Beranda > TKI SUKSES > Kegigihan, Semangat, dan Kemandirian ala Narikem

Kegigihan, Semangat, dan Kemandirian ala Narikem

PENDIDIKAN formal Narikem memang tidak tinggi. Dia mengaku hanya tamatan sekolah dasar (SD). Namun, kegigihan, keuletan, dan perjuangan Narikem untuk mandiri, patut mendapat apresiasi. Betapa tidak, dia tegar melewati berbagai rintangan. Narikem bercerita, dia pernah merantau ke Jakarta. Di ibu kota Indonesia itu, Narikem menemukan tambatan hatinya.’’Akhirnya kami menikah,’’ ujar Narikem dihubungi INDOPOS, kemarin sore (17/7). Namun, pernikahan yang berlangsung pada 1992 itu tidak bertahan lama. Karena terganjal permasalahan yang tidak bisa ditoleransi lagi, Narikem memutuskan bercerai.
Keputusan itu bukanlah keputusan mudah bagi Narikem. Sebab, ketika itu Narikem dalam kondisi hamil. Tapi, keputusannya sudah bulat. Narikem pun selanjutnya memilih pulang kampung, ke Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.’’Saya ikut paman dan bibi, karena orangtua saya sudah meninggal. Saya anak pertama dari 4 bersaudara,’’ imbuh perempuan kelahiran 1970 tersebut.
Tinggal bersama paman dan bibi, apalagi sedang dalam keadaan hamil, merupakan beban tersendiri bagi Narikem. Sebenarnya dia tak mau bergantung kepada orang lain, meski masih saudara sendiri. Apalagi, dia harus membesarkan buah hatinya. Oleh karena itu, setelah anaknya lahir, Narikem memutuskan kerja. ’’Sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Itu pada 1994. Paman mendukung keputusan saya. Dia membantu menguruskan dokumen-dokumennya. Di Arab dua tahun. Setelah itu pulang. Alhamdulillah selama di Arab tidak terjadi apa-apa,’’ ungkapnya.
Setelah pulang dari Arab Saudi, Narikem tak lama di kampung halaman. Dia merasa harus memberikan yang terbaik kepada anak semata wayangnya. Memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi, dia harus mencari nafkah sendiri. ’’Saya ingin membesarkan dia dengan baik. Saya ingin dia sekolah yang tinggi,’’ tegasnya semangat. Narikem kemudian memutuskan pergi ke luar negeri lagi pada 1996 sebagai pembantu rumah tangga. Kali ini ke Hongkong.
Semangat menggebu untuk memberikan yang terbaik diusung Narikem. Namun, cobaan menerpanya. ’’Anak saya meninggal karena kecelakaan. Dia sudah SMP. Ketika itu pas Lebaran. Saya di Hongkong, mendapat kabar saat lagi berkumpul teman-teman, karena mendapat libur Lebaran,’’ ujarnya dengan suara lirih seakan mengenang peristiwa sedih tersebut.
Dia memberanikan diri minta izin ke majikannya agar bisa pulang ke Indonesia. Majikan mengizinkan Narikem pulang ke Indonesia selama satu bulan. Meninggalnya sang buah hati merupakan pukulan telak bagi Narikem. Apalagi, dia membesarkan dengan jerih payah seorang diri. Meski harapannya untuk melihat sang anak sukses sirna, Narikem mencoba tegar. Dengan sisa-sisa semangat hidup, Narikem bangkit untuk menapaki hidup. Hidup harus jalan terus. Dia pun balik lagi ke Hongkong.’’Saya di Hongkong hingga 2010. Tiga tahun sekali saya pulang, dibiayai majikan,’’ imbuhnya.
Kegagalan dalam bahtera rumah tangga juga menjadi pelajaran penting bagi Narikem. Namun dia tidak antipati terhadap laki-laki. Hanya lebih selektif. Jodoh pun akhirnya datang.’’Tapi sebelum memutuskan untuk menikah, saya minta tunangan dulu, 3 tahun. Saya ingin lebih mengetahui calon suamiku seperti apa. Saya tidak ingin seperti dulu. Dan setelah mantap, akhirnya menikah. Ketika itu masih kerja di Hongkong. Pulang untuk nikah. Sudah tujuh tahun. Dia orang Bantul, Jogjakarta. Tapi sudah tinggal di sini (Banyumas, Red) 5 tahun,’’ terang perempuan yang hasil pernikahan keduanya ini belum dikaruniai anak tersebut.
Selama di Hongkong, Narikem mengaku berhasil menabung membangun rumah, membeli tanah, dan hewan ternak. Sepulang dari Hongkong, bersama suami yang pernah merantau di Malaysia selama dua tahun, Narikem mengelola tanah hasil jerih payahnya merantau ke luar negeri.’’Bertani serta memelihara sapi dan ayam. Sedikit kok,’’ kata Narikem yang pada 6 bulan pertama di Hongkong sudah bisa bahasa negara tersebut.
.
Narikem juga merintis usaha pembuatan kue. Narikem belajar otodidak. Tidak kursus. Dia hanya bertanya dan belajar dari saudara dan teman-temannya. ’’Buat bolu kukus dan putri ayu. Kalau ada pesanan bikin. Juga dititipkan ke warung. Baru mulai 8 bulan lalu buat brownies. Saya juga buat es lilin. Masih kecil-kecilan. Dikerjain sendiri, kadang dibantu suami. Dulu saya sering ke Seruni. Para mantan TKI (Tenaga Kerja Indonesia, Red) diberi pelatihan di sana,’’ jelasnya.
Apa masih ingin kembali merantau ke luar negeri lagi? Narikem yang mengaku TKI pertama di desanya, langsung menjawab tidak. Di usianya yang sudah kepala empat, Narikem ingin berkumpul bersama keluarga.’’Saya berharap bisa mengembangkan usaha brownies. Syukur-syukur dapat buka toko. Selain itu, saya ingin punya momongan,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: