Beranda > TKI SUKSES > Usaha Laundry, Tahun Depan Melanjutkan Kuliah

Usaha Laundry, Tahun Depan Melanjutkan Kuliah

Terbit di Koran harian pagi ibu kota INDOPOS Tanggal 19 September 2011

MESKI sudah berkeluarga dan mempunyai tiga anak, keinginan Siti Badriyah untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah tetap tak terbendung.’’Tahun depan, rencananya kuliah. Ambil hukum di Universitas Bung Karno,’’ ujar perempuan asal Karangrayung, Grobogan, Jawa Tengah, itu ketika dihubungi INDOPOS, kemarin (18/9). Bukan tanpa alasan jika perempuan yang pernikahannya pertama dikaruniai seorang anak dan dua anak pada pernikahannya kedua. Alasannya itu berhubungan dengan pekerjaannya yang digeluti saat ini.
Siti Badriyah bekerja di bagian staf advokasi kebijakan Migrant Care. ’’Dulu awalnya saya bantu-bantu. Pernah di bagian administrasi dan advokasi kasus juga. Dengan kuliah, saya ingin tahu lebih dalam teori-tori hukum dan undang-undang. Pengalaman sebagai buruh migran punya, ditambah ilmu. Jadi pengalaman dan akademik. Saya ngambil hukum karena berkecimpung di ranah itu,’’ ungkap perempuan yang bekerja di Malaysia pada 2002—2004.
Siti Badriyah mengaku, saat bekerja di Malaysia, dia merasakan tak mendapatkan gaji selama 10 bulan. ’’Saya bekerja sebagai PRT (pembantu rumah tangga, Red). Karena 10 bulan tidak terima gaji, saya lari. Yang nerima gaji agen. Selanjutnya saya dapat kerja di restoran. Lumayan gajinya, tapi dipotong untuk membayar keamanan, karena paspor tidak saya pegang. Kosongan. Kalau tidak bayar, bisa ditangkap. Merasa nggak aman dan tidak nyaman, saya putuskan pulang lewat jalur laut, karena suatu waktu pihak imigrasi setempat melakukan sweeping,’’ terang perempuan yang juga pernah merantau ke Brunei Darussalam setelah pulang dari Malaysia.
Perempuan lulusan SMA itu bercerita, motivasinya berangkat ke Malaysia adalah mendapatkan penghasilan. ’’Di kampung tidak ada kerjaan. Sama suami juga lagi ada masalah,’’ imbuh Siti Badriyah yang saat berangkat mempunyai seorang anak berusia 1 tahun hasil pernikahannya dengan suami pertama.
Jika di Malaysia Siti Badriyah kuat bertahan sekitar dua tahun. Tidak demikian saat bekerja di Brunei Darussalam.’’Rumah majikan gede banget. Di situ juga ada beberapa keluarga. Majikan punya anak, anaknya nikah dan tinggal di situ. Tidak kuat dengan beban pekerjaan. Kontraknya sebenarnya dua tahun, tapi saya hanya satu tahun. Dari kerja di luar negeri, bisa membeli tanah sedikit,’’ jelas perempuan kelahiran 1976.
Setelah kembali ke Indonesia, Siti Badriyah sempat merintis usaha keripik kecil-kecilan yang difasilitasi dinas sosial setempat. Tapi, karena tidak ada pendampingan yang kontinyu, akhirnya mati. Setelah itu, Siti Badriyah ke Jakarta.’’Di Migrant Care membutuhkan staf untuk bersih-bersih dan menerima telepon. Saya banyak belajar hingga sampai kini di staf advokasi kebijakan. Di sini rasanya senang. Dulu pernah mengalami kasus tidak terima gaji, dapat banyak cerita dari para buruh migran yang butuh pendamping. Jadinya tambah banyak pengetahuan,’’ terang perempuan yang akhirnya gagal mempertahankan rumah tangganya dengan suami pertamanya.
Bersama suami keduanya yang dinikahi pada 2006, Siti Badriyah juga mempunyai usaha laundry dan jualan pulsa.’’Kami ingin juga membuka usaha jualan bakso dengan mempekerjakan orang. Di Jakarta saya tinggal di daerah Cipinang. Masih kontrak. Suami dulu juga pernah bekerja di luar negeri. Bertemunya di Migrant Care,’’ tambahnya.
Siti Badriyah berharap, pemerintah mampu menciptakan lapangan kerja di dalam negeri, sehingga tidak banyak yang bekerja ke luar negeri.’’Kalau belum mampu menciptakan lapangan kerja, harus melindungi mereka yang bekerja di luar negeri. Berharap pemerintah membuat regulasi dan kebijakan yang adil. Rekrutmen mereka yang ke luar negeri tidak usah pakai PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, Red). Lewat pemerintah langsung saja. Mulai dari tingkat kelurahan dan tidak bayar. Mereka di luar negeri punya risiko tinggi, makanya idealnya gratis,’’ katanya.
Sedangkan harapan untuk para buruh migran, sebelum berangkat bekerja, hendaknya mempersiapkan diri dengan keterampilan, memahami buadaya negara di mana akan ditempatkan, dan siap mental. (zul)

Iklan
Kategori:TKI SUKSES
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: