Beranda > TKI SUKSES > Jadi Trainer Sepatu, Sudah Membekali 5 Ribu Peserta

Jadi Trainer Sepatu, Sudah Membekali 5 Ribu Peserta

BAYANGAN Nanang pergi bekerja ke Taiwan kali pertama adalah mencari modal untuk merintis usaha di tanah air.  Ini tentu seperti para tenaga kerja Indonesia (TKI) kebanyakan.  ’’Saat kuliah, saya berpikir, nanti selepas kuliah bisa kerja mandiri. Tidak ikut orang. Ingin cari-cari modal, selanjutnya mengembangkan usaha sendiri,’’ kata Nanang, salah seorang finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010 itu. Namun, kenyataan berbicara lain. Sebab, lulusan Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta pada 2000 itu hanya bekerja satu tahun pabrik besi di Taiwan.
’’Promosi awalnya agen 2 tahun. Tapi, setelah sampai tanda tangan kontrak, hanya 1 tahun. Ya sudah, mau tidak mau saya ambil. Saya bekerja pada 2003. Dalam benak, dua tahun, lumayan untuk mengumpulkan modal. Kalau satu tahun, istilahnya bakbuk (impas, Red),’’ ujar pria yang tinggal di Desa Kedensari, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, itu ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (7/8).
Meski hanya setahun di Taiwan, ada beberapa pelajaran yang menarik yang didapat di sana. Kebanyakan yang pergi menjadi tenaga kerja Indonesia ke luar negeri tidak dibekali skill. Nanang juga mengaku bekerja di manufaktur tidak ada bekal yang diberikan agen saat mau berangkat. Masih banyak yang hanya mengandalkan fisik dan yang penting sehat. Itu saja.
’’Di Taiwan saya melihat para perempuan asal Filipina banyak bekerja di pabrik. Tapi yang dari Indonesia banyak yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau sektor domestik. Jika mempunyai skill (keahlian), kan bisa bekerja tidak di sektor pembantu rumah tangga,’’ jelas pria kelahiran 2 Mei 1978 tersebut. Menurutnya, jika mempunyai skill, tentunya pendapatan akan lebih baik. Apalagi bekerja di luar negeri. Selain itu, tentunya tidak dipandang sebelah mata.
Oleh karena itu, sepulang dari Taiwan, Nanang ingin dapat ikut memberi kontribusi memberi bekal keahlian kepada orang lain. Gayung pun bersambut. ’’Sedikit banyak saya tahu tentang pembuatan sepatu. Saya belajar otodidak. Nanya kepada teman-teman. Pada 2004 ada proyek dari Kementerian Perindustrian mendirikan balai pelatihan khusus alas kaki di Sidoarjo, saya ikut. Awalnya tidak sebagai trainer, tapi sebagai operator mesin. Tapi belum setahun saya sebagai trainer. Ya bisa bantu teman-teman yang belum punya skill. Mereka dibekali pembuatan sepatu, seperti sol sepatu, menjahit sepatu, hingga assembling,’’ jelas pria yang saat ke Taiwan itu berangkat dari Jakarta.
Hingga saat ini, Nanang telah membekali sekitar lima ribu orang. Dari beberapa trainer yang membekali lima ribu orang itu, Nanang merupakan satu-satunya mantan tenaga kerja Indonesia. Sayang, keinginan Nanang agar para lulusan training itu bisa diserap ke luar negeri belum menjadi kenyataan. ’’Tidak tahu kenapa PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, Red) belum melirik. Padahal, setahu saya di luar negeri ada banyak perusahaan sepatu, seperi China. Mereka yang habis mengikuti training rata-rata diserap pasar domestik. Seperti sentra sepatu di Bandung, Jakarta, Medan, dan Sidoarjo sendiri. Saya pilih trainer sepatu, karena termasuk padat karya, banyak dibutuhkan pabrik,’’ terang bapak dua anak tersebut.
Pembekalan atau pelatihan tiap angkatan dilakukan rata-rata selama 20 hari. Setiap bulan, hampir ada pelatihan. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun. Dalam pelatihan itu, peserta langsung dibekali aplikasi pembuatan sepatu. ’’Untuk peserta, ada yang berasal dari pabrik. Jadi pabrik me-nerima pekerja yang belum punya skill, terus kami training. Peserta juga berasal dari informasi yang disebar dan dari teman-teman mereka. Hasil dari pelatihan ini, memang belum 100 persen terserap. Tapi, sebagian besar bisa memanfaatkan apa yang telah didapat. Sebagian besar terserap,’’ ungkap Nanang yang menikah pada 2004 dengan perempuan yang dikenalnya saat bekerja di Taiwan.
Di samping sibuk menjadi trainer, Nanang juga mempunyai usaha sepatu sendiri yang dikelola bersama istrinya. ’’Pembuatan sepatu ini dimulai pada 2008. Melibatkan sekitar 10 orang. Order dari toko grosiran, kami buatkan,’’  ceritanya.
Apa keinginan ke depan? Nanang masih menginginkan, para PJTKI tidak hanya membekali para calon TKI dengan seputar yang berhubungan dengan sektor domestik atau pembantu rumah tangga.’’Kenapa tidak dibekali dengan skill lain? Kalau punya bekal keahlian, bisa dihargai dan menjadi bargaining seseorang di luar negeri. Mereka yang punya skill, pendapatannya kan bisa meningkat,’’ pungkasnya.  (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: