Arsip

Archive for the ‘KEMENAG’ Category

Perkokoh Akhlak Generasi Muda melalui Gemmar Mengaji

Terbit di Koran harian pagi INDOPOS tanggal 17 Agustus 2011

Dewasa ini, keluarga di kota-kota besar begitu sibuk dan telah terjebak dengan rutinitas sehari-hari.  Kedua orang tua dan anak-anak, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sehingga waktu untuk mengaji Al Qur’an sangatlah minim. Bahkan tidak ada. Padahal, dahulu masyarakat kita memiliki tradisi dan kebiasaan mengaji setiap selesai shalat Maghrib.

KEMENTERIAN Agama terus mengintensifkan Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji (Gemmar Mengaji) di seluruh wilayah di Indonesia. Hal itu dimaksudkan untuk mengembalikan budaya positif-konstruktif publik yang mulai menghilang.
Gemmar Mengaji merupakan momen untuk mewujudkan masyarakat qur’ani. Masyarakat yang akan melahirkan generasi rabbani. Dengan gerakan ini, kita dapat memberikan ketauladanan kepada anak-anak tentang pentingnya mengaji.

Suryadharma Ali

Ketauladanan inilah yang telah hilang di masyarakat, sehingga banyak anak-anak yang terjerumus pada perbuatan yang jauh dari syari’at Islam. Gemmar Mengaji akan memberikan warna bagi masyarakat, sehingga Al Qur’an tidak hanya jadi pajangan penghias lemari, namun dibaca dan diamalkan segala apa yang menjadi perintah dan petunjuk di dalamnya.
Rasulullah bersabda, perumpamaan orang mu’min yang membaca Al Qur’an adalah seperti bunga utrujjah (baunya harum dan rasanya lezat),  orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an adalah seperti buah kurma (baunya tidak begitu harum, tapi manis rasanya), orang munafiq yang membaca Al Qur’an  ibarat sekuntum bunga  yg berbau harum, tetapi pahit rasanya, orang munafiq yang tak suka membaca Al Qur’an tak ubahnya seperti buah hanzalah (tidak berbau dan rasanya pahit sekali) (HR.Bukhari & Muslim).
Gemmar Mengaji juga merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk membentengi aqidah umat Islam dari masuknya berbagai paham sesat, yang  beberapa waktu lalu marak diberitakan di media massa. Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali  mengatakan, di antaranya untuk menangkal aliran yang dinilai menyimpang itu,  Kementerian Agama RI meluncurkan program Gemmar Mengaji. Program ini diluncurkan secara resmi di Istora Senayan, Jakarta, pada 30 Maret 2011 lalu.  Gemmar Mengaji juga bertujuan  mencegah rusaknya akhlak generasi muda. ’’Ini merupakan terobosan untuk memperbaiki akhlak umat, dan karena itu semua pihak harus mendukungnya,’’ kata Menag menegaskan.
Melalui Gemmar Mengaji ini, Menag berharap, umat Islam, khususnya generasi muda, dapat memperkuat aqidahnya, menghidupkan kembali tradisi membaca Al Qur’an dan  dan mampu membentengi dirinya dari ajaran-ajaran yang menyesatkan. ’’Masalah akhlak ini sangat penting, di samping masalah lain seperti kemiskinan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia kita”, ujarnya.
Menag berharap, dengan Gemmar Mengaji, keluarga memiliki benteng dan tameng yang kuat dari derasnya gempuran arus informasi dan budaya yang negatif. Kegiatan mengaji memiliki sejumlah fungsi yang penting  bagi pribadi dan masyarakat. Gemmar mengaji dapat menjadi medium internalisasi nilai-nilai akhlaqul karimah, medium pemahaman ajaran Islam yang benar, dan medium pendidikan kedisiplinan dan manajemen waktu yang baik. Dengan Gemmar Mengaji, kita perkokoh akhlak generasi muda untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Dengan Gemmar Mengaji, mari kita tingkatkan pula pemahaman keagamaan masyarakat untuk masa depan yang lebih baik, jelas Menag.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Nasaruddin Umar mengatakan bahwa belakangan ini kegiatan mengaji di masyarakat cenderung hilang.  Padahal, pada masa lalu umat Islam terbiasa mengaji usai salat Maghrib hingga tiba waktu salat Isya.  ’’Program Gemmar Mengaji adalah  gerakan untuk menghidupkan kembali budaya mengaji di  masyarakat itu”, katanya.
Nasaruddin Umar mengatakan bahwa program Gemmar Mengaji  akan dicatat  sejarah, karena  merupakan gerakan menghidupkan kembali budaya mengaji di  masyarakat. Menurut dia,  dalam dua dekade terakhir ini, kegiatan mengaji di masyarakat cenderung menurun. Penyebabnya, kata Nasaruddin, mungkin akibat perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, seperti berkembangnya sarana hiburan melalui perangkat teknologi informasi dan komunikasi.
Sebagai langkah awal, program ini digelar di enam provinsi percontohan. Yakni  DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan DI Jogjakarta. Program ini akan dilaksanakan di  800.000 masjid dan musholla berupa pengajian selepas shalat Maghrib hingga waktu shalat Isya  tiba. Untuk menyukseskan program ini, Kementerian Agama mengerahkan 95.000 tenaga penyuluh dan 300.000 guru agama di seluruh Tanah Air.  Selain itu, sebanyak  50.000 pondok pesantren di berbagai daerah juga akan digerakkan. Dengan program  ini, diharapkan para remaja akan kembali ke kebiasaan membaca Al Qur’an, dan  memperdalam ilmu agamanya.
Gemmar Mengaji juga menjadi momentum untuk membumikan lagi tradisi baca Al Qur’an usai waktu shalat Maghrib yang telah lama hilang, terutama di wilayah perkotaan.  Banyak pihak prihatin karena  generasi muda memiliki tingkah laku yang cenderung semakin menjauh dari nilai-nilai Islam.
Program Gemmar Mengaji disambut hangat di Provinsi Banten. Peluncuran program Gemmar Mengaji di Banten dipimpin langsung oleh  Gubernur Hj. Ratu Atut Chosiyah. Mengaji usai shalat Maghrib, menurut Atut, dulu menjadi budaya yang mengakar di masyarakat Banten. Namun, kini  menghilang.  Ia berharap program ini akan  menghidupkan kembali budaya itu sehingga bisa menjadi solusi  untuk mengatasi berbagai persoalan remaja dan pemuda. “Mengaji Al Qur’an merupakan solusi efektif sebagai benteng bagi anak-anak muda dari segala pengaruh buruk lingkungan,” tegas Atut.
DI Jogjakarta pun tak ketinggalan langkah dalam menyukseskan  Gemmar Mengaji. Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DI Jogjakarta KRT Ahmad Muhsin Kalamudiningrat mengatakan bahwa  program ini diharapkan  dapat menangkal pengaruh negatif perangkat hiburan serta piranti komunikasi dan teknologi yang makin berkembang, seperti  televisi, telepon seluler, internet, komik, dan majalah. ’’Program ini harus didukung!” tegas Ahmad Muhsin. Dia menjelaskan bahwa Di Jogjakarta, gerakan membaca Al Qur’an sebenarnya sudah lama digalakkan. ’’Bahkan sudah ada  Instruksi Gubernur DIJ tentang Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an,’’ ujar Muhsin.  Kini, Kanwil Kemenag Provinsi DI Jogjakarta  giat  menyosialisasikan  program Gemmar Mengaji  ke tiap kabupaten/kota dan kecamatan. “Gerakan ini  kebetulan sinergis dengan Instruksi Gubernur  tentang Gerakan Pemahaman dan Pengamalan Isi Kandungan Al Qur’an,’’ kata Kepala Kanwil Kemenag Provinsi DIJ Maskul Haji.
Program Gemmar Mengaji juga mulai dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sebagai daerah yang dikenal  basis masyarakat muslim dengan ribuan pondok pesantrennya, Jawa Timur dan Jawa Tengah juga menyambut hangat hadirnya program untuk mengembalikan budaya membaca Al Qur’an ini.
Di Sumatera Barat, Kepala Kanwil Kemenag Sumbar mengatakan bahwa  Gemmar Mengaji  adalah program dakwah yang luar biasa di  tengah kehidupan masyarakat yang penuh dinamika ini.  Ia juga berharap, program ini akan menghidupkan kembali kebiasaan mengaji di masyarakat Sumatera Barat. Di Sumatera Barat, bukan hanya kebiasaan mengaji usai Maghrib yang dihidupkan kembali. Tapi juga madrasah dan sekolah-sekolah   diimbau  membiasakan membaca Al Qur’an terlebih dulu sebelum memulai proses belajar mengajar.
Program ini pun  mendapat dukungan dari kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Anggota Komisi VIII DPR Herlini Amran berharap, Gemmar Mengaji mampu  memperbaiki akhlak umat, terutama generasi muda, sehingga mereka lebih memahami ajaran agamanya. Ia juga berharap, Gemmar Mengaji bisa meningkatkan ketaqwaan setiap individu, keluarga, dan masyarakat.
’’Program ini  merupakan salah satu upaya menciptakan ketahanan keluarga. Dan dari keluargalah ketahanan dan kekuatan bangsa dimulai,’’ ungkap Herlini. Ia pun berharap, Gemmar Mengaji bisa mengatasi berbagai permasalahan di masyarakat, khususnya  di kalangan generasi muda seperti narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya. (adv/zul)

Kategori:KEMENAG

Survei Membuktikan Pelayanan Haji Memuaskan

Terbit di Koran harian pagi INDOPOS tanggal 17 Agustus 2011

MUSIM haji tahun ini segera tiba. Kamis lalu (11/08), Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) mengumumkan besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1432H sesuai dengan embarkasi/daerah domisili calon jamaah. Calon jamaah haji regular (bukan haji khusus) yang mendapatkan porsi untuk berangkat haji tahun 2011 ini harus segera melakukan pembayaran pelunasan BPIH tersebut di Bank Penerima Setoran (BPS-BPIH) penerima setoran semula. Waktunya mulai tanggal 15 sampai dengan 26 Agustus 2011, pada setiap hari kerja pada jam 10.00 – 16.00 WIB (11.00 – 17.00 WITA dan 12.00 – 18.00 WIT).

Suryadharma Ali

Pada setiap kali penyelenggaraan ibadah haji, wacana kualitas pelayanan penyelenggaraan selalu menarik untuk disimak. Bagaimana  kualitas pelayanan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1431H/2010M lalu?
Kemenag kembali meraih capaian yang membanggakan. Ini dibuktikan oleh hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait penyelenggaraan haji 1431H/2010 M yang dilaksanakan oleh Kemenag.
Secara umum, jamaah haji Indonesia mengaku puas dengan pelayanan dalam penyelenggaraan ibadah haji oleh Kemenag. Demikian terungkap dari hasil survei kepuasan jamaah haji yang dilakukan BPS. Pada rilis hasil survei tentang “Hasil Survei Kepuasan Jemaah Haji 1431H/2010”  yang digelar BPS di Gedung BPS Jakarta, Senin (8/8), terungkap bahwa indeks kepuasan jamaah terhadap penyenggaraan ibadah haji di Arab Saudi tahun 1431H/2010 mencapai 81,45 persen.
’’Aspek pelayanan dengan pemenuhan harapan tertinggi terdapat pada pelayanan petugas kloter sebesar 88,88 persen dan terendah terdapat pada pelayanan katering sebesar 73,39 persen,’’ kata Kepala BPS Rusman Heriawan saat memaparkan hasil survei BPS, Senin (8/8).
Rusman mengatakan, tujuan survei ini untuk mengetahui besarnya kesenjangan antara kepentingan dan kepuasan jamaah haji terhadap mutu dan pelayanan yang diberikan oleh pihak penyelenggara haji. Survei ini pun dimaksudkan untuk mengetahui variable atau dimensi kualitas layanan yang perlu ditingkatkan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Survei tersebut dilakukan terhadap 3.929 jamaah haji yang pengambilan sampelnya dilakukan secara purposive dan disusun berbasis kloter di setiap embarkasi.Dengan berbasis kloter, akan terpenuhi beberapa segmen. Di antaranya perwakilan jumlah sampel asal daerah atau embarkasi keberangkatan jamaah haji dan perwakilan pemberangkatan jamaah haji (gelombang I dan II). Selain itu, perwakilan daerah kerja PPIH Arab Saudi (Jeddah, Makkah, Madinah, dan Satop Armina) serta perwakilan sektor kerja atau maktab atau majmu’ah dari setiap daerah kerja. Besar sampel juga ditetapkan menurut daerah kerja (Jeddah, Mekkah, Madinah, dan Satop Armina), untuk menghindari respons rate kecil dan pemenuhan target sampel.
Aspek yang dinilai meliputi pelayanan petugas haji pada daerah kerja (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), pelayanan ibadah (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), pelayanan transportasi (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), dan pelayanan akomodasi atau pemondokan (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina). Selain itu, pelayanan katering (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), pelayanan kesehatan (Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina), dan pelayanan umum lainnya (informasi, administrasi, barang bawaan, dan dokumen di Madinah, Makkah, Jeddah, dan Armina).
Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Pengumpulan data kuesioner dilakukan dengan menyerahkan atau mendistribusikan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden (jamaah haji). Selain kuesioner juga wawancara, dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh petugas survei kepada responden dicatat atau direkam dengan alat perekam. Juga dengan observasi. Di mana pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan, perasa, dan pendengaran. Hasil observasi didokumentasikan  dalam bentuk foto.
Sedangkan teknik pengumpulan data dengan menggunakan data primer dan skunder. Data primer diperoleh melalui pengumpulan kuesioner dari jamaah haji terpilih sebagai sampel. Kuesioner telah dirancang dalam format yang menarik dengan pertanyaan yang jelas dan singkat. Adapun data skunder diperoleh dari objek penelitian, statistik jamaah haji, statistik petugas, data operasional haji tahun terkait dan tahun sebelumnya serta studi kepustakaan yang relevan.
Rusman mengemukakan, rincian indeks kepuasan jamaah per aspek pelayanan adalah sebagai berikut: pelayanan petugas kloter : 88,88 persen, pelayanan ibadah : 85,95 persen, dan pelayanan petugas nonkloter : 83,64 persen. Indeks kepuasan lima aspek pelayanan lainnya masing-masing: kepuasan terhadap pelayanan 83,15 persen, akomodasi atau pemondokan:79,95 persen, katering di Madinah : 79,83 persen, transportasi: 76,82 persen, dan katering Armina: 73,39 persen. ’’Ada saran dari jamaah bahwa perlu ditingkatkan koordinasi dengan petugas nonkloter, peningkatan kesiapan atau keberadaan petugas ketika dibutuhkan, peningkatan kualitas kamar, dan cita rasa serta variasi menu katering,’’ kata Rusman menambahkan.
Meski memuaskan, jamaah meminta adanya peningkatan kualitas penyelenggaran haji seperti katering, juru masak, kesigapan penyediaan dari sisi waktu dan tempat, kebersihan, dan cita rasa serta variasi menu.’’Kami berharap melalui hasil survei ini akan terjadi peningkatan mutu penyelenggaran haji Indonesia,’’ jelasnya lebih lanjut.
Menteri Agama Suryadharma Ali ketika menghadiri paparan hasil survei yang dilakukan BPS mengatakan bahwa masih adanya keluhan dari sebagian jamaah haji tentang masalah katering dapat dipahami. Makanan yang yang disajikan tidak dapat memenuhi selera semua jamaah haji. Disajikan secara prasmanan, tidak semua jamaah haji terlayani dengan baik. Antrean panjang karena mejanya tidak mungkin disediakan banyak karena alasan tempat. Bisa jadi yang di belakang tidak kebagian makanan sebanyak yang di depan, kata Menag. Namun, berbeda dengan penyajian dalam kotak (box), sistem prasmanan itu akan terhindar dari kemungkinan terjadinya makanan basi. ’’Kedua sistem itu ada kelebihan dan kekurangannya’’, kata Suryadharma. Tapi untuk 2011 ini, kami akan coba mengubah dari prasmanan ke nasi kotak (box) lagi katanya lagi menambahkan.‬ Untuk menghindari jamaah memakan nasi kotak yang basi, kotak makanan akan dibedakan dengan warna. ’’Atau, bisa juga kotak makanan itu diberi label atau ditulisi ‘pagi, siang atau malam’, untuk membedakan waktu makan bagi jamaah,’’ kata Menteri Agama Suryadharma Ali.
Suryadharma mengakui bahwa masalah katering bagi jamaah haji adalah persoalan krusial. Untuk itu perlu diperhatikan secara serius, termasuk ketepatan waktu dalam menyuguhkan katering bagi jamaah haji pada musim haji nanti.
Ditanya mengenai biaya survei oleh Kementerian Agama, Menag menegaskan bahwa BPS merupakan lembaga yang kredibel, dan kredibilitas itu dipertaruhkan jika survei itu tidak dilakukan secara objektif. Oleh karena itu, Menag meyakini bahwa bila faktanya buruk, maka  hasil yang disampaikan juga buruk. Demikian sebaliknya. ’’Jangan ditutup-tutupi, katakan bila baik tapi harus ada dasarnya.” Menag menegaskan pula bahwa penyelenggaraan haji bisa bagus dan memuaskan itu bukan semata-mata karena kerja keras, tapi karena adanya pertolongan dari Allah SWT. “Coba bayangkan, ratusan ribu jadi satu tidak saling kenal, tapi semua bisa tertib,’’ jelasnya. (adv/zul)

 

Kategori:KEMENAG