Beranda > TKI SUKSES > Kembangkan Koperasi untuk Berdayakan Mantan Buruh Migran

Kembangkan Koperasi untuk Berdayakan Mantan Buruh Migran

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 22 Agustus 2011

SIBUK mengurus koperasi. Itulah rutinitas yang dijalani oleh  Anik Sugiono dari 2007 hingga saat ini. Koperasi yang didirikan bersama-sama sejumlah mantan buruh migran itu bertujuan untuk memberdayakan para mantan buruh migran di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. ’’Pendirinya 20 orang,’’ ujar perempuan yang tinggal di Jombok, Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu.
Anik adalah salah seorang mantan buruh migran. Pada 2000 hingga 2003, dia merantau ke Malaysia. Saat berangkat kali pertama, Anik mengaku sebenarnya umurnya belum mencukupi. Namun, persyaratan umur itu dimanipulasi, sehingga bisa berangkat. Maklum, dia baru saja lulus SLTP. Karena melihat ekonomi keluarga yang memprihatinkan dan terpacu membantu ibunya yang single parent menyekolahkan adiknya, Anik memutuskan merantau ke luar negeri. Padahal, dia mengaku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tekad ini makin kuat setelah melihat sejumlah tetangganya yang juga menjadi buruh migran dapat mencukupi keluarga mereka.
’’Pada 2000 saya berangkat, kerja sebagai pembantu rumah tangga. Kontraknya sebenarnya dua tahun. Namun, baru sekitar satu tahun ,ada salah paham antara saya dan majikan. Ini dipicu komunikasi. Majikan saya pendatang dari India,’’ jelasnya ketika dihubungi INDOPOS, Sabtu (20/8). Setelah sempat pulang ke Indonesia pada 2001, beberapa  bulan kemudian, dia kembali lagi ke Negeri Jiran tersebut. Ini dilakukan, karena dia belum berhasil.
Anak pertama dari dua bersaudara itu tidak bekerja sebagai pembantu rumah tangga lagi. Kali ini dia kerja di restoran seafood. Di tempat baru ini, dia merasa lebih enjoy. Sebab, banyak teman-temannya, meski kebanyakan berasal dari Thailand. ’’Kerjanya pakai shift. Majikan orang keturunan. Majikan bisa Bahasa Melayu dan Inggris serta pandai bergaul,’’ terangnya. Setelah dua tahun bekerja, Anik memutuskan kembali ke Indonesia. Padahal, dia mengaku belum cukup mengumpulkan pundi-pundi ringgit. ’’Kalau bicara kerja, tidak ada habisnya, sampai kapan pun. Tapi, saya kemudian berpikir, seenak-enaknya kerja di negara orang, masik enak kerja di negara sendiri,’’ cerita perempuan kelahiran 1984 itu.
Hasil jerih payah Anik menjadi buruh migran terlihat. Selain membantu menyekolahkan adiknya, dia juga membantu membiayai anak angkatnya sejak 2001. Anak angkat ini diambil Anik dari saudaranya sendiri. ’’Selain bisa memperbaiki rumah, juga ada sedikit tabungan untuk modal usaha jualan makanan ringan kecil-kecilan. Untuk anak angkat, saya termotivasi, karena waktu SMP saya mendapat bantuan dari gereja. Makanya saya ingin membantu mereka. Apalagi anaknya pintar. Sejak kecil saya ditanamkan bagaimana bisa membantu orang lain. Kalau anak angkat ini sudah lulus sekolah, saya ingin anak angkat lagi. Saat ini yang satu masih SD yang satu kelas 3 SLTA,’’ ujar perempuan yang sampai Indonesia lagi pada 2003 itu.
Setelah pulang, Anik mengaku belum bergabung dengan organisasi buruh migran.’’Saya juga belum banyak kenal para buruh migran. Apalagi komunitasnya. Diajak berkumpul dengan mereka, sempat ragu. Aktivitas saya, bantu ibu jualan makanan ringan di sekolah. Sampai 2006, ketika itu ada bimbingan teknis(bimtek) dari Disnakertrans Kabupaten Malang,’’ ungkapnya.
Dari sini, Anik mulai banyak kenalan sesama mantan buruh migran. Organisasi yang memperjuangkan buruh migran pun mulai akrab di telingannya. Dari kegiatan bimtek itu, peserta mendapat kucuran dana yang berasal dari Pemprov Jawa Timur melalui Disnakertrans Kabupaten Malang. Atas kesepakatan antar mereka yang mengikuti bimtek, dana tersebut dikelola.’’Akhirnya didirikan koperasi. Uang bantuan tadi dikumpulkan untuk memberi modal beberapa orang dulu, nanti berputar. Koperasi TKI Purna ini mulai berjalan pada 2006,’’ jelasnya.
Modal dari koperasi mendorong para anggotanya untuk mengembangkan usahanya masing-masing. Ada yang beternak sapi kecil-kecilan, bikin empon-empon kesehatan seperti jahe instan, hingga bikin aneka kue. ’’Kendala mereka modal. Makanya dengan pinjaman koperasi ini, mereka diharapkan bisa mengembangkan diri. Koperasi ini juga sudah berbadan hukum. Kami mulai mengurusnya pada 2008,’’ ujar Anik yang sejak 2007 dipercaya sebagai nakhoda koperasi tersebut.
Saat ini anggota koperasi ada 57. Selain mantan buruh migran, mereka berasal dari keluarga buruh migran dan buruh migran yang masih aktif.’’Mereka yang masih bekerja di luar negeri, kadang mempercayakan uangnya dititipkan di koperasi ini untuk sekolah anak-anak mereka. Asetnya belum banyak, sekitar Rp 125 juta. Ini pun berputar. Masih butuh modal. Tahun 2011 rencananya dapat bantuan dari Menakertrnas Rp 40 juta. Koperasi ini hidup dari sisa hasil usaha anggota. Sekian persennya dipotong untuk berjalannya koperasi,’’ terang perempuan yang menikah pada 2004 itu.
Selain simpan pinjam, koperasi ini juga terlibat dalam sejumlah pelatihan. Bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor misalnya memberi pelatihan permen susu.’’Kami juga memberi pelatihan, bagaimana para peserta mengolah potensi daerah masing-masing, sehingga bernilai ekonomi,’’ ujarnya.
Dengan demikian penghasilan mereka sama seperti kalau menjadi buruh migran. Syukur bisa lebih. Dari pelatihan ini, banyak yang berhasil mengembangkan diri, Di antaranya buka agen pupuk.’’Ke depan, kami ingin koperasi ini bisa digunakan untuk pengiriman uang semacam Western Union. Mereka yang bekerja di luar negeri bisa mengirim uang ke keluarganya dengan fasilitas seperti itu. Tapi itu perlu dana cadangan yang lumayan,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: