Beranda > TKI SUKSES > Lima Truk untuk Jasa Ekspedisi

Lima Truk untuk Jasa Ekspedisi

PENGALAMAN berharga selama bekerja di Korea Selatan didapat Suwanto. Warga Sidobinangun, Seputih Banyak, Lampung Tengah, Lampung, itu merasakan semangat dan kerja keras orang Korea Selatan begitu tinggi. ’’Meski sudah bos atau majikan di perusahaan, masih mau sama-sama bekerja dengan anak buahnya. Menganggap orang kaya dan miskin sama. Mereka mau kerja sama. Dari pengalaman itu, yang saya petik, kalau mau bekerja keras, pasti berhasil,’’ ujar Wanto—panggilan akrab Suwanto.
Selain itu, mereka saling menghargai. Hubungan dia yang bekerja di pabrik kabel dengan atasannya juga baik.’’Tidak ada masalah. Di sana, yang tua menghargai yang muda. Begitu sebaliknya. Dengan tenaga kerja, yang saya rasakan selama bekerja juga dihargai,’’ imbuh Wanto yang keturunan Jawa tersebut.
Wanto yang pernah bekerja di Korea Selatan pada 2000-2003 itu mengaku, dia merantau karena ajakan teman. Di samping cari pengalaman, Wanto yang ketika itu masih bujang, ingin mengumpulkan pundit-pundi uang. Ketertarikan Wanto juga setelah melihat mereka yang pulang dari Korea Selatan pada berhasil.’’Setelah tamat STM pada 1997, saya sempat menganggur selama satu tahun. Setelah itu sempat menjadi sopir selama dua tahun. Persiapan ke Korea Selatan relatif cepat. Setelah dua bulan mendaftar, menunggu di penampungan beberapa hari. Praktis tidak ada pembekalan, termasuk bahasa. Di penampungan diminta banyak beribadah dan berdoa,’’ cerita Wanto yang kontrak 3 tahun tersebut.
Selama di sana, Wanto mengaku cukup enak. Jika libur kerja, Wanto bisa berkumpul dengan sesama perantau asal Indonesia. Mereka melepas rindu dan saling cerita. Ini dilakukan untuk mengobati kangen dan kerinduan kampung halaman serta keluarga yang ada di Indonesia.’’Selama 3 tahun di Korea Selatan, saya pulang sekali. Cuti selama 25 hari. Transport dibiayai perusahaan. Pas pulang itu, saya menikah dengan orang Lampung, masih satu kecamatan. Setelah menikah, saya kembali lagi ke Korea Selatan. Istri di Lampung, tidak ikut,’’ jelas Wanto yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.
Setelah kontrak selesai 3 tahun, Wanto tidak memperpanjang. Dia memutuskan pulang dan berkumpul bersama istrinya. Wanto sampai Indonesia pada 7 April 2003. Sesampainya di tanah air, hasil jerih payahnya selama bekerja di Korea Selatan dia gunakan untuk usaha. Yang dilakukan kali pertama adalah membeli kendaraan. ’’Saya beli Colt Diesel, saya gunakan untuk ekspedisi. Saya jalankan sendiri. Tapi dua tahun berjalan, belum ada perkembangan yang menonjol,’’ ungkap Wanto yang kini dikaruniai seorang anak itu.
Wanto tak mau putus asa. Dia putar otak. Semangat dan kerja keras yang yang dia dapatkan selama bekerja di Korea Selatan selalu memotivasinya. Colt Diesel dia ganti dengan truk Fuso.’’Awalnya masih bawa sendiri, saya yang menyetir. Kemudian beli lagi truk Fuso. Usaha ekspedisi dengan truk Fuso ini berjalan hingga kini. Mudah bekerja sama dengan truk Fuso, dengan pabrik-pabrik di Lampung, mengangkut barang-barang seperti kelapa sawit, ketela, dan lain-lain. Usaha ini mulai kelihatan sejak 2007,’’ jelas Wanto yang kini mempunyai 5 truk Fuso. Dengan 5 truk Fuso itu, Wanto setidaknya memberdayakan 10 orang, 5 orang sebagai sopir dan 5 orang sebagai kenek.
Ke depan, Wanto tak ingin hanya menjalankan truk Fuso untuk ekspedisi. Dia berencana mengembangkan usaha, investasi di bidang pertanian.’’Saya ingin beli tanah, beli kebun, sehingga bisa digunakan untuk berkebun. Saya sudah tidak punya keinginan ke luar negeri. Kerja di sini sama saja, apalagi kalau sudah ada modal dan usaha sudah jalan,’’ tegasnya ketika dihubungi INDOPOS, Minggu (10/7).
Meski demikian, dia berpesan, jika ada yang tetap ingin bekerja ke luar negeri, hendaknya tidak aneh-aneh. Artinya, kalau dapat uang, jangan dihambur-hamburkan. Lebih baik dijadikan modal, sehingga ketika kembali ke Indonesia, dapat digunakan untuk buka usaha.’’Tapi kalau punya modal, mendingan bekerja di Indonesia saja,’’ imbuhnya.
Dari pengalamannya bekerja di Korea Selatan, gajinya langsung masuk tabungan.’’Yang pegang orang kantor. Kita memang ada jatah untuk makan sebulan. Selebihnya mereka yang pegang. Tapi kalau kita butuh seperti mau mengirim untuk keluarga di Indonesia, bisa. Mereka yang akan mengurus. Tabungan itu nanti diambil ketika kita sudah selesai kontrak,’’ terangnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: