Beranda > TKI SUKSES > Berdayakan Masyarakat, Bikin Tas dari Limbah Kertas

Berdayakan Masyarakat, Bikin Tas dari Limbah Kertas

TERUS berusaha semaksimal mungkin bisa memberikan manfaat kepada orang lain dan lingkungan. Itulah yang diusung Anton Susilo. “Saya ingin terus maju. Menghargai karya orang lain dan diri sendiri,” ujar lajang kelahiran Serang 1983 itu.
Saat ini, aktivitas Anton kian padat. Selain rutinitas kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Serang, Banten, Anton yang pernah merantau ke Arab Saudi itu juga terlibat di sejumlah organisasi.”Ada 20-an organisasi. Termasuk Walhi Banten,” aku Anton yang pernah bekerja sebagai sopir selama beberapa bulan di Riyadh, Arab Saudi, ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (26/7).
Selain itu, dia juga mempunyai usaha kerajinan. Di antaranya membikin tas yang terbuat dari kertas limbah yang didaur ulang. “Tidak merusak lingkungan,” ujar pria yang mengajar di dua SLTA di Serang itu.
Pria yang mengaku sempat diminta mengajar di salah satu kampus dan dijalani hanya satu bulan kemudian memilih mengundurkan diri itu bercerita sekilas proses pembuatan tas. Kertas-kertas yang di antaranya dibeli dari pemulung itu dihancurkan terlebih dahulu. Setelah itu dengan manual, dicetak yang kemudian menghasilkan lempengan. Dari situ, selanjutnya dibuat tas.”Tidak pakai benang. Pakai solder. Meski dari limbah kertas, tasnya kuat,” jelas Anton yang mengaku pernah merasakan menjadi pemulung itu.
Selain seputaran Banten, hasil tas dari limbah kertas itu sampai ke Bali, Bandung, dan Jogjakarta. “Dulu sampai ke Bali dibawa teman. Sekarang lebih banyak di wilayah Banten,” terang anak keenam dari 9 bersaudara yang merantau ke Arab Saudi selepas STM itu.
Sebenarnya, Anton sudah membuat tas sejak duduk di SLTP. Ketika itu, hanya sebatas membantu saat diminta tolong teman-temannya untuk membikinkan. Itu berlanjut saat duduk di STM.”Ketika itu bahannya dari karung. Membingkai, bikin tas. Saya bisanya otodidak. Senang baca-baca. Senang dengan lingkungan,” ungkap pria yang mengaku dapat menyisihkan sejumlah gaji yang dia dapat saat merantau untuk merintis usaha kerajinannya.
Di samping membikin tas, juga membuat celengan yang terbuat dari pasir. Dari usaha kerajinan ini, Anton banyak memberdayakan orang. Setidaknya 20 orang dilibatkan. Tak hanya itu, Anton juga menangani konveksi yang melibatkan 7 orang. “Ada usaha warnet juga. Yang menjaga 1 orang,” imbuh pria yang berasal dari Desa Pontang Legon, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, itu.
Anton juga piawai melukis. Hasil lukisannya dijajakan digaleri di kawasan Braga, Bandung. “Di salah satu ruko. Di situ juga hasil karya teman-teman,” tambahnya.
Dunia seni makin kental selepas dia pulang bekerja dari Arab Saudi sekitar 2007. Di bergabung dengan anak-anak kreatif Pontang. Sejumlah pelatihan pun diikuti.”Setelah itu dengan modal sedikit mencoba memasarkan dan ikut pameran,” ujar Anton yang mengambil S1 mulai 2008 itu.
Anton juga aktif di wadah yang bernama Tirtadaya. Awalnya, bersama 3 orang lainnya, Anton mengembangkan Tirtadaya. “Ada 10 item yang saat ini dilakukan Tirtadaya. Di antaranya keagamaan. Di sini ada pondok pesantrennya. Ada kerajinan. Ada lukisan. Buka klinik juga. Anggotanya sekarang 1000 orang. Rencananya habis Lebaran nanti dinotariskan dan bikin sekolah. Tirtadaya melakukan pembinaan kepada masyarakat,” terangnya.
Tirtadaya hidup dari anggotanya. “Misalnya dari usaha kerajinan, 20 persen untuk Tirtadaya,” katanya. Di Tirtadaya, anggotanya saling belajar. Mereka di antaranya berasal dari mahasiswa sejumlah kampus. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: