Beranda > TKI SUKSES > Sekeluarga Bekerja di Luar Negeri, Kini Buka Lesehan dan Jualan Pakaian

Sekeluarga Bekerja di Luar Negeri, Kini Buka Lesehan dan Jualan Pakaian

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 23 September 2011

KELUARGA Mujiati merupakan keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Mujiati dan suaminya, Suhardi, pernah mengadu nasib di Malaysia dalam rentang waktu yang cukup lama.’’Suami mulai bekerja pada 1990. Saya kemudian mengikuti jejaknya. Kerja mulai 1991. Sama-sama bekerja di pabrik kayu lapis (plywood) hingga 2007,’’ ujar perempuan yang tinggal di Sedau, Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Dua anaknya juga bekerja di luar negeri. Yang satu, anak kedua, bekerja di pabrik elektronik di Jepang selama 3 tahun. Yang satu lagi, anak pertama, bekerja di Jepang juga, tepatnya di peternakan. ’’Anak saya dua, cowok semua. Yang kerja di elektronik sudah pulang satu tahun yang lalu. Dia lulusan salah satu STM di Jogjakarta. Itu yang kecil. Sempat kerja di Astra Sunter, Jakarta Utara. Sedangkan kakaknya, sempat mengambil D3 agrobisnis di daerah Gamping, Jogjakarta, tapi tidak sampai selesai. Hingga saat ini baru 9 bulan di Jepang,’’ ujar perempuan kelahiran Jogjakarta 1965 itu ketika dihubungi INDOPOS, Kamis malam (22/9).
Mujiati yang menikah dengan pria Singkawang pada 1980 itu, bercerita, pada 1990 suaminya lebih dulu bekerja di Malaysia. ’’Dia lulusan D3 Akademi Maritim. Pernah bekerja di kapal. Pada 1981, saya ikut suami ke Singkawang,’’ ujar perempuan lulusan SMK itu.
Setahun kemudian atau pada 1991, Mujiati  yang bekerja di agen TKI membawa pekerja Indonesia ke Malaysia.’’Ada ratusan. Saya ikut agen, bantu-bantu bawa TKI. Namun, saya berpikir ingin bekerja di Malaysia juga seperti suami. Ngurusin orang banyak yang beda-beda karakter, susah. Akhirnya saya bekerja di pabrik kayu lapis (plywood). Sama suami, beda bagian saja,’’ jelas Mujiati yang saat ke Malaysia, dua anaknya masih kecil, yang satu kelas 5 SD, sedangkan satunya kelas 4 SD, dititipkan ke mertuanya di Singkawang.
Setelah dua tahun kontrak habis, Mujiati pulang ke Indonesia. Tapi setelah itu, dia kembali lagi ke Malaysia hingga 2005.’’Pabriknya pindah dari daerah sebelumnya. Tapi saya tetap bekerja di situ, plywood. Setelah itu tetap bekerja di pabrik yang sama, tapi pindah daerah hingga 2007. Setiap tahun sekali ada cuti, bisa pulang. Komunikasi dengan keluarga juga tidak ada hambatan. Sebelum ada HP (handphone, Red) marak, komunikasi dilakukan dengan surat, dititipkan agen. Tapi, setelah ada HP, komunikasi dengan anak-anak dan keluarga di Indonesia pakai HP,’’ ungkapnya.
Selama bekerja di Malaysia, Mujiati mengaku, tak pernah merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Barangkali ini tak lepas juga pekerjaan dia yang berada di tempat terbuka, yakni pabrik, di mana banyak teman-temannya sesama pekerja. Beda dengan sektor pembantu rumah tangga. ’’Dalam bekerja, yang penting itu kejujuran, disiplin, dan rajin. Saya bekerja dengan suami untuk kebutuhan anak-anak sekolah. Untuk keluarga. Bisa beli tanah, bangun rumah di Singkawang. Memang di Indonesia bisa cukup. Di Malaysia, saya bisa dapat lebih. Pada 2007 saya putuskan pulang bersama suami karena mau istirahat, sudah capek,’’ terangnya.
Kedua anaknya sebenarnya ingin mengenyam perkuliahan hingga selesai. Namun, kenyataan berkata lain. Anaknya yang pertama, setelah menyelesaikan SLTA di Jogjakarta melanjutkan D3, tapi tidak selesai. Sedangkan yang kedua, setelah merampungkan STM, diterima bekerja di Sunter.’’Anak-anak memang sekolah di Jogjakarta. Di sana masih ada saudara. Mereka betah di Jogjakarta. Anak yang kedua, setelah sempat bekerja di Sunter sebenarnya kembali lagi ke Jogja untuk kuliah, tapi dipanggil magang ke Jepang. Anak-anak saya bekali pentingnya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan Jepang,’’ ungkapnya.
Hasil bekerja di Jepang, selain untuk memberi rumah dan tanah, digunakan untuk membuka usaha.’’Buka warung lesehan di Jalan Kaliurang. Ada mobil pick up untuk jasa angkut. Itu hasil dari anak yang kerja di pabrik elektronik di Jepang. Saya dan suami sering bolak-balik Singkawang-Jogjakarta. Sebelum anak saya yang kecil pulang dari Jepang, usaha itu dijalankan suami dan saya. Kini setelah pulang, dia yang jalankan. Tapi, saya dan suami juga ikut. Yang lesehan mempekerjakan 3 orang. Sedangkan jasa mobil, biasanya untuk jasa angkut pindahan rumah atau kos. Untuk tanah dan rumah, ada di daerah Monjali, Jogja,’’ terangnya.
Sedangkan anaknya yang pertama yang saat ini bekerja di sektor peternakan di Jepang, mulai dirintiskan usaha rental mobil. ’’Baru satu mobil. Yang jalankan ya adiknya yang sudah pulang dari Jepang. Saya juga bawa pakaian untuk dijual di Singkawang. Rencananya ke depan dengan modal sama-sama dari luar negeri, uasaha jual beli tanah, beli tanah dibangun bangunan, kemudian dijual. Saya juga ingin membesarkan warung lesehan, buka warung makan secara permanen,’’ tutupnya. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: