Beranda > TKI SUKSES > Perjuangkan Buruh Migran, S2 di Jerman, Ingin Jadi Dosen

Perjuangkan Buruh Migran, S2 di Jerman, Ingin Jadi Dosen

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 17 Agustus 2011

BURUH migran tampaknya begitu lekat dengan Dina Nuriyati. Ini tak lepas dari masa lalu dan aktivitas yang digeluti perempuan asal Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, tersebut. Dina mulai merantau ke Hongkong pada 1997. ’’Sebenarnya selepas SMA, saya ingin kuliah. Tapi melihat kondisi ekonomi orangtua, saya memutuskan bisa membantu dan nantinya bisa mengumpulkan uang buat kuliah. Kakak yang pertama sudah kuliah. Yang kedua sedang menyelesaikan kuliah, kalau saya ikut kuliah, khawatir kakak drop out. Orangtua memang hanya lulusan SD. Tapi, untuk anak-anak, mereka sebisa mungkin untuk memeroleh sekolah yang tinggi. Di samping petani, bapak menambah penghasilan dari menyopir,’’ cerita perempuan 6 bersaudara yang lulus SMA pada 1996 itu.
Di Hongkong, Dina bertugas mengurus anak majikan dan membersihan rumah. Setelah dua tahun, dia ingin pindah majikan. ’’Saya cari-cari informasi yang dapat bekerja, tapi dapat sampingan. Ada waktu untuk organisasi juga. Meski saya ikut organisasi, pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga tidak boleh terabaikan,’’ jelas Dina yang ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (16/8), berada di Malang untuk mudik menyambut Lebaran.
Pada hari libur Minggu, Dina memanfaatkan untuk kursus komputer. Di sini dia dapat dua ilmu. Di samping belajar komputer, tutor yang mengajarkan menggunakan bahasa Inggris. Dina pun dapat belajar bahasa Inggris juga.’’Satu kelas sekitar 40 orang, yang berasal dari Indonesia hanya dua orang. Kursus ini program kerja sama Indonesia Migrant Workers Union (IMWU). Di IMWU saya banyak belajar organisasi. Di sini ada pendidikannya, ada advokasinya. Ini organisasi serikat buruh, legal di Hongkong,’’ ungkapnya.
Di IMWU ini, Dina pernah dikirim ke Taiwan dan Nepal. Di Nepal, mengikuti konferensi dunia terkait HAM. ’’Saya bisa mengikuti ini, karena kalau pas lagi ada acara, saya ngambil libur mingguan saya. Tidak libur mingguan dulu beberapa waktu, diambil libur pas ada acara di organisasi,’’ terangnya.
Dengan berorganisasi, Dina tahu lebih banyak. Dia mengaku bisa mengembangkan diri, mengetahui hak-haknya sebagai pekerja atau buruh migran dan bagaimana berkomunikasi dengan majikan. Menurut Dina, pekerjaan pekerja rumah tangga itu butuh skill. Bagaimana cara memasak, mengurus anak, dan sebagainya. Makanya, para buruh migran yang ditempatkan di sektor domestik, harus dibekali skill dulu. ’’Di IMWU saya juga banyak teman dan tambah skill,’’ imbuhnya. Selain itu, Dina juga mengambil pelajaran penting selama bekerja di Hongkong. Di samping kebersihan juga disiplin tinggi.
Dina pulang dari Hongkong pada 2001. Dia memutuskan pulang, karena ingin melanjutkan kuliah. ’’Tiga tahun pertama, gaji masih untuk keluarga. Baru tahun keempat, bisa nabung. Kalau kerja diterusin, tidak ada habisnya. Harus punya target,’’ ujarnya. Tidak lama berselang setelah pulang, karena bertepatan dengan pendaftaran perkuliahan, Dina langsung mendaftar di Universitas Kanjuruhan Malang. Dia mengambil bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. ’’Saya mengambil bahasa Inggris, karena bisa membuka kursus. Lumayan ada pemasukan. Selain itu, juga beli truk yang dioperasikan orangtua. Saya juga menunggu perpustakaan. Kuliah saya mandiri,’’ terang perempuan kelahiran 1978 itu.
Jiwa organisasi yang berhubungan dengan buruh migran juga tak bisa dia pisahkan. Pada 2001 ada pertemuan buruh migran di Jakarta. Akhirnya mendirikan Federasi Organisasi Buruh Migran Indonesia (FOBMI). Dina dipercaya menjadi ketua pusat FOBMI periode 2003—2005.’’Saya awalnya bolak-balik, Malang-Jakarta, karena kuliah di Malang. Bahkan sempat cuti satu semester. Tapi berusaha kuliah tetap jalan, dan bisa pegang amanat. Pada 2006 selesai kuliah. Pada 2005 bergabung di Dewan Pertimbangan Nasional Serikat Buruh Migran Indonesia hingga Juli 2011,’’ jelas perempuan yang menikah pada 2008 dan kini dikaruniai seorang anak itu.
Selepas S1, Dina bekerja di yayasan politik asal Jerman, Friedrich Ebert Stiftung (FES) Jakarta sebagai program officer Aceh selama 1,5 tahun. Setelah mendapat beasiswa belajar S2 di Jerman, Dina mengundurkan diri di FES. ’’Menempuh S2 di Global Labour University (GLU) jurusan Labour Policies and Globalization untuk kampus University of Kassel dan Berlin School of Economic di Jerman. Setelah selesai dengan gelar Master of Arts (M.A), diajak bergabung di International Center for Development and Development and Decent Work (ICDD) yang berkantor pusat di Jerman,’’ jelas perempuan yang tinggal bersama anak dan suaminya yang bekerja di kantor pengacara, di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu.
Meski aktivitasnya padat, ketika dihadapkan dengan keluarga, Dina memilih keluarga. Keluarga baginya nomor satu. ’’Waktu saya hamil, ada beberapa undangan di antaranya ke luar negeri, ada beberapa penelitian, tapi saya pilih hamil dulu. Begitu juga ketika anak masih menyusu dan butuh perhatian. Memang masih di SBMI, tapi dikurangi. Begitu juga di ICDD,’’ terang perempuan yang masih mempertimbangkan untuk menjadi dosen di Malang itu.
Apa harapannya ke depan? Dina mengaku ingin jadi dosen atau guru dan berjuang di jalur buruh migran.’’Kalau tidak bisa aktif di SBMI pusat ya di Malang. Di Malang dekat dengan orangtua,’’ harapnya. Dia juga berharap, mereka yang memutuskan menjadi buruh migran atau bekerja ke luar negeri bukan suatu keterpaksaan, tapi pilihan. Oleh karena itu, pemerintah harus menyediakan perangkat dan hak-hak mereka.’’Tidak asal ngirim orang. Siapa pun yang memutuskan berangkat ke luar negeri juga harus siap. Cari informasi lengkap. Menyiapkan diri sebaiknya-baiknya, termasuk kemampuan. Karena di luar negeri itu beda dengan di Indonesia. Makanya harus dipikir masak-masak sebelum berangkat,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: