Beranda > TKI SUKSES > Delapan Kali Naik Haji, Dipercaya Memimpin Desa

Delapan Kali Naik Haji, Dipercaya Memimpin Desa

MINGGU (17/4) adalah hari yang paling bersejarah bagi seorang H Tarmudi. Pria berusia  52 tahun ini memenangkan Pemilihan Kuwu (Kepala Desa) Melakasari, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Dia mengalahkan Ranto. Satu bulan kemudian (18/5) Tarmudi resmi dilantik oleh Bupati Cirebon Dedi Supardi. Dia berhak atas jabatan Kuwu Desa Melakasari selama 6 tahun mendatang.
Selama proses pemilihan kuwu, sebagian dananya adalah jerih payahnya saat bekerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Pria beranak empat ini pulang dari Arab Saudi pada 2010 lalu dilatarbelakangi oleh desakan kerabat dan sebagian masyarakat Melakasari agar mencalonkan diri kenjadi kuwu. ’’Pengalaman saya 6 tahun menjadi perangkat desa menjadikan masyarakat mempercayakan saya untuk maju dalam bursa pencalonan Kuwu Melakasari yang selama 2 tahun mengalami kekosongan jabatan,’’ papar Tarmudi ketika ditemui Radar Cirebon (INDOPOS-Jawa Pos Grup) di kediamannya, Jumat (15/7).
Tarmudi bekerja selama 15 tahun dengan dua majikan yang berbeda, namun di kota yang sama yakni Jeddah. Petualangan Tarmudi menjadi seorang TKI dimulai pada 1994. Setelah berhenti menjadi perangkat desa yang dijabatnya selama 6 tahun, Tarmudi bingung harus mencari pekerjaan, sementara usianya saat itu sudah masuk kepala tiga. ’’Saat itu bingung harus bekerja apa, karena saya dan istri tidak mempunyai usaha selain bekerja sebagai perangkat desa dan sopir tembak,’’  ujar pria berkulit sawo matang ini.
Kemudian, dia memutuskan untuk pergi bekerja ke luar negeri bersama sang istri. Mereka terpaksa meninggalkan keempat anaknya yang sedang tumbuh dewasa, dan dititipkan kepada mertuanya. Di tahun yang sama Tarmudi mendaftarkan diri menjadi TKI bersama istri, Hj Sopiah, ke perusahaan jasa TKI bernama PT Muhasatama Perdana Kusuma yang beralamat di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Namun, nasib belum perpihak kepada mereka, karena belum diizinkan langsung berangkat ke Arab Saudi karena persoalan visa.
Karena malu kepada keluarga dan masyarakat di desanya, dia tidak berani pulang kampung setelah perusahaan jasa TKI itu memutuskan belum bisa langsung berangkat. Dua bulan pertama, Tarmudi bersama istri lari ke arah selatan Jakarta yakni Bogor untuk mencari pekerjaan sementara. Beruntung, Tarmudi mendapat pertolongan dari seorang rekan yang baru dikenalnya di Bogor dengan diberi pekerjaan menjadi seorang tukang bersih-bersih di sekitaran Pakuan, Bogor. Dua bulan bekerja di Kota Hujan tak membuatnya betah, oleh karenanya Tarmudi bersama istri memutuskan untuk kembali ke Bekasi dan hidup di kantor perusahaan yang akan memberangkatkannya itu. ’’Kebetulan bos mengizinkan saya tinggal di kantor asalkan ikut bantu-bantu,’’ lanjutnya.
Apapun dilakukan oleh Tarmudi bersama istri agar bisa bertahan hidup di Bekasi sambil menunggu keberangkatan ke Arab Saudi. Mulai dari tukang foto kopi, membuatkan minuman untuk para karyawan kantor pada pagi hari, hingga ikut membantu mengetikkan pekerjaan karyawan. ’’Saya harus menunggu beberapa bulan, hingga akhirnya pada Juli 1995 bisa berangkat. Saya bersama istri bekerja di Kota Jeddah dengan majikan seorang janda bernama Farida Akhmad Riri.  Saya bekerja menjadi seorang sopir pribadi, sementara istri saya menjadi pembantu rumah tangga,’’ terang pria yang pernah belajar bahasa arab ketika mondok di Pesantren Luwung Ragi, Brebes, Jawa Tengah.
Setelah kontraknya habis, Tarmudi dan Sopiah memutuskan untuk pulang ke Melakasari pada 1997. Kepulangannya membuahkan hasil, di antaranya membeli sebidang tanah seluas 420 meter persegi dan membayar segala utang piutang keluarga selama ditinggal bekerja di Arab Saudi. ’’Sisanya untuk biaya sekolah anak-anak dan ongkos berangkat ke Arab Saudi lagi,’’ paparnya.
Kota Jeddah kembali menjadi tujuan utamanya bekerja. Keduanya bekerja pada keluarga Sahal Abdul Aziz Abdul  Karim Aulia. Sama seperti pekerjaan sebelumnya, Tarmudi bekerja sebagai sopir dan Sopiah menjadi pembantu rumah tangga.
Rupanya, Allah SWT selalu mendengarkan munajat-munajatnya ketika tahajud, hal ini dibuktikan dengan keberuntungannya mendapatkan majikan yang benar-benar menyayangi keduanya. Selama bekerja 13 tahun, keduanya tak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari sang majikan. Malah, selama bekerja, keduanya diberikan kesempatan menunaikan ibadah haji selama 7 kali. ’’Kalau umrah mungkin tak terhitung,’’ katanya.
Tak hanya itu, di Melakasari, pasangan ini bisa mendirikan rumah yang begitu besar dan menyekolahkan salah satu anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi, dan sebagian untuk modal mencalonkan kuwu beberapa waktu lalu. (mohamad junaedi/jpnn)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: