Beranda > TKI SUKSES > Dari Taiwan, Kuliah, Jadi PNS, dan Usaha Penggemukan Sapi

Dari Taiwan, Kuliah, Jadi PNS, dan Usaha Penggemukan Sapi

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 16 September 2011

PENDIDIKAN di mata Rohenti sangat penting. Oleh karena itu, cita-cita untuk kuliah setelah menyelesaikan kuliah terus menyala, meski harus menunggu beberapa tahun. Selepas SMA pada 1997, perempuan yang tinggal di Desa Serang Wetan, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat, itu tidak bisa langsung meneruskan kuliah. Ini lantaran ekonomi keluarga yang belum memungkinkan.
Tapi, anak pertama dari empat bersaudara itu tak patang arah. Keinginan untuk kuliah tetap dia pendam di dalam hati. Dengan harapan suatu saat dapat terwujud. ’’Setelah lulus SMA, saya bekerja di Karawang, Jawa Barat, selama satu tahun. Kemudian di Jakarta juga satu tahun,’’ ujar Rohenti ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (15/9).
Namun, perempuan kelahiran 1979 itu ingin memperbaiki nasib. Setelah pulang ke Serang Wetan, Babakan, Cirebon, beberapa waktu, dia memutuskan mengadu nasib dengan bekerja ke luar negeri. Tempat yang dituju adalah Taiwan.’’Awalnya orangtua melarang. Tapi akhirnya memahami. Saya ingin mengubah hidup. Motivasi berangkat ingin bisa bahasa Mandarin. Yang tak kalah pentingnya adalah mengumpulkan modal untuk melanjutkan kuliah dan membantu orang tua,’’ jelas perempuan yang berangkat ke Taiwan pada 2000 akhir setelah mendapat pelatihan terkait bahasa Mandarin dan tata boga sekitar satu bulan tersebut.
Selama di penampungan di Jakarta, Rohenti sudah belajar bahasa Mandarin melalui buku-buku.’’Di penampungan PJTKI (perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia, Red) 3 bulan. Satu bulan terakhir baru mendapat pelatihan bahasa Mandarin. Katanya pada awalnya belum ada guru bahasa Mandarin. Makanya saya belajar sendiri melalui buku-buku,’’ katanya.
Di daerah Rohenti, bekerja di luar negeri bukan sesuatu hal yang baru. Sebagian penduduknya mengadu nasib di Timur Tengah. Ada juga yang ke Asia Timur.’’Mungkin ada sekitar 40 persen dari penduduk yang bekerja di luar negeri,’’ ungkap perempuan yang mengaku tidak pernah pulang sebelum kontraknya selesai pada 2003 itu.
Di Taiwan, awalnya Rohenti bertugas merawat orangtua majikan. Meski sebenarnya bertugas merawat orangtua majikan, Rohenti diminta majikannya untuk membantu bekerja di restoran.’’Majikan punya restoran. Saya belum paham banyak soal hak dan kewajiban, makanya tidak protes. Tapi ini tidak bertahan lama, sekitar satu minggu. Kemudian pihak agen memindahkan ke majikan lain yang masih saudaranya majikan yang pertama. Di majikan kedua ini saya mengurus anak. Tugasnya lebih ringan,’’ ungkap Rohenti yang mulai lancar bahasa Mandari setelah 3 bulan di Taiwan.
Rohenti mengaku mengobati kangen dengan keluarganya dengan cara menelepon sekitar satu bulan sekali. Selain itu, setiap libur kerja, dia bisa berkumpul dengan kawan-kawannya dari Indonesia. ’’Banyak teman di sana. Libur Minggu ngumpul di taman. Biasanya kalau ngumpul, bercerita soal kerjaan dan yang lain-lain, termasuk yang ringan-ringan. Selama bekerja, bisa membantu orangtua, membantu sekolah adik-adik, dan beli tanah juga yang dikelola orangtua,’’ imbuh Rohenti yang mengaku tidak pernah merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan selama bekerja di Taiwan.
Setelah kontraknya selesai, Rohenti memutuskan pulang ke Indonesia. Dengan modal yang dikumpulkan, Rohenti mewujudkan keinginannya untuk kuliah. Awalnya mengambil D2 keguruan, kini Rohenti sedang menyelesaikan S1 di STAIN Cirebon. ’’Setelah pulang, saya gabung dengan Forum Warga Buruh Migran Indonesia. Sebagai mantan buruh migran, ingin memperjuangkan teman-teman yang bekerja di sana. Pada 2004 kuliah. 2008 mengajar honorer. Pada 2009 ada pembukaan PNS, keterima. Sekarang melanjutkan S1,’’ terang perempuan yang kini tercatat di Serikat Buruh Migran Indonesia Cirebon tersebut.
Bagi perempuan yang merencanakan bakal menikah pada 2012 itu, pendidikan sangat penting. Dengan ilmu bisa mengubah hidup dan nasib. ’’Kan tidak ingin jadi pembantu rumah tangga terus. Selain jadi guru, saya ingin usaha sendiri di bidang pertanian dan peternakan. Yang mulai saya rintis, usaha penggemukan sapi,’’ ujar Rohenti yang mengaku sudah tak begitu lancar berbahasa Mandarin lantaran jarang mempraktikkannya itu.
Sebagai mantan buruh migran, Rohenti berharap, mereka yang tetap ingin ke luar negeri, sebelum berangkat, harus melakukan persiapan yang maksimal.’’Kalau sudah pulang, jangan berpikir kembali lagi. Mengolah hasil jerih payahnya, jangan hidup konsumtif. Kepada pemerintah saya berharap lebih peduli lagi kepada para buruh migran, terutama yang bekerja di Timur Tengah. Pemerintah juga harus tegas. MoU (nota kesepahaman, Red) juga harus jelas,’’ pungkasnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: