Beranda > TKI SUKSES > Bukukan Perjalanan Hidup, Ingin Dirikan Yayasan untuk Dhuafa

Bukukan Perjalanan Hidup, Ingin Dirikan Yayasan untuk Dhuafa

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 19 Agustus 2011

USIA Jejen Nurjanah memang sudah kepala empat. Namun, semangat perempuan yang pernah menjadi buruh migran di Arab Saudi pada 1989-1991 dan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 2005 itu masih berkobar. Semangat membantu sesama, khususnya menangani kasus-kasus buruh migran di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. ’’Saya pergi ke Arab saat berusia 25 tahun. Ketika itu sudah menikah, anak dua, masih kecil. Berangkat, karena faktor ekonomi,’’ ujar perempuan yang kini berusia 43 tahun itu ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (18/8).
Ketika kali sampai di Arab Saudi, Jejen mengaku menangis tiga hari tiga malam. Dia ingin pulang ke Indonesia lagi. ’’Majikan kemudian minta tolong tenaga kerja Indonesia untuk mengajari saya bekerja. Selama bekerja, alhamdulillah tidak pernah mengalami kekerasan fisik,’’ ujar Jejen yang ketika itu belum bergabung dengan organisasi buruh migran dan belum tahu banyak hak-haknya sebagai buruh migran.
Setelah pulang, Jejen yang mengaku saat berangkat ke Arab Saudi tidak lulus SD itu, mulai ikut bersosialisasi dengan sejumlah organisasi. Di antaranya Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita yang berkantor pusat di Jakarta.’’Saya jadi pendamping lokal di daerah sini. Itu pada 1996. Saya melihat ada potensi yang belum dikembangkan. Saya juga berinteraksi dengan beberapa organisasi yang konsen memperjuangkan para buruh migran,’’ tegas perempuan yang dikaruniai seorang anak lagi, perempuan, beberapa waktu sepulang dari Arab Saudi.
Namun, lagi-lagi karena faktor kebutuhan ekonomi, pada 2005, Jejen berangkat menjadi buruh migran. Kali ini ke Abu Dhabi. Kepergian Jejen untuk kali kedua ini, lantaran dia harus memikirkan pendidikan anak-anaknya. ’’Setelah saya pulang dari Arab Saudi, beberapa waktu kemudian, suami pergi ke Arab. Tapi nafkah nggak kami dapat. Itu berlangsung 6 tahun. Padahal, kami butuh. Bahkan saya diceraikan,’’ ungkapnya.
Sayang, keinginan untuk mengumpulkan uang untuk menafkahi tiga anaknya tidak berjalan mulus. Di Abu Dhabi hanya bekerja sekitar satu minggu.’’Saya kena musibah. Jatuh dari lantai dua. Karena sakit dan tidak bisa bekerja, saya dibawa ke kantor perwakilan agen. Di tempat semacam apartemen ini saya bersama tenaga kerja Indonesia lainnya ditaruh dalam satu ruangan. Beberapa hari kami tidak diberi makan. Sungguh ironis. Saya yang sebelumnya ikut membantu perjuangan buruh migran yang bermasalah, sekitar 10 tahun, malah kena masalah,’’ terang perempuan yang tinggal di Desa Jambe Nenggang, Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, itu.
Namun, pengalaman berinteraksi dengan buruh migran sewaktu masih di Sukabumi dirasa sangat membantu. Suatu ketika, dia berhasil melobi staf kantor perwakilan agen, di mana Jejen dan beberapa orang disekap.’’Saya lobi, pinjam handphone pegawai situ yang berasal dari Filipina. Saya kontak Kobumi, Konsorsium Buruh Migran. Tak berapa lama kemudian, 1 mingguan, saya bisa pulang. Kabarnya setelah saya sampai ke Indonesia, kantor perwakilan itu juga digerebek polisi,’’ jelasnya.
Gagal mengais rezeki di Uni Emirat Arab, tidak membuat Jejen patah arang. Dia buka usaha makanan ringan dari uang hasil pinjaman. Jejen yang menikah lagi pada 2006 dengan pria beranak dua juga aktif di koperasi dan bersosialisasi lagi dengan organisasi buruh migran. ’’Pada 2007, resmi bergabung dengan Serikat Buruh Migran Indonesia. Saya malah dipercaya jadi ketua DPC Serikat Buruh Migran Indonesia Sukabumi. Sedangkan usaha saya bangkrut seiring naiknya BBM ketika itu,’’ kata Jejen yang pada 2011 ini masuk di Dewan Pertimbangan Nasional Serikat Buruh Migran Indonesia.
Pada 2006, Jejen yang kini telah mengatongi ijazah Paket C (setingkat ijazah SLTA) dan beberapa orang berhasil mendirikan TK Al Quran. ’’Jadi ada Taman Posyandu. Dari situ, mendirikan TK Al Quran. Terus kemudian berkembang. Ada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bina Keluarga Balita (BKB). BKB untuk ibu-ibu. Ada Balai Keluarga Lansia dan Balai Keluarga Remaja,’’ terangnya.
Taman Posyandu dan yang lainnya, tidak hanya untuk keluarga buruh migran atau mantan buruh migran. Tapi untuk umum di Desa Jambe Nenggang. Taman Posyandu saat ini melayani 67 balita, sedang PAUD untuk 2011 ini, ada 27 anak. Untuk menjalankan kegiatan-kegiatan tersebut, dibantu dana dari pemerintah. ’’Saya juga mengajar di TK tersebut. Kalau yang TK sudah 5 kali wisuda,’’ imbuh Jejen yang juga mendampingidan mengajar pada program keaksaraan Kementerian Agama Sukabumi.
Jejen juga terlibat di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Sukabumi. Selain itu sering menjadi nara sumber di sejumlah seminar dan diskusi.’’Juga testimoni terkait pengalaman saya sebagai buruh migran,’’ tambah perempuan yang mendapat penghargaan sebagai aktivis peduli perempuan dan anak pada 2008 dari bupati Sukabumi itu.
Aktivitas Jejen yang hobi menuliskan perjalanan hidupnya dan ingin dibukukan itu memang padat.’’Ke depan saya ingin ada kaderisisasi, saya sudah tua. Saya ingin juga mendirikan yayasan untuk membantu masyarakat dhuafa. Tapi masih terkendala dana dan lahan, belum ada tempat. Keinginan lain saya adalah ingin menguliahkan anak saya yang perempuan. Sekarang masih SMA. Kalau yang dua lainnya, sudah berkeluarga,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: