Beranda > TKI SUKSES > Sebarkan Virus Usaha, Kelola Salon, Video Shooting, dan Toko Sembako

Sebarkan Virus Usaha, Kelola Salon, Video Shooting, dan Toko Sembako

SITI Maryam memang pernah menjadi orang gajian. Dia pernah bekerja pada seorang majikan di Hongkong selama 9 tahun, mulai 2000 hingga 2009. Namun, dalam benaknya sudah tertanam, suatu ketika ingin mandiri dan tidak menjadi pegawai atau orang gajian. Bahkan suaminya, Yanto, yang sudah berpenghasilan, bekerja di bagian distributor salah satu rokok besar di Jawa Timur, disarankan untuk keluar.’’Kalau punya usaha sendiri, bebas. Mau libur kapan, mau ngapain, urusan sendiri. Syukur-syukur dapat mengangkat kesejahteraan orang lain, bisa bantu orang lain bekerja. Beda kalau bekerja dengan orang lain, saya harus mengikuti aturannya,’’ ceritanya ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (24/7).
Siti berangkat ke Hongkong karena pertimbangan masa depan. Ketika itu, suami memang sudah berpenghasilan. ’’Tapi, kami belum punya rumah. Anak juga membutuhkan pendidikan. Kalau mengandalkan suami, sampai kapan? Bayangan saya, bekerja di Hongkong dua tahun saja, bisa untuk modal beli rumah dan usaha. Saya pun berangkat ke Hongkong pada 2000. Ketika itu anak masih kecil,’’ ujar Siti yang selama di Hongkong merawat orangtua dan bekerja di satu majikan.
Sampai di Hongkong, Siti yang kini tinggal bersama keluarganya di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, itu keterusan. Rencana dua tahun melebar sampai 9 tahun. ’’Pengin ngumpulin uang. Setelah bisa beli tanah dan bangun rumah, pengin cari modal untuk usaha. Ya merembet. Setelah 9 tahun, saya putuskan untuk pulang dan tidak kembali lagi. Padahal majikan ingin saya balik lagi. Saya ingin mendampingi anak. Dia minta, saat SMA, saya harus pulang kampung. Tapi saya putuskan pulang meski ketika itu anak baru kelas 1 SMP,’’ terang finalis kategori wirausaha Migrant Worker Award 2010 yang digelar Kemenko Kesra dan UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.
Pada 2005, Siti melalui suaminya, Yanto, mulai merintis usaha video shooting.’’Saya cari modal untuk beli kamera. Suami saya minta keluar dari pekerjaannya sebagai distributor salah satu rokok. Dia ditugaskan di Surabaya. Seminggu pulang sekali ke Trenggalek. Tidak ada perkembangan. Mendingan di rumah bisa bersama anak dan mengelola usaha sendiri. Dia belajar otodidak. Awalnya beli kamera kecil. Setelah lancar, baru beli kamera yang besar. Sejak saat itu, suami fokus menangani usaha itu,’’ jelas Siti.
Siti juga punya usaha jasa mesin selep padi. Ini sudah dimulai ketika dua tahun bekerja di Hongkong. Namun, yang menjalankan saudaranya di Blitar.’’Uang hasil selep itu untuk tabungan anak, untuk sekolah anak,’’ tambah Siti yang baru dikarunia seorang anak itu.
Kalau suami di rumah sudah menjalankan usaha video shooting, Siti di Hongkong tak tinggal diam.’’Saya di Hongkong bertugas menjaga orang tua pada malam hari. Pada siang harinya sudah ada petugasnya sendiri. Jadi waktu siang banyak kosong. Saya tertarik bekerja di salon. Saya bantu-bantu salon anak majikan. Di tempat ini saya banyak belajar salon, kursus lah. Setelah lancar difasilitasi majikan buka salon di rumah majikan,’’ ungkap Siti yang mengaku saat kali pertama ke Hongkong tidak bisa bahasa sana, namun setelah dua bulan sudah bisa bahasa Kanton.
Pengalaman mengelola salon tidak disia-siakan Siti. Sebelum pulang ke tanah air, dia bekerja sama dengan suaminya menyiapkan peralatan. Keinginan untuk tidak menjadi orang gajian pun terwujud. ’’Setelah pulang, saya langsung buka salon. Tempatnya menyatu dengan rumah,’’ kata perempuan lulusan SMP dan kini sudah mengantongi ijazah Paket C itu. Setelah sebulan mengelola salon, Siti dengan jeli melihat celah usaha lain.’’Kalau tidak ada momen seperti jelang Lebaran atau 17 Agustusan atau momen lainnya, salon tidak ramai. Saya buka toko sembako. Yang atas untuk salon, yang bawah untuk toko sembako. Peralatan video shooting juga di rumah, ada studio. Kini punya 3 kamera besar dan 3 kamera kecil,’’ imbuh Siti yang punya semangat kerja tinggi tersebut.
Usaha yang dikelola oleh Siti dan Yanto itu juga memberi kesejahteraan kepada orang lain. Video shooting kalau ada garapan melibatkan 3 hingga 4 tenaga. Yanto bekerja sama dengan salah satu grup orkes. Di luar itu, Yanto juga melayani jasa video shooting seperti penikahan dan lainnya.
Demikian juga salon. ’’Kalau pas ramai, dibantu adik dan keponakan. Kalau sepi ya ditangani sendiri. Toko sembako juga demikian, dibantu adik dan keponakan. Oplosan, kan ada yang sekolah,’’ terang perempuan kelahiran 1975 tersebut.
Ke depan, dia ingin terus mengembangkan usahanya. Untuk sembako, ingin dikembangkan menjadi toko grosir. Saat ini masih banyak melayani eceran. ’’Untuk yang video shooting, suami berpeluang dapat order mengerjakan profil di Taiwan. Ini baru diurus. Harapannya, usaha tambah besar dan tambah momongan. Saya ngangkat anak, baru umur 3 bulan,’’ harap perempuan yang kini mengangkat anak saudaranya itu.
Di Hongkong, di antara pelajaran berharga adalah semangat kerja. ’’Prinsip orang China, biarpun sudah punya duit, sudah jadi bos, mereka masih mau bekerja bersama karyawannya. Misalnya masih mau ngangkat barang-barang,’’ tegasnya.
Oleh karena itu, Siti memberi support kepada mereka yang merantau, bekerja ke luar negeri, untuk buka usaha di daerahnya.’’Saya berharap, mereka dapat mengembangkan hasil yang didapat di luar negeri,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: