Beranda > TKI SUKSES > Konveksi Berkembang, Ciptakan Banyak Lapangan Kerja

Konveksi Berkembang, Ciptakan Banyak Lapangan Kerja

KONVEKSI yang dirintis Siti Masrofah tak hanya membawa berkah perekonomian keluarganya. Namun, usaha tersebut mampu memberdayakan orang lain. Setidaknya 20 orang dilibatkan perempuan yang pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi tersebut. ’’Jelang Lebaran seperti sekarang ini konveksi makin bagus, banyak order,’’ ujar mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tinggal di Desa Sukareja, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, itu ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (5/8).
Bahkan jika pekerjaan konveksi membutuhkan banyak tenaga, karena banyaknya order, jumlah tenaga yang dilibatkan bisa lebih dari 20 orang.’’Kami juga menggarap seragam pegawai sejumlah perkantoran dan sekolah,’’ ujar perempuan kelahiran 1968 itu.
Konveksi digarap Ofa—panggilah akrab Siti Masrofah—tiga tahun terakhir ini. perkembangannya cukup lumayan. Awal merintis usaha ini, Ofa tak tanggung-tanggung.’’Membeli 14 buah mesin jahit, mesin bordir, dan cari tenaganya. Banyak tenaga yang bisa menjahit berasal dari Brebes. Tempatnya di rumah. Kebetulan ada dua lantai yang kosong. Saya memanfaatkan untuk konveksi,’’ jelas perempuan yang menikah pada 1990 dan kini dikaruniai dua anak; seorang duduk di bangku kuliah dan kini masuk semester tujuh, sedangkan seorang lagi duduk di bangku SLTA.
Tak hanya itu, dia juga berjualan bahan-bahan pakaian.’’Buka obral pakaian jadi juga. Jual pakaian murah di rumah. Ya seperti pasar murah. Ada toko pakaian juga di kota, tempatnya dekat mal di Indramayu,’’ ujar perempuan yang bekerja sekitar tiga tahun di Thoif, Arab Saudi tersebut, mulai 1987.
Lulusan SLTA pada 1986 itu berharap, konveksinya ke depan lebih maju.’’Saat saya ke Abu Dhabi dan Arab Saudi, saya sempat menawarkan ke sejumlah mal di sana. Mereka tertarik, tapi harganya belum cocok. Sementara ini hasil konveksi dipasarkan di Indramayu dan sekitarnya,’’ terang finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010 yang rumahnya terletak di belakang kantor Polsek Balongan, Indramayu, itu.
Konveksi ditekuni Ofa, menyusul usaha rekrutmen calon TKI yang digelutinya menurun. Ofa menekuni dunia Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) setelah beberapa waktu pulang dari Arab Saudi.’’Ketika pulang, saya belum berpikir mau usaha apa. Ya, ketika itu bikin rumah dari hasil di Saudi. Oktober 1990 saya menikah. Setelah itu saya mencari kesibukan. Saya menerima kredit barang-barang elektronik, perlengkapan rumah tangga. Usaha ini berkembang dari mulut ke mulut sampai ke luar desa. Suatu ketika, ada bos saya, PT Binawan, yang minta saya untuk mencarikan calon TKI. Awalnya saya tolak, karena merasa tidak bisa. Tapi, akhirnya saya terima, karena diyakinkan dia, saya mampu. Saya jadi petugas lapangan di PT tersebut, sekarang namanya PT Amri,’’ ungkap Ofa panjang lebar.
Oleh karena kesibukannya di PJTKI, padat dan lancar, usaha pengkreditan barang-barang elektronik dan pakaian mulai dikurangi.’’Hanya menerima yang pesan-pesan saja. Saya fokus di PJTKI (dulu perwakilan daerah), mulai 1994. Cari calon TKI yang ke Arab Saudi. Ada sedikit keahlian bahasa Arab dan keberanian. Itu modal saya,’’ jelasnya.
Namun dalam perkembangannya, Ofa menerima tantangan baru, pindah ke PJTKI lain, PT Muhasatama Perdana.’’Kantor pusatnya di Bekasi. Saya dipercaya sebagai nakhoda kantor cabang di Indramayu. Sudah 9 tahun. Sampai sekarang. Berkembang pesat mulai 2002. Tapi pada 2009, menurun. Dulu per bulan bisa memberangkatkan 150 hingga 200-an calon TKI. Belakangan ini hanya 25 orang. Itu sudah bagus,’’ terang Ofa yang pada 1989 pulang dari Saudi dan setelah beberapa bulan di Indonesia, balik lagi ke Saudi selama 4 bulan, kemudian harus pulang lagi, karena situasi Timur Tengah ada gejolak perang. Ofa mengaku kalau usaha selain PJTKI berkembang, dia ingin meninggalkan dunia PJTKI. ’’Capek. Belum lagi kalau ada persoalan. Keluarga atau orangtua mereka datang ke sini,’’ imbuhnya.
Selain konveksi, Ofa juga membuka jasa travel umrah. Dia ingin jasa ini semakin maju.’’Sudah lama dan sudah beberapakali memberangkatkan. Tapi, lebih fokus setelah PJTKI menurun. Suami dorong. Saya mau maju. Namanya M Travel,’’ kata perempuan yang juga pernah membuka usaha ketering yang melibatkan 10 tenaga kerja, namun hanya bertahan sekitar satu tahun, karena hasil yang didapat tidak sesuai.
Ke depan, Ofa berharap, dapat lebih memberdayakan warga sekitar.’’Saya ingin bisa bantu-bantu para pemuda sekitar yang punya skill. Di rumah ini mereka sering ngumpul. Apalagi kalau ada garapan,’’ tambahnya. Ofa juga mengaku disorong maju menjadi calon kepala desa setempat.’’Nanti pelaksanaannya pemilihan kuwu (kepala desa) Desember. Tapi saya belum berminat. Tidak tahu nanti. Saya ini orangnya tidak suka terikat. Kalau bisnis kan bebas, semau saya,’’ jelas perempuan yang aktif di salah satu partai besar di tingkat Kecamatan Balongan itu. (zul)

Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: