Beranda > TKI SUKSES > Dari Wedding Organization hingga Budi Daya Jamur Kuping

Dari Wedding Organization hingga Budi Daya Jamur Kuping

TIDAK ingin berlama-lama bekerja kepada orang lain. Itulah tekad Ridho Setiawan. Memang, selepas menyelesaikan D3 Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta pada 2000, dia pernah bekerja di Jepang selama tiga tahun.’’Sebelumnya memang saya kursus bahasa Jepang. Sekitar satu bulan setelah lulus kuliah di Universitas Sebelas Maret, saya berangkat bekerja ke Jepang. Kerja di bidang elektronik. Istilahnya magang. Saya tertarik bekerja di luar negeri, karena ada beberapa saudara yang pergi ke luar negeri,’’ ujar pria yang tinggal di Wungusari, Gayam, Sukoharjo, Sukoharjo, Jawa Tengah, ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (9/8).
Baru setahun di Jepang, pria kelahiran 1978 itu mulai merintis usaha. Dia mulai mewujudkan keinginannya.’’Ketika itu yang menjalankan adik saya. Usahanya,  WO (wedding organization, Red). Bidang ini dulu pernah ditekuni orangtua. Tapi sudah lama vakum, 10 tahunan,’’ imbuh anak keenam dari tujuh bersaudara itu. Perlahan namun pasti, usaha tersebut berjalan. Berkembangnya WO, menurut Ridho, tak lepas dari media mulut ke mulut.’’Tidak pernah promosi iklan,’’ tambah pria yang menikah pada 2006 tersebut.
Tidak hanya area desa, WO yang makin berkembang setelah dipegang Ridho langsung, gaungnya sudah menembus level kabupaten. Bahkan saat ini telah dikenal di tingkat karesidenan.’’Kalau di Jakarta, ya mungkin Jabodetabek. Saya pulang dari Jepang, saya pegang langsung. Adik saya yang sebelumnya memegang, punya usaha sendiri. Apa yang saya dapat dari Jepang, tidak untuk usaha semua. Saya bisa pergi haji bersama kedua orangtua,’’ jelas Ridho.
Dalam menjalani usaha, Ridho berusaha untuk total. Keuntungan dari usaha terus dikembangkan.’’Kuncinya disiplin. Selain itu, harus turun tangan, sampai paham betul usaha tersebut. Tidak sebatas secara teori, tapi dalam praktiknya paham. Ini berguna untuk menghindari tipuan. Di WO ada sekitar 20 tenaga kerja. Ini orang-orang baru semua. Yang tak kalah pentingnya adalah melihat prospek ke depan terlebih dahulu. Minimal dua tahun ke depan, usaha itu prospeknya bagaimana?,’’ ungkap bapak yang kini dikaruniai dua anak tersebut.
Ridho juga menjaga kualitas. Setidaknya kualitas standar. Jadi tidak buruk. Ini diimbangi dengan harga yang berani bersaing. ’’Harga relatif murah. Jalannya bagus. Di sini di antaranya melayani dekorasi, rias, video shooting, dokumentasi foto, pre wedding, tenda, sound system, dan hiburan. Kami tidak melayani katering, ribet cari tenaga dan ngontrolnya. Kalau ada yang order katering, saya lempar ke yang lain’’ kata Ridho yang dalam perjalanan menangani usaha WO bekerja sama dengan kakaknya yang juga pernah bekerja di luar negeri.
Tak sebatas WO. Ridho sendiri juga merintis budi daya jamur kuping. Usaha ini sudah dijalankan satu tahun belakangan ini. Kini ada sekitar 8 ribu jamur.’’Empat puluh hari panen. Dulu modal awal sekitar Rp 9 juta, terus dikembangkan. Awalnya punya 3 ribu jamur. Usaha ini 3 bulan sudah balik modal. Jamur kuping ini bisa dijual kering dan basah. Yang kering harganya jauh lebih mahal. Untuk mengeringkan, biasanya hanya butuh waktu dua hari. Menjualnya juga tidak kesulitan. Ada pengepul. Saya larikan ke Semarang, karena harganya cukup tinggi,’’ terangnya.
Kalau di WO, Ridho tinggal memonitor jalannya usaha, sedangkan di budi daya jamur, masih ditangani langsung.’’Memang ada dua orang yang saya libatkan untuk usaha jamur ini. Ada seorang lagi, tapi freelance. Dia juga ngurus ternak kambing. Tidak banyak kambing. Awalnya membantu sejumlah orang. Di sini ada kandangnya sendiri. Sementara 6 ekor,’’ jelasnya.
Dengan beberapa usaha yang dijalankan itu, Ridho belum merasa puas. Dia ingin terus mencari prospek sejumlah usaha yang ingin dijalaninya. Di antaranya budi daya lele.’’Ibarat usaha itu kita naruh telur di mana-mana. Jadi kalau ada telur pecah atau busuk, masih punya yang lain. Apalagi menghadapi pesaing. Di WO, beberapa orang yang dulu ikut saya, sudah menjalankan usahanya sendiri-sendiri. Satu sisi senang juga, karena mereka berkembang. Sisi lain, mereka jadi pesaing saya. Oleh karena itu, menjaga kepercayaan dan menguasai bidang pekerjaan sangat penting,’’ ungkapnya.
Apa usaha modal segala-galanya? Modal menurut Ridho penting. Tapi yang lebih penting adalah mau berusaha. ’’Jika berusaha dengan maksimal, semua gampang. Apalagi kalau usaha sudah terlihat jalan. Banyak yang datang menawarkan modal. Oleh karena itu, bagi saya saat ini tidak perlu merantau ke luar negeri untuk bekerja. Apalagi kalau tidak punya bekal ke sana. Lebih baik memaksimalkan yang ada di daerahnya masing-masing. Jadi bisa mengembangkan desanya masing-masing,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: