Beranda > TKI SUKSES > Gagal Masuk Tentara, Pulang dari Taiwan Jadi Bos Telur

Gagal Masuk Tentara, Pulang dari Taiwan Jadi Bos Telur

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 5 September 2011

BANYAK kisah inspiratif yang bisa diambil dari para mantan buruh migran Indonesia. Di antaranya cerita dari Basuki, warga Dukuh Mayi, Desa Bedi Kulon, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, yang pernah meerantau ke Taiwan. Setelah enam tahun mengais rezeki di negeri orang sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI), hasilnya mulai dirasakan.
Basuki bisa membangun rumah di kampung halamannya dan membuka usaha peternakan ayam petelur. Dari hasilnya itu, Basuki pun bisa membeli lahan kebun sawit di Lampung seluas tiga hektare.
Dia menceritakan kisah hidupnya hingga harus memburu uang hingga ke Taiwan. Menurutnya, keputusan menjadi TKI diambil Basuki setelah sempat beberapa kali gagal mengikuti tes di lingkup TNI. Jika dihitung sampai lima kali dia mengadu peruntungan. ’’Mungkin (menjadi tentara) bukan jalan hidup saya. Beberapa kali sampai tahap pantukir (penentuan tahap akhir) juga tidak lolos,’’ kenangnya, beberapa waktu silam.
Meski gagal, dia tak patah arang. Pada 1999, terbersit untuk mengadu nasib sebagai TKI ke Taiwan. Berbekal ijazah SMA, dia berangkat lewat seorang agen PJTKI PT. Indo Karsa, Jakarta. ’’Sayang, saat ini, PT tersebut sudah tidak ada lagi. Entah mengapa?’’ terang bapak satu anak ini.  Ijazah SMA yang dimilikinya pun ikut melayang bersama lenyapnya Indo Karsa. Saat itu sistem untuk memberangkatkan TKI masih tertumpu pada uang.
Setelah beberapa persyaratan terpenuhi, tak lama kemudian Basuki pun berangkat. Ketika itu, dia harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 9 juta. 
Singkat cerita, Basuki  beberapa hari sudah bekerja di sebuah pabrik elektronik di Taiwan. Dengan gaji 15.840 NT setelah dipotong biaya makan dan asuransi, tiap bulan hanya menerima 15.000 NT. Atau sekitar Rp 4 juta. ’’Itu belum kalau ada lemburan,’’ tambahnya.
Selama tiga tahun bekerja, Basuki sudah mulai menabung. Uangnya langsung dikirim ke kampung halaman. Agar tidak sia-sia, dia mulai menyelesaikan pembangunan rumah yang dihuni istri dan anaknya.
Setelah itu, Basuki pulang ke Indonesia. Namun, keinginan untuk bekerja ke luar negeri masih menyala.’’Saat itu (rumah) memang belum sempurna. Saya hanya beberapa waktu di rumah langsung berangkat lagi ke Taiwan,’’ papar Basuki sambil mengingat keberangkatan ke kedua sekitar 2003. Kali ini biayanya meningkat menjadi Rp 22 juta.
Setelah tiga tahun menyelesaikan kontrak,  pria kelahiran 22 Februari 1977 ini memutuskan untuk pulang. Namun, pikirannya saat itu langsung tertuju membuka usaha peternakan ayam. ’’Saya sempat akan membuka ternak ayam potong. Tapi, kurang cocok dan saya pilih ayam petelur saja,’’ ungkap bapak dari Rian Herdinata, 4, itu. Dengan modal yang ada, dia mulai membuka usaha ini. Tahap awal, dia membeli 1.500 ekor ayam dulu. ’’Kami sudah menjalani usaha ini (ayam petelur) selama empat tahun lebih. Dan hasilnya memang cukup lumayan untuk pengembangan selanjutnya,’’ tegas suami dari Suprihatin itu.
Memang, melihat lahan kandang ayam yang berada persis di belakang rumahnya dan di pagar tembok, kemungkinan perluasan sangat terbuka. ’’Untuk perluasan nanti, uangnya saya ambilkan dari keuntungan ayam ini,’’ imbuhnya sambil memperlihatkan kandang ayam petelur dengan sistem baterai tiga tingkat itu.
Apalagi, melihat pemasaran yang masih sebatas lokal Kecamatan Bungkal dan sekitarnya berpotensi untuk mengepakkan sayap usahanya ke depan. Suprihatin pernah bekerja di Arab Saudi selama dua tahun sejak 2002. Sekarang kedua pasangan suami istri ini menekuni usaha ternak ayam petelur.
Hasil keringat bekerja di luar negeri juga digunakan untuk membeli lahan kelapa sawit seluas tiga hektare seharga Rp 18 juta 2002 di Lampung. ’’Tapi lahan itu sekarang diolah mertua saya,’’ pungkasnya. (jpnn)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: