Beranda > TKI SUKSES > Geluti Bidang Penambangan, Selanjutnya Bidik Perkebunan

Geluti Bidang Penambangan, Selanjutnya Bidik Perkebunan

JIWA petualang barangkali layak disematkan kepada Sukamto. Dia lahir di Lampung pada 10 Mei 1973. Setelah menyelesaikan diploma pertama di Probolinggo, Lampung Timur, Lampung, beberapa waktu kemudian dia merantau ke Korea Selatan, mulai 1998 hingga 2003. Sekembalinya bekerja dari Negeri Gingseng itu, Kamto—panggilan akrab Sukamto—sempat tinggal di Grobogan, Jawa Tengah. Kini bersama istri dan anak semata wayangnya, Kamto tinggal di Bangka Belitung.
Kamto bercerita, dia memutuskan berangkat ke Korea Selatan karena termotivasi sejumlah tetangganya yang telah merantau ke luar negeri hidupnya sukses. Setidaknya, secara ekonomi, mereka bisa hidup tanpa kekurangan kebutuhan sehari-hari. ’’Mereka yang berangkat ke luar negeri, perkembangan ekonominya cepat. Saya pun awalnya iseng, kemudian cari informasi peluang kerja ke luar negeri. Setelah dapat, saya memutuskan pergi. Setelah sekitar dua bulan menunggu, akhirnya berangkat. Sebelum berangkat dari Jakarta ke Korea Selatan, saya dan kawan-kawan tinggal di penampungan sekitar seminggu. Ketika itu saya masih bujang,’’ jelas Kamto ketika dihubungi INDOPOS, Rabu malam (13/7).
Kamto yang sejak 2007 tinggal bersama keluarganya di Lubuk Pabrik, Lubuk Besar, Bangka Tengah, Bangka Belitung, mengatakan, setelah pulang dari Korea Selatan pada 2003, dia mencoba peruntungan berdagang emas di pasar tradisional. ’’Saya menikah dengan perempuan Grobogan. Di tempat istri, dagang emas ketika itu menjamur. Saya tertarik dan mencoba menggelutinya. Tapi tidak sukses,’’ ujarnya.
Usaha itu dijalaninya hingga 2007. Namun, karena perkembangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, Kamto memutuskan menutup usahanya berdagang emas. Setelah menjual sejumlah asetnya, Kamto dan keluarga kembali ke Lampung. Namun, di tanah kelahirannya itu dia tak lama. ’’Sekitar dua mingguan. Saya kemudian hijrah ke Bangka Belitung,’’ imbuh anak ke-6 dari delapan bersaudara itu.
Di Bangka Belitung, Kamto mencoba menekuni usaha pertambangan.’’Ada beberapa saudara yang sudah di Bangka. Saya ikut nimbrung. Awalnya saya merasakan perkembangannya lambat,’’ tambahnya. Kamto pun diliputi rasa bimbang dengan usaha yang baru dirintisnya itu. Bahkan, karena belum mantap dengan apa yang dijalaninya, Kamto pada 2008 merantau ke Korea Selatan lagi. Namun, harus pulang ke Indonesia, karena terganjal dokumen. ’’Saya ke Korea Selatan lagi, karena dapat informasi dari teman bahwa gaji semakin tinggi dan sudah ada G to G, kerja sama antara dua negara, Indonesia dan Korea Selatan. Di sana semingguan terus pulang. Tiket pulang saya minta nguruskan orang rumah,’’ ungkapnya.
Gagal bekerja di Korea Selatan, Kamto memantapkan usaha di bidang pertambangan. ’’Kalau dulu masih gabung sama saudara, selanjutnya jalan sendiri. Saya masih pengepul, penambang kecil, saya beli kemudian saya jual lagi di penambang atau bos besar, selanjutnya disetorkan ke pabrik. Di sini penambangannya pasir timah,’’ terangnya.
Dalam perjalanannya, Kamto tak hanya membeli hasil tambang dari para penambang. Dia menyiapkan modal, membeli dua mesin. ’’Saat ini yang beroperasi satu mesin. Dijalankan dua orang. Mesin itu untuk menyemprot tanah. Kedalamannya juga bervariasi. Dari penambang, dia beli, kemudian dijual lagi,’’ katanya. Dari penambangan itu, setelah diolah di pabrik, selanjutnya diekspor. Hasilnya di antaranya untuk bandul pancing yang terbuat dari timah dan timah untuk menyolder barang-barang elektronik. ’’Setahu saya, ekspornya ke Jepang, Korea, dan Jerman. Ya ke sejumlah negara yang banyak pabrik elektroniknya,’’ imbuhnya.
Kamto mengaku, dia tidak bisa langsung mengakses ke pabrik, karena harus melewati penambang besar.’’Butuh modal besar. Makanya saya jual lagi ke bos besar. Baru dari dia ke pabrik atau PT,’’ ungkapnya. Ke depan, Kamto tak ingin hanya berkutat di bidang penambangan. Dia ingin menggeluti perkebunan. ’’Sudah tua, saya tak ada keinginan ke luar negeri lagi. Ingin buka perkebunan di sini (Bangka Belitung, Red),’’ imbuhnya.
Meski sudah tidak ada rencana merantau ke luar negeri lagi, Kamto berpesan, mereka yang bekerja di luar negeri selalu menjaga diri dan menyiapkan diri secara maksimal agar tidak merugikan diri sendiri ’’Jangan lupa tujuan. Uang yang didapat jangan untuk foya-foya. Harus mempunyai planning matang dari rumah,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: