Arsip

Archive for Juli, 2011

Sebarkan Virus Usaha, Kelola Salon, Video Shooting, dan Toko Sembako

SITI Maryam memang pernah menjadi orang gajian. Dia pernah bekerja pada seorang majikan di Hongkong selama 9 tahun, mulai 2000 hingga 2009. Namun, dalam benaknya sudah tertanam, suatu ketika ingin mandiri dan tidak menjadi pegawai atau orang gajian. Bahkan suaminya, Yanto, yang sudah berpenghasilan, bekerja di bagian distributor salah satu rokok besar di Jawa Timur, disarankan untuk keluar.’’Kalau punya usaha sendiri, bebas. Mau libur kapan, mau ngapain, urusan sendiri. Syukur-syukur dapat mengangkat kesejahteraan orang lain, bisa bantu orang lain bekerja. Beda kalau bekerja dengan orang lain, saya harus mengikuti aturannya,’’ ceritanya ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (24/7).
Siti berangkat ke Hongkong karena pertimbangan masa depan. Ketika itu, suami memang sudah berpenghasilan. ’’Tapi, kami belum punya rumah. Anak juga membutuhkan pendidikan. Kalau mengandalkan suami, sampai kapan? Bayangan saya, bekerja di Hongkong dua tahun saja, bisa untuk modal beli rumah dan usaha. Saya pun berangkat ke Hongkong pada 2000. Ketika itu anak masih kecil,’’ ujar Siti yang selama di Hongkong merawat orangtua dan bekerja di satu majikan.
Sampai di Hongkong, Siti yang kini tinggal bersama keluarganya di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, itu keterusan. Rencana dua tahun melebar sampai 9 tahun. ’’Pengin ngumpulin uang. Setelah bisa beli tanah dan bangun rumah, pengin cari modal untuk usaha. Ya merembet. Setelah 9 tahun, saya putuskan untuk pulang dan tidak kembali lagi. Padahal majikan ingin saya balik lagi. Saya ingin mendampingi anak. Dia minta, saat SMA, saya harus pulang kampung. Tapi saya putuskan pulang meski ketika itu anak baru kelas 1 SMP,’’ terang finalis kategori wirausaha Migrant Worker Award 2010 yang digelar Kemenko Kesra dan UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.
Pada 2005, Siti melalui suaminya, Yanto, mulai merintis usaha video shooting.’’Saya cari modal untuk beli kamera. Suami saya minta keluar dari pekerjaannya sebagai distributor salah satu rokok. Dia ditugaskan di Surabaya. Seminggu pulang sekali ke Trenggalek. Tidak ada perkembangan. Mendingan di rumah bisa bersama anak dan mengelola usaha sendiri. Dia belajar otodidak. Awalnya beli kamera kecil. Setelah lancar, baru beli kamera yang besar. Sejak saat itu, suami fokus menangani usaha itu,’’ jelas Siti.
Siti juga punya usaha jasa mesin selep padi. Ini sudah dimulai ketika dua tahun bekerja di Hongkong. Namun, yang menjalankan saudaranya di Blitar.’’Uang hasil selep itu untuk tabungan anak, untuk sekolah anak,’’ tambah Siti yang baru dikarunia seorang anak itu.
Kalau suami di rumah sudah menjalankan usaha video shooting, Siti di Hongkong tak tinggal diam.’’Saya di Hongkong bertugas menjaga orang tua pada malam hari. Pada siang harinya sudah ada petugasnya sendiri. Jadi waktu siang banyak kosong. Saya tertarik bekerja di salon. Saya bantu-bantu salon anak majikan. Di tempat ini saya banyak belajar salon, kursus lah. Setelah lancar difasilitasi majikan buka salon di rumah majikan,’’ ungkap Siti yang mengaku saat kali pertama ke Hongkong tidak bisa bahasa sana, namun setelah dua bulan sudah bisa bahasa Kanton.
Pengalaman mengelola salon tidak disia-siakan Siti. Sebelum pulang ke tanah air, dia bekerja sama dengan suaminya menyiapkan peralatan. Keinginan untuk tidak menjadi orang gajian pun terwujud. ’’Setelah pulang, saya langsung buka salon. Tempatnya menyatu dengan rumah,’’ kata perempuan lulusan SMP dan kini sudah mengantongi ijazah Paket C itu. Setelah sebulan mengelola salon, Siti dengan jeli melihat celah usaha lain.’’Kalau tidak ada momen seperti jelang Lebaran atau 17 Agustusan atau momen lainnya, salon tidak ramai. Saya buka toko sembako. Yang atas untuk salon, yang bawah untuk toko sembako. Peralatan video shooting juga di rumah, ada studio. Kini punya 3 kamera besar dan 3 kamera kecil,’’ imbuh Siti yang punya semangat kerja tinggi tersebut.
Usaha yang dikelola oleh Siti dan Yanto itu juga memberi kesejahteraan kepada orang lain. Video shooting kalau ada garapan melibatkan 3 hingga 4 tenaga. Yanto bekerja sama dengan salah satu grup orkes. Di luar itu, Yanto juga melayani jasa video shooting seperti penikahan dan lainnya.
Demikian juga salon. ’’Kalau pas ramai, dibantu adik dan keponakan. Kalau sepi ya ditangani sendiri. Toko sembako juga demikian, dibantu adik dan keponakan. Oplosan, kan ada yang sekolah,’’ terang perempuan kelahiran 1975 tersebut.
Ke depan, dia ingin terus mengembangkan usahanya. Untuk sembako, ingin dikembangkan menjadi toko grosir. Saat ini masih banyak melayani eceran. ’’Untuk yang video shooting, suami berpeluang dapat order mengerjakan profil di Taiwan. Ini baru diurus. Harapannya, usaha tambah besar dan tambah momongan. Saya ngangkat anak, baru umur 3 bulan,’’ harap perempuan yang kini mengangkat anak saudaranya itu.
Di Hongkong, di antara pelajaran berharga adalah semangat kerja. ’’Prinsip orang China, biarpun sudah punya duit, sudah jadi bos, mereka masih mau bekerja bersama karyawannya. Misalnya masih mau ngangkat barang-barang,’’ tegasnya.
Oleh karena itu, Siti memberi support kepada mereka yang merantau, bekerja ke luar negeri, untuk buka usaha di daerahnya.’’Saya berharap, mereka dapat mengembangkan hasil yang didapat di luar negeri,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Melanjutkan Pendidikan dan Aktif di Perpustakaan Sekolah

MESKI sudah lama bekerja, tak menyurutkan Solihatin untuk melanjutkan pendidikan. Ya, Atin—panggilan akrabnya—merantau ke Taiwan sekitar 10 tahun, tepatnya mulai 2000. Namun, sesampainya di Indonesia, Atin yang lulusan SMEA Muhammadiyah Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, langsung mewujudkan keinginannya.’’Saya waktu SMEA ngambil jurusan sekretaris. Tapi habis SMEA memilih merantau ke luar negeri,’’ ujar perempuan yang tinggal di Bantar, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, itu.
Barangkali keinginan kuat Atin melanjutkan pendidikan tak lepas dari keluarganya. Keluarga Atin bisa dibilang adalah keluarga pendidikan. Meski ibu Atin hanya ibu rumah tangga, bapaknya adalah pensiunan guru. Ketika masih aktif, bapak Atin pernah menjabat sebagai kepala sekolah salah satu madrasah ibtidaiyah—setingkat SD–di daerahnya. Semua kakaknya tak ada yang hanya sampai SLTA. Sehabis SLTA, mereka melanjutkan pendidikan lagi. Tiga adiknya juga demikian.’’Yang paling kecil sekarang masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY),’’ ujar anak ke-6 dari 9 bersaudara itu ketika dihubungi INDOPOS, Rabu malam (20/7).
Sepulang dari Taiwan pada 4 November 2010, Atin ingin segera bisa melanjutkan pendidikan.’’Karena sudah lama tidak pegang buku, saya ngambil diploma dua jurusan perpustakaan. Ikut Universitas Terbuka. Kalau nanti lancar kan bisa ngambil S1. Ya sudah lama tidak belajar, mencoba pikiran dulu. Pendidikan itu penting. Apalagi sekarang, tanpa kuliah, susah cari kerja,’’ jelas perempuan kelahiran 1978 tersebut.
Atin juga menambah pengalaman dengan kursus komputer dan bekerja di bagian perpustakan madrasah ibtidaiyah (MI) di daerahnya. ’’ Di MI, kebetulan butuh tenaga kepustakaan. Di sini kan baru dirintis. Kalau kursusnya sudah selesai. Selebihnya bantu-bantu ibu di rumah,’’ terang perempuan yang masih single tersebut.
Kenapa tidak jadi guru seperti bapaknya dulu? Atin mengaku tidak tertarik. Makanya, saat SMEA dia mengambil jurusan sekretaris.’’Untuk menjadi guru, jauh. Bukan jurusannya. Pengin kerja kantoran. Ya seperti pustakawan. Syukur-syukur bisa diterima sebagai PNS (pegawai negeri sipil),’’ ungkap perempuan yang mengaku saat bekerja di Taiwan hanya bekerja di satu majikan tersebut.
Atin sadar, gaji yang diperoleh dari pekerjaannya sekarang, memang jauh dari apa yang didapatkan saat mengurus orangtua majikannya di Taiwan.’’Tapi di sini, yang penting ada pemasukan lancar. Bisa pengabdian. Dan yang lebih penting, dekat dengan orangtua. Saya pulang karena bapak-ibu sudah sepuh. Ingin merawat mereka,’’ terang Atin yang dulu merantau karena ingin membantu orangtuanya menyekolahkan adik-adiknya.
Selama bekerja di luar negeri, Atin memang berhasil membantu tiga adiknya melanjutkan pendidikan. Dua adiknya persis, telah menyelesaikan sarjana atau S1.’’Yang satu sudah jadi PNS di Dinas Perhubungan, di tempatkan di Kalimantan. Sedangkan yang satu menjadi guru, ngajar di STM. Adik saya dulu kuliah di UMY, sedangkan yang satu di UNS Solo. Yang terkahir masih kuliah di UMY,’’ kata Atin yang tinggal serumah dengan orangtuanya tersebut.
Atin mengaku, hasil jerih payahnya selama dirantau tidak digunakan untuk usaha. ’’Tidak ada bakat usaha. Keturunan dagang, ya tidak ada. Paling beli tanah, sebagian sawah dikelola orangtua, sebagian lainnya disewakan,’’ ungkap mahasiswa semester dua tersebut.
Selama bekerja di Taiwan, Atin mengaku tak pernah mengalami masalah  dengan majikannya. Bahkan, majikannya menghargai Atin. Mereka menganggap Atin bukan sebagai pembantu atau pekerja.’’Mereka sudah menganggap saya sebagai bagian keluarga. Misalnya saat makan, makan bareng. Beberapa pelajaran yang saya dapat dari orang Taiwan adalah soal kedisiplinan dan semangat kerja yang tinggi. Mereka seakan tidak kenal waktu. Kalau kerja itu pengin cepat selesai, tapi hasilnya memuaskan,’’ jelas Atin yang mengaku bisa bahasa Taiwan tersebut.
Meski demikian, Atin tidak tertarik lagi kembali merantau. Saat ini, dia fokus memikirkan masa depannya. ’’Nggak tertarik lagi bekerja ke luar negeri. Ingin berumah tangga. Itu yang penting,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Delapan Kali Naik Haji, Dipercaya Memimpin Desa

MINGGU (17/4) adalah hari yang paling bersejarah bagi seorang H Tarmudi. Pria berusia  52 tahun ini memenangkan Pemilihan Kuwu (Kepala Desa) Melakasari, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Dia mengalahkan Ranto. Satu bulan kemudian (18/5) Tarmudi resmi dilantik oleh Bupati Cirebon Dedi Supardi. Dia berhak atas jabatan Kuwu Desa Melakasari selama 6 tahun mendatang.
Selama proses pemilihan kuwu, sebagian dananya adalah jerih payahnya saat bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Pria beranak empat ini pulang dari Arab Saudi pada 2010 lalu dilatarbelakangi oleh desakan kerabat dan sebagian masyarakat Melakasari agar mencalonkan diri kenjadi kuwu. ’’Pengalaman saya 6 tahun menjadi perangkat desa menjadikan masyarakat mempercayakan saya untuk maju dalam bursa pencalonan Kuwu Melakasari yang selama 2 tahun mengalami kekosongan jabatan,’’ papar Tarmudi ketika ditemui Radar Cirebon (INDOPOS-Jawa Pos Grup) di kediamannya, Jumat (15/7).
Tarmudi bekerja selama 15 tahun dengan dua majikan yang berbeda, namun di kota yang sama yakni Jeddah. Petualangan Tarmudi menjadi seorang TKI dimulai pada 1994. Setelah berhenti menjadi perangkat desa yang dijabatnya selama 6 tahun, Tarmudi bingung harus mencari pekerjaan, sementara usianya saat itu sudah masuk kepala tiga. ’’Saat itu bingung harus bekerja apa, karena saya dan istri tidak mempunyai usaha selain bekerja sebagai perangkat desa dan sopir tembak,’’  ujar pria berkulit sawo matang ini.
Kemudian, dia memutuskan untuk pergi bekerja ke luar negeri bersama sang istri. Mereka terpaksa meninggalkan keempat anaknya yang sedang tumbuh dewasa, dan dititipkan kepada mertuanya. Di tahun yang sama Tarmudi mendaftarkan diri menjadi TKI bersama istri, Hj Sopiah, ke perusahaan jasa TKI bernama PT Muhasatama Perdana Kusuma yang beralamat di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Namun, nasib belum perpihak kepada mereka, karena belum diizinkan langsung berangkat ke Arab Saudi karena persoalan visa.
Karena malu kepada keluarga dan masyarakat di desanya, dia tidak berani pulang kampung setelah perusahaan jasa TKI itu memutuskan belum bisa langsung berangkat. Dua bulan pertama, Tarmudi bersama istri lari ke arah selatan Jakarta yakni Bogor untuk mencari pekerjaan sementara. Beruntung, Tarmudi mendapat pertolongan dari seorang rekan yang baru dikenalnya di Bogor dengan diberi pekerjaan menjadi seorang tukang bersih-bersih di sekitaran Pakuan, Bogor. Dua bulan bekerja di Kota Hujan tak membuatnya betah, oleh karenanya Tarmudi bersama istri memutuskan untuk kembali ke Bekasi dan hidup di kantor perusahaan yang akan memberangkatkannya itu. ’’Kebetulan bos mengizinkan saya tinggal di kantor asalkan ikut bantu-bantu,’’ lanjutnya.
Apapun dilakukan oleh Tarmudi bersama istri agar bisa bertahan hidup di Bekasi sambil menunggu keberangkatan ke Arab Saudi. Mulai dari tukang foto kopi, membuatkan minuman untuk para karyawan kantor pada pagi hari, hingga ikut membantu mengetikkan pekerjaan karyawan. ’’Saya harus menunggu beberapa bulan, hingga akhirnya pada Juli 1995 bisa berangkat. Saya bersama istri bekerja di Kota Jeddah dengan majikan seorang janda bernama Farida Akhmad Riri.  Saya bekerja menjadi seorang sopir pribadi, sementara istri saya menjadi pembantu rumah tangga,’’ terang pria yang pernah belajar bahasa arab ketika mondok di Pesantren Luwung Ragi, Brebes, Jawa Tengah.
Setelah kontraknya habis, Tarmudi dan Sopiah memutuskan untuk pulang ke Melakasari pada 1997. Kepulangannya membuahkan hasil, di antaranya membeli sebidang tanah seluas 420 meter persegi dan membayar segala utang piutang keluarga selama ditinggal bekerja di Arab Saudi. ’’Sisanya untuk biaya sekolah anak-anak dan ongkos berangkat ke Arab Saudi lagi,’’ paparnya.
Kota Jeddah kembali menjadi tujuan utamanya bekerja. Keduanya bekerja pada keluarga Sahal Abdul Aziz Abdul  Karim Aulia. Sama seperti pekerjaan sebelumnya, Tarmudi bekerja sebagai sopir dan Sopiah menjadi pembantu rumah tangga.
Rupanya, Allah SWT selalu mendengarkan munajat-munajatnya ketika tahajud, hal ini dibuktikan dengan keberuntungannya mendapatkan majikan yang benar-benar menyayangi keduanya. Selama bekerja 13 tahun, keduanya tak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari sang majikan. Malah, selama bekerja, keduanya diberikan kesempatan menunaikan ibadah haji selama 7 kali. ’’Kalau umrah mungkin tak terhitung,’’ katanya.
Tak hanya itu, di Melakasari, pasangan ini bisa mendirikan rumah yang begitu besar dan menyekolahkan salah satu anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi, dan sebagian untuk modal mencalonkan kuwu beberapa waktu lalu. (mohamad junaedi/jpnn)

Kategori:TKI SUKSES

Kegigihan, Semangat, dan Kemandirian ala Narikem

PENDIDIKAN formal Narikem memang tidak tinggi. Dia mengaku hanya tamatan sekolah dasar (SD). Namun, kegigihan, keuletan, dan perjuangan Narikem untuk mandiri, patut mendapat apresiasi. Betapa tidak, dia tegar melewati berbagai rintangan. Narikem bercerita, dia pernah merantau ke Jakarta. Di ibu kota Indonesia itu, Narikem menemukan tambatan hatinya.’’Akhirnya kami menikah,’’ ujar Narikem dihubungi INDOPOS, kemarin sore (17/7). Namun, pernikahan yang berlangsung pada 1992 itu tidak bertahan lama. Karena terganjal permasalahan yang tidak bisa ditoleransi lagi, Narikem memutuskan bercerai.
Keputusan itu bukanlah keputusan mudah bagi Narikem. Sebab, ketika itu Narikem dalam kondisi hamil. Tapi, keputusannya sudah bulat. Narikem pun selanjutnya memilih pulang kampung, ke Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.’’Saya ikut paman dan bibi, karena orangtua saya sudah meninggal. Saya anak pertama dari 4 bersaudara,’’ imbuh perempuan kelahiran 1970 tersebut.
Tinggal bersama paman dan bibi, apalagi sedang dalam keadaan hamil, merupakan beban tersendiri bagi Narikem. Sebenarnya dia tak mau bergantung kepada orang lain, meski masih saudara sendiri. Apalagi, dia harus membesarkan buah hatinya. Oleh karena itu, setelah anaknya lahir, Narikem memutuskan kerja. ’’Sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Itu pada 1994. Paman mendukung keputusan saya. Dia membantu menguruskan dokumen-dokumennya. Di Arab dua tahun. Setelah itu pulang. Alhamdulillah selama di Arab tidak terjadi apa-apa,’’ ungkapnya.
Setelah pulang dari Arab Saudi, Narikem tak lama di kampung halaman. Dia merasa harus memberikan yang terbaik kepada anak semata wayangnya. Memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi, dia harus mencari nafkah sendiri. ’’Saya ingin membesarkan dia dengan baik. Saya ingin dia sekolah yang tinggi,’’ tegasnya semangat. Narikem kemudian memutuskan pergi ke luar negeri lagi pada 1996 sebagai pembantu rumah tangga. Kali ini ke Hongkong.
Semangat menggebu untuk memberikan yang terbaik diusung Narikem. Namun, cobaan menerpanya. ’’Anak saya meninggal karena kecelakaan. Dia sudah SMP. Ketika itu pas Lebaran. Saya di Hongkong, mendapat kabar saat lagi berkumpul teman-teman, karena mendapat libur Lebaran,’’ ujarnya dengan suara lirih seakan mengenang peristiwa sedih tersebut.
Dia memberanikan diri minta izin ke majikannya agar bisa pulang ke Indonesia. Majikan mengizinkan Narikem pulang ke Indonesia selama satu bulan. Meninggalnya sang buah hati merupakan pukulan telak bagi Narikem. Apalagi, dia membesarkan dengan jerih payah seorang diri. Meski harapannya untuk melihat sang anak sukses sirna, Narikem mencoba tegar. Dengan sisa-sisa semangat hidup, Narikem bangkit untuk menapaki hidup. Hidup harus jalan terus. Dia pun balik lagi ke Hongkong.’’Saya di Hongkong hingga 2010. Tiga tahun sekali saya pulang, dibiayai majikan,’’ imbuhnya.
Kegagalan dalam bahtera rumah tangga juga menjadi pelajaran penting bagi Narikem. Namun dia tidak antipati terhadap laki-laki. Hanya lebih selektif. Jodoh pun akhirnya datang.’’Tapi sebelum memutuskan untuk menikah, saya minta tunangan dulu, 3 tahun. Saya ingin lebih mengetahui calon suamiku seperti apa. Saya tidak ingin seperti dulu. Dan setelah mantap, akhirnya menikah. Ketika itu masih kerja di Hongkong. Pulang untuk nikah. Sudah tujuh tahun. Dia orang Bantul, Jogjakarta. Tapi sudah tinggal di sini (Banyumas, Red) 5 tahun,’’ terang perempuan yang hasil pernikahan keduanya ini belum dikaruniai anak tersebut.
Selama di Hongkong, Narikem mengaku berhasil menabung membangun rumah, membeli tanah, dan hewan ternak. Sepulang dari Hongkong, bersama suami yang pernah merantau di Malaysia selama dua tahun, Narikem mengelola tanah hasil jerih payahnya merantau ke luar negeri.’’Bertani serta memelihara sapi dan ayam. Sedikit kok,’’ kata Narikem yang pada 6 bulan pertama di Hongkong sudah bisa bahasa negara tersebut.
.
Narikem juga merintis usaha pembuatan kue. Narikem belajar otodidak. Tidak kursus. Dia hanya bertanya dan belajar dari saudara dan teman-temannya. ’’Buat bolu kukus dan putri ayu. Kalau ada pesanan bikin. Juga dititipkan ke warung. Baru mulai 8 bulan lalu buat brownies. Saya juga buat es lilin. Masih kecil-kecilan. Dikerjain sendiri, kadang dibantu suami. Dulu saya sering ke Seruni. Para mantan TKI (Tenaga Kerja Indonesia, Red) diberi pelatihan di sana,’’ jelasnya.
Apa masih ingin kembali merantau ke luar negeri lagi? Narikem yang mengaku TKI pertama di desanya, langsung menjawab tidak. Di usianya yang sudah kepala empat, Narikem ingin berkumpul bersama keluarga.’’Saya berharap bisa mengembangkan usaha brownies. Syukur-syukur dapat buka toko. Selain itu, saya ingin punya momongan,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Geluti Bidang Penambangan, Selanjutnya Bidik Perkebunan

JIWA petualang barangkali layak disematkan kepada Sukamto. Dia lahir di Lampung pada 10 Mei 1973. Setelah menyelesaikan diploma pertama di Probolinggo, Lampung Timur, Lampung, beberapa waktu kemudian dia merantau ke Korea Selatan, mulai 1998 hingga 2003. Sekembalinya bekerja dari Negeri Gingseng itu, Kamto—panggilan akrab Sukamto—sempat tinggal di Grobogan, Jawa Tengah. Kini bersama istri dan anak semata wayangnya, Kamto tinggal di Bangka Belitung.
Kamto bercerita, dia memutuskan berangkat ke Korea Selatan karena termotivasi sejumlah tetangganya yang telah merantau ke luar negeri hidupnya sukses. Setidaknya, secara ekonomi, mereka bisa hidup tanpa kekurangan kebutuhan sehari-hari. ’’Mereka yang berangkat ke luar negeri, perkembangan ekonominya cepat. Saya pun awalnya iseng, kemudian cari informasi peluang kerja ke luar negeri. Setelah dapat, saya memutuskan pergi. Setelah sekitar dua bulan menunggu, akhirnya berangkat. Sebelum berangkat dari Jakarta ke Korea Selatan, saya dan kawan-kawan tinggal di penampungan sekitar seminggu. Ketika itu saya masih bujang,’’ jelas Kamto ketika dihubungi INDOPOS, Rabu malam (13/7).
Kamto yang sejak 2007 tinggal bersama keluarganya di Lubuk Pabrik, Lubuk Besar, Bangka Tengah, Bangka Belitung, mengatakan, setelah pulang dari Korea Selatan pada 2003, dia mencoba peruntungan berdagang emas di pasar tradisional. ’’Saya menikah dengan perempuan Grobogan. Di tempat istri, dagang emas ketika itu menjamur. Saya tertarik dan mencoba menggelutinya. Tapi tidak sukses,’’ ujarnya.
Usaha itu dijalaninya hingga 2007. Namun, karena perkembangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, Kamto memutuskan menutup usahanya berdagang emas. Setelah menjual sejumlah asetnya, Kamto dan keluarga kembali ke Lampung. Namun, di tanah kelahirannya itu dia tak lama. ’’Sekitar dua mingguan. Saya kemudian hijrah ke Bangka Belitung,’’ imbuh anak ke-6 dari delapan bersaudara itu.
Di Bangka Belitung, Kamto mencoba menekuni usaha pertambangan.’’Ada beberapa saudara yang sudah di Bangka. Saya ikut nimbrung. Awalnya saya merasakan perkembangannya lambat,’’ tambahnya. Kamto pun diliputi rasa bimbang dengan usaha yang baru dirintisnya itu. Bahkan, karena belum mantap dengan apa yang dijalaninya, Kamto pada 2008 merantau ke Korea Selatan lagi. Namun, harus pulang ke Indonesia, karena terganjal dokumen. ’’Saya ke Korea Selatan lagi, karena dapat informasi dari teman bahwa gaji semakin tinggi dan sudah ada G to G, kerja sama antara dua negara, Indonesia dan Korea Selatan. Di sana semingguan terus pulang. Tiket pulang saya minta nguruskan orang rumah,’’ ungkapnya.
Gagal bekerja di Korea Selatan, Kamto memantapkan usaha di bidang pertambangan. ’’Kalau dulu masih gabung sama saudara, selanjutnya jalan sendiri. Saya masih pengepul, penambang kecil, saya beli kemudian saya jual lagi di penambang atau bos besar, selanjutnya disetorkan ke pabrik. Di sini penambangannya pasir timah,’’ terangnya.
Dalam perjalanannya, Kamto tak hanya membeli hasil tambang dari para penambang. Dia menyiapkan modal, membeli dua mesin. ’’Saat ini yang beroperasi satu mesin. Dijalankan dua orang. Mesin itu untuk menyemprot tanah. Kedalamannya juga bervariasi. Dari penambang, dia beli, kemudian dijual lagi,’’ katanya. Dari penambangan itu, setelah diolah di pabrik, selanjutnya diekspor. Hasilnya di antaranya untuk bandul pancing yang terbuat dari timah dan timah untuk menyolder barang-barang elektronik. ’’Setahu saya, ekspornya ke Jepang, Korea, dan Jerman. Ya ke sejumlah negara yang banyak pabrik elektroniknya,’’ imbuhnya.
Kamto mengaku, dia tidak bisa langsung mengakses ke pabrik, karena harus melewati penambang besar.’’Butuh modal besar. Makanya saya jual lagi ke bos besar. Baru dari dia ke pabrik atau PT,’’ ungkapnya. Ke depan, Kamto tak ingin hanya berkutat di bidang penambangan. Dia ingin menggeluti perkebunan. ’’Sudah tua, saya tak ada keinginan ke luar negeri lagi. Ingin buka perkebunan di sini (Bangka Belitung, Red),’’ imbuhnya.
Meski sudah tidak ada rencana merantau ke luar negeri lagi, Kamto berpesan, mereka yang bekerja di luar negeri selalu menjaga diri dan menyiapkan diri secara maksimal agar tidak merugikan diri sendiri ’’Jangan lupa tujuan. Uang yang didapat jangan untuk foya-foya. Harus mempunyai planning matang dari rumah,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Lima Truk untuk Jasa Ekspedisi

PENGALAMAN berharga selama bekerja di Korea Selatan didapat Suwanto. Warga Sidobinangun, Seputih Banyak, Lampung Tengah, Lampung, itu merasakan semangat dan kerja keras orang Korea Selatan begitu tinggi. ’’Meski sudah bos atau majikan di perusahaan, masih mau sama-sama bekerja dengan anak buahnya. Menganggap orang kaya dan miskin sama. Mereka mau kerja sama. Dari pengalaman itu, yang saya petik, kalau mau bekerja keras, pasti berhasil,’’ ujar Wanto—panggilan akrab Suwanto.
Selain itu, mereka saling menghargai. Hubungan dia yang bekerja di pabrik kabel dengan atasannya juga baik.’’Tidak ada masalah. Di sana, yang tua menghargai yang muda. Begitu sebaliknya. Dengan tenaga kerja, yang saya rasakan selama bekerja juga dihargai,’’ imbuh Wanto yang keturunan Jawa tersebut.
Wanto yang pernah bekerja di Korea Selatan pada 2000-2003 itu mengaku, dia merantau karena ajakan teman. Di samping cari pengalaman, Wanto yang ketika itu masih bujang, ingin mengumpulkan pundit-pundi uang. Ketertarikan Wanto juga setelah melihat mereka yang pulang dari Korea Selatan pada berhasil.’’Setelah tamat STM pada 1997, saya sempat menganggur selama satu tahun. Setelah itu sempat menjadi sopir selama dua tahun. Persiapan ke Korea Selatan relatif cepat. Setelah dua bulan mendaftar, menunggu di penampungan beberapa hari. Praktis tidak ada pembekalan, termasuk bahasa. Di penampungan diminta banyak beribadah dan berdoa,’’ cerita Wanto yang kontrak 3 tahun tersebut.
Selama di sana, Wanto mengaku cukup enak. Jika libur kerja, Wanto bisa berkumpul dengan sesama perantau asal Indonesia. Mereka melepas rindu dan saling cerita. Ini dilakukan untuk mengobati kangen dan kerinduan kampung halaman serta keluarga yang ada di Indonesia.’’Selama 3 tahun di Korea Selatan, saya pulang sekali. Cuti selama 25 hari. Transport dibiayai perusahaan. Pas pulang itu, saya menikah dengan orang Lampung, masih satu kecamatan. Setelah menikah, saya kembali lagi ke Korea Selatan. Istri di Lampung, tidak ikut,’’ jelas Wanto yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.
Setelah kontrak selesai 3 tahun, Wanto tidak memperpanjang. Dia memutuskan pulang dan berkumpul bersama istrinya. Wanto sampai Indonesia pada 7 April 2003. Sesampainya di tanah air, hasil jerih payahnya selama bekerja di Korea Selatan dia gunakan untuk usaha. Yang dilakukan kali pertama adalah membeli kendaraan. ’’Saya beli Colt Diesel, saya gunakan untuk ekspedisi. Saya jalankan sendiri. Tapi dua tahun berjalan, belum ada perkembangan yang menonjol,’’ ungkap Wanto yang kini dikaruniai seorang anak itu.
Wanto tak mau putus asa. Dia putar otak. Semangat dan kerja keras yang yang dia dapatkan selama bekerja di Korea Selatan selalu memotivasinya. Colt Diesel dia ganti dengan truk Fuso.’’Awalnya masih bawa sendiri, saya yang menyetir. Kemudian beli lagi truk Fuso. Usaha ekspedisi dengan truk Fuso ini berjalan hingga kini. Mudah bekerja sama dengan truk Fuso, dengan pabrik-pabrik di Lampung, mengangkut barang-barang seperti kelapa sawit, ketela, dan lain-lain. Usaha ini mulai kelihatan sejak 2007,’’ jelas Wanto yang kini mempunyai 5 truk Fuso. Dengan 5 truk Fuso itu, Wanto setidaknya memberdayakan 10 orang, 5 orang sebagai sopir dan 5 orang sebagai kenek.
Ke depan, Wanto tak ingin hanya menjalankan truk Fuso untuk ekspedisi. Dia berencana mengembangkan usaha, investasi di bidang pertanian.’’Saya ingin beli tanah, beli kebun, sehingga bisa digunakan untuk berkebun. Saya sudah tidak punya keinginan ke luar negeri. Kerja di sini sama saja, apalagi kalau sudah ada modal dan usaha sudah jalan,’’ tegasnya ketika dihubungi INDOPOS, Minggu (10/7).
Meski demikian, dia berpesan, jika ada yang tetap ingin bekerja ke luar negeri, hendaknya tidak aneh-aneh. Artinya, kalau dapat uang, jangan dihambur-hamburkan. Lebih baik dijadikan modal, sehingga ketika kembali ke Indonesia, dapat digunakan untuk buka usaha.’’Tapi kalau punya modal, mendingan bekerja di Indonesia saja,’’ imbuhnya.
Dari pengalamannya bekerja di Korea Selatan, gajinya langsung masuk tabungan.’’Yang pegang orang kantor. Kita memang ada jatah untuk makan sebulan. Selebihnya mereka yang pegang. Tapi kalau kita butuh seperti mau mengirim untuk keluarga di Indonesia, bisa. Mereka yang akan mengurus. Tabungan itu nanti diambil ketika kita sudah selesai kontrak,’’ terangnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Dari Bengkel Center Body, Warnet, hingga Rental Mobil

SEMANGAT menggebu ditunjukkan Abdul Rahman Soleh bekerja di luar negeri. Gagal berangkat ke Brunei Darussalam sebagai mekanik dan Singapura sebagai awak kapal pesiar, tak membuat lulusan diploma satu salah satu kampus di Malang, Jawa Timur, itu patang arah. Keinginan Soleh pun akhirnya terwujud. Dia akhirnya bisa bekerja di Jepang. ’’Istilahnya kalau ke Jepang itu training. Saya ketika itu masih bujang, umur 21 tahun. Tujuan utama, cari pengalaman dan cari modal,’’ ujar anak terakhir dari 5 bersaudara itu.
Soleh yang lulusan pendidikan otomotif itu harus melalui beberapa tahap seleksi ketat sebelum dipilih berangkat ke Jepang. Ada tes fisik, kesehatan, psikologi. Pembekalan juga harus diikuti. Satu bulan di Surabaya, 3 bulan di Lembang, dan satu bulan di Jepang.’’Yang di Indonesia pembekalan secara umum, sedangkan di Jepang pembekalan spesifik, persiapan di mana pekerja akan ditempatkan. Peserta training juga wajib bisa berbahasa Jepang. Persiapan saya hanya habis sekitar Rp 3 juta-an. Itu untuk beli buku-buku sama untuk makan,’’ jelas pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, pada 1978, ketika dihubungi INDOPOS, Sabtu (9/7).
Soleh yang mengaku masih bisa berbahasa Jepang itu kontrak selama 3 tahun, mulai 2000. Namun, dia meneruskan bekerja hingga 2007 tahun. Alhasil, Soleh yang kini tinggal bersama keluarganya di Jalan Imam Bonjol, Tembarak, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, itu bekerja di kawasan Tokyo selama tujuh tahun.’’Di dua pabrik berbeda. 2000 hingga 2003 dan pindah pabrik hingga 2007. Tapi tetap bekerja di bagian permesinan,’’ imbuh pria yang menikah dengan perempuan satu kabupaten pada 2008 tersebut.
Dari hasil bekerja di Jepang itu Soleh dapat merajut harapan. Dia pandai menabung dan memanfaatkan hasil jerih payahnya dengan sebaik-baiknya. Dia sadar, tujuan merantau ke luar negeri adalah mencari modal.’’Lumayan lah kalau di kurs rupiahkan. Tapi harus pintar mamanaj uang. Kalau tidak bisa menabung, gaji banyak akan habis juga,’’ terang Soleh yang dikaruniai anak yang kini berusia 1,5 tahun tersebut.
Setelah dirasa cukup, Soleh memutuskan pulang ke Indonesia pada September 2007. ’’Mikir cari uang terus, ya tidak ada habisnya. Selain itu, kangen sama orangtua, karena tujuh tahun tidak pulang. Saya pulang untuk mulai usaha, ingin berwirausaha,’’ cerita Soleh yang sebelum pulang sudah membeli tanah kemudian membangun ruko untuk usahanya kelak setelah kembali ke Indonesia.
Meski pulang membawa modal cukup lumayan, Soleh mengaku sempat bingung. Selain harus adaptasi dengan lingkungan yang sempat ditinggalkan selama tujuh tahun itu, dia belum tahu apa usaha yang akan dirintisnya. Soleh pun silaturahmi ke sejumlah teman-temannya.’’Sharing dengan teman-teman yang sudah punya usaha. Akhirnya saya mulai usaha bengkel center body sepeda motor pada tanggal 1, bulan 1, tahun 2008. Tempatnya ya di ruko yang saya bangun. Sekarang sudah punya pasar, promosinya sekitar 8 bulan. Di situ juga saya tinggal. Kalau sebelum ke Jepang, saya tinggal bersama orangtua yang jaraknya sekitar 5 kilo meter dari ruko,’’ ungkapnya.
Tidak sedikit modal yang dikeluarkan untuk merintis bengkel center body tersebut. Ketika itu, Soleh membeli peralatannya di Jakarta seharga Rp 35 juta. Dia mencoba merintis usaha lain. Namun, beberapa usahanya tersebut tak sesuai harapan.’’Jatuh bangun. Seperti arisan motor yang gulung tikar. Sampai akhirnya saya buka warnet di ruko ini juga. Ada 5 unit. Warnet dimulai 1 tahun lalu. Sekarang juga rental mobil bekerja sama dengan orang lain. Sejak empat bulan lalu. Ada 5 mobil, kalau yang punya saya sendiri 1 mobil,’’ terangnya.
Dari usahanya tersebut, Soleh telah berhasil menciptakan lapangan kerja. Di bengkel center body, Soleh punya 3 tenaga kerja, sedangkan di warnet, dipekerjakan 1 orang. ’’Ke depan, saya ingin fokus di center body. Ingin buka cabang. Selain itu, saya ingin mengembangkan rental mobil,’’ ujar Soleh. Bagi Soleh, setelah bekerja di luar negeri, seseorang harus berubah. Oleh karena itu, harus punya niat dan tujuan yang jelas.’’Kalau tidak berubah, rugi. Ke luar negeri kan korban waktu, berpisah dengan keluarga, dan memeras tenaga,’’ imbuhnya.
Dia juga berharap, pemerintah lebih memperhatikan mereka yang bekerja di luar negeri. Dari pengalamannya bekerja di Jepang, ada kesan sekat-sekat. Perbedaan status sosial atau yang lainnya ketika di rantau, hendaknya dihilangkan. Ini sangat penting, karena sama-sama di rantau, meski tujuannya beda-beda.
’’Kalau di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia, Red) atau perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri misalnya, antara mahasiswa dan TKI (Tenaga Kerja Indonesia, Red). Saya masuk kelompok TKI. Padahal angkatan saya ke Jepang itu lulusan diploma dan sarjana. Di Jepang yang sudah maju saja begini. Apalagi teman-teman TKI yang pendidikannya tidak tinggi dan pergi merantau ke negara-negara di luar Jepang. Yang jelas, pemerintah yang ada di sejumlah negara penempatan harus lebih perhatian kepada para TKI, terutama kalau ada persoalan-persoalan,’’ pungkas Soleh. (zul)

Kategori:TKI SUKSES