Beranda > TKI SUKSES > Ingin Berdayakan Petani Perempuan di Paningkaban

Ingin Berdayakan Petani Perempuan di Paningkaban

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 4 Juli 2011

BISA memberikan manfaat bagi orang lain, tentunya merupakan kebahagiaan tersendiri. Itulah yang dirasakan oleh Sri Setiyowati, warga RT 4 RW 1, Paningkaban, Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pernah merantau ke Taiwan selama 5 tahun itu ikut terlibat di sejumlah kegiatan.’’Syukur-syukur bisa ikut memberi pemberdayaan kaum perempuan. Senang kalau bisa ikut memberdayakan,’’ ujar perempuan yang dua kali menjadi TKI, pada 1999—2001 dan 2002—2005.
Ibu tiga anak itu mengatakan, dia pada 2008 dipercaya menjadi nakhoda Posyandu di daerahnya. Bersama pengurus lainnya dan dukungan masyarakat, pada 2008, Posyandu tersebut menyabet penghargaan.’’Ikut lomba tingkat Kabupaten Banyumas meraih juara II,’’ jelas perempuan lulusan SLTP yang kini segera memeroleh ijazah Paket C ketika dihubungi INDOPOS, tadi malam.
Sri yang saat berangkat kali pertama ke Taiwan baru mempunyai dua anak yang masih kecil itu juga aktif di Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Desa Paningkaban.’’Saya ikut mengelola bersama yang lain. Ini mulai 2008,’’ imbuhnya. Tak hanya itu, pada 2009, istri dari Samsudin itu juga dipercaya sebagai ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Kecamatan Gumelar.
Perempuan kelahiran 1975 itu juga aktif di Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Pedesaan (PNPM-MP).’’Sebagai kader pemberdayaan masyarakat desa. Fasilitator tingkat Desa Paningkaban,’’ ujar perempuan yang juga mengaku ikut bantu-bantu pendataan di serikat buruh migran Kabupaten Banyumas, Seruni.’’Saya senang ikut organisasi. Belajar otodidak. Di organisasi bisa banyak belajar,’’ tambah perempuan yang saat menjadi TKI ditempatkan di sektor domestik rumah tangga sebagai pengurus orang lanjut usia.
Ke depan, istri kepala dusun di daerahnya itu punya keinginan memperdayakan perempuan petani.’’Sampai saat ini yang belum terealisasi adalah mendirikan Kelompok Wanita Tani di Desa Paningkaban. Ingin sekali,’’ tegas Sri yang pernah merantau di Jakarta tersebut.
Sri pun menceritakan perjalanannya merantau ke Taiwan. Dia mengadu nasib ke negara orang ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Ekonomi keluarganya jauh dari normal. Suaminya ketika itu belum mempunyai pekerjaan tetap. ’’Suami saya kan pendatang, bukan Banyumas. Dari Subang, Jawa Barat. Sebenarnya saat memutuskan ke Taiwan, suami melarang. Tapi setelah saya kasih tahu alasan-alasannya, pelan-pelan suami mengizinkan,’’ ceritanya.
Setelah pulang dari menjadi TKI pada 2001, Sri berhasil merapikan rumahnya.’’Bisa buat memberesin rumah. Ada sisa sedikit,’’ ujarnya. Karena dana semakin menipis dan ekonomi keluarga dirasa belum cukup, Sri pun memutuskan kembali menjadi TKI lagi. Tetap ke Taiwan. Tepatnya pada 2002—2005. Baru lima bulan dari kontrak 3 tahun, Sri mendapatkan kabar bahwa suaminya ikut mendaftar perangkat desa dan akhirnya terpilih sebagai kepala dusun.’’Saya diminta pulang oleh suami. Tapi saya betah, karena sudah dipercaya majikan. Saya minta izin menyelesaikan kontrak dulu selama tiga tahun. Di sana (Indonesia, Red) suami bisa mengumpulkan rezeki, saya di sini (Taiwan, Red) juga mengumpulkan,’’ terangnya.
Sri menyelesaikan kontraknya selama 3 tahun dengan baik. Setidaknya terlihat dari apresiasi agensi tempat Sri diberangkatkan.’’Setelah selesai, dari agensi, saya diberi hadiah. Mereka tidak memberi uang. Diwujudkan dalam bentuk barang. Suruh milih minta barang apa. Saya pilih sepatu. Agensi juga cerita, sempat khawatir saya kabur dari majikan, karena sebelumnya sudah pernah kerja di Taiwan. Mereka mengaku memantau saya,’’ terangnya.
Sri mengaku, sebelum pulang ke Indonesia, dia menyiapkan diri. Menurutnya, sebagai istri kepala dusun, idealnya bisa berpidato. Makanya dia mempersiapkan diri bisa berpidato di hadapan orang banyak. Setelah sampai di rumah, Sri malah mengaku bingung. Maklum, di Taiwan aktivitasnya cukup padat. Bahkan dia tak pernah libur kerja. Sedangkan saat awal-awal baru kembali dari Taiwan, tak banyak aktivitas yang dilakukan. ’’Makanya pada 2006, saya buka warung. Tidak menyatu di rumah. Di tempat yang agak ramai. Warung sembako dan perabotan rumah,’’ jelasnya.
Usaha yang dirintisnya itu pun berjalan dan berkembang hingga kini. Namun, karena kesibukannya, usaha tersebut dikelola oleh orang tua Sri.’’Kalau saya pas ada waktu luang, ya ke sana juga,’’ imbuh Sri yang mengaku hasil dari TKI yang kedua bisa membeli sejumlah tanah. Kehidupan Sri pun berubah. Setidaknya secara ekonomi. Suami setelah dari tugas sebagai kepala dusun, bisa mengurus pertanian.’’Ada yang ditanami pisang, kelapa, dan cokelat. Lumayan lah,’’ ucapnya.
Sebagai mantan TKI, dia ingin para Tenaga Kerja Wanita berdaya. Kalau dapat mengoptimalkan potensi yang ada dan berdaya, para perempuan Indonesia tak perlu ke luar negeri untuk menjadi TKI. Kalau pun tetap pergi untuk memperbaiki ekonomi, harus melakukan persiapan matang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.’’Jangan menghamburkan uang. Setelah pulang habis, terus kembali menjadi TKI, habis lagi, menjadi TKI lagi, dan seterusnya. Harus punya tujuan,’’ tegas Sri yang sudah tidak punya keinginan menjadi TKI lagi. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: