Beranda > TKI SUKSES > Usaha Ternak Ayam, Anak Semata Wayang Jadi PNS

Usaha Ternak Ayam, Anak Semata Wayang Jadi PNS

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 8 Juli 2011

PERNAH dengar lagu ini? Lungaku nyabrang segoro// Susahe wong golek kerjo// Banget atiku keronto-ronto// Pengin sambat sopo// Ning paran monco negoro// Banget rekasane ninggal kluwargo// (pergiku menyeberang lautan// susahnya cari kerja// hatiku sangat sedih sekali// ingin minta tolong siapa// di rantau luar negeri// sangat susah meninggalkan keluarga)
    Barangkali penggalan lirik campursari yang dipopulerkan Didi Kempot itu begitu mengena bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mengadu nasib di luar negeri. Tak terkecuali bagi Watiyem. Bahkan bagi mantan TKI, tepatnya mantan Tenaga Kerja Wanita yang tinggal di Karang Anjog, RT 3/9, Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, lagu itu begitu mengena dan menjadi lecutan motivasi.
Selain liriknya yang menyentuh hati, lagu itu yang menemaninya meniti hidup. Pergi menyeberangi hamparan laut ke negeri seberang, dengan serangkaian jerih dan payah yang dijalaninya. Berharap tekad, di kemudian hari bisa mendapatkan kebahagiaan bagi keluarga.
    Persis dengan lagu itu, kehidupan ‘menyendiri’ di negeri perantauan, Arab Saudi. Sejatinya dia sangat membutuhkan kebersamaan dengan keluarga. Apalagi, dia hanya dikaruniai seorang putra, Wahyu Yuliawan. Rasa rindu kampung halaman, datang dan mengusik begitu saja.
    Namun niat, tekad dan perjuangannya jauh-jauh dari tanah pegunungan Gumelar, memaksanya bertahan. Sapaan tukang pos di suatu pagi mengirimkan surat, cukup menjadi pengobat rindu, meski selebihnya kian menyembilu batin.
    Sing sabar anakku// Dongakno aku enggal entuk mulyo// Rekasane uripku mung kanggo sliramu// Ning kene ku tansah eling sliramu// Entenono kabarku// Entenono layangku// Entenono mulihku// (yang sabar anakku //doakan saya cepat sukses// susahnya hidupku hanya untukmu// di sini saya selalu ingat kamu// tunggu kabarku// tunggu suratku// tunggu saya kembali)
    Kisah itulah yang dibagikan Watiyem. Bersama suaminya, Suwarjo Suwarno, 40, keduanya pernah menjadi TKI selama 5 tahun di Arab. Itu dilakukan guna menopang ekonomi dan membiayai sekolah anaknya. Bahkan Watiyem, kembali berangkat ke Taiwan, selama 3 tahun. Berharap, perjuangan keduanya, bisa menjadi bekal menuju ekonomi yang lebih meyakinkan.
    Dari modal bekerja di luar negeri itu, Watiyem dan suaminya kemudian merintis usaha peternakan. Mereka dengan sabar menjalani usaha tersebut. Kerja kerasnya pun berbuah. Usahanya semakin hari makin besar hingga kini mencapai 4000 ekor ayam. Peternakan itu, disiapkan guna memenuhi kebutuhan daging warga setempat hingga kebutuhan pasar Ajibarang dan sekitarnya.’’Kalau dikatakan sukses, saya kira tidak. Tapi alhamdulillah, kami sekeluarga bersyukur pemberian Allah,’’ kata Suwarno.
    Selain peternakan, usaha keduanya juga menyesuaikan dengan wilayah sekitar, yakni perkebunan. Jiwa bisnisnya yang kuat. Keduanya bergerak di penanaman salak pondoh. Pada masa panen, Suwarno mengaku banyak mendapat penghasilan dari pembeli borongan.’’Tapi itu kan sifatnya musiman. Fokus jenjang masa depan, kebun lebih didominasi dengan tanaman albasia,’’ terang pria yang ramah senyum itu.
    Sebagai orangtua, keduanya juga mementingkan pendidikan anak.
Putra semata wayangnya, Wahyu, terus dididik guna sukses masa depannya. Tercatat, sejak jenjang SMP hingga SMA, Wahyu mengikuti pendidikan di Yayasan Al-Hikmah Benda, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah. Lantas, usai melewati masa kuliah, di usianya yang baru 24 tahun, sudah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di SDN Sawangan I, Banyumas.
Apa yang ditunjukkan oleh Watiyem dan suaminya merupakan pelajaran berharga. Mereka dengan gigih dan tak kenal lelah merintis usaha. Peternakan ayam yang dikelolanya tidak serta merta berkembang. Tapi, melalui perjuangan dan proses. Perlahan namun pasti, usaha tersebut dapat dinikmatinya dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Dengan usaha peternakan itu, pasangan suami istri itu bisa mendiri, mengelola usaha tanpa harus menggantungkan atau menjadi pekerja seperti saat mereka bekerja di luar negeri sebagai TKI.
Jiwa berwirausaha selalu ditanamkan di sanubari mereka. Mereka pun tak perlu menjadi TKI lagi. Keduanya terus berusaha mengembangkan usahanya. Dengan berkembangnya usaha, secara otomatis dapat membuka lapangan kerja dan tentunya mengurangi pengangguran. (zul/jpnn)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: