Beranda > TKI SUKSES > Buka Les Bahasa Korea, Selanjutnya Ingin Bikin Lembaga Kursus

Buka Les Bahasa Korea, Selanjutnya Ingin Bikin Lembaga Kursus

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 14 September 2011

KEPIAWAIAN Mahfud menguasai bahasa Korea Selatan bukan karena dia melahap banyak teori di bangku kursus atau pendidikan. Warga Desa Monggo, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, itu mahir lantaran sering bersinggungan dan langsung mempraktikkan saat bekerja di Korea Selatan. ’’Saat mau berangkat ada pembekalan bahasa, tapi ala kadarnya. Karena di pembakalan itu juga peserta dibekali bagaimana cara kerja. Saya bisa bahasa Korea Selatan, karena beberapa tahun bekerja di sana (Korea Selatan, Red),’’ ujarnya ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (13/11).
Kemampuan itu tidak hanya berguna selama bekerja di Korea Selatan. Tapi, hingga kini. Mahfud sering membantu memberi les bahasa Korea Selatan.’’Mereka yang mau berangkat ke Korea Selatan pada belajar. Tidak banyak. Kadang dua, tiga, empat, hingga lima. Mereka belajar di rumah. Karena sifatnya membantu, sampai sekarang tidak dipungut biaya alias gratis,’’ ungkap bapak yang saat ini dikaruniai seorang anak tersebut.
Berbeda jika diminta mengajar sejumlah institusi. Mahfud biasanya diberi insentif. Tapi ini tidak rutin dilakukan. Sifatnya insidental, jika tenaga Mahfud diperlukan oleh sejumlah institusi yang mengadakan kegiatan. ’’Tempatnya tidak di rumah. Kadang memakai ruang sekolah,’’ imbuh pria yang menikah pada 2006 tersebut.
Ke depan, agar kemampuan yang dimiliki tetap terasah dan berguna bagi orang lain, dan tentunya ’’menghasilkan’’, Mahfud ingin membuka lembaga semacam kursus bahasa Korea Selatan. Mahfud ingin mengelola lembaga tersebut dengan baik, sehingga secara ekonomi dapat memberi pemasukan.
Selain itu, kegiatan lain Mahfud sepulang dari Korea Selatan pada 2010 lalu adalah mengelola tanah pertanian dan buka usaha warung. Hasilnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.  ’’Membeli tanah dari hasil bekerja di Korea Selatan. Dulu waktu saya masih di sana (Korea Selatan, Red) yang mengelola orangtua,’’ jelas anak kelima dari enam bersaudara itu.
Pria kelahiran 1979 itu berharap, di samping membuka lembaga kursus bahasa Korea Selatan, ke depan, bisa mengembangkan usaha. ’’Membuka usaha apa gitu yang lebih besar,’’ imbuh pria yang berangkat ke Korea Selatan dua kali, pada 2002—2005 bekerja di pabrik onderdil mobil, dan 2008—2010 bekerja di pabrik elektronik, tersebut.
Mahfud yang termasuk salah seorang dari 12 finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010 itu bercerita, beberapa waktu selepas menyelesaikan pendidikan SMA, dia memutuskan bekerja ke luar negeri tepatnya Korea Selatan.’’Motivasi saya membantu orangtua dan mencari modal. Ketika itu belum menikah. Usia saya 22 tahun. Setelah melalui pembekalan sekitar seminggu, saya berangkat melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) pada 2002,’’ terangnya.
Mahfud menyelesaikan kontrak selama tiga tahun, kemudian pulang ke Indonesia. Setelah menikah, dua tahun kemudian dia memutuskan kembali lagi ke Korea Selatan.’’Saya berangkat melalui BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, Red) pada 2008. Setelah pembekalan sekitar seminggu, berangkat dan bekerja di pabrik elektronik hingga 2010. Saya berangkat lagi untuk menambah modal,’’ jelasnya.
Selama bekerja, Mahfud mengaku tidak mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. ’’Gaji lancar. Dapat libur mingguan. Libur hari raya juga dapat. Selama di sana saya pulang kalau kontraknya selesai. Untuk mengobati rasa kangen dengan keluarga, saya bisa melalui telepon. Seminggu kadang bisa sampai tiga kali. Kerja di luar negeri dengan di Indonesia menurut saya sama saja. Bedanya pendapatannya. Tapi dipikir-pikir lebih enak di dalam negeri,’’ katanya.
Hanya, kalau bekerja di luar negeri, harus mempersiapkan skill dan mempersiapkan segala sesuatunya secara matang sebelum berangkat. ’’Pemerintah juga saya harap lebih memperhatikan tenaga kerja Indonesia. Kontrak, besaran gaji, jaminan kesehatan, dan yang lainnya. Mereka yang akan berangkat juga harus melihat dengan cermat kontrak yang ditandatangani
Menurut Mahfud, di antara pelajaran yang diambil selama bekerja Negeri Gingseng tersebut adalah soal kedisiplinan.’’10 atau 15 menit sebelum kerja dimulai, harus sudah datang. Yang menarik, kalau sedang makan. Pekerja dan bos, makannya sama di satu ruangan. Tidak dibedakan. Membaur. Menu makanannya juga sama,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: