Beranda > TKI SUKSES > Aktif sebagai Trainer, Ingin Dirikan Sekolah Gratis hingga SMA

Aktif sebagai Trainer, Ingin Dirikan Sekolah Gratis hingga SMA

PERJALANAN hidup Maizidah Salas sungguh berliku. Bahkan sebagian penggalan hidupnya sangat memilukan. Namun, tak ada kamus patah arang bagi Saras—begitu panggilan akrabnya. Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu tegar dan melewati terjalnya hidup, hingga mengantarkan perempuan kelahiran Wonosobo, 10 Februari 1976 ini, seperti saat ini. ’’Saya menjadi TKI dua kali. Ke Korea Selatan sekitar 1996—hingga 1999. Gagal, praktis pulang tidak bawa uang. Setelah di rumah beberapa waktu, akhir 2001 pergi ke Taiwan hingga 2006,’’ ujar Saras ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (14/8).
Kepergian Saras ke luar negeri, bukan semata untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Lebih dari itu, perempuan yang saat pergi ke Korea Selatan mengaku belum lulus SLTA itu ingin melupakan persoalan yang melilitnya.’’Ada masalah dengan suami. Saya pergi ingin menghilangkan masalah itu. Ketika itu punya anak satu masih kecil, 19 bulan. Ketika ke Korea Selatan, anak ikut orangtua saya. Saya bercerai saat masih kerja di Korea Selatan,’’ jelasnya.
Setelah merasa gagal di Korea Selatan, Saras menaruh asa dengan pergi ke Taiwan. Namun, ternyata jauh dari bayangan. Setelah 3 bulan berada di penampungan di Jakarta, Saras berangkat, ditempatkan di sektor informal.’’Saya ditempatkan oleh agen di majikan yang jualan. Saya kerjaannya, nyuci daging babi, bikin acar yang dicampur daging babi. Paspor tidak boleh saya bawa. Tidak dibekali alat komunikasi. Di sini tiga bulan saya belum merasakan gaji,’’ cerita Saras.
Kondisi itu membuat Saras tidak betah. Dia pun tidak tinggal diam. Akhirnya agen memindahkan ke majikan lain. Namun, ini tidak bertahan lama. Sebab, masih berurusan dengan majikan yang pertama. ’’Katanya selama saya belum pulang kampung, dia tidak bisa dapat pengganti TKI. Padahal di majikan yang kedua ini, relatif enak. Mereka masih muda. Belum punya anak. Tugas saya menjaga rumah. Saya pun ditarik agen dengan alasan mau dipulangkan. Saya dapat 26 ribu dolar Taiwan. Tapi hanya dikasih 12 ribu. Yang 14 ribu katanya untuk jaminan,’’ terang perempuan asal Tracap, Kaliwiro, Wonosobo, Jawa Tengah, itu.
Merasa tidak nyaman dan dirugikan, Saras memilih kabur sebelum dipulangkan. ’’Sekitar dua tahunan, saya numpang sana sini. Ketemu teman, numpang di teman. Paspor tidak pegang lagi. Ketemu calo Indonesia, ditipu. Akhirnya sampai di Hope Workers Center Taiwan. Di sini, mereka yang kabur belum lama, bisa dibantu.’’Tapi, karena kaburnya saya sudah 2 tahunan, tidak bisa dibantu. Di tempat ini, saya belajar banyak. Belajar organisasi. Sembari bekerja, saya bantu-bantu di Hope Workers Center selama tiga tahunan. Saya senang, karena bisa bantu-bantu para TKI. Bahkan dapat penghargaan dari Hope Workers Center Taiwan. Dapat sertifikat sebagai pekerja sosial, mau bantu-bantu tidak dibayar tiga tahun berturut-turut,’’ ungkap Saras yang mengaku baru berani menceritakan kondisinya di Taiwan kepada orangtuanya setelah satu tahun dan orangtuanya mengerti.
Saras mengaku, dirinya pulang dari Taiwan juga tidak bawa uang. Padahal, saat hendak ke Taiwan, orangtuanya menjual tanah untuk biaya keberangkatan. ’’Saya pulang ke Indonesia setelah tertangkap aparat. Di penjara 18 hari, kemudian pulang ke Indonesia pada 2006. Di rumah, saya bingung mau ngapain. Apalagi ngertinya sejumlah tetangga, kalau dari luar negeri bawa uang banyak. Akhirnya saya utang bank, buka konter HP. Setelah bertemu beberapa perempuan yang suka organisasi, muncul ide mendirikan wadah Solidaritas Perempuan Migran Wonosobo.  Saya jadi ketuanya. Sedangkan lonter HP akhirnya gulung tikar,’’ terangnya.
Setelah lima bulan, bergabung dan melebur masuk ke Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI). Saras kemudian ditarik ke Dewan Pimpinan Nasional (DPN) SBMI di Divisi Pengembangan Ekonomi sampai November 2010. Ketika masuk ke DPN, di SBMI Cabang Wonosobo, Saras tidak ketua lagi, diganti orang lain. Baru setelah tidak di DPN, dipercaya jadi ketua SBMI Cabang Wonosobo lagi hingga sekarang.
Tekad Saras berjuang di jalur sosial kian mantap. Dia bertekad untuk memperjuangkan nasib para TKI yang tertindas. ’’Saya melihat banyak anak TKI yang masih kecil butuh pendidikan. Kebetulan ada donatur juga. Kemudian saya ada ide mendirikan pendidikan anak usia dini (PAUD). Tempatnya di rumah saudara yang tidak ditempati. Saat ini ada 27 anak. Mereka belajar gratis. Ditangani 3 tutor,’’ kata Saras yang mengaku dibantu pacar yang dikenalnya di Taiwan untuk mendapat ijazah Paket C kemudian melanjutkan kuliah di Hukum Perdata Universitas Bung Karno, Jakarta, dan kini duduk di semester 6.
Saras yang mengaku trauma dan butuh waktu 10 tahun setelah pacaran untuk memutuskan menikah lagi itu terus membekali diri dengan sejumlah pelatihan dan membaca. Kini, Saras yang menikah lagi pada 14 Juli 2010 dengan pria asal Banyuwangi yang juga aktif di DPN SBMI itu banyak mengisi training. ’’Trainer trafficking, HIV/AIDS, dan migrasi yang aman. Saya juga dapat master trainer financial education atau cerdas anggaran,’’ imbuh kandidat master trainer Start and Improve Your Business (SIYB).
Bagi perempuan yang kini lagi mengandung itu, dalam hidup yang terpenting adalah bisa bermanfaat bagi orang lain.’’Kekayaan bukan utama, tapi bagaimana bisa membantu sesama. Ke depan saya ingin mendirikan SD, SMP, dan SMA gratis. Ingin punya yayasan untuk kegiatan-kegiatan sosial,’’ pungkas perempuan yang kini masuk nominasi Indonesia17 kategori ilmu dan mengajar yang digelar Yahoo!. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: