Beranda > TKI SUKSES > Semangat Belajar Menyala, Cari Beasiswa, Siap Kuliah hingga S3

Semangat Belajar Menyala, Cari Beasiswa, Siap Kuliah hingga S3

SEMANGAT untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi selalu diusung Rofiah. Keinginan perempuan asal Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, itu tak lekang oleh waktu dan tak pudar meski telah merantau ke Arab Saudi selama dua tahun.’’Saya bekerja di Arab Saudi bukan cita-cita. Setelah menyelesaikan SMA, saya ingin melanjutkan pendidikan, ingin kuliah. Tapi terbentur biaya. Memang orangtua minta saya meneruskan pendidikan. Tapi, ketika itu, saya realistis. Ibu adalah ibu rumah tangga. Bapak, wiraswasta. Masih ada adik-adik yang sekolah,’’ ujar anak kedua dari lima bersaudara itu ketika dihubungi INDOPOS, Jumat (29/7).
Rofiah memutar otak agar bisa melanjutkan pendidikan.’’Saya terpaksa berangkat bekerja. Saya hanya ngikut saja. Ditempatkan di Riyadh. Niatan saya pergi, cari modal untuk bisa kuliah. Awalnya keluarga tidak mengizinkan berangkat, tapi saya jelaskan. Meski berat, akhirnya membolehkan,’’ ujar Rofiah yang bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga pada 2007 hingga 2009 itu.
Mengumpulkan uang dengan bekerja di luar negeri tak seindah yang dibayangkan Rofiah. Bayangan awal, setelah bekerja, gaji dapat diterima langsung.’’Setahu saya dalam kontrak setelah bekerja, sebulan dapat gaji. Begitu seterusnya. Artinya, gaji aturannya dibayarkan setiap bulan. Namun, setelah satu bulan, saya minta gaji ke majikan, karena itu merupakan hak, tidak dikasih. Sampai 3 bulan tidak dikasih juga. Sampai 8 bulan, bahkan 11 bulan. Baru bulan ke-14 dibayar. Itupun hanya dikasih gaji tiga bulan dulu,’’ cerita Rofiah.
Sebenarnya, Rofiah bukan tanpa perjuangan untuk mendapatkan gaji. Berbagai langkah dilakukan supaya mendapatkan haknya.’’Saya telepon kantor KBRI yang ada di sana. Sampai tiga kali, tapi tidak ada kabar yang menggembirakan. Bahkan kadang dijawab, sebentar ya lagi sibuk. Kadang dijawab, ditanya namanya siapa, tapi tidak ada tindak lanjut. Saya juga menghubungi agen yang memberangkatkan saya, tapi dilempar ke KBRI,’’ terangnya.
Lantaran haknya susah didapat, Rofiah juga beberapa kali minta pulang kepada majikannya. Selain itu, dia ingin mengejar supaya dapat mendaftar masuk perguruan tinggi segera. ’’Setelah sudah dua tahun, saya boleh pulang. Kontraknya 2 tahun. Tapi ada gaji yang belum dibayarkan. Bayangan saya kerja di Arab Saudi tidak seperti ini. Apalagi di sana mayoritas muslim, pikirku tidak sampai segitunya. Saya pulang 5 Agustus 2009,’’ jelas Rofiah yang saat bekerja bisa berkirim uang ke kelaurganya.
Setelah sampai di Indonesia, api untuk melanjutkan pendidikan masih terus menyala.’’Saya cari info. Tanya ke teman-teman juga. Tapi sudah telat. Misalnya di Untirta (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Red) dan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, Red), sudah telat. Sembari nunggu pendaftaran kuliah 2010, saya ikut kerajinan dan kursus bahasa Inggris,’’ tegas lulusan SMA pada 2006 itu.
Rofiah bergabung dengan kerajinan yang dibina oleh Tirtadaya.’’Bikin celengan dari pasir. Lumayan ada pemasukan. Inginnya bisa mandiri, tapi saya masih belajar. Ikut pameran dan memasarkan kerajinan,’’ imbuh Rofiah yang ketika SMA dulu membantu mengajar ekstra kurikuler di madarasah ibtidaiyah (SD) itu.
Setelah menunggu, keinginan Rofiah untuk kuliah terwujud pada 2010. Rofiah masuk IAIN Banten.’’Saya mengembil ekonomi syariah. Sebenarnya SMA saya jurusan IPA. Tapi saya melihat prospek ke depan. Kalau bahasa Inggris sudah kursus,’’ tambah perempuan kelahiran 1987 itu.
Pendidikan di mata Rofiah sangat penting. Oleh karena itu, dia tak pernah surut untuk meneruskan kuliah.’’Dengan pendidikan, apa yang tidak tahu menjadi tahu. Apalagi di era globalisasi, persaingan begitu ketat. Persaingan di daerah saja ketat, apalagi di level nasional, regional, dan internasional. Kalau mengandalkan uang akan habis. Makanya, keinginan saya untuk belajar tidak surut, terus berusaha. Dengan pendidikan akan lebih baik meski tidak punya, yang penting punya semangat untuk melanjutkan sekolah,’’ ungkapnya.
Selain rutinitas kuliah, Rofiah saat ini juga masih menyempatkan mengajar di salah satu madrasah tsanawiyah (SLTP) dan ikut kerajinan.’’Lumayan ada pemasukan. Dan alchamdulillah sekarang dapat beasiswa,’’ ujar Rofiah yang indeks prestasinya pada semester satu 3,30 itu.’’Untuk yang semester dua, belum saya lihat,’’ imbuh gadis yang kini duduk di semester tiga. Dengan berbagai kesibukan itu, Rofiah mengaku resepnya pintar-pintar mengatur waktu. Kegiatan yang penting menjadi prioritas. ’’Pilih kegiatan yang bisa mendukung perkuliahan. Ingin kuliah selesai dulu,’’ kata perempuan yang masih lajang tersebut.
Lalu apa rencana ke depan? Rofiah ingin selalu lebih baik dari sebelumnya. Termasuk soal pendidikan. Kalau ada beasiswa dan biaya, dia akan meneruskan kuliah hingga S3.’’Kalau ada beasiswa saya siap sampai S3. Meski nanti sudah berkeluarga, saya ingin terus melanjutkan sekolah,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: