Arsip

Archive for Agustus, 2011

Kembangkan Koperasi untuk Berdayakan Mantan Buruh Migran

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 22 Agustus 2011

SIBUK mengurus koperasi. Itulah rutinitas yang dijalani oleh  Anik Sugiono dari 2007 hingga saat ini. Koperasi yang didirikan bersama-sama sejumlah mantan buruh migran itu bertujuan untuk memberdayakan para mantan buruh migran di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. ’’Pendirinya 20 orang,’’ ujar perempuan yang tinggal di Jombok, Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu.
Anik adalah salah seorang mantan buruh migran. Pada 2000 hingga 2003, dia merantau ke Malaysia. Saat berangkat kali pertama, Anik mengaku sebenarnya umurnya belum mencukupi. Namun, persyaratan umur itu dimanipulasi, sehingga bisa berangkat. Maklum, dia baru saja lulus SLTP. Karena melihat ekonomi keluarga yang memprihatinkan dan terpacu membantu ibunya yang single parent menyekolahkan adiknya, Anik memutuskan merantau ke luar negeri. Padahal, dia mengaku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tekad ini makin kuat setelah melihat sejumlah tetangganya yang juga menjadi buruh migran dapat mencukupi keluarga mereka.
’’Pada 2000 saya berangkat, kerja sebagai pembantu rumah tangga. Kontraknya sebenarnya dua tahun. Namun, baru sekitar satu tahun ,ada salah paham antara saya dan majikan. Ini dipicu komunikasi. Majikan saya pendatang dari India,’’ jelasnya ketika dihubungi INDOPOS, Sabtu (20/8). Setelah sempat pulang ke Indonesia pada 2001, beberapa  bulan kemudian, dia kembali lagi ke Negeri Jiran tersebut. Ini dilakukan, karena dia belum berhasil.
Anak pertama dari dua bersaudara itu tidak bekerja sebagai pembantu rumah tangga lagi. Kali ini dia kerja di restoran seafood. Di tempat baru ini, dia merasa lebih enjoy. Sebab, banyak teman-temannya, meski kebanyakan berasal dari Thailand. ’’Kerjanya pakai shift. Majikan orang keturunan. Majikan bisa Bahasa Melayu dan Inggris serta pandai bergaul,’’ terangnya. Setelah dua tahun bekerja, Anik memutuskan kembali ke Indonesia. Padahal, dia mengaku belum cukup mengumpulkan pundi-pundi ringgit. ’’Kalau bicara kerja, tidak ada habisnya, sampai kapan pun. Tapi, saya kemudian berpikir, seenak-enaknya kerja di negara orang, masik enak kerja di negara sendiri,’’ cerita perempuan kelahiran 1984 itu.
Hasil jerih payah Anik menjadi buruh migran terlihat. Selain membantu menyekolahkan adiknya, dia juga membantu membiayai anak angkatnya sejak 2001. Anak angkat ini diambil Anik dari saudaranya sendiri. ’’Selain bisa memperbaiki rumah, juga ada sedikit tabungan untuk modal usaha jualan makanan ringan kecil-kecilan. Untuk anak angkat, saya termotivasi, karena waktu SMP saya mendapat bantuan dari gereja. Makanya saya ingin membantu mereka. Apalagi anaknya pintar. Sejak kecil saya ditanamkan bagaimana bisa membantu orang lain. Kalau anak angkat ini sudah lulus sekolah, saya ingin anak angkat lagi. Saat ini yang satu masih SD yang satu kelas 3 SLTA,’’ ujar perempuan yang sampai Indonesia lagi pada 2003 itu.
Setelah pulang, Anik mengaku belum bergabung dengan organisasi buruh migran.’’Saya juga belum banyak kenal para buruh migran. Apalagi komunitasnya. Diajak berkumpul dengan mereka, sempat ragu. Aktivitas saya, bantu ibu jualan makanan ringan di sekolah. Sampai 2006, ketika itu ada bimbingan teknis(bimtek) dari Disnakertrans Kabupaten Malang,’’ ungkapnya.
Dari sini, Anik mulai banyak kenalan sesama mantan buruh migran. Organisasi yang memperjuangkan buruh migran pun mulai akrab di telingannya. Dari kegiatan bimtek itu, peserta mendapat kucuran dana yang berasal dari Pemprov Jawa Timur melalui Disnakertrans Kabupaten Malang. Atas kesepakatan antar mereka yang mengikuti bimtek, dana tersebut dikelola.’’Akhirnya didirikan koperasi. Uang bantuan tadi dikumpulkan untuk memberi modal beberapa orang dulu, nanti berputar. Koperasi TKI Purna ini mulai berjalan pada 2006,’’ jelasnya.
Modal dari koperasi mendorong para anggotanya untuk mengembangkan usahanya masing-masing. Ada yang beternak sapi kecil-kecilan, bikin empon-empon kesehatan seperti jahe instan, hingga bikin aneka kue. ’’Kendala mereka modal. Makanya dengan pinjaman koperasi ini, mereka diharapkan bisa mengembangkan diri. Koperasi ini juga sudah berbadan hukum. Kami mulai mengurusnya pada 2008,’’ ujar Anik yang sejak 2007 dipercaya sebagai nakhoda koperasi tersebut.
Saat ini anggota koperasi ada 57. Selain mantan buruh migran, mereka berasal dari keluarga buruh migran dan buruh migran yang masih aktif.’’Mereka yang masih bekerja di luar negeri, kadang mempercayakan uangnya dititipkan di koperasi ini untuk sekolah anak-anak mereka. Asetnya belum banyak, sekitar Rp 125 juta. Ini pun berputar. Masih butuh modal. Tahun 2011 rencananya dapat bantuan dari Menakertrnas Rp 40 juta. Koperasi ini hidup dari sisa hasil usaha anggota. Sekian persennya dipotong untuk berjalannya koperasi,’’ terang perempuan yang menikah pada 2004 itu.
Selain simpan pinjam, koperasi ini juga terlibat dalam sejumlah pelatihan. Bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor misalnya memberi pelatihan permen susu.’’Kami juga memberi pelatihan, bagaimana para peserta mengolah potensi daerah masing-masing, sehingga bernilai ekonomi,’’ ujarnya.
Dengan demikian penghasilan mereka sama seperti kalau menjadi buruh migran. Syukur bisa lebih. Dari pelatihan ini, banyak yang berhasil mengembangkan diri, Di antaranya buka agen pupuk.’’Ke depan, kami ingin koperasi ini bisa digunakan untuk pengiriman uang semacam Western Union. Mereka yang bekerja di luar negeri bisa mengirim uang ke keluarganya dengan fasilitas seperti itu. Tapi itu perlu dana cadangan yang lumayan,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Bukukan Perjalanan Hidup, Ingin Dirikan Yayasan untuk Dhuafa

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 19 Agustus 2011

USIA Jejen Nurjanah memang sudah kepala empat. Namun, semangat perempuan yang pernah menjadi buruh migran di Arab Saudi pada 1989-1991 dan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 2005 itu masih berkobar. Semangat membantu sesama, khususnya menangani kasus-kasus buruh migran di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. ’’Saya pergi ke Arab saat berusia 25 tahun. Ketika itu sudah menikah, anak dua, masih kecil. Berangkat, karena faktor ekonomi,’’ ujar perempuan yang kini berusia 43 tahun itu ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (18/8).
Ketika kali sampai di Arab Saudi, Jejen mengaku menangis tiga hari tiga malam. Dia ingin pulang ke Indonesia lagi. ’’Majikan kemudian minta tolong tenaga kerja Indonesia untuk mengajari saya bekerja. Selama bekerja, alhamdulillah tidak pernah mengalami kekerasan fisik,’’ ujar Jejen yang ketika itu belum bergabung dengan organisasi buruh migran dan belum tahu banyak hak-haknya sebagai buruh migran.
Setelah pulang, Jejen yang mengaku saat berangkat ke Arab Saudi tidak lulus SD itu, mulai ikut bersosialisasi dengan sejumlah organisasi. Di antaranya Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita yang berkantor pusat di Jakarta.’’Saya jadi pendamping lokal di daerah sini. Itu pada 1996. Saya melihat ada potensi yang belum dikembangkan. Saya juga berinteraksi dengan beberapa organisasi yang konsen memperjuangkan para buruh migran,’’ tegas perempuan yang dikaruniai seorang anak lagi, perempuan, beberapa waktu sepulang dari Arab Saudi.
Namun, lagi-lagi karena faktor kebutuhan ekonomi, pada 2005, Jejen berangkat menjadi buruh migran. Kali ini ke Abu Dhabi. Kepergian Jejen untuk kali kedua ini, lantaran dia harus memikirkan pendidikan anak-anaknya. ’’Setelah saya pulang dari Arab Saudi, beberapa waktu kemudian, suami pergi ke Arab. Tapi nafkah nggak kami dapat. Itu berlangsung 6 tahun. Padahal, kami butuh. Bahkan saya diceraikan,’’ ungkapnya.
Sayang, keinginan untuk mengumpulkan uang untuk menafkahi tiga anaknya tidak berjalan mulus. Di Abu Dhabi hanya bekerja sekitar satu minggu.’’Saya kena musibah. Jatuh dari lantai dua. Karena sakit dan tidak bisa bekerja, saya dibawa ke kantor perwakilan agen. Di tempat semacam apartemen ini saya bersama tenaga kerja Indonesia lainnya ditaruh dalam satu ruangan. Beberapa hari kami tidak diberi makan. Sungguh ironis. Saya yang sebelumnya ikut membantu perjuangan buruh migran yang bermasalah, sekitar 10 tahun, malah kena masalah,’’ terang perempuan yang tinggal di Desa Jambe Nenggang, Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, itu.
Namun, pengalaman berinteraksi dengan buruh migran sewaktu masih di Sukabumi dirasa sangat membantu. Suatu ketika, dia berhasil melobi staf kantor perwakilan agen, di mana Jejen dan beberapa orang disekap.’’Saya lobi, pinjam handphone pegawai situ yang berasal dari Filipina. Saya kontak Kobumi, Konsorsium Buruh Migran. Tak berapa lama kemudian, 1 mingguan, saya bisa pulang. Kabarnya setelah saya sampai ke Indonesia, kantor perwakilan itu juga digerebek polisi,’’ jelasnya.
Gagal mengais rezeki di Uni Emirat Arab, tidak membuat Jejen patah arang. Dia buka usaha makanan ringan dari uang hasil pinjaman. Jejen yang menikah lagi pada 2006 dengan pria beranak dua juga aktif di koperasi dan bersosialisasi lagi dengan organisasi buruh migran. ’’Pada 2007, resmi bergabung dengan Serikat Buruh Migran Indonesia. Saya malah dipercaya jadi ketua DPC Serikat Buruh Migran Indonesia Sukabumi. Sedangkan usaha saya bangkrut seiring naiknya BBM ketika itu,’’ kata Jejen yang pada 2011 ini masuk di Dewan Pertimbangan Nasional Serikat Buruh Migran Indonesia.
Pada 2006, Jejen yang kini telah mengatongi ijazah Paket C (setingkat ijazah SLTA) dan beberapa orang berhasil mendirikan TK Al Quran. ’’Jadi ada Taman Posyandu. Dari situ, mendirikan TK Al Quran. Terus kemudian berkembang. Ada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bina Keluarga Balita (BKB). BKB untuk ibu-ibu. Ada Balai Keluarga Lansia dan Balai Keluarga Remaja,’’ terangnya.
Taman Posyandu dan yang lainnya, tidak hanya untuk keluarga buruh migran atau mantan buruh migran. Tapi untuk umum di Desa Jambe Nenggang. Taman Posyandu saat ini melayani 67 balita, sedang PAUD untuk 2011 ini, ada 27 anak. Untuk menjalankan kegiatan-kegiatan tersebut, dibantu dana dari pemerintah. ’’Saya juga mengajar di TK tersebut. Kalau yang TK sudah 5 kali wisuda,’’ imbuh Jejen yang juga mendampingidan mengajar pada program keaksaraan Kementerian Agama Sukabumi.
Jejen juga terlibat di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Sukabumi. Selain itu sering menjadi nara sumber di sejumlah seminar dan diskusi.’’Juga testimoni terkait pengalaman saya sebagai buruh migran,’’ tambah perempuan yang mendapat penghargaan sebagai aktivis peduli perempuan dan anak pada 2008 dari bupati Sukabumi itu.
Aktivitas Jejen yang hobi menuliskan perjalanan hidupnya dan ingin dibukukan itu memang padat.’’Ke depan saya ingin ada kaderisisasi, saya sudah tua. Saya ingin juga mendirikan yayasan untuk membantu masyarakat dhuafa. Tapi masih terkendala dana dan lahan, belum ada tempat. Keinginan lain saya adalah ingin menguliahkan anak saya yang perempuan. Sekarang masih SMA. Kalau yang dua lainnya, sudah berkeluarga,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

ASL Mendapat Respons Positif

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 19 Agustus 2011

SALAH satu program kepedulian lingkungan yang digagas PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJA) adalah Ancol Sayang Lingkungan (ASL). Program itu semakin berkembang usai studi banding ke salah satu kelurahan percontohan yang telah berhasil melakukan penghijauan, beberapa waktu lalu. Dalam studi banding itu, perusahaan pengembang kawasan wisata terpadu Ancol Taman Impian  mengajak warga sekitar. Yaitu warga dari tiga kelurahan di Kecamatan Pademangan, yakni Kelurahan Ancol, Pademangan Barat, dan Pademangan Timur.
’’Kita mengajak mereka ke daerah di Fatmawati. Dimotori Ibu Bambang Harini, warga dan juga pejabat kelurahan kita ajak ke sana. Mereka tertarik, ternyata tinggal di gang,  bisa rapi juga,’’ terang Community Development Manager PT PJA Tbk Rika Lestari saat membuka pembicaraan tentang ASL, kepada INDOPOS.
Dalam perkembanganya, program itu mampu menggerakkan dan memberdayakan warga. ’’Kita bermitra dengan masyarakat mulai 2003. Menawarkan beberapa program. Mulai dari program kertas daur ulang, pupuk kompos, dan penghijauan,’’ ujar Rika. Pihaknya melibatkan RW 01, 02, dan 08 di Kelurahan Ancol. ’’Jadi waktu itu yang bergerak tiga RW dan punya ciri khas masing-masing sekarang,’’ imbuh Rika.
Adapun program yang sudah berjalan kata dia adalah kertas daur ulang (KDU) yang dikelola oleh warga. Adapun bahan baku daur ulang berasal dari sampah kertas dari sejumlah perusahaan yang ada di kawasan Ancol. Sampah itu kemudian diberikan kepada warga untuk didaur ulang.’’Kemudian kita order kepada mereka untuk jadi kartu nama. Kita juga ikut memberikan kesempatan kepada warga untuk memasarkan produknya keluar,’’ terang Rika.
Misalnya, kalau PT PJA Tbk menggelar pameran dan punya space, pihaknya akan undang teman-teman ASL untuk display di sana. Selain itu pihaknya juga memberikan kesempatan kepada anggota ASL untuk display dan mempromosikan hasil produknya di Pasar Seni. ’’Di sana sudah berdiri Warung Hijau ASL, sebagai outlet sekaligus sarana promosi produk,’’ terang Rika.
Selain sebagai tempat mempromosikan produk, pihaknya juga memberi kesempatan ibu-ibu untuk berjualan makanan rumahan di Warung Hijau Pasar Seni. ’’Hasil produk makanan itu, biasanya dibeli oleh karyawan Ancol, Pasar Seni, hingga seniman di sana,’’ terang Rika.
Hingga saat ini kata wanita berjilbab tersebut, program sudah berjalan cukup bagus. Hal itu dikarenakan tidak hanya Ancol saja yang menyerap produk hasil daur ulang warga. ’’Bahkan sampai Gubernur DKI Fauzi Bowo juga sudah memakai aneka macam produk daur ulang ASL. Seperti kartu nama dan beberapa produk untuk ucapan terima kasih dan sebagainya,’’
terang Rika.
Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini ada sekitar 20 orang yang aktif di program daur ulang. ASL sendiri saat ini sudah jadi koperasi. ’’Awalnya adalah komunitas, sekarang sudah berkembang menjadi koperasi. Dengan adanya koperasi mereka bisa mengajak masyarakat yang ada di sekitar situ untuk berkarya,’’ beber Rika.
Dari awal, kata dia, PT PJA Tbk memberikan kail dalam memberdayakan warga. Bukan memberikan ikan. ’’Artinya kita hanya investasi awal di situ memberikan mereka pendidikan. Awalnya belajar membuat kertas daur ulang di Depok, teman-teman sangat luar biasa. Mereka untuk mendapatkan kertas-kertas seperti ini risetnya berulang-ulang,’’ jelas Rika.
Dalam mendaur ulang kertas, dihindari pewarna kimiawi. Setelah warga cukup ahli membuat kertas daur ulang, mereka sendirilah yang mengembangkan karya. Pihaknya hanya men-support.
Sementara itu, Ketua Koperasi ASL Mustofa mengatakan, saat ini koperasi beranggotakan 40 orang. Dalam satu bulan, kata dia, pihaknya bisa menghasilkan sekitar 600 lembar kertas daur ulang. Selain kertas pihaknya juga mengerjakan pembuatan kalender, tempat pensil dan aneka jenis office stationery. ’’Hasil kerajinan kita, dibeli oleh Ancol dan juga Gubernur. Seperti untuk kartu nama maupun kartu ucapan,’’ ujarnya.
Mustofa menambahkan, program ASL yang digagas PT PJA Tbk mampu memberdayakan warga. ’’Minimal bisa meminimalisir kegiatan yang negatif. Kita jadi terbantu ada kegiatan,’’ terangnya. (dai)

Kategori:ANCOL

Perjuangkan Buruh Migran, S2 di Jerman, Ingin Jadi Dosen

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 17 Agustus 2011

BURUH migran tampaknya begitu lekat dengan Dina Nuriyati. Ini tak lepas dari masa lalu dan aktivitas yang digeluti perempuan asal Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, tersebut. Dina mulai merantau ke Hongkong pada 1997. ’’Sebenarnya selepas SMA, saya ingin kuliah. Tapi melihat kondisi ekonomi orangtua, saya memutuskan bisa membantu dan nantinya bisa mengumpulkan uang buat kuliah. Kakak yang pertama sudah kuliah. Yang kedua sedang menyelesaikan kuliah, kalau saya ikut kuliah, khawatir kakak drop out. Orangtua memang hanya lulusan SD. Tapi, untuk anak-anak, mereka sebisa mungkin untuk memeroleh sekolah yang tinggi. Di samping petani, bapak menambah penghasilan dari menyopir,’’ cerita perempuan 6 bersaudara yang lulus SMA pada 1996 itu.
Di Hongkong, Dina bertugas mengurus anak majikan dan membersihan rumah. Setelah dua tahun, dia ingin pindah majikan. ’’Saya cari-cari informasi yang dapat bekerja, tapi dapat sampingan. Ada waktu untuk organisasi juga. Meski saya ikut organisasi, pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga tidak boleh terabaikan,’’ jelas Dina yang ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (16/8), berada di Malang untuk mudik menyambut Lebaran.
Pada hari libur Minggu, Dina memanfaatkan untuk kursus komputer. Di sini dia dapat dua ilmu. Di samping belajar komputer, tutor yang mengajarkan menggunakan bahasa Inggris. Dina pun dapat belajar bahasa Inggris juga.’’Satu kelas sekitar 40 orang, yang berasal dari Indonesia hanya dua orang. Kursus ini program kerja sama Indonesia Migrant Workers Union (IMWU). Di IMWU saya banyak belajar organisasi. Di sini ada pendidikannya, ada advokasinya. Ini organisasi serikat buruh, legal di Hongkong,’’ ungkapnya.
Di IMWU ini, Dina pernah dikirim ke Taiwan dan Nepal. Di Nepal, mengikuti konferensi dunia terkait HAM. ’’Saya bisa mengikuti ini, karena kalau pas lagi ada acara, saya ngambil libur mingguan saya. Tidak libur mingguan dulu beberapa waktu, diambil libur pas ada acara di organisasi,’’ terangnya.
Dengan berorganisasi, Dina tahu lebih banyak. Dia mengaku bisa mengembangkan diri, mengetahui hak-haknya sebagai pekerja atau buruh migran dan bagaimana berkomunikasi dengan majikan. Menurut Dina, pekerjaan pekerja rumah tangga itu butuh skill. Bagaimana cara memasak, mengurus anak, dan sebagainya. Makanya, para buruh migran yang ditempatkan di sektor domestik, harus dibekali skill dulu. ’’Di IMWU saya juga banyak teman dan tambah skill,’’ imbuhnya. Selain itu, Dina juga mengambil pelajaran penting selama bekerja di Hongkong. Di samping kebersihan juga disiplin tinggi.
Dina pulang dari Hongkong pada 2001. Dia memutuskan pulang, karena ingin melanjutkan kuliah. ’’Tiga tahun pertama, gaji masih untuk keluarga. Baru tahun keempat, bisa nabung. Kalau kerja diterusin, tidak ada habisnya. Harus punya target,’’ ujarnya. Tidak lama berselang setelah pulang, karena bertepatan dengan pendaftaran perkuliahan, Dina langsung mendaftar di Universitas Kanjuruhan Malang. Dia mengambil bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. ’’Saya mengambil bahasa Inggris, karena bisa membuka kursus. Lumayan ada pemasukan. Selain itu, juga beli truk yang dioperasikan orangtua. Saya juga menunggu perpustakaan. Kuliah saya mandiri,’’ terang perempuan kelahiran 1978 itu.
Jiwa organisasi yang berhubungan dengan buruh migran juga tak bisa dia pisahkan. Pada 2001 ada pertemuan buruh migran di Jakarta. Akhirnya mendirikan Federasi Organisasi Buruh Migran Indonesia (FOBMI). Dina dipercaya menjadi ketua pusat FOBMI periode 2003—2005.’’Saya awalnya bolak-balik, Malang-Jakarta, karena kuliah di Malang. Bahkan sempat cuti satu semester. Tapi berusaha kuliah tetap jalan, dan bisa pegang amanat. Pada 2006 selesai kuliah. Pada 2005 bergabung di Dewan Pertimbangan Nasional Serikat Buruh Migran Indonesia hingga Juli 2011,’’ jelas perempuan yang menikah pada 2008 dan kini dikaruniai seorang anak itu.
Selepas S1, Dina bekerja di yayasan politik asal Jerman, Friedrich Ebert Stiftung (FES) Jakarta sebagai program officer Aceh selama 1,5 tahun. Setelah mendapat beasiswa belajar S2 di Jerman, Dina mengundurkan diri di FES. ’’Menempuh S2 di Global Labour University (GLU) jurusan Labour Policies and Globalization untuk kampus University of Kassel dan Berlin School of Economic di Jerman. Setelah selesai dengan gelar Master of Arts (M.A), diajak bergabung di International Center for Development and Development and Decent Work (ICDD) yang berkantor pusat di Jerman,’’ jelas perempuan yang tinggal bersama anak dan suaminya yang bekerja di kantor pengacara, di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu.
Meski aktivitasnya padat, ketika dihadapkan dengan keluarga, Dina memilih keluarga. Keluarga baginya nomor satu. ’’Waktu saya hamil, ada beberapa undangan di antaranya ke luar negeri, ada beberapa penelitian, tapi saya pilih hamil dulu. Begitu juga ketika anak masih menyusu dan butuh perhatian. Memang masih di SBMI, tapi dikurangi. Begitu juga di ICDD,’’ terang perempuan yang masih mempertimbangkan untuk menjadi dosen di Malang itu.
Apa harapannya ke depan? Dina mengaku ingin jadi dosen atau guru dan berjuang di jalur buruh migran.’’Kalau tidak bisa aktif di SBMI pusat ya di Malang. Di Malang dekat dengan orangtua,’’ harapnya. Dia juga berharap, mereka yang memutuskan menjadi buruh migran atau bekerja ke luar negeri bukan suatu keterpaksaan, tapi pilihan. Oleh karena itu, pemerintah harus menyediakan perangkat dan hak-hak mereka.’’Tidak asal ngirim orang. Siapa pun yang memutuskan berangkat ke luar negeri juga harus siap. Cari informasi lengkap. Menyiapkan diri sebaiknya-baiknya, termasuk kemampuan. Karena di luar negeri itu beda dengan di Indonesia. Makanya harus dipikir masak-masak sebelum berangkat,’’ pungkasnya. (zul)

Kategori:TKI SUKSES

Berbagi, Ancol Beri Santunan

 

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 18 Agustus 2011

Kepada 1.000 Anak Yatim Piatu dan Dhuafa

 JAKARTA-Ancol Taman Impian, Rabu kemarin (17/8), menyantuni 1.000 anak yatim piatu dan dhuafa yang ada di wilayah sekitar Ancol, Jakarta. Pemberian
santunan dari PT Pembangunan Jaya Ancol (PJA) Tbk digelar di Ocean Dream Samudera, Ancol Taman Impian.  Mengambil tema ’’Merayakan Kemerdekaan dengan Berbagi Ceria di Bulan Ramadan’’, para penerima santunan dihibur dengan pertunjukan musik angklung dari Sekolah Rakyat Ancol. Lagu yang dibawakan di antaranya Padamu Negeri dan Tanah Airku. Selain itu juga disuguhi pertunjukan lumba-lumba dan anjing laut dan jumpa fans Ridho dan Vicky Roma.
   Direktur Utama PJA Tbk Budi Karya Sumadi mengatakan, pemberian santunan ini merupakan wujud kepedulian terhadap sesama, sekaligus ungkapan rasa syukur atas keberhasilan yang telah dicapai. ’’Ramadan 1432 Hijriyah, merupakan momen yang tepat bagi kita sebagai sesama umat manusia untuk bisa saling berbagi. Khususnya kepada mereka yang kurang mampu,’’ terang Budi Karya.
Dari 1.000 penerima santunan, 570 orang merupakan anak-anak
yatim piatu yang berasal dari kelurahan Pademangan Barat, Pademangan Timur, Kelurahan Ancol, dan Kelurahan Sunter Agung. 130 orang berasal dari pelajar Sekolah Rakyat Ancol (SRA) dan 100 orang dari PAYMP, Yayasan Masjid Maqom Kramat Kp. Banda, dan Yayasan Ihyaul Ummah. Sedangkan lainnya adalah anak-anak yatim piatu dari beberapa yayasan yatim piatu di DKI Jakarta dan Purnabhakti PT  PJA Tbk.
Santunan juga diberikan kepada anak-anak dari mantan karyawan Ancol Taman Impian, sebanyak 100 orang. ’’Selain sebagai forum komunikasi dan  silahturahmi manajemen PJA dengan masyarakat sekitar, kegiatan ini juga merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap anak yatim piatu dan kaum dhuafa,’’ ujar Budi Karya.
Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim piatu dan kalangan dhuafa melalui kegiatan sosial. ’’Ancol dapat tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini tak lepas dari peran karyawan Ancol beserta warga sekitar. ’’Juga merupakan bentuk apresiasi Ancol terhadap wujud kebersamaan,’’ pungkasnya.
       Manajer Community Development PJA Rika Lestari menambahkan, kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun. Memberikan santunan kepada 1.000 anak yatim piatu dan dhuafa merupakan salah satu bentuk CSR berbasis charity. ’’Kita prioritaskan 80 persen warga yang mendapat santunan  dari Kecamatan Pademangan. Ini karena PJA berada di wilayah tersebut. Sisanya dari wilayah seputar Jakarta Utara,’’ ujarnya.
       Sementara itu, Erida warga warakas V Tanjung Priok, ketua nonpanti sosial asuhan anak Jamiatul Firdaus mengaku senang dengan kepedulian Ancol. Pihaknya membawa 10 orang anak dalam acara kemarin. ’’Acara ini bagus membantu meringankan anak yatim. Kita punya 50 anak binaan, dapat 10 sudah bersyukur,’’ ujarnya. Ketua RT 06/10 Pademangan Timur Khoiriyah menambahkan, pihaknya membawa jumlah 20 orang anak yatim di setiap kelurahan.
Wawan, anak yatim dari Marunda, Cilincing, yang duduk di kelas 5, mengaku senang dapat santunan serta diberi kesempatan mengunjungi Ocean Dream Samudera, Ancol Taman Impian. (dai)

Kategori:ANCOL

Dari Menanam Pohon, Tabur Benih Ikan, hingga Menikmati Lumba-Lumba

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 15 Agustus 2011

Ketika Para Guru dari Daerah Terpencil Diajak ke Ancol

JAKARTA-Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Minggu (14/8) mengajak guru-guru dari pulau terpencil di tanah air ke Ecopark, Ancol Taman Impian, Jakarta Utara. Di sana, para guru diajak menanam pohon untuk penghijauan. Sekaligus mendukung program pemerintah untuk penanam satu miliar pohon. ’’SIKIB mengundang para guru dari daerah terpencil ke sini sebagai bentuk apresiasi untuk mereka yang telah mengabdi, mencerdaskan anak bangsa di daerah terpencil,’’ ujar Liza Mustafa Abubakar, ketua panitia pemilihan guru daerah khusus (Gurdasus) di sela-sela acara kemarin.
    Adapun pohon yang ditanam di Ecopark oleh SIKIB dan guru adalah 33 pohon jenis sawo kecik. Selain menanam pohon, mereka juga menabur benih ikan mas. Setelah itu, para guru diajak berekreasi dan menikmati pertunjukan lumba-lumba dan anjing laut di Ocean Dream Samudra.
    M. Husnan, panitia dan guru pendidikan luar biasa tingkat nasional, menambahkan, ada 99 guru dari berbagai daerah di tanah air yang diajak ke Jakarta. Mereka mendapatkan apresiasi. Kunjungan ke Ancol Taman Impian merupakan salah satu dari rangkain acara. ’’Adapun jumlah guru yang kita apresiasi ada 99 orang. Namun 2 orang berhalangan datang. Jadi 97 orang yang datang, mereka berasal dari daerah terpencil di Indonesia,’’ ujarnya.
    Husnan menambahkan, mereka yang datang merupakan hasil seleksi dari provinsi masing-masing. Di Jakarta, mereka diberi sejumlah pengetahuan, diajak ke sejumlah tempat serta bertemu dan berdialog dengan istri kabinet.
 ’’Pengumuman pemilihannya rencananya digelar dalam waktu dekat ini, 16 Agustus,’’ tegasnya.
      Sementara itu, Sawir, guru SD 07 Pulau Mentebung, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, mengaku terharu diundang SIKIB. Pria yang telah 25 tahun bekerja sebagai guru itu mengatakan, dia dipanggil untuk mengikuti karya wisata ke Jakarta.’’Kita juga diajak untuk berjumpa dengan ibu atau istri kabinet. Tanya jawab tentang pendidikan, khususnya di daerah terpencil,’’ ujarnya.
    Sawir juga ditanya suka dukanya, tantangan, dan motivasi menjadi guru di daerah terpencil. ’’Kalau kita yang menjadi masukan, terutama transpotasi. Jarak yang di tempuh sangat jauh,’’ ujarnya.
    Elsinoho, 26, guru dari Provinsi Gorontalo, yang mengajar di SDN 7 di Jalan Melati Piloliyanga, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Wanita berjilbab yang menjadi guru kelas itu berharap, dengan adanya pemilihan memberikan motivasi kepada guru. ’’Khususnya guru dari daerah terpencil, bisa meningkatkan kualitas. Terutama dalam proses pembelajaran sehingga kualitas pendidikan yang ada di sekolah bisa tercapai,’’ jelasnya.
   Direktur Utama PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk Budi Karya Sumadi menjelaskan, Ecopark yang mempunyai luas sekitar 33,6 hektare dulunya adalah lapangan golf. Saat ini menjadi taman hijau terbuka yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup.’’Ecopark berbasis edutainment. Taman ini dilengkapi berbagai sarana yang bisa dimanfaatkan bagi pendidikan lingkungan hidup seperti taman flaura dan taman fauna,’’ ujarnya.
    Selain itu juga fasilitas multifungsi untuk permainan petualangan
terbuka. Kehadiran Ecopark bermanfaat bagi kepentingan pendidikan, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi
muda akan arti penting memelihara lingkungan dan menjaga kekayaan
keragaman hayati Indonesia.
    Ecopark yang ditata dengan konsep memperkaya elemen natural
menjadi salah satu jendala bagi masyarakat perkotaan tentang
potensi keragaman hayati Indonesia. Ecopark, sebuah taman terbuka
dilengkapi berbagai fasilitas edutainment, botanical garden, dan
sarana adventure berbasis green lifestyle. Kehadiran Ecopark juga dirancang memperkuat koridor hijau di sepanjang areal Ancol Taman Impian. (dai)

Kategori:ANCOL

Kenalkan Budaya Indonesia kepada Ribuan Anak di Ancol

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 1 Agustus 2011

JAKARTA– Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) bersama Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PP dan PA) memperingati Hari Anak Nasional (HAN) di Hall Rama Shinta, Dunia Fantasi, Ancol Taman Impian, Rabu (27/7). Peringatan HAN digelar dengan mengundang 6.000 anak Indonesia. Para siswa dikenalkan keragaman dan kekayaan budaya melalui pagelaran seni. Pagelaran tersebut diberi nama Pesta Anak Indonesia 2011 dengan mengambil tema “Aku Cinta Budaya Indonesia”. 
    Dalam kesempatan itu, anak-anak Indonesia menampilkan sendratari dari provinsi-provinsi. Selain itu, para undangan juga dilibatkan bermain angklung bersama dengan 1.500 anak dari berbagai sekolah di Indonesia.  Pengenalan keragaman budaya juga disuguhkan dalam bentuk operet yang dimeriahkan artis-artis ibu kota. 
   Meneg PP dan PA Linda Amalia Sari mengatakan, anak-anak sekarang di era globalisasi lebih kenal dengan Batman, Superman, daripada Gatotkaca. Pihaknya prihatin dengan gempuran budaya asing yang terus menerus masuk ke dalam dunia anak. ’’Melalui pagelaran seperti inilah kami beserta stakeholder yang memang peduli di bidang anak sedang berusaha menanamkan kembali nilai-nilai luhur budaya Indonesia agar anak-anak lebih mencintai budaya bangsanya sendiri,’’ terang Linda. 
    Kecintaan anak akan budaya bangsa sendiri, kata dia, harus terus ditumbuhkan dengan cara mengenalkan budaya bangsa sejak usia dini. Selain bermanfaat untuk mengetahui bakat dan potensi anak, pengenalan budaya sejak usia dini juga dapat membentuk karakter anak ke arah yang lebih positif. Oleh karena itu, mengenalkan anak akan budaya luhur bangsa sangat membantu proses tumbuh kembang anak. ’’Saya berharap kegiatan seperti ini dapat berlanjut dan tidak hanya digelar di kota-kota besar saja. Tetapi juga di daerah-daerah konflik dan rawan bencana,’’ ujar Linda. 
    Sebab anak-anak di daerah itu justru membutuhkan perlindungan dan perhatian khusus agar lebih cepat terbebas dari trauma. Melalui pagelaran seni, pihaknya berpesan kepada seluruh anak Indonesia untuk terus menikmati hari-hari indah dengan semangat cinta tanah air serta bangga akan budaya bangsa sendiri.
Peringatan HAN di Dunia Fantasi, sudah digelar beberapa kali. Yang pertama oleh Kementerian Kesehatan pada Sabtu, 23 Juli 2011, kemudian oleh Yayasan Putera Bahagia pada Senin 25 Juli 2011, dan Rabu kemarin (27/78) oleh SIKIB dan Kementerian PP dan PA. 
    Budi Karya Sumadi, direktur utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, pengembang dan pengelola kawasan terpadu Ancol Taman Impian, mengatakan bahwa Ancol menyambut dengan bahagia dan mendukung pelaksanaan peringatan Hari Anak Nasional tersebut.
    Sambutan dan dukungan tersebut tidak terlepas dari komitmen Ancol selama ini untuk terus mengembangkan diri menjadi pilihan tempat wisata yang menyenangkan untuk keluarga. Oleh karena itu, pada 2011 ini Ancol telah melakukan berbagai inovasi dan renovasi. Antara lain membuka secara resmi Ocean Ecopark, Fantastique Multimedia Show di Ecopark, Under Water Theatre di Ocean Dream Samudera, dan Kalila di Dunia Fantasi serta mengembangkan Ancol menjadi kawasan eco-holiday.
    ’’Tujuan wisata dan wahana baru yang dikembangkan Ancol adalah wahana yang rekreatif dan juga edukatif. Hal ini adalah sebagai upaya Ancol memberikan content manfaat lebih dari wahana yang disiapkannya. Edutainment dan eco-learning menjadi perhatian utama kami dalam inovasi-inovasi kami,’’ ujar Budi.
    Hal tersebut seiring dengan perhatian pemerintah terhadap pentingnya mempersiapkan anak-anak Indonesia menjadi generasi yang sehat, kreatif, dan berakhlak mulia sekaligus cerdas dan berprestasi. Guna mewujudkan hal tersebut, maka jaminan pemenuhan hak-hak anak untuk memeroleh pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan yang bermutu harus terus diupayakan. Ini juga dalam upaya menjamin pemenuhan hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi. 
    Peringatan HAN dilaksanakan di tingkat nasional dan di tingkat daerah dengan tujuan agar semua lapisan masyarakat menyadari akan pentingnya pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak Indonesia.
    ’’Edutainment yang kami maksud adalah menggabungakan edukasi dan entertainment, seperti di Dunia Fantasi, anak-anak dapat belajar ilmu fisika dari sistem pergerakan wahana-wahana yang ada. Di Ecopark dapat belajar ekologi keanekaragaman hayati dengan dikembangkannya tanaman-tanaman langka dari pesisir. Di Ocean Dream Samudera anak-anak akan dapat belajar biologi dari satwa yang ada dengan cara yang sangat menyenangkan dan sambil bermain,’’ pungkas Budi. (dai)

Kategori:ANCOL