Beranda > TKI SUKSES > Melanjutkan Pendidikan dan Aktif di Perpustakaan Sekolah

Melanjutkan Pendidikan dan Aktif di Perpustakaan Sekolah

MESKI sudah lama bekerja, tak menyurutkan Solihatin untuk melanjutkan pendidikan. Ya, Atin—panggilan akrabnya—merantau ke Taiwan sekitar 10 tahun, tepatnya mulai 2000. Namun, sesampainya di Indonesia, Atin yang lulusan SMEA Muhammadiyah Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, langsung mewujudkan keinginannya.’’Saya waktu SMEA ngambil jurusan sekretaris. Tapi habis SMEA memilih merantau ke luar negeri,’’ ujar perempuan yang tinggal di Bantar, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, itu.
Barangkali keinginan kuat Atin melanjutkan pendidikan tak lepas dari keluarganya. Keluarga Atin bisa dibilang adalah keluarga pendidikan. Meski ibu Atin hanya ibu rumah tangga, bapaknya adalah pensiunan guru. Ketika masih aktif, bapak Atin pernah menjabat sebagai kepala sekolah salah satu madrasah ibtidaiyah—setingkat SD–di daerahnya. Semua kakaknya tak ada yang hanya sampai SLTA. Sehabis SLTA, mereka melanjutkan pendidikan lagi. Tiga adiknya juga demikian.’’Yang paling kecil sekarang masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY),’’ ujar anak ke-6 dari 9 bersaudara itu ketika dihubungi INDOPOS, Rabu malam (20/7).
Sepulang dari Taiwan pada 4 November 2010, Atin ingin segera bisa melanjutkan pendidikan.’’Karena sudah lama tidak pegang buku, saya ngambil diploma dua jurusan perpustakaan. Ikut Universitas Terbuka. Kalau nanti lancar kan bisa ngambil S1. Ya sudah lama tidak belajar, mencoba pikiran dulu. Pendidikan itu penting. Apalagi sekarang, tanpa kuliah, susah cari kerja,’’ jelas perempuan kelahiran 1978 tersebut.
Atin juga menambah pengalaman dengan kursus komputer dan bekerja di bagian perpustakan madrasah ibtidaiyah (MI) di daerahnya. ’’ Di MI, kebetulan butuh tenaga kepustakaan. Di sini kan baru dirintis. Kalau kursusnya sudah selesai. Selebihnya bantu-bantu ibu di rumah,’’ terang perempuan yang masih single tersebut.
Kenapa tidak jadi guru seperti bapaknya dulu? Atin mengaku tidak tertarik. Makanya, saat SMEA dia mengambil jurusan sekretaris.’’Untuk menjadi guru, jauh. Bukan jurusannya. Pengin kerja kantoran. Ya seperti pustakawan. Syukur-syukur bisa diterima sebagai PNS (pegawai negeri sipil),’’ ungkap perempuan yang mengaku saat bekerja di Taiwan hanya bekerja di satu majikan tersebut.
Atin sadar, gaji yang diperoleh dari pekerjaannya sekarang, memang jauh dari apa yang didapatkan saat mengurus orangtua majikannya di Taiwan.’’Tapi di sini, yang penting ada pemasukan lancar. Bisa pengabdian. Dan yang lebih penting, dekat dengan orangtua. Saya pulang karena bapak-ibu sudah sepuh. Ingin merawat mereka,’’ terang Atin yang dulu merantau karena ingin membantu orangtuanya menyekolahkan adik-adiknya.
Selama bekerja di luar negeri, Atin memang berhasil membantu tiga adiknya melanjutkan pendidikan. Dua adiknya persis, telah menyelesaikan sarjana atau S1.’’Yang satu sudah jadi PNS di Dinas Perhubungan, di tempatkan di Kalimantan. Sedangkan yang satu menjadi guru, ngajar di STM. Adik saya dulu kuliah di UMY, sedangkan yang satu di UNS Solo. Yang terkahir masih kuliah di UMY,’’ kata Atin yang tinggal serumah dengan orangtuanya tersebut.
Atin mengaku, hasil jerih payahnya selama dirantau tidak digunakan untuk usaha. ’’Tidak ada bakat usaha. Keturunan dagang, ya tidak ada. Paling beli tanah, sebagian sawah dikelola orangtua, sebagian lainnya disewakan,’’ ungkap mahasiswa semester dua tersebut.
Selama bekerja di Taiwan, Atin mengaku tak pernah mengalami masalah  dengan majikannya. Bahkan, majikannya menghargai Atin. Mereka menganggap Atin bukan sebagai pembantu atau pekerja.’’Mereka sudah menganggap saya sebagai bagian keluarga. Misalnya saat makan, makan bareng. Beberapa pelajaran yang saya dapat dari orang Taiwan adalah soal kedisiplinan dan semangat kerja yang tinggi. Mereka seakan tidak kenal waktu. Kalau kerja itu pengin cepat selesai, tapi hasilnya memuaskan,’’ jelas Atin yang mengaku bisa bahasa Taiwan tersebut.
Meski demikian, Atin tidak tertarik lagi kembali merantau. Saat ini, dia fokus memikirkan masa depannya. ’’Nggak tertarik lagi bekerja ke luar negeri. Ingin berumah tangga. Itu yang penting,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: