Beranda > TKI SUKSES > Menakhodai Desa Juwono, Siap Layani Masyarakat

Menakhodai Desa Juwono, Siap Layani Masyarakat

MESKI hanya lulusan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), Puji Astuti punya keinginan kuat agar adik-adiknya dapat mengenyam pendidikan melebihi dirinya. Dan itu akhirnya berhasil diwujudkan perempuan kelahiran 1980 itu dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).’’Motivasi saya merantau ke Korea Selatan adalah menyekolahkan adik-adik dan ingin cari rezeki dan kehidupan yang layak,’’ ujar perempuan yang tinggal di Desa Juwono, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (5/7).
Keinginan anak kedua dari empat bersaudara itu terpenuhi. Saudaranya nomor tiga dapat menyelesaikan jenjang diploma, sedangkan saudaranya nomor empat, berhasil menyelesaikan sarjana pertama (S1).’’Yang nomor ketiga bekerja di Korea Selatan, sedangkan yang nomor empat di Jakarta,’’ cerita Puji. Dia mengaku, setelah melalui pelatihan selama tiga bulan, dia berangkat ke Korea Selatan (Korsel) dan ditempatkan di perusahaan elektronik.’’Berangkat pada 2001, bekerja di manufaktur,’’ imbuh perempuan yang saat berangkat ke Korsel belum menikah tersebut.
Tidak hanya berhasil menyekolahkan dua adiknya, Puji yang menjadi TKI hingga 2004 juga berhasil menemukan tambatan hatinya di Negeri Gingseng tersebut. Pria pujaannya tersebut juga menjadi TKI. ’’Nikah di Korsel dengan TKI asal Semarang, Jawa Tengah. Dan baru dirayainnya di Indonesia setelah pulang dari Korsel,’’ ungkap Puji. Namun, pernikahannya tidak langgeng. Padahal, Puji mengaku sudah punya investasi bersama suami di Semarang, Jawa Tengah.
Gagal membina rumah tangga merupakan kenyataan pahit. Namun, Puji tak mau berlarut dalam kesedihan. Hingga akhirnya dia membuat keputusan yang terbilang berani, maju sebagai kandidat kepala desa Juwono. Meski perempuan, Puji ingin memberi kontribusi di desanya. ’’Pada pemilihan kepala desa Juwono 2007, ada empat kandidat. Dua pria dan dua perempuan, termasuk saya,’’ imbuhnya.
Majunya Puji menjadi kandidat orang nomor satu di Juwono juga tak lepas dari keinginan orangtuanya.’’Bapak sebelum meninggal pernah bilang kepengen ada anaknya yang menjadi aparat desa. Bapak meninggal pada 2002, saya masih di Korsel. Saya memberanikan diri maju, karena biar orangtua bangga,’’ jelas Puji yang baru menikah lagi dengan pria asal Kediri, Jawa Timur, pada 2011. Alasan lainnya, ingin menerapkan apa yang dilihat dan dirasakannya saat menjadi TKI.’’Di sana (Korsel, Red) disiplin. Ada pelajaran tersendiri yang saya dapatkan di Korsel. Kedisiplinan itu yang ingin saya terapkan,’’ tegasnya.
Pada pemilihan kepala desa Juwono 2007, Puji tampil sebagai pemenang, mengalahkan tiga rivalnya.’’Mungkin saya menang, karena nasib. Orang memilih saya barangkali orangnya enak diajak ngobrol dan tidak otoriter,’’ jelasnya. Juwono, lanjut Puji. dihuni 2090 orang atau sekitar 600 kepala keluarga. Mayoritas penduduknya adalah petani, sedangkan yang menjadi TKI sekitar 5 persen. Komunikasi dengan masyarakat berjalan baik. Sebagai kepala desa, berarti saya sebagai pelayan masyarakat, bukan orang yang harus disegani. Sebagai pelayan, harus mau dimintai tolong ini dan itu,’’ terangnya.
Awalnya, lanjut Puji, sejumlah perangkat desa atau stafnya meragukan kemampuannya. Namun, Puji berhasil menjawab keraguan itu.’’Itu bisa diatasi. Saya belajar dengan perangkat di kecamatan yang sudah senior. Dunia kerja tidak membedakan perempuan dan laki-laki. Saya merasa menjadi kepala desa asyik saja. Senang jadi pelayan,’’ tambah istri dari Zainal Muttaqin itu. Setelah masa jabatannya berakhir pada 2013, Puji ingin maju mencalonkan diri lagi sebagai kepala desa Juwono untuk kali kedua.’’Rencananya nyalon lagi nanti,’’ imbuhnya.
Dia mengklaim program pembangunan berjalan dengan baik. Misalnya pengaspalan yang sudah mencapai 90 persen. Artinya, jalan yang belum diaspal tinggal 10 persen. Di bidang ekonomi, terkoordinasi dengan baik. ’’Misalnya, industri kecil pembuatan tempe cukup baik,’’ ucapnya.
Namun, Puji belum puas. Sebab, ada hal-hal yang diinginkan belum tercapai secara optimal. Kesehatan masyarakat misalnya. ’’Memang ada kartu kesehatan, berobat ke rumah sakit dengan menggunakan kartu itu, namun pelayanannya masih dibedakan,’’ terangnya.
Sebagai mantan TKI, Puji berharap, para TKI yang tetap ingin berangkat ke luar negari harus menyiapkan diri sebaik-baiknya.’’Jangan asal berangkat. Pilih agen yang baik. Tawaran jangan asal diterima sebelum diselidiki. Jangan sekali-kali menyusahkan diri sendiri. Jangan asal berangkat sebelum punya bekal dulu,’’ jelasnya. Selain itu, kantor perwakilan, kedutaan, konsulat, dan lain sebagainya yang di negara tersebut ada TKI diharapkan lebih memberi perhatian serius. Kalau seandainya ada TKI yang mendapat masalah, ikut menfasilitasi dan membantu.
’’Yang menyalurkan juga harus bertanggung jawab, agen jangan melepas begitu saja setelah TKI ditempatkan di negara orang. Yang disalurkan juga harus benar-benar serius bekerja dan ingat niat bekerja di luar negeri,’’ tegasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: