Beranda > TKI SUKSES > Keluarga Nomor Satu, Kelola Foto Kopi dan Toko ATK

Keluarga Nomor Satu, Kelola Foto Kopi dan Toko ATK

KELUARGA bagi Henny Yusiati adalah nomor satu. Dengan alasan keluarga dia bertekad tak akan berlama-lama merantau ke Hongkong.’’Berhasil atau tidak berhasil, cukup dua tahun bekerja, sesuai dengan kontrak,’’ tegas perempuan yang kini tinggal bersama suami dan kedua anaknya di Gunung Terang, Labuhan Ratu, Labuhan Ratu, Lampung Timur, Lampung. Padahal, majikan dia di Hongkong ketika itu sudah menawarkan agar kontrak diperpanjang.
’’Majikan saya baik. Saya bertugas merawat anaknya. Saat awal-awal bekerja, mereka membimbing saya cara merawat anak mereka. Anaknya yang saya asuh masih sekolah. Anak itu juga mengajari saya bahasa Kantonis. Sampai sekarang saya masih bisa bahasa itu. Padahal dulu waktu berangkat pada 2000, saya tidak bisa bahasa Kantonis sama sekali. Ke sana juga tidak ada pembekalan khusus. Setelah di penampungan sekitar satu bulan, saya berangkat ke Hongkong,’’ terang istri Keman ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (11/8).
Sebelum berangkat ke Hongkong, Keman sudah terlebih dulu menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan. Ketika itu, menurut Henny, kontrak suaminya tinggal setahun. Namun, perusahaan di mana Keman bekerja pailit. Intinya, meski suami bekerja di luar negeri, kondisinya tidak sesuai harapan.’’Ketika itu saya ikut mertua di Way Jepara, Lampung. Kami meski sudah berkeluarga dan punya anak, belum punya apa-apa. Paling saya ke ladang cokelat. Itu pun kepunyaan mertua. Akhirnya saya memutuskan ke Hongkong. Cari modal. Tapi, demi keluarga saya batasi, hanya dua tahun saja,’’ jelas salah seorang finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010 itu.
Ketika berangkat, perempuan kelahiran 1977 ini baru mempunyai seorang anak. Umurnya 1,5 tahun. Anaknya kemudian dititipkan ke orangtua Henny yang tinggal di Lampung Timur juga.’’Ketika itu orangtua masih hidup. Sekarang sudah meninggal semua. Terakhir bapak yang meninggal. Ini baru sekitar 40 harinya. Saya bisa seperti ini ya berkat orangtua,’’ jelas perempuan yang menikah pada 1997 itu.
Setelah di Hongkong sekitar satu tahun, bapak Henny, Sidik, memberi informasi ada kios di pasar.’’Bapak tanya saya, tertarik tidak untuk beli kios. Lokasinya ada di depan dan di belakang. Harganya beda jauh. Tapi, bapak tidak memberi tahu lokasi detail tempat kios tersebut. Saya langsung setuju membeli yang di bagian depan. Pikir saya, seandainya nanti tidak bisa untuk usaha, kalau yang di bagian depan, bisa dijual lagi. Harganya Rp 20 juta,’’ terang lulusan SMEA itu.
Saat membeli kios itu, Henny sengaja tidak memberitahukan ke suaminya. Uang untuk membeli kios tersebut ditransfer dan diurus oleh Sidik. ’’Setelah suami pulang dari Taiwan, sebenarnya ingin bekerja ke luar negeri lagi. Namun saya tidak setuju. Karena kalau pergi lagi, nanti saya pulang dari Hongkong tidak bertemu. Bagaimana keluarga begini. Bisa berantakan. Suami pun tidak jadi berangkat. Dia di rumah, ke ladang,’’ ungkap perempuan yang keluarganya berasal dari Tulungagung, Jawa Timur, itu.
Setelah pulang dari Hongkong, Henny sebenarnya menaruh asa ke kios yang telah dibelinya. Namun, begitu dilihat, kios yang dibelinya belum jadi.’’Saya bilang ke yang bangun, kalau sampai awal 2003 tidak jadi, saya menarik diri. Akhirnya kios itu selesai dan bisa digunakan. Kios itu di pasar desa. Kini disebut pasar TKI. Ketika itu saya buka foto kopi. Suami awalnya tidak mau, karena tidak ada pengalaman untuk usaha. Tapi, akhirnya mau dan sampai kini yang nangani suami,’’ imbuhnya.
Usaha foto kopi yang dirintis Henny tidak mulus. Bahkan, dia mengaku sempat rugi banyak. ’’Ceritanya, ada mesin foto kopi dilelang, lengkap. Harganya beserta peralatan lengkap Rp 25 juta. Kalau ada apa-apa dengan mesin, merek itu yang nanggung. Tapi, merek yang satu ini sistemnya saya harus bayar berdasarkan kertas yang jalan di situ. Motong dari situ. Saya pikir-pikir rugi. Itu sudah berjalan 5 bulan. Suami sudah mau menyerah. Tapi, kalau berhenti, makan apa nanti. Kami putuskan mengembalikan lagi itu mesin. Ini rugi jelas. Tapi, mau bagaimana lagi. Kami beli mesin foto kopi merek lain. Ketika itu harganya Rp 7,5 juta. Dari nol lagi. Modal yang saya dapat saat di Hongkong habis,’’ terangnya.
Perlahan namun pasti, usaha itu pun berkembang. Untuk mesin kopinya sudah 3 unit. Di toko ini, juga dijual peralatan tulis dan kantor.’’Mesin kopinya sudah yang bagus. Kertasnya nyusun sendiri. Kami mengembangkan dengan jual ATK (alat tulis kantor). Kalau hanya mengandalkan foto kopi ya, sedikit. Di sini juga ada satu tenaga yang dipekerjakan. Dari usaha di kios ini, saya bisa beli rumah yang tak jauh dari pasar. Di seberang jalan, saya juga bangun kios. Tapi saya sewakan untuk Indomaret 10 tahun. Nanti, kalau sudah selesai, saya mau buat usaha sembako,’’ jelasnya.
Semua itu, lanjut Henny yang mengurus suami. Dia hanya membantu saja.’’Saya fokus ke anak. Anak saya sekarang dua. Yang satu sudah SMP, yang satu masih kecil. Saya tidak ada pembantu, wong dulu jadi pembantu di Hongkong. Ya, saya asuh sendiri langsung. Waktu saya ada undangan ke Jakarta acara finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010, saya izin nggak datang, karena ada anak saya yang sakit. Bagi saya keluarga adalah segalanya,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: