Beranda > TKI SUKSES > Dari Bengkel Center Body, Warnet, hingga Rental Mobil

Dari Bengkel Center Body, Warnet, hingga Rental Mobil

SEMANGAT menggebu ditunjukkan Abdul Rahman Soleh bekerja di luar negeri. Gagal berangkat ke Brunei Darussalam sebagai mekanik dan Singapura sebagai awak kapal pesiar, tak membuat lulusan diploma satu salah satu kampus di Malang, Jawa Timur, itu patang arah. Keinginan Soleh pun akhirnya terwujud. Dia akhirnya bisa bekerja di Jepang. ’’Istilahnya kalau ke Jepang itu training. Saya ketika itu masih bujang, umur 21 tahun. Tujuan utama, cari pengalaman dan cari modal,’’ ujar anak terakhir dari 5 bersaudara itu.
Soleh yang lulusan pendidikan otomotif itu harus melalui beberapa tahap seleksi ketat sebelum dipilih berangkat ke Jepang. Ada tes fisik, kesehatan, psikologi. Pembekalan juga harus diikuti. Satu bulan di Surabaya, 3 bulan di Lembang, dan satu bulan di Jepang.’’Yang di Indonesia pembekalan secara umum, sedangkan di Jepang pembekalan spesifik, persiapan di mana pekerja akan ditempatkan. Peserta training juga wajib bisa berbahasa Jepang. Persiapan saya hanya habis sekitar Rp 3 juta-an. Itu untuk beli buku-buku sama untuk makan,’’ jelas pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, pada 1978, ketika dihubungi INDOPOS, Sabtu (9/7).
Soleh yang mengaku masih bisa berbahasa Jepang itu kontrak selama 3 tahun, mulai 2000. Namun, dia meneruskan bekerja hingga 2007 tahun. Alhasil, Soleh yang kini tinggal bersama keluarganya di Jalan Imam Bonjol, Tembarak, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, itu bekerja di kawasan Tokyo selama tujuh tahun.’’Di dua pabrik berbeda. 2000 hingga 2003 dan pindah pabrik hingga 2007. Tapi tetap bekerja di bagian permesinan,’’ imbuh pria yang menikah dengan perempuan satu kabupaten pada 2008 tersebut.
Dari hasil bekerja di Jepang itu Soleh dapat merajut harapan. Dia pandai menabung dan memanfaatkan hasil jerih payahnya dengan sebaik-baiknya. Dia sadar, tujuan merantau ke luar negeri adalah mencari modal.’’Lumayan lah kalau di kurs rupiahkan. Tapi harus pintar mamanaj uang. Kalau tidak bisa menabung, gaji banyak akan habis juga,’’ terang Soleh yang dikaruniai anak yang kini berusia 1,5 tahun tersebut.
Setelah dirasa cukup, Soleh memutuskan pulang ke Indonesia pada September 2007. ’’Mikir cari uang terus, ya tidak ada habisnya. Selain itu, kangen sama orangtua, karena tujuh tahun tidak pulang. Saya pulang untuk mulai usaha, ingin berwirausaha,’’ cerita Soleh yang sebelum pulang sudah membeli tanah kemudian membangun ruko untuk usahanya kelak setelah kembali ke Indonesia.
Meski pulang membawa modal cukup lumayan, Soleh mengaku sempat bingung. Selain harus adaptasi dengan lingkungan yang sempat ditinggalkan selama tujuh tahun itu, dia belum tahu apa usaha yang akan dirintisnya. Soleh pun silaturahmi ke sejumlah teman-temannya.’’Sharing dengan teman-teman yang sudah punya usaha. Akhirnya saya mulai usaha bengkel center body sepeda motor pada tanggal 1, bulan 1, tahun 2008. Tempatnya ya di ruko yang saya bangun. Sekarang sudah punya pasar, promosinya sekitar 8 bulan. Di situ juga saya tinggal. Kalau sebelum ke Jepang, saya tinggal bersama orangtua yang jaraknya sekitar 5 kilo meter dari ruko,’’ ungkapnya.
Tidak sedikit modal yang dikeluarkan untuk merintis bengkel center body tersebut. Ketika itu, Soleh membeli peralatannya di Jakarta seharga Rp 35 juta. Dia mencoba merintis usaha lain. Namun, beberapa usahanya tersebut tak sesuai harapan.’’Jatuh bangun. Seperti arisan motor yang gulung tikar. Sampai akhirnya saya buka warnet di ruko ini juga. Ada 5 unit. Warnet dimulai 1 tahun lalu. Sekarang juga rental mobil bekerja sama dengan orang lain. Sejak empat bulan lalu. Ada 5 mobil, kalau yang punya saya sendiri 1 mobil,’’ terangnya.
Dari usahanya tersebut, Soleh telah berhasil menciptakan lapangan kerja. Di bengkel center body, Soleh punya 3 tenaga kerja, sedangkan di warnet, dipekerjakan 1 orang. ’’Ke depan, saya ingin fokus di center body. Ingin buka cabang. Selain itu, saya ingin mengembangkan rental mobil,’’ ujar Soleh. Bagi Soleh, setelah bekerja di luar negeri, seseorang harus berubah. Oleh karena itu, harus punya niat dan tujuan yang jelas.’’Kalau tidak berubah, rugi. Ke luar negeri kan korban waktu, berpisah dengan keluarga, dan memeras tenaga,’’ imbuhnya.
Dia juga berharap, pemerintah lebih memperhatikan mereka yang bekerja di luar negeri. Dari pengalamannya bekerja di Jepang, ada kesan sekat-sekat. Perbedaan status sosial atau yang lainnya ketika di rantau, hendaknya dihilangkan. Ini sangat penting, karena sama-sama di rantau, meski tujuannya beda-beda.
’’Kalau di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia, Red) atau perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri misalnya, antara mahasiswa dan TKI (Tenaga Kerja Indonesia, Red). Saya masuk kelompok TKI. Padahal angkatan saya ke Jepang itu lulusan diploma dan sarjana. Di Jepang yang sudah maju saja begini. Apalagi teman-teman TKI yang pendidikannya tidak tinggi dan pergi merantau ke negara-negara di luar Jepang. Yang jelas, pemerintah yang ada di sejumlah negara penempatan harus lebih perhatian kepada para TKI, terutama kalau ada persoalan-persoalan,’’ pungkas Soleh. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: