Beranda > TKI SUKSES > Dari Jualan Pupuk, Sembako, hingga Burung Seriti

Dari Jualan Pupuk, Sembako, hingga Burung Seriti

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 9 September 2011

WANITI bersyukur hasil jerih payahnya selama menjadi buruh migran di Hongkong selama 6 tahun membuahkan hasil. Dari cucuran keringatnya mulai 1996 hingga 2002, perempuan yang tinggal di Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu membangun usaha dan kini sudah dapat menikmati hasilnya. Bersama suaminya, Waniti juga bangga, karena dapat memberi pendidikan yang lebih baik kepada anak-anaknya.
’’Anak yang pertama semester 3 di Universitas Muhammadiyah Malang. Yang kedua, duduk di SMK, sedangkan yang ketiga kelas 2 madrasah ibtidaiyah. Kalau saya ditanya lulusan apa, malu jawabnya. Makanya saya bersyukur. Semoga dapat menguliahkan anak-anak semua,’’ jelas perempuan yang telah mengantongi ijazah Paket C, setingkat SLTA, ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (8/9).
Selama 6 tahun di Hongkong, Waniti bekerja di satu majikan. Sesuai kontrak, dia merawat anak dan membersihkan rumah majikan.’’Saya 3 kali kontrak. Pada kontrak pertama, di samping bisa untuk kebutuhan keluarga, juga berhasil membeli sejumlah bidang sawah. Kemudian pada kontrak kedua, dapat digunakan memperbaiki rumah, membeli sejumlah bidang sawah, dan sepeda motor. Kontrak ketiga, bisa menabung untuk modal usaha,’’ terang perempuan kelahiran 1972 yang saat berangkat menjadi buruh migran mempunyai dua anak, yang pertama umur 4 tahun, seorang lagi berusia 1 tahun.
Pada kontrak pertama, Waniti mengaku, gajinya di bawah standar. Demikian juga pada kontrak kedua. Gaji Waniti baru sesuai standar ketika kontrak yang ketiga. ’’Tahunya segitu. Tapi, belakangan baru tahu. Saya makin tahu setelah ikut beberapa kali kegiatan yang diadakan Indonesia Migrant Workers Union (IMWU). Di IMWU saya tahu, apa hak-hak saya sebagai buruh migran. Begitu juga apa saja kewajiban-kewajibannya,’’ ungkapnya.
Setelah mengetahui, Waniti tidak tinggal diam. Dia menuntut gajinya 4 tahun pertama yang jumlahnya belum sesuai standar. Dia berjuang tidak sendiri.’’Ada yang mendampingi, semacam lembaga swadaya masyarakat. Sebelum sampai persidangan, tuntutan saya dipenuhi majikan. Memang tidak penuh, dari 72 ribu dolar Hongkong dikabulkan 59 ribu dolar Hongkong. Di luar gaji, hubungan saya dengan majikan tidak ada masalah,’’ ujar perempuan yang merantau ke Hongkong itu karena alasan ekonomi.
Sedangkan modal usaha tidak dikirim langsung ke rumah. Menurut Waniti yang dikaruniai seorang anak lagi beberapa waktu setelah pulang dari Hongkong itu, uangnya ditabung direkeningnya.’’Setelah pulang, hampir satu tahun belum ada ide mau usaha apa. Malahan tabungan yang saya depositnya terus berkurang untuk menutupi kebutuhan. Suatu ketika, saya melihat ada tetengga yang sebelumnya jualan pupuk pertanian yang tidak diteruskan. Saya tanya ke dia. Akhirnya saya meneruskan jualan pupuk,’’ ungkap Waniti pada 1990.
Usaha yang dirintis Waniti berkembang. Dari menyewa tempat jualan pupuk, kemudian membeli tempat. Masih di sekitar tempat tersebut, dia juga jualan peralatan listrik dan sepatu. Kemudian mendirikan kios sembako.’’Atasnya untuk tempat tinggal. Kalau rumah awal saya yang dibangun sebelumnya, tak jauh dari situ. Sejak 2000 dihinggapi burung seriti. Dulu ketika masih ditempati, masih jarang burungnya. Tapi, sekarang burungnya makin banyak. Setiap tiga bulan sekali, bisa panen,’’ katanya. Hasil dari seriti tersebut lumayan besar dibanding dari usaha-usaha lainnya. ’’Kalau yang seriti tidak ngeluarkan uang istilahnya,’’ imbuhnya.
Selain sibuk mengurus usahanya, Waniti juga mengurus koperasi TKI purna di Kasembon. Koperasi didirikan bersama sejumlah mantan buruh migran pada 2006 dan berbadan hukum pada 2008.’’Anggotanya sekarang ada sekitar 100 orang. Asetnya sekitar Rp 300 juta. Selain simpan pinjam, juga merintis peternakan, juga usaha kecil. Dengan koperasi ini harapannya, anggota sejahtera. Bisa mandiri, syukur-syukur dapat menciptakan lapangan kerja, sehingga tidak perlu kerja ke luar negeri. Saya juga berharap pemerintah menfasilitasi lapangan kerja dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Harapan lain kepada pemerintah, memprioritaskan para mantan buruh migran yang belum beruntung untuk mendapatkan sejumlah fasilitas, seperti jaminan kesehatan, raskin, dan sebagainya,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: