Menag Datang, 10 Bus Disediakan di Bakhutmah 



Suasana Pelaksanaan Haji 2011 di Tanah Suci (28)
Para calon haji (calhaj) di Bakhutmah boleh bernafas lega. Sebab, mulai kemarin (27/10) disediakan transportasi gratis menuju ke Masjidil Haram dan sebaliknya. Sebelumnya, pemondokan yang berada di Bakhutmah tidak disediakan transportasi, karena jaraknya dari Masjidil Haram kurang dari 2.000 meter.

SEBALIKNYA hanya pemondokan yang jaraknya di atas 2.000 meter seperti di antaranya Nakkasah dan Mahbas Jin disediakan transportasi. Karena tidak disediakan transportasi, para calhaj ada yang salat berjamaah di depan pemondokan 905, ada yang tetap ke Masjidil Haram dengan naik taksi, sejenis mini bus, dan kendaraan bak terbuka. Yang bak terbuka ini, ongkosnya murah, 2 riyal. Sedangkan taksi tentu lebih dari itu. Ada juga kendaraan sejenis mini bus yang berbendera negara lain dimanfaatkan oleh sopirnya menarik calhaj Indonesia.
Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali sendiri pada Rabu (26/10) mengecek langsung ke Bakhutmah dan mengambil gambar sejumlah calhaj yang naik bak terbuka. Khawatir hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Suryadharma pun memerintahkan untuk disediakan transportasi. Rabu siang, Kepala Bidang Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Subakin Abdul Muthalib bersama jajarannya terlihat sibuk mencari armada. Ketika itu ada pihak dari Saudi Arabian Public Transportation Company (Saptco) Abdul Khatib.
’’Sudah tersedia bus. Semoga mencukupi,’’ ujar Suryadharma di sela-sela kunjungannya ke sejumlah pemondokan di Nakkasah dan Bakhutmah serta Balai Pengobatan Ibadah Haji di Khalidiyah, Makkah, kemarin (27/10). Sebanyak 10 bus telah disediakan. Pantauan INDOPOS kemarin, bus tersebut sudah stand by. Namun, sejumlah calhaj belum mengetahui ada transportasi gratis. Bahkan, ada beberapa calhaj yang masih naik kendaraan bak terbuka. Padahal, sehari sebelumnya, petugas mengimbau mereka tidak menggunakannya. ’’10 bus sudah ada,’’ imbuh Sekretaris Daerah Kerja Makkah M. Khanif, kemarin.
Menurut Suryadharma, sejauh ini banyak perkembangan terkait haji. ’’Pemondokan semakin dekat. Tapi ekpektasi jamaah tinggi. Sebenarnya Bakhutmah tidak disediakan transportasi karena kurang 2 km. Sudah pakai bus. Bakhutmah mendapat perhatian ke depan. Bedanya dengan Nakkasah kan 200 hingga 300 meter. Nakkasah dapat transportasi, karena di atas 2 km. Ya, karena ekpektasi itu, kita ikuti,’’ jelasnya.
Ke depan, akan dikaji lagi apa bisa diturunkan batasan 2000 meter menjadi 1500 meter. Memang tidak mudah mencari pemondokan yang dekat dengan jumlah  jamaah 201 ribu reguler dan 20 ribu haji khusus. ’’Bisa diperpendek jaraknya, tapi juga melihat ketersediaan rumah dan kesanggupan bayar rumah. Dua tahun terakhir ini biaya turun, padahal harga perumahan dari tahun ke tahun naik. Ini bukan hanya hubungan negara dengan negara, tapi dengan pasar,’’ terangnya.
Pelayaan medis juga meningkat, termasuk adanya Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI).’’ Dengan adanya BPHI, semoga keluhan pasien teratasi. Ini seperti rumah sakit kecil. Kalau tidak teratasi dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi,’’ jelasnya. BPHI juga tidak hanya menangani pasien sakit, tapi juga memperhatikan kemabruran.
’’Kalau tidak mampu ke Arafah, disafari wukufkan. Kalau ada yang sakit dicek, apa ada yang kurang, sehingga rukun dan wajibnya tidak tertinggal,’’ imbuhnya.
Dirjen Bina Upaya Kesehatan (BUK) Kemenkes Supriyantoro menambahkan, di BPHI penanganan nonoperasi bisa dilakukan. Para dokter seperti penyakit dalam, jantung, dan paru disediakan. Mereka berbagi tugas, termasuk dokter yang tugas di sektor-sektor.’’Obat-obatan cukup,’’ tambahnya.  Sementara itu, hingga kemarin (27/10), calhaj yang meninggal 68 orang. Sebelumnya 58 orang. Sedangkan yang tiba di Arab Saudi hingga kemarin pukul 16.35 waktu setempat 178.917 orang. (zul)

Iklan

Menag ’’Disambut’’ Calhaj Nonkuota, Ke Depan Janji Pembenahan

BARU DATANG: Menteri Agama Suryadharma Ali bertanya kepada calhaj nonkuota di Makkah, Arab Saudi, kemarin (26/10).

Suasana Pelaksanaan Haji 2011 di Tanah Suci (27)
Ada pemandangan menarik saat Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali tiba di kantor Misi Haji Indonesia di Makkah, Arab Saudi, kemarin pagi (26/10) waktu setempat. Baru saja masuk, dia melihat ada seorang calon haji (calhaj) usia lanjut duduk di kursi setelah pintu masuk kantor lengkap dengan pakaian ihram. Spontan Suryadharma yang datang bersama rombongan menghampirinya dan bertanya.

TERNYATA, calhaj itu adalah nonkuota. Dia dibawa ke kantor Misi Haji Indonesia oleh petugas setelah tersesat dan tertinggal oleh rombongannya. ’’Dari Malang,’’ jawab pria yang belakangan diketahui bernama Abdul Raji Ratimin itu. Raji yang lebih banyak diam dan beberapa kali berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa saat ditanya itu bercerita, dia ikut haji nonkuota dengan biaya Rp 63 juta. Dia bersama rombongan yang jumlahnya tujuh orang berangkat dari Indonesia pada 24 Oktober. ’’Ikut Haji Gufron,’’ jawabnya ketika ditanya siapa ketua rombongan yang mengajaknya. Karena tidak jelas di mana pemondokannya, dan tidak dilengkapi gelang atau identitas lainnya seperti calhaj resmi yang pemberangkatannya melalui Kementerian Agama, setelah Suryadarma Ali masuk ke ruang rapat, petugas kemudian mengantarnya ke Masjidil Haram.
Suryadharma yang tiba di Jeddah Selasa malam (25/10) dan langsung umrah mengatakan, calhaj nonkuota uangnya banyak, karena mampu membayar yang hampir sama dengan haji khusus, bahkan bisa lebih, karena ada yang sudah membayar Rp 83 juta tidak berangkat. Namun, nasibnya tidak tentu begini. Calhaj nonkuota yang telantar ini merupakan korban dari pihak travel yang terdaftar, namun memberangkatkan haji tidak melalui Kemenag. ’’Apalagi melalui travel tidak terdaftar,’’ imbuhnya.
Dijelaskan, calhaj nonkuota kadang telantar di tanah air, Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, bahkan ada yang telantar di Malaysia. ’’Ada juga jamaah nonkuota yang telantar ketika mau pulang. Haji sudah selesai, tapi tidak ada tiket untuk pulang ke tanah air. Kalau jamaah berangkat dari Kemenag kan terdata,’’ tambahnya.
Selain itu, calhaj nonkuota juga mengambil jatah layanan calhaj kuota. Seperti memakai tenda saat di Mina dan makan saat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.’’Khawatir ganggu kenyamanan jamaah kuota,’’ katanya. Dalam hal ini, lanjutnya, Kemenag, Kemenkumham, dan pihak kepolisian harus tegas terhadap penyelenggara yang punya izin, tapi memberangkatkan haji tidak melalui Kemenag. ’’Mereka yang tidak berizin, dari Kemenag susah memberi sanksi. Itu dari kepolisian. Kalau proses pencegahan dari pihak Imigrasi. Ya ke depan, tentu akan ada pembenahan,’’ terangnya.
Sementara itu, hingga kemarin pukul 13.15 waktu setempat (17.15 WIB), calhaj yang meninggal sebanyak 58 orang. Sebelumnya 49 orang. Mereka adalah Suyanto bin Ngaseri (Solo), Husain bin Muslar (Surabaya), M. Saleh Yusuf bin Yusuf Usman H. (Palembang), Ridwan bin Saidan (Surabaya), Sulasmi binti Kusnan (JKS), Suhari bin Salam (JKG), Sudarso bin Usman (Surabaya), Slamet Adnan bin Paat (Solo), dan Badru bin Hudaemi (JKS).  Sedangkan calhaj yang dirapat inap di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Makkah sebanyak 100 orang dan 17 di RS Arab Saudi, BPHI Madinah 18 orang dan 18 orang di RS Arab Saudi, serta 16 orang di BPHI Jeddah dan 4 orang di RS Arab Saudi. Adapun calhaj yang tiba di Arab Saudi sebanyak 170.837 orang. 152.856 di antaranya telah tiba di Makkah. (zul)

Standar Kemabruran Haji Urusan Allah SWT

NAIB AMIRUL HAJ: KH Hasyim Muzadi saat diwawancarai wartawan di Makkah, Arab Saudi, kemarin.

Suasana Pelaksanaan Haji 2011 di Tanah Suci (26)
Naib Amirul Haj KH Hasyim Muzadi tidak sepakat adanya standardisasi kemabruran haji. Sebelumnya, ada wacana membuat standar kemabruran haji dan dimasukkan ke dalam revisi UU No 13/2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.

’’STANDAR mabrur itu urusan Allah SWT. Manusia hanya berupaya memenuhi syarat-syarat haji agar mendapatkan hajinya diterima Allah SWT dan menjadi mabrur. Itu hak Allah SWT, bukan hak manusia. Itu istilah transedental. Yang bisa dilakukan adalah standardisasi administratif untuk jamaah haji,’’ ujar Hasyim kepada wartawan di kantor Misi Haji Indonesia di Makkah, kemarin (25/10).
Sebelumnya saat pembacaan kesimpulan pertemuan tim pengawas haji DPR gelombang I yang dibacakan Wakil Ketua Komisi VIII Ahmad Zainuddin, beberapa hari lalu terungkap keinginan DPR untuk membuat standardisasi kemabruran haji masuk ke dalam revisi UU No 13/2008. Terkait pembatasan usia jamaah risiko tinggi (risti) juga tidak perlu dimasukkan dalam UU. ’’Tua atau tidak, kalau tidak memenuhi syarat dia tidak wajib lagi berangkat haji. Batasan usia dikembalikan ke kesehatan. Ada orang yang berusia 70 tahun atau 75 tahun, tapi masih sehat. Istita’ah itu ukurannya kesehatan, transportasi, dan kemungkinan pergi haji. Kalau jadi beban yang terakhir di kesehatan. Tapi jangan atas nama kebabruran haji,’’ tegasnya.
Di bagian lain, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, para calon haji (calhaj) Indonesia harus hati-hati dan tidak lewat di bawah alat-alat berat yang mengerjakan proyek perluasan pembangunan Masjidil Haram. Sebab, beberapa hari lalu jamaah asal Malaysia tertimpa besi hingga meninggal. Selain ada jamaah Malaysia yang meninggal, ada juga calhaj Indonesia yang tertimpa meterial bangunan. ’’Alhamdulillah calhaj selamat tapi luka-luka di bagian kepala,’’ ujar Ketua Kloter 13 embarkasi Medan Nasaruddin Batubara di kantor Misi Haji Indonesia di Makkah, Arab Saudi, kemarin (25/10).
Peristiwa itu terjadi pada Jumat (21/10). Calhaj Indonesia, Murni, 60, yang telah melaksanakan umrah berjalan kaki bersama rombongannya dan calhaj dari negara lain. Saat berjalan kaki dan melewati proyek pembangunan perluasan Masjidil Haram tiba-tiba dari atas jatuh runtuhan material besi dan kayu. ’’Material besi menimpa calhaj Malaysia, sementara material kayu menimpa calhaj Indonesia,’’ katanya. Saat tertimpa, Murni pingsan dan mengalami luka cukup parah. Darah mengalir cukup deras dan memar di kepala yang ditandai sejumlah benjolan.
Dia kemudian dibawa ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). Dokter kloter 13 Medan dr Suriati mengatakan, kondisi korban setelah ditangani BPHI sudah pulih dan saat ini sudah kembali ke pemondokan nomor 1105, Maktab 68 wilayah Bakhutmah. ’’Masih dalam pengawasan kesehatannya. Tapi secara umum korban dalam kondisi membaik dan sudah bisa melaksanakan salat lima di pemondokan,’’ jelasnya. Sementara itu, hingga kemarin pukul 14.45 waktu setempat, jumlah calhaj meninggal sebanyak 49 orang.  Sebelumnya 44 meninggal dunia. Yang meninggal adalah Sudirman bin Abdul Choliq dari embarkasi Solo, M . Bisri bin Masir dari embarkasi Surabaya, Masnik binti Abdul Majid dari embarkasi Medan, Sabki Hamid bin H. Abdul Hamid kloter 17 JKG, dan P. Ripai bin H. Samsudin dari embarkasi Surabaya. (zul)

Usia Lanjut Jadi Incaran Pelaku Kejahatan

BUTUH PENDAMPING: Calhaj yang lanjut usia diharapkan tidak pergi ke mana-mana sendirian. Tampak para calhaj saat tiba di pemondokan.

Suasana Pelaksanaan Haji 2011 di Tanah Suci (25)
Jelang pelaksanaan haji, Masjidil Haram semakin ramai. Para calon haji (calhaj) Indonesia terus berdatangan. Baik yang datang dari Madinah (gelombang pertama) maupun dari Jeddah langsung ke Makkah (gelombang kedua).

HINGGA kemarin pukul 15.10 waktu setempat, calhaj Indonesia yang tiba di Arab Saudi mencapai 155.968 orang. Sebanyak 129.769 di antaranya sudah masuk ke Makkah. Oleh karena itu, Kepala Bidang Pengamanan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Bambang S. mengingatkan kepada para calhaj untuk semakin waspada. Ini menyusul beberapa aksi kejahatan yang menimpa para calhaj.
’’Jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal. Modus-modus (seperti pura-pura menolong atau memakai bahasa yang dipakai korban agar biar akrab, Red) juga harus diwaspadai,’’ ujar Bambang di kantor Misi Haji Indonesia di Makkah, Arab Saudi, kemarin (24/10).
Dia juga mengingatkan agar para calhaj tidak membawa kenalan atau familinya ke kamar pemondokan. Mereka boleh ditemui di ruang tamu dengan izin terlebih duhulu. ’’Barusan pihak pengamanan memintai keterangan dua orang yang masuk ke hotel (pemondokan, Red) dengan identitas tidak sebenarnya. Dia bukan jamaah. Tapi famili ketua rombongan (karom) 07 kloter 28 JKS, yang juga Ketua KBIH Riyadlus Salam H. M. Emed  Sulaiman Cicalengka , Bandung. Bisa naik karena diberi syal oleh karom. Pak Emed juga sudah kami tanya, dan buat peryataan. Sebagai karom seharusnya tidak melakukan itu. Apalagi sebagai ketua KBIH,’’ terangnya.
Selain syal, kedua orang yang dimintai keterangan itu juga memakai gelang haji tahun sebelumnya yang diberikan oleh Emed. Bambang juga mengaku, dari beberapa aksi kejahatan yang menimpa calhaj, pihaknya belum menangkap pelaku. ’’Sejauh ini kami terima laporan. Faktor usia dan bahasa menjadi sasaran pelaku. Saya berharap calhaj yang lanjut ada pendampingnya,’’ imbuhnya. Termasuk yang tersesat juga. Saat ini jumlah total tenaga pengamanan ada sekitar 50 orang. Di Sektor Khusus Masjidil Haram misalnya ada 15.
Terpisah, Tim DPR Pengawas Penyelenggaraan Pelayanan Haji mendorong agar tenaga pengamanan jamaah haji selama di Tanah Suci ditingkatkan minimal menjadi 200 orang. Dengan itu, penanganan jamaah yang tersesat ataupun menghadapi tindak kejahatan bisa lebih optimal. ’’Sekarang ini, tenaga pengamanan masih sangat minim. Tenaga sebanyak 53 orang, itu sangat tak sebanding dengan jumlah jamaah kita yang harus dilayani,” kata Ketua Tim Pengawas Penyelenggaraan Pelayanan Haji DPR Ahmad Zainuddin Bashiron ketika dihubungi kemarin (24/10).
Dia menyebutkan, beban tim pengamanan sangat berat jika hanya beranggotakan sekitar 50 orang untuk Makkah dan Madinah. Di Masjid Nabawi saja, Sektor Khusus untuk pengamanan hanya berjumlah 15 orang. Padahal jumlah pintu di Masjid Nabawi lebih dari itu. Sementara itu, hingga kemarin sore (24/10) waktu setempat, jumlah calhaj meninggal sebanyak 44 orang.  Sedangkan calhaj yang dirawat inap di Balai Pengobatan Ibadah Haji (BPIH) Makkah  sebanyak 86 orang dan 4 orang di RS Arab Saudi. (zul)

Deposit Box di Maktab Masih Sepi Peminat

DIJAMIN AMAN: Setiap maktab dilengkapi deposit box. Paspor calhaj juga disimpan di mkatab. Tampak deposit box di Maktab 34.

Suasana Pelaksanaan Haji 2011 di Tanah Suci (24)
Para calon haji (calhaj) Indonesia belum memanfaatkan deposit box yang ada di maktab-maktab dengan maksimal. Setidaknya itu terlihat di Maktab 34. Tempat penitipan uang atau barang di maktab yang mengurus pemondokan dari 7 kloter tersebut hingga Sabtu (22/10) petang masih nihil. Kloter yang masuk maktab ini adalah kloter 12 embarkasi Medan, 6 Aceh, 11 Batam, 11 Balikpapan, 46 Jakarta, 47 Jakarta, dan 82 Surabaya. ’’Belum ada yang menitipkan. Padahal ini gratis dan keamanannya terjamin. Ada tanda terimanya,’’ ujar Ketua Maktab 34 Hamzah Ahmad Asyari.

BELUM adanya calhaj yang menitipkan barang, bisa jadi karena kurang sosialisasi. Bisa juga karena menunggu waktu yang tepat. Sebab, saat ini calhaj setiap hari masih menginap di pemondokannya. Berbeda saat Arafah, Muzdalifah, dan Mina nanti. Para calhaj meninggalkan pondok beberapa hari untuk menjalankan rangkaian haji. Oleh karena itu, mengacu tahun-tahun sebelumnya, para calhaj menitipkan barangnya menjelang wuquf di Arafah.’’Tanggal 8 Dzulhijjah. Satu rombongan kadang dijadikan 1 tas besar,’’ imbuh pria yang lancar berbahasa Indonesia itu.
Hamzah yang mengaku pamannya, Syeh Abbas Asyari, pada zaman dulu ikut berperang mengusir penjajah di Indonesia itu mengingatkan agar para calhaj tidak menitipkan barang-barang berharga atau uang kepada mukimin, orang Indonesia yang tinggal di Arab Saudi, yang tidak jelas. ’’Lebih baik disimpan daripada dititipkan mukimin. Dulu pernah ada calhaj yang menitipkan uangnya ke mukimin, malah hilang, terus lapor polisi. Lebih baik mendekati (dititipkan) kepada syeh atau maktab. Syeh dan orang yang mengurus maktab, bukan orang sembarangan, karena semuanya ada datanya (resmi),’’ jelas pria yang telah mengurus calhaj Indonesia secara turun menurun sejak 250 tahun yang lalu itu.
Dia juga tidak menampik, kadang keengganan calhaj menyimpan barang berharganya di deposit box maktab, karena mendapat informasi yang kurang benar dari orang Indonesia sendiri.’’Ditakut-takuti agar jangan disimpan di maktab. Mereka ingin menguasai, dikerjakan sendiri. Tapi, ini tanah lain, apalagi di Makkah. Pendatang kan istilahnya buta, harus cari orang yang ahli dan dapat dipercaya. Orang sini saja, bisa sakit kalau tidak amanah. Ini yang diurus tamu-tamu Allah,’’ terangnya.
Sebelumnya Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat beberapa kali meminta kepada para calhaj untuk tidak membawa uang banyak saat ke Masjidil Haram. Ini disampaikan Arsyad menyusul sejumlah aksi kejahatan yang menimpa calhaj Indonesia.  Mulai dari penipuan hingga perampasan.’’Simpan di deposit box. Di setiap maktab ada. Kalau ke Masjidil Haram jangan membawa banyak uang,’’ tegasnya. Paspor para calhaj juga disimpan di tempat khusus di maktab.
Sekadar diketahui, zaman dulu, para calhaj Indonesia ketika berhaji ikut para syeh. Sebagian mereka bahkan ada yang melanjutkan mengaji dan belajar beberapa waktu kepada syeh tersebut. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya calhaj, pemerintah kerajaan Arab Saudi menunjuk muassasah untuk ikut melayani calhaj, termasuk Indonesia yang berkoordinasi dengan Muassasah Asia Tenggara. Orang-orang di muassasah ini kabarnya masih punya pertalian keturunan atau hubungan persaudaraan dengan orang-orang Indonesia. Beberapa pengurus muassasah masih menempelkan daerah di Indonesia di belakang nama mereka. Seperti Sedayu dan Banten. Muassasah ini yang juga mengkoordinasikan maktab yang mengurus pemondokan.
Sementara itu, hingga kemarin sore (23/10) waktu setempat, jumlah calhaj meninggal sebanyak 41 orang.  Sebelumnya 34 meninggal dunia. Yahya HI. Abdurahman bin Abubakar, 71, dari Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, yang tergabung Kloter 9 Ujung Pandang meninggal 22 Oktober 2011 di Makkah. Kemudian calhaj khusus, Mohidin bin Abdul Kadir bin Kunyi Ahmad, 66, asal Balikpapan, Kalimantan Timur meninggal di Madinah 22 Oktober. Selanjutnya, S. Soepardi bin Ngali Kasbu, 67, asal Banyuwangi, Jawa Timur, dari kloter 17  Surabaya meninggal di Madinah pada 22 Oktober 2011, Muchlis bin Muhammad Yasin, 59, asal Palembang, Sumatera Selatan, dari kloter 6 Palembang meninggal di Madinah 22 Oktober, Hadjire Baso binti Baso, 69, kloter 5 Balikpapan dari Palu, Sulawesi Tengah, meninggal di Madinah 22 Oktober, Kiswanto Kiswo Subroto bin Wongso Semi, 60, asal Klaten, Jawa Tengah, dari kloter 64 embarkasi Solo meninggal di Makkah pada 23 Oktober, dan T. Musrizat Hanum TS binti T Muhammad T.,64, kloter 7 Medan asal Deli Serdang, Sumatera Utara, meninggal 23 Oktober. Sementara  hingga pukul15.38 waktu setempat calhaj yang tiba di Arab Saudi sebanyak 150.135. Dari jumlah tersebut, setidaknya 116.096 sudah berada di Makkah. (zul)

Calhaj yang Dirawat Inap Tembus 100 Orang

PEMERIKSAAN: Bus yang membawa calhaj dari Jeddah ke Makkah harus masuk ke checkpoint Syumaisi.

Suasana Pelaksanaan Haji 2011 di Tanah Suci (23)
Jumlah calon haji (calhaj) yang dirawat inap di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) semakin bertambah. Data yang dilansir Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu Kementerian Agama menyebutkan, sebanyak 63 calhaj dirawat inap di BPHI di Makkah, sedangkan 5 orang masuk di rumah sakit Arab Saudi (RS AS) di Makkah.

’’PARA calhaj hendaknya menjaga kesehatan. Jangan lupa banyak minum air putih dan kalau keluar pemondokan memakai masker,’’ ujar Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja Makkah dr Tafshin al Farizi. Sedangkan di BPHI Jeddah, pasien yang dirawat sebanyak 16 orang dan 4 di RS AS. Adapun yang dirawat di BPHI Madinah sebanyak 17 orang dan 14 di RS AS di Madinah. ’’Di Makkah ada sekitar 75 orang yang dirawat,’’ ujar Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat Jumat (22/10).
Sementara hingga sampai kemarin sore (22/10) pukul 15.00 waktu setempat (19.00 WIB), jumlah calhaj meninggal sebanyak 34 orang. Sebelumnya 31 meninggal dunia. Drs Kudus Bakri bin H. Bakri, 60,  kloter 6 embarkasi Ujung Pandang asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, meninggal di Makkah pada 21 Oktober, Haidir bin Abdul Rahman Ritonga, 44, kloter 2 embarkasi Medan asal Kota Padang Sedempuan, Sumatera Utara, meninggal di Makkah pada 22 Oktober, dan Muhammad Baharuddin, H bin Suriansyah, 51, kloter 1 embarkasi Banjarmasin, asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, meninggal di Makkah pada 22 Oktober.
Adapun calhaj Indonesia yang sudah tiba di Arab Saudi sebanyak141.011 orang.
Kemarin malam INDOPOS memantau di checkpoint Syumaisi sekitar 2 jam mulai pukul 23.00 waktu setempat. Para calhaj, termasuk dari Indonesia yang datang dari Jeddah langsung ke Makkah, harus melalui checkpoint ini. Beberapa bus yang membawa calhaj Indonesia tampak masuk ke lokasi yang jaraknya dari Makkah sekitar 25 km.
Di tempat ini, kondisi bus dicek oleh petugas. Bus-bus yang dikelola naqoba (sejenis Organda) itu dicek oleh semacam lembaga transportasi haji. ’’Misalnya apa AC-nya jalan atau tidak, mesinnya bagaimana. Kalau ada yang rusak, tidak boleh jalan dulu. Diperbaiki atau ganti bus, baru melanjutkan perjalanan. Diperiksa juga informasi umum terkait bus, seperti perusahan busnya, nomor perusahannya, dan lain-lain,’’ ujar Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat menerjemahkan penjelasan petugas pemeriksa.
Di tempat ini juga, paspor calhaj akan dicek. ’’Dikumpulkan, terus diserahkan oleh sopir kepada pihak terkait dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi dan juga  muassasah, terus dibawa oleh mursyid, penunjuk jalan yang ditunjuk oleh pemerintah. Paspor itu selanjutnya dibawa ke maktab dan disimpan. Nanti kalau calhaj sudah selesai dan mau pulang, diserahkan kembali. Jadi calhaj tidak memegang paspor. Muassasah, sejenis lembaga swasta yang ditunjuk oleh pihak pemerintah Arab Saudi untuk ikut melayani pelaksanan ibadah haji. Dari maktab itu nanti selanjutnya, para calhaj akan diantar ke pemondokan yang telah disediakan,’’ jelasnya.
Dari Jeddah, Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menegaskan bahwa pelayanan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) sebagai tolok ukur kesuksesan pelaksanaan haji tahun ini. ’’Indikator sukses pelaksanaan haji tahun ini adalah program yang disepakati berjalan dengan baik. Seperti masalah pelayanan di Armina, itu kan ada program pelayanan katering,” kata Wakil Ketua Komisi VIII Ahmad Zainuddin di Jeddah. Selain itu, juga kesehatan dan pelayanan transportasi yang memadai untuk calhaj. (zul)

Nonkuota Masih Marak, Jadi Tanggung Jawab yang Memberangkatkan

ISTIRAHAT: Sejumlah calhaj duduk di halaman Masjidil Haram. Mereka menunggu rekan-rekannya.

Suasana Pelaksanaan Haji 2011 di Tanah Suci (22)
Calon haji (calhaj) nonkuota masih saja ada. Saat ini, banyak calhaj nonkuota yang sudah sampai Arab Saudi. Bahkan Jumat (21/10) ada calhaj nonkuota yang tersesat.

’’UNTUK calhaj nonkuota mereka tidak mendapat sejumlah jaminan dari pemerintah dan mereka merupakan tanggung jawab yang memberangkatkan,’’ ujar Kepala Seksi Pengendali Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) Daerah Kerja Makkah Khorizi Dasir Dulabas di Makkah, Arab Saudi, kemarin.
Tahun lalu, calhaj nonkuota jumlahnya mencapai ribuan. ’’Sekitar 3 ribu,’’ ujar seorang sumber. Padahal keberadaan calhaj nonkuota bukan tanggung jawab pemerintah Indonesia, sehingga segala haknya harus dipenuhi oleh yang memberangkatkan. Mereka tidak mendapat jaminan seperti pembinaan, pelayanan, keselamatan, serta perlindungan. Seperti saat wukuf di Arafah, calhaj nonkuota tidak mendapat tenda untuk berteduh dan pada akhirnya mereka ikut dengan jamaah reguler.
Karena tidak terdaftar di Kementerian Agama, jika sakit dan mendapat perawatan di Balai Pengobatan Haji Indonesia, datanya tidak terdaftar. Calhaj juga sulit mendapat perlindungan karena mereka tidak teridentifikasi dalam data di Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu Kementerian Agama.
Terpisah, Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Syairozi Dimyati mengatakan, pihaknya terus memantau kedatangan calhaj nonkuota. ’’Tugas kami memantau dan melaporkan kedatangan mereka kepada Muassasah Asia Tenggara,’’ katanya. Posisi calhaj nonkuota, lanjutnya, bagi Arab Saudi adalah legal. Mereka mengantonggi visa haji yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia. ’’Hanya mereka tidak mengikuti jalur dan ketentuan yang diatur oleh pemerintah Indonesia,’’ jelasnya.
Sementara itu, jumlah calhaj yang tersesat masih menembus angka seratus lebih. Kamis malam misalnya, jumlah calhaj yang terdata oleh Sektor Khusus Masjidil Haram mencapai 160 orang lebih. Demikian juga kemarin (21/10), jumlahnya lebih dari 100 orang. ’’Data yang tercatat dari pagi hingga siang ini mencapai 147 calon haji,’’ ujar petugas Sektor Khusus Masjidil Haram Ilham Ahmad. Menurutnya, kebanyakan yang tersesat adalah calhaj usia lanjut. Mereka biasanya tertinggal rombongan ketika melaksanakan umrah dan ibadah lainnya.
Masih banyaknya calhaj yang tersesat ini diantisipasi oleh Daerah Kerja (Daker) Makkah. ’’Kami menambah petugas jaga. 20 tenaga musiman yang berada di Daker, kami arahkan ke Sektor Khusus untuk membantu calhaj yang tersesat. Kalau di Sektor Khusus sendiri, tim pengamanan berjumlah 15 orang,’’ kata Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat.
Sementara itu, sampai kemarin sore pukul 18.00 waktu setempat, jumlah calhaj meninggal dunia yang terdata sebanyak 31 orang. Sebelumnya 27 meninggal dunia. Odik Sodikin bin Djuhriya, 64, dari Kabupaten Bandung meninggal pada 20 Oktober di Makkah, Moh. Arifin bin Arwani, 55, dari Gresik meninggal pada 20 Oktober di Madinah, M. Kholil bin San Munari, 75, dari Indragiri Hilir, Riau meninggal pada 21 Oktober di Makkah, dan Harmaini Harahap bin Khalifah Zainuddin, 75, dari Medan meninggal [ada 21 Oktober di Makkah. Sedangkan calhaj yang dirawat inap di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI)  di Makkah sebanyak 43 dan di RS Arab Saudi (AS) 4 calhaj. Sedangkan BPHI Jeddah 16 orang dan 4 di RS AS, adapun di BPHI Madinah 5 orang dan 2 orang di RS AS. (zul)