Beranda > TKI SUKSES > Suka Tantangan, Berharap Mantan Buruh Migran Bisa Mandiri

Suka Tantangan, Berharap Mantan Buruh Migran Bisa Mandiri

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 24 Agustus 2011

JIKA kebanyakan motivasi bekerja buruh migran adalah mengumpulkan pundi-pundi uang, tidak demikian halnya Dara Intan Thalib. Motivasi perempuan kelahiran 1973 merantau ke Hongkong kali pertama adalah karena suka tantangan. Maklum ekonomi keluarganya boleh dibilang lumayan. Ibunya adalah pegawai negeri swasta, sedangkan ayahnya sebagai wiraswasta.’’Saya cari tantangan dan pengalaman,’’ ujar perempuan yang beberapa pekan lalu dipercaya menakhodai Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Barat ketika dihubungi INDOPOS, kemarin.
Memang, dia tidak melanjutkan kuliah selepas lulus SLTA pada 1993. Ini tak lain karena pertimbangan agar adik-adiknya dapat mengenyam bangku kuliah.’’Saya kelas 3 SMA, adik saya kelas 2 SMA dan kelas 1 SMA. Kalau saya kuliah, khawatir adik yang tidak kuliah. Setelah lulus SMA, saya di rumah,’’ imbuh anak pertama dari tujuh bersaudara yang berasal dari Tinambung, Tinambung, Polewali, Sulawesi Selatan, itu.
Melihat teman-teman seangkatannya banyak yang kuliah, Intan mengaku hampir depresi. ’’Karena tidak ada aktivitas, saya kadang berkumpul dengan mereka yang suka minum-minuman keras. Meski saya tidak ikut minum. Melihat itu, ibu khawatir pergaulan saya. Apalagi saya itu orangnya tomboy. Daripada gitu, saya disarankan pergi ke Hongkong. Jalan-jalan dan melihat sana. Intinya menghindari pergaulan yang tidak baik,’’ ungkapnya.
Pada 1996, Intan pergi ke Hongkong. Di sana, dia merasa tidak cocok. Apalagi bekerja di sektor domestik, rumah tangga. ’’Berat jadi buruh migran. Hanya satu bulan saya bekerja, karena tidak cocok dengan majikan, berantem, saya pulang lagi ke Indonesia. Setelah 6 bulan lagi di Indonesia, saya pergi lagi ke Hongkong. Sama juga bekerja di sektor domestik. Hanya bertahan 6 bulan. Tidak cocok dengan majikan lagi. Gaji juga di bawah standar. Saya juga cari tahu, di mana bekerja yang gajinya standar. Saya pulang lagi ke Indonesia,’’ jelas Intan yang mengaku tidak banyak perempuan yang memilih menjadi buruh migran di daerah asalnya, bahkan bagi sebagian orang di tempat tersebut, itu merupakan momok.
Intan kembali lagi ke Hongkong pada 1999. Kali ini dia punya bertekad untuk bekerja serius. Ini tak lepas dari musibah yang menimpa ayahnya setelah mengalami kecelakaan. Praktis pekerjaan yang digeluti ayahnya terganggu. Topangan hidup pun banyak bertumpu kepada sang ibu. ’’Karena alasan ekonomi itu, saya bulatkan tekad dan mencoba bertahan. Dari 1999 hingga 2007. Sama, bekerja di sektor rumah tangga. Tapi majikannya beda-beda. Ada yang empat tahun, terus ada yang dua tahun,’’ imbuh Intan yang mengaku kebanyakan pelajar di daerahnya kalau mengenyam pendidikan minimal hingga SMA.
Selama bekerja di Hongkong, Intan ikut berkontribusi memuluskan pendidikan adik-adiknya.’’Tiga sudah sarjana. Yang satu masih kuliah, sedangkan yang dua lagi, perempuan sudah menikah,’’ ujar Intan yang pada 2007 memutuskan kontrak dan pulang ke Indonesia, lagi-lagi, karena tidak cocok dengan majikan.’’Saya itu orang Sulawesi, kalau dibentak-bentak majikan atau dikata-katain kasar, tidak bisa tinggal diam. Karena  tidak ada kecocokan dengan majikan, gimana lagi, pulang,’’ tambahnya.
Di Hongkong, Intan juga bergaul dengan para buruh migran asal Indonesia. Bahkan dia banyak belajar di Indonesia Migrant Workers Union (IMWU). IMWU adalah organisasi serikat buruh yang legal di Hongkong.’’Saya ikut IMWU mulai 2002 hingga 2007. Di sini saya mengenal dunia aktifis,’’ jelasnya.
Setelah pulang ke Indonesia, dunia aktifis, utamanya buruh migran lekat dengan Intan. Bahkan dia akhirnya dapat jodoh juga setelah bertemu dalam salah satu kegiatan organisasi.’’Ada demo di Jakarta ketika itu. Saya bertemu dengan seorang pria asal Cianjur, Jawa Barat. Dia sarjana hukum. Pada akhirnya, tepatnya pada 2007 setelah beberapa waktu pulang dari Hongkong, saya menikah,’’ ujar istri dari Iwan Setiawan itu.
Setelah menikah, sempat tinggal di Sulawesi Selatan sekitar 5 bulan. Kemudian menetap di Cianjur.’’Pada 2008 melahirkan. Namun, anak saya tidak diberi umur panjang. Dia meninggal. Pada 2009, saya minta izin suami kerja ke Hongkong 2 tahun. Awalnya tidak diizinkan, namun barangkali untuk menghibur supaya tidak ingat terus sama anak yang sudah meninggal, akhirnya diperbolehkan,’’ ungkapnya.
Intan mengaku tertarik Hongkong, karena dia bisa kerja sampingan selain rutinitasnya sebagai pekerja domestik.’’Pada hari Minggu saya bisa nambah penghasilan dari mengajar les gitar. Saya bisa gitar sejak SMA. Uangnya lumayan. Selama dua tahun di Hongkong pada 2009 hingga Maret 2011, saya bisa nabung untuk beli sawah, kebun, dan membangun rumah,’’ jelas Intan.
Selain kesibukannya bertambah sebagai orang nomor satu di DPW SBMI Jawa Barat, di Cianjur, Intan masih menyempatkan mengajar bahasa Inggris di salah satu SMP. Juga mengajar di TK. ’’Walaupun tidak ada uangnya, itung-itung ibadah. Suami meski sarjana, masih mau ke sawah juga. Ada beberapa kambing dan kerbau yang dikelola orang,’’ terang Intan yang saat ini mengandalkan mata pencaharian dari lahan pertanian dan peternakan hewan itu. Ke depan, Intan ingin mengembangkan hasil pertanian dari kampung dibawa ke kota.’’Syukur kalau bisa melibatkan para mantan buruh migran,’’ imbuhnya.
Intan juga berharap, para buruh migran setelah pulang ke Indonesia, tidak kembali lagi ke luar negeri.’’Saya berharap mereka bisa mandiri. Tidak balik lagi. Dan para buruh migran harus tahu hak-haknya, sehingga tidak mengalami ketidakadilan. Kalau ada bantuan dana, saya ingin dikelola untuk memberdayakan para mantan buruh migran. Hasilnya bisa dibagi untuk mensejahterakan,’’ pungkas Intan yang bersama suaminya kini tinggal di Mekarsari, Cianjur, itu. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: