Beranda > KEMENAG > Survei Membuktikan Pelayanan Haji Memuaskan

Survei Membuktikan Pelayanan Haji Memuaskan

Terbit di Koran harian pagi INDOPOS tanggal 17 Agustus 2011

MUSIM haji tahun ini segera tiba. Kamis lalu (11/08), Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) mengumumkan besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1432H sesuai dengan embarkasi/daerah domisili calon jamaah. Calon jamaah haji regular (bukan haji khusus) yang mendapatkan porsi untuk berangkat haji tahun 2011 ini harus segera melakukan pembayaran pelunasan BPIH tersebut di Bank Penerima Setoran (BPS-BPIH) penerima setoran semula. Waktunya mulai tanggal 15 sampai dengan 26 Agustus 2011, pada setiap hari kerja pada jam 10.00 – 16.00 WIB (11.00 – 17.00 WITA dan 12.00 – 18.00 WIT).

Suryadharma Ali

Pada setiap kali penyelenggaraan ibadah haji, wacana kualitas pelayanan penyelenggaraan selalu menarik untuk disimak. Bagaimana  kualitas pelayanan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1431H/2010M lalu?
Kemenag kembali meraih capaian yang membanggakan. Ini dibuktikan oleh hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait penyelenggaraan haji 1431H/2010 M yang dilaksanakan oleh Kemenag.
Secara umum, jamaah haji Indonesia mengaku puas dengan pelayanan dalam penyelenggaraan ibadah haji oleh Kemenag. Demikian terungkap dari hasil survei kepuasan jamaah haji yang dilakukan BPS. Pada rilis hasil survei tentang “Hasil Survei Kepuasan Jemaah Haji 1431H/2010”  yang digelar BPS di Gedung BPS Jakarta, Senin (8/8), terungkap bahwa indeks kepuasan jamaah terhadap penyenggaraan ibadah haji di Arab Saudi tahun 1431H/2010 mencapai 81,45 persen.
’’Aspek pelayanan dengan pemenuhan harapan tertinggi terdapat pada pelayanan petugas kloter sebesar 88,88 persen dan terendah terdapat pada pelayanan katering sebesar 73,39 persen,’’ kata Kepala BPS Rusman Heriawan saat memaparkan hasil survei BPS, Senin (8/8).
Rusman mengatakan, tujuan survei ini untuk mengetahui besarnya kesenjangan antara kepentingan dan kepuasan jamaah haji terhadap mutu dan pelayanan yang diberikan oleh pihak penyelenggara haji. Survei ini pun dimaksudkan untuk mengetahui variable atau dimensi kualitas layanan yang perlu ditingkatkan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Survei tersebut dilakukan terhadap 3.929 jamaah haji yang pengambilan sampelnya dilakukan secara purposive dan disusun berbasis kloter di setiap embarkasi.Dengan berbasis kloter, akan terpenuhi beberapa segmen. Di antaranya perwakilan jumlah sampel asal daerah atau embarkasi keberangkatan jamaah haji dan perwakilan pemberangkatan jamaah haji (gelombang I dan II). Selain itu, perwakilan daerah kerja PPIH Arab Saudi (Jeddah, Makkah, Madinah, dan Satop Armina) serta perwakilan sektor kerja atau maktab atau majmu’ah dari setiap daerah kerja. Besar sampel juga ditetapkan menurut daerah kerja (Jeddah, Mekkah, Madinah, dan Satop Armina), untuk menghindari respons rate kecil dan pemenuhan target sampel.
Aspek yang dinilai meliputi pelayanan petugas haji pada daerah kerja (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), pelayanan ibadah (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), pelayanan transportasi (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), dan pelayanan akomodasi atau pemondokan (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina). Selain itu, pelayanan katering (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), pelayanan kesehatan (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), dan pelayanan umum lainnya (informasi, administrasi, barang bawaan, dan dokumen di Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina).
Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Pengumpulan data kuesioner dilakukan dengan menyerahkan atau mendistribusikan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden (jamaah haji). Selain kuesioner juga wawancara, dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh petugas survei kepada responden dicatat atau direkam dengan alat perekam. Juga dengan observasi. Di mana pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan, perasa, dan pendengaran. Hasil observasi didokumentasikan  dalam bentuk foto.
Sedangkan teknik pengumpulan data dengan menggunakan data primer dan skunder. Data primer diperoleh melalui pengumpulan kuesioner dari jamaah haji terpilih sebagai sampel. Kuesioner telah dirancang dalam format yang menarik dengan pertanyaan yang jelas dan singkat. Adapun data skunder diperoleh dari objek penelitian, statistik jamaah haji, statistik petugas, data operasional haji tahun terkait dan tahun sebelumnya serta studi kepustakaan yang relevan.
Rusman mengemukakan, rincian indeks kepuasan jamaah per aspek pelayanan adalah sebagai berikut: pelayanan petugas kloter : 88,88 persen, pelayanan ibadah : 85,95 persen, dan pelayanan petugas nonkloter : 83,64 persen. Indeks kepuasan lima aspek pelayanan lainnya masing-masing: kepuasan terhadap pelayanan 83,15 persen, akomodasi atau pemondokan:79,95 persen, katering di Madinah : 79,83 persen, transportasi: 76,82 persen, dan katering Armina: 73,39 persen. ’’Ada saran dari jamaah bahwa perlu ditingkatkan koordinasi dengan petugas nonkloter, peningkatan kesiapan atau keberadaan petugas ketika dibutuhkan, peningkatan kualitas kamar, dan cita rasa serta variasi menu katering,’’ kata Rusman menambahkan.
Meski memuaskan, jamaah meminta adanya peningkatan kualitas penyelenggaran haji seperti katering, juru masak, kesigapan penyediaan dari sisi waktu dan tempat, kebersihan, dan cita rasa serta variasi menu.’’Kami berharap melalui hasil survei ini akan terjadi peningkatan mutu penyelenggaran haji Indonesia,’’ jelasnya lebih lanjut.
Menteri Agama Suryadharma Ali ketika menghadiri paparan hasil survei yang dilakukan BPS mengatakan bahwa masih adanya keluhan dari sebagian jamaah haji tentang masalah katering dapat dipahami. Makanan yang yang disajikan tidak dapat memenuhi selera semua jamaah haji. Disajikan secara prasmanan, tidak semua jamaah haji terlayani dengan baik. Antrean panjang karena mejanya tidak mungkin disediakan banyak karena alasan tempat. Bisa jadi yang di belakang tidak kebagian makanan sebanyak yang di depan, kata Menag. Namun, berbeda dengan penyajian dalam kotak (box), sistem prasmanan itu akan terhindar dari kemungkinan terjadinya makanan basi. ’’Kedua sistem itu ada kelebihan dan kekurangannya’’, kata Suryadharma. Tapi untuk 2011 ini, kami akan coba mengubah dari prasmanan ke nasi kotak (box) lagi katanya lagi menambahkan.‬ Untuk menghindari jamaah memakan nasi kotak yang basi, kotak makanan akan dibedakan dengan warna. ’’Atau, bisa juga kotak makanan itu diberi label atau ditulisi ‘pagi, siang atau malam’, untuk membedakan waktu makan bagi jamaah,’’ kata Menteri Agama Suryadharma Ali.
Suryadharma mengakui bahwa masalah katering bagi jamaah haji adalah persoalan krusial. Untuk itu perlu diperhatikan secara serius, termasuk ketepatan waktu dalam menyuguhkan katering bagi jamaah haji pada musim haji nanti.
Ditanya mengenai biaya survei oleh Kementerian Agama, Menag menegaskan bahwa BPS merupakan lembaga yang kredibel, dan kredibilitas itu dipertaruhkan jika survei itu tidak dilakukan secara objektif. Oleh karena itu, Menag meyakini bahwa bila faktanya buruk, maka  hasil yang disampaikan juga buruk. Demikian sebaliknya. ’’Jangan ditutup-tutupi, katakan bila baik tapi harus ada dasarnya.” Menag menegaskan pula bahwa penyelenggaraan haji bisa bagus dan memuaskan itu bukan semata-mata karena kerja keras, tapi karena adanya pertolongan dari Allah SWT. “Coba bayangkan, ratusan ribu jadi satu tidak saling kenal, tapi semua bisa tertib,’’ jelasnya. (adv/zul)

 

Iklan
Kategori:KEMENAG
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: