Beranda > TKI SUKSES > Buka Cucian Kendaraan, Ingin Dirikan Salon untuk Para Buruh Migran

Buka Cucian Kendaraan, Ingin Dirikan Salon untuk Para Buruh Migran

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 22 September 2011

PENUH semangat. Itulah sosok Nisma Abdullah. Meski usianya tidak muda lagi, perempuan kelahiran Bunobogu, Buol, Sulawesi Tengah, 1965 itu begitu berapi-api saat bicara seputar buruh migran. Barangkali karena selain pernah mengalami kondisi yang tidak menyenangkan saat menjadi buruh migran di Timur Tengah, juga tak lepas dari aktivitasnya mendampingi dan memperjuangkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Apalagi perempuan yang dikaruniai 4 anak dan 4 cucu itu dipercaya sebagai ketua umum Dewan Pimpinan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) periode 2011-2014.
Kepada INDOPOS, kemarin (21/9), Nisma bercerita, saat menjadi buruh migran atau TKI di Arab Saudi pada 1993 hingga 1996, tak ada masalah yang berarti. ’’Saya bekerja ke Saudi, karena himpitan ekonomi. Ketika itu anak sudah empat. Suami saya tentara, cacat setelah bertugas di Timor Timur, tapi masih dinas di Jakarta. Dia mengizinkan saya ke Saudi,’’ ujar Nisma yang juga anak tentara itu.
Sebenarnya, Nisma mempunyai keterampilan menyalon. Namun, keahlian yang didapatkan dari kursus para istri tentara itu tidak dilanjutkan. Karena pendapatan yang dihasilkan tidak sesuai kebutuhan. ’’Akhirnya saya tinggalkan dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Madinah, Saudi. Selama 3 tahun saya ikut satu majikan,’’ imbuh perempuan yang menyelesaikan SD di Bojonegoro, Jawa Timur, serta SMP dan SMA di Surabaya, Jawa Timur, karena mengikuti tugas orangtuanya.
Nisma yang menikah pada 1980 dengan pria asal Manado yang bertugas sebagai tentara di Surabaya itu menambahkan, setelah pulang ke Indonesia beberapa tahun kemudian, pada 1999 berangkat lagi Timur Tengah. Kali ini ke Kuwait. ’’Hasil dari Saudi di antaranya untuk merenovasi rumah,’’ imbuhnya. Sebelum merantau lagi, dia sempat kerja di salon di Tanjung Priok, Jakarta Utara, tapi tidak lama, karena gajinya tidak cukup untuk kebutuhan.
’’Padahal anak-anak membutuhkan biaya untuk pendidikan. Ada yang masuk SMP. Saya dapat informasi bahwa keluarga kerajaan Kuwait  membutuhkan perias. Saya daftar ke PJTKI. Ternyata, sesampai di sana, tidak demikian. Saya dipekerjakan sebagai tukang cuci pakaian bayi,’’ jelas Nisma yang beberapa waktu setelah menikah tinggal bersama keluarganya di Wisma Seroja, Harapan Jaya, Bekasi Utara, Jawa Barat, di mana rumah tersebut merupakan bentuk apresiasi yang diberikan pemerintah saat itu kepada suaminya yang pernah bertugas di Timor Timur.
Selama di Kuwait, Nisma pindah-pindah majikan. Ini karena pekerjaan yang diberikan tidak sesuai dengan janji Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). ’’Di majikan pertama, saya hanya satu bulan. Majikan kedua, 1 minggu. Saya minta pulang, tapi tidak boleh. Suatu ketika, saya bisa telepon bos PJTKI yang memberangkatkan saya. Saya tagih janji kerja merias,’’ jelasnya.
Akhirnya dari agen yang di Kuwait, Nisma disalurkan ke majikan yang punya salon. Tapi kerjanya berat. Pukul 09.00—21.00 kerja di salon. Setelah itu hingga pukul 02.00, bekerja sebagai pembatu rumah tangga. ’’Saya pun berontak. Total dari pertama, selama 5 bulan, saya tidak pernah menerima gaji. Saya semakin tahu, akhirnya saya mengadu ke kedutaan. Orang kedutaan hanya bilang, sabar. Akhirnya kembali lagi ke agen, selanjutnya disalurkan ke majikan yang punya salon lagi. Di sini saya sampai 2003,’’ terangnya.
Hasil dari bekerja itu, Nisma ikut membantu menyekolahkan anak-anaknya.’’Yang pertama kuliah. Sekarang sudah mengajar. Tiga anak lainnya yang lulusan SMA, kini sudah bekerja. Saya memutuskan pulang, karena bapak sudah meninggal, sedangkan ibu sakit-sakitan. Saya ingin merawat ibu,’’ imbuh Nisma yang berpisah dengan suaminya pada 2003 itu.
Nisma mengenal dan mulai memahami apa buruh migran, apa hak-haknya, bagaimana perlindungannya, dan sebagainya, pada 2004. Dia pun aktif di berbagai organisasi yang memperjuangkan buruh migran. Salah satunya Forum Komunikasi Mantan Buruh Migran Sepakat, Aliansi Pemberdayaan, dan Perlindungan Buruh Migran Kabupaten Sumbawa, dan Niat Suci. ’’Organisasi Niat Suci merupakan jaringan LBH Apik Nusa Tenggara Barat. Ketika itu saya menetap di Sumbawa. Saya fokus di Sumbawa, karena termasuk pengirim TKI terbanyak. Dengan saya di sana, lebih fokus bekerja dengan teman-teman. Apalagi dulu saya pernah merasakan penderitaan sebagai buruh migran,’’ jelas perempuan yang pernah menakhodai SBMI Nusa Tenggara Barat tersebut.
Perempuan yang setelah terpilih menjadi  ketua umum Dewan Pimpinan SBMI periode 2011-2014 lebih memilih tinggal di Sekretariat SBMI daripada di rumahnya di Bekasi itu berharap, para TKI lebih paham hak-haknya.’’Tak hanya membantu keluarga, tapi juga pahlawan devisa bagi negara. Oleh karena itu, harus dilindungi dan selama di sana ada kontrol. Ini utamanya para buruh migran yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Timur Tengah. Supaya tidak banyak lagi yang pergi ke luar negeri sebagai TKI, pemerintah harus menciptakan lapangan kerja,’’ harap perempuan yang buka jasa cucian kendaraan di Bekasi yang dikelola oleh anak-anak yatim yang masih bersekolah.
Nisma yang kini tinggal di Jakarta mempunyai keinginan membuka salon.’’Saya punya kios di Bekasi, dekat rumah. Ingin cari modal untuk buka salon. Itu nanti untuk membantu para buruh migran. Ingin juga membangun koperasi bagi para buruh migran. Saya ingin tetap mengabdi untuk buruh migran sampai menutup mata,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: