit dan Salon, Hingga Toko Sepatu dan Tas


Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 29 Juni 2011

SEPERTI kebanyakan mereka yang berangkat ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Lilis Sofiah merantau ke Arab Saudi juga untuk mencari modal. Tapi, tak semata hanya itu yang memicu perempuan kelahiran Garut, Jawa Barat, pada 10 Februari 1971. Lilis yang kini tinggal di Gunung Terang I, Labuhan Ratu Induk, Labuhan Ratu, Lampung Timur, Lampung, itu ingin bisa berangkat haji.’’Kalau sudah di sana, bayangan saya lebih mudah menunaikan ibadah haji. Tentunya pergi haji merupakan keinginan orang Islam,’’ ujar  ibu dua anak hasil perkawinannya dengan Zainal Arifin pada 1989 itu.
Namun, tak hanya itu saja. Lilis ingin mencari pengalaman lebih banyak lagi sebagai bekal untuk mengembangkan usaha yang telah dirintisnya, penjahitan pakaian dan kursus menjahit. Untuk ukuran masyarakat pedesaan, ekonomi keluarga Lilis memang tidak kekurangan. Suaminya adalah guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Lilis sendiri yang menikah setelah menamatkan SLTP pun mempunyai kesibukan jasa penjahitan dan kursus menjahit.
’’Setelah nikah, saya mau melanjutkan SLTA itu gimana gitu. Sudah nikah kok pakai seragam sekolah. Saya lalu ambil kursus menjahit di Way Jepara, Lampung. Saya juga kursus salon. Saya juga akhirnya punya ijazah paket C. Saya sebenarnya ingin kuliah, tapi kesibukan, saya belum sempat,’’ ujar Lilis yang mengaku suaminya saat ini sedang menyelesaikan S2.
Setelah mendapat sertifikat kursus, Lilis membuka jasa kursus di daerahnya. Jasa itu pun berjalan. Namun, Lilis kurang puas. ’’Saya ingin mencari banyak pengalaman di dunia jahit plus cari modal. Ingin maju. Makanya saya daftar menjadi TKI. Tapi bukan mendaftar sebagai pembantu rumah tangga. Saya sudah punya keahlian menjahit dan salon. Kalau keahlian saya itu tidak laku untuk berangkat, saya ketika itu memilih tidak berangkat. Ternyata dari informasi yang saya dapatkan, ada lowongan untuk tenaga menjahit,’’ jelasnya.
Gayung bersambut. Lilis tak perlu menunggu lama. Apalagi kebetulan, Lilis kenal dengan bos salah satu PJTKI. Lilis pun tidak tinggal di penampungan.’’Saya kenal dengan direkturnya, karena diminta menjahit pakaiannya. Setelah mengikuti pelatihan, saya berangkat. Dapat tempat di Riyadh. Saya berangkat pada 2004. Kebetulan direktur PJTKI itu ada kenalan di sana. Memang saya minta ditempatkan di kenalan dia. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Saya memilih menjahit di rumahan bukan di perusahaan. Orang kaya sana itu, seminggu sekali bisa ganti pakaian baru. Biasanya saya diajak ke mal, melihat mode baru. Terus majikan minta membuatkannya,’’ terangnya.
Di keluarga itu, Lilis bukan satu-satunya orang Indonesia. Menurut Lilis yang ketika berangkat anak pertamanya, perempuan, belajar di SLTP dan tinggal di pondok pesantren dan anak keduanya, laki-laki, yang baru kelas 2 SD tinggal bersama suaminya dan tidak jauh dari keluarga besarnya di Lampung, ada perempuan yang sudah lama ikut majikannya.’’Dia orang Bandung. Sudah sembilan tahun. Makanya, ketika saya ditempatkan di situ, makin tidak khawatir, meski awal-awal saya tidak bisa bahasa Arab. Apalagi, perempuan itu sama-sama orang Sunda seperti saya. Jadi bisa mengobrol dan memberi informasi kepada saya. Kalau ada keperluan atau hubungan dengan majikan, saya sampaikan ke majikan perempuan,’’ imbuh Lilis yang mengaku selama dua tahun di Arab Saudi bisa berkomunikasi dengan keluarga di Lampung melalui handphone.
Selama menjadi TKI, Lilis mengaku, beberapa kali bisa umrah dan keinginannya menunaikan ibadah haji juga terkabul. ’’Selama saya  bekerja di Arab Saudi, jasa menjahit dan kursus berjalan. Saya titipkan ke orang. Namun, menyusut. Salon juga jalan. Nah, setelah sudah bisa haji dan dapat modal dan pengalaman, saya memutuskan pulang. Apalagi saya ingin melihat perkembangan anak yang tentunya butuh pendampingan,’’ terangnya beralasan.
Sesampainya di Indonesia, Lilis fokus mengembangkan usahanya. Kini, Lilis sudah mempunyai 5 kios di pasar Rintisan TKI, pasar yang dirintis sejumlah mantan TKI dan ditempati oleh para mantan TKI dan keluarganya untuk usaha, yang terletak di daerah Labuhan Ratu.’’Ada yang baju, sepatu, tas, dan salon. Salonnya namanya Kerja Sama. Melayani rias pengantin. Sedangkan menjahitnya masih, tapi karena kesibukan padat, saya sudah tidak ada waktu untuk buka kursus menjahit. Kalau ada order menjahit pakaian, saya kasih ke anak buah. Tapi mereka menjahitnya di rumah masih-masih. Mesin jahitnya dari saya, ada 5. Namanya Al Kautsar,’’ terang  ibu yang kini anaknya sedang menyelesaikan S1 di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta dan anak keduanya duduk di MAN (SLTA).
Lilis tak hanya mengurusi bisnisnya, bersama mantan TKI lainnya, dia juga ikut merintis koperasi di pasar Rintisan tersebut. Sebagai mantan TKI, dia ingin ikut member support kepada sesamanya. Dia juga berharap, bagi mereka yang punya modal, lebih baik tidak usah pergi ke luar negeri menjadi TKI. Ke luar negeri mempunyai risiko tinggi. Apalagi perempuan. ’’Kalau bisnis lancar, pendapatannya sama. Bahkan di Indonesia bisa lebih banyak. Yang punya keahlian juga dikembangkan. Kalau tidak punya modal, asal mau kerja keras, insyaAllah bisa. Apalagi sekarang banyak program pemerintah yang bisa dijadikan modal. Saya juga berharap kepada pemerintah lebih melindungi TKI lagi,’’ pungkas Lilis yang mempekerjakan lima karyawan untuk mengurus kios-kiosnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: